Catat Rekor Kematian Covid-19 Tertinggi Di Dunia, Hong Kong Jumpalitan

Jumlah kematian akibat kasus Covid-19 melonjak di Hong Kong dalam dua pekan terakhir. Kota pusat keuangan dunia itu tercatat mengalami kasus kematian Covid-19 tertinggi di dunia.

Hong Kong kini fokus mengurangi angka kematian akibat Covid-19 daripada menggeber tes massal wajib.

“Hong Kong perlu fokus menangani pasien bergejala berat dan menghentikan penularan,” kata Kepala Komisi Kesehatan China, Liang Wannian, yang tengah membantu menangani kasus Covid-19 di Hong Kong, dikutip Bloomberg, Selasa (8/3).

Hong Kong kini kebingungan terkait rencana pengujian massal. Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam mengumumkan, bulan lalu, setiap penduduk akan diuji tiga kali pada pertengahan Maret.

Melansir Straits Times, pusat keuangan global itu tetap berpegang pada strategi Zero Covid-19, meski ada lonjakan besar dalam infeksi yang membuat tim medis hingga fasilitas kesehatan kewalahan.

Petugas penanganan kamar jenazah kewalahan dan harus mengerahkan unit pendingin bergerak untuk menyimpan jenazah.

 

Penyebaran virus di lebih dari 750 fasilitas perawatan, termasuk rumah bagi penyandang disabilitas, memicu kekhawatiran hal yang lebih buruk akan terjadi.

Kota ini telah berusaha meningkatkan kapasitas penanganan. Departemen Kesehatan sedang berupaya menambah ruang penyimpanan untuk 300 jenazah tambahan. Termasuk kontainer berpendingin, menggunakan rumah duka dan rumah perawatan pribadi.

Juga ada ruang baru sedang dibangun di kamar jenazah Fu Shan yang akan menyediakan 800 ruang tambahan, yang ditargetkan selesai April mendatang. Kontainer berpendingin juga telah dikirim ke rumah sakit, yang akan dapat menyimpan sementara 500 jenazah.

Mengutip Reuters.com, Hong Kong melaporkan 31.008 kasus baru Covid-19 dan 153 kematian pada Minggu (6/3). Pemerintah menyatakan, penduduk tidak perlu khawatir tentang skema pengujian massal yang melonjak. Pihak berwenang juga memastikan stabilitas pasokan makanan.

Hong Kong memiliki lebih dari 470.000 kasus infeksi Covid-19. Sebagian besar dari 1.800 kematian terjadi dalam dua minggu terakhir. Banyak korban yang meninggal adalah penduduk lanjut usia yang belum divaksinasi karena infeksi telah menyebar di ratusan panti jompo.

Lonjakan besar kasus infeksi mendorong rumah sakit, pusat isolasi, dan rumah duka melampaui kapasitas. Pakar kesehatan mengatakan, sekitar 15 persen dari 7,4 juta penduduk kota itu sudah tertular.

 

Profesor di National University of Singapore yang juga salah satu ketua Koalisi Imunisasi Asia Pasifik, Tikki Pang mengatakan, tingkat kematian tertinggi masih ditemukan pada mereka yang belum divaksin sama sekali.

“Ini adalah penyakit bagi mereka yang belum divaksin. Coba lihat apa yang terjadi di Hong Kong saat ini, sistem layanan kesehatan kewalahan,” kata Dr Pang yang sebelumnya pernah menjadi Direktur Kebijakan Penelitian dan Kerja Sama di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Mayoritas kematian dan gejala paling parah adalah di kalangan mereka yang belum divaksinasi, sebagai bagian paling rentan,” imbuhnya.

Lonjakan infeksi telah melumpuhkan tenaga kerja dalam sistem perawatan kesehatan, transportasi umum, operator mall serta layanan pos, supermarket dan apotek. Banyak restoran dan toko ditutup, distrik utama sangat sepi dan hanya sedikit penduduk yang keluar di lingkungan yang biasanya sibuk.

Ketika penularan dan kematian mencapai rekor tertinggi, Hong Kong telah menerapkan pembatasan. Hong Kong membatasi pertemuan publik lebih dari dua orang dan sebagian besar tempat ditutup. Penerbangan dari mancanegara dilarang, termasuk dari Amerika Serikat dan Inggris. [DAY]

]]> Jumlah kematian akibat kasus Covid-19 melonjak di Hong Kong dalam dua pekan terakhir. Kota pusat keuangan dunia itu tercatat mengalami kasus kematian Covid-19 tertinggi di dunia.

Hong Kong kini fokus mengurangi angka kematian akibat Covid-19 daripada menggeber tes massal wajib.

“Hong Kong perlu fokus menangani pasien bergejala berat dan menghentikan penularan,” kata Kepala Komisi Kesehatan China, Liang Wannian, yang tengah membantu menangani kasus Covid-19 di Hong Kong, dikutip Bloomberg, Selasa (8/3).

Hong Kong kini kebingungan terkait rencana pengujian massal. Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam mengumumkan, bulan lalu, setiap penduduk akan diuji tiga kali pada pertengahan Maret.

Melansir Straits Times, pusat keuangan global itu tetap berpegang pada strategi Zero Covid-19, meski ada lonjakan besar dalam infeksi yang membuat tim medis hingga fasilitas kesehatan kewalahan.

Petugas penanganan kamar jenazah kewalahan dan harus mengerahkan unit pendingin bergerak untuk menyimpan jenazah.

 

Penyebaran virus di lebih dari 750 fasilitas perawatan, termasuk rumah bagi penyandang disabilitas, memicu kekhawatiran hal yang lebih buruk akan terjadi.

Kota ini telah berusaha meningkatkan kapasitas penanganan. Departemen Kesehatan sedang berupaya menambah ruang penyimpanan untuk 300 jenazah tambahan. Termasuk kontainer berpendingin, menggunakan rumah duka dan rumah perawatan pribadi.

Juga ada ruang baru sedang dibangun di kamar jenazah Fu Shan yang akan menyediakan 800 ruang tambahan, yang ditargetkan selesai April mendatang. Kontainer berpendingin juga telah dikirim ke rumah sakit, yang akan dapat menyimpan sementara 500 jenazah.

Mengutip Reuters.com, Hong Kong melaporkan 31.008 kasus baru Covid-19 dan 153 kematian pada Minggu (6/3). Pemerintah menyatakan, penduduk tidak perlu khawatir tentang skema pengujian massal yang melonjak. Pihak berwenang juga memastikan stabilitas pasokan makanan.

Hong Kong memiliki lebih dari 470.000 kasus infeksi Covid-19. Sebagian besar dari 1.800 kematian terjadi dalam dua minggu terakhir. Banyak korban yang meninggal adalah penduduk lanjut usia yang belum divaksinasi karena infeksi telah menyebar di ratusan panti jompo.

Lonjakan besar kasus infeksi mendorong rumah sakit, pusat isolasi, dan rumah duka melampaui kapasitas. Pakar kesehatan mengatakan, sekitar 15 persen dari 7,4 juta penduduk kota itu sudah tertular.

 

Profesor di National University of Singapore yang juga salah satu ketua Koalisi Imunisasi Asia Pasifik, Tikki Pang mengatakan, tingkat kematian tertinggi masih ditemukan pada mereka yang belum divaksin sama sekali.

“Ini adalah penyakit bagi mereka yang belum divaksin. Coba lihat apa yang terjadi di Hong Kong saat ini, sistem layanan kesehatan kewalahan,” kata Dr Pang yang sebelumnya pernah menjadi Direktur Kebijakan Penelitian dan Kerja Sama di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Mayoritas kematian dan gejala paling parah adalah di kalangan mereka yang belum divaksinasi, sebagai bagian paling rentan,” imbuhnya.

Lonjakan infeksi telah melumpuhkan tenaga kerja dalam sistem perawatan kesehatan, transportasi umum, operator mall serta layanan pos, supermarket dan apotek. Banyak restoran dan toko ditutup, distrik utama sangat sepi dan hanya sedikit penduduk yang keluar di lingkungan yang biasanya sibuk.

Ketika penularan dan kematian mencapai rekor tertinggi, Hong Kong telah menerapkan pembatasan. Hong Kong membatasi pertemuan publik lebih dari dua orang dan sebagian besar tempat ditutup. Penerbangan dari mancanegara dilarang, termasuk dari Amerika Serikat dan Inggris. [DAY]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories