CDC: Cacar Monyet Di Amerika, Kini Sudah Menular Lewat Transmisi Lokal

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat (CDC) memastikan, penyakit cacar monyet (monkeypox) di negaranya, kini telah menular melalui transmisi lokal.

“Kasus-kasus tersebut, tak hanya terjadi pada pria homoseksual, tetapi juga heteroseksual,” kata Anggota CDC Dr. Agam Rao, dalam pertemuan panel, seperti dikutip Reuters, Kamis (23/6).

Penyakit cacar monyet yang memunculkan lesi di kulit, diakibatkan oleh infeksi virus. 

Penyakit ini memicu kekhawatiran, karena telah berjangkit di sejumlah negara, yang tidak tergolong endemik seperti Afrika.

CDC juga menyampaikan, pihaknya telah menerima laporan penularan kasus cacar monyet dari kontak erat anggota keluarga. Terutama, mereka yang satu tempat tidur, atau menggunakan handuk bersama.

“Jadi, cacar monyet tak hanya menular lewat hubungan intim saja,” ucap Rao.

Dalam wabah kali ini, ukuran lesi dilaporkan berukuran lebih kecil, dibanding cacar monyet klasik.

Bulan lalu, CDC telah mempublikasikan pedoman penggunaan vaksin Jynneos Bavarian Nordic’s (BAVA.co) untuk kelompok berisiko cacar monyet, seperti petugas laboratorium dan sebagainya.

Sebelumnya, AS juga telah meluncurkan vaksin Emergent Biosolutions (EBS.N) ACAM 2000 untuk menangani kemunculan wabah tersebut.

Kamis (23/6) pagi, New York telah membuka klinik temporer untuk melayani vaksinasi cacar monyet (dua dosis vaksin Jynneos), bagi mereka yang memiliki risiko keterpaparan tinggi. Seperti pria gay dan biseksual.

“Kami telah menerima laporan kasus peradangan jantung atau miokarditis, yang terkait ACAM2000. Tapi sejauh ini, belum ada laporan dari penggunaan vaksin Jynneos,” ungkap CDC. ■

]]> Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat (CDC) memastikan, penyakit cacar monyet (monkeypox) di negaranya, kini telah menular melalui transmisi lokal.

“Kasus-kasus tersebut, tak hanya terjadi pada pria homoseksual, tetapi juga heteroseksual,” kata Anggota CDC Dr. Agam Rao, dalam pertemuan panel, seperti dikutip Reuters, Kamis (23/6).

Penyakit cacar monyet yang memunculkan lesi di kulit, diakibatkan oleh infeksi virus. 

Penyakit ini memicu kekhawatiran, karena telah berjangkit di sejumlah negara, yang tidak tergolong endemik seperti Afrika.

CDC juga menyampaikan, pihaknya telah menerima laporan penularan kasus cacar monyet dari kontak erat anggota keluarga. Terutama, mereka yang satu tempat tidur, atau menggunakan handuk bersama.

“Jadi, cacar monyet tak hanya menular lewat hubungan intim saja,” ucap Rao.

Dalam wabah kali ini, ukuran lesi dilaporkan berukuran lebih kecil, dibanding cacar monyet klasik.

Bulan lalu, CDC telah mempublikasikan pedoman penggunaan vaksin Jynneos Bavarian Nordic’s (BAVA.co) untuk kelompok berisiko cacar monyet, seperti petugas laboratorium dan sebagainya.

Sebelumnya, AS juga telah meluncurkan vaksin Emergent Biosolutions (EBS.N) ACAM 2000 untuk menangani kemunculan wabah tersebut.

Kamis (23/6) pagi, New York telah membuka klinik temporer untuk melayani vaksinasi cacar monyet (dua dosis vaksin Jynneos), bagi mereka yang memiliki risiko keterpaparan tinggi. Seperti pria gay dan biseksual.

“Kami telah menerima laporan kasus peradangan jantung atau miokarditis, yang terkait ACAM2000. Tapi sejauh ini, belum ada laporan dari penggunaan vaksin Jynneos,” ungkap CDC. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories