Butuh Dorongan Super Besar Buat Capai Target

Anggota Komisi XI DPR Heri Gunawan menilai, untuk mengejar target pertumbuhan dicanangkan pemerintah, cukup berat.

Politisi Partai Gerindra ini menuturkan, pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2021, pertumbuhan ekonomi ditetapkan pada kisaran 4,5-5,5 persen.

Namun, pada pertengahan Februari 2021, Menteri Keuangan Sri Mulyani merevisinya menjadi 4,3-5,3 persen.

Untuk mencapai target, lanjutnya, kinerja minus pada kuartal I-2021 harus ditutup dengan pertumbuhan yang tinggi pada kuartal-kuartal berikutnya.

Dan kuartal II-2021 merupakan penentunya. Sementara kondisi kuartal II-2021 sendiri diprediksi belum sepenuhnya pulih.

“Kuartal I-2021 diprediksi masih minus, sehingga dibutuhkan dorongan super besar untuk mencapai pertumbuhan 7 persen pada kuartal II-2021,” ujarnya.

Heri menyebut ada dua data yang menunjukkan optimisme kinerjaekonomi. Pertama, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI).

Hasil survei BI memperkirakan, kinerja sektor industri pengolahan meningkat dari 50,01 persen pada kuartal I 2021 menjadi 55,25 persen atau berada dalam fase ekspansi pada kuartal II-2021.

Kedua, hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI yang menunjukkan kegiatan dunia usaha terus menguat.

Indikasinya, nilai saldo bersih tertimbang (SBT) kuartal II 2021 mencapai 18,87 persen dibanding 4,50 persen pada kuartal I 2021 dan minus 3,90 persen pada kuartal IV-2020.

Peningkatan terjadi pada seluruh sektor, terutama industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran, serta pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan.

Apalagi, pada kuartal II-2021 juga bertepatan dengan bulan Ramadan dan Idul Fitri. Biasanya pada kedua momentum tersebut, masyarakat meningkatkan konsumsinya karena didorong penerimaan THR (Tunjangan Hari Raya).

“Pemerintah memperkirakan penambahan konsumsi masyarakat sebesar Rp 215 triliun yang berasal dari THR dan gaji ke-13 ASN sebesar Rp 43 triliun, THR pekerja formal sebesar Rp 100 triliun dan THR pekerja informal sebesar Rp 72 triliun,” ungkapnya.

 

Dia menambahkan, data positif itu harus dibandingkan pula dengan proyeksi negatif dari IMF (International Monetary Fund) yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

IMF menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi dari 4,8 persen menjadi 4,3 persen sepanjang tahun 2021. Padahal, untuk pertumbuhan ekonomi dunia, IMF memproyeksikan naik dari 5,5 persen ke 6 persen.

Ia berharap, pemerintah mempejari betul proyeksi IMF tersebut. “Bukan tidak mungkin proyeksi IMF lebih presisi dibanding proyeksi yang disampaikan pemerintah,” ucapnya.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perdagangan Benny Soetrisno menilai, pertumbuhan ekonomi membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Apalagi pada kuartal II 2021. “Pertumbuhan akan meninggi di kuartal III dan kuartal IV, bisa ke 7 persen. Tapi, setelah UU Cipta Kerja jalan, itu yang jadi game changer,” katanya.

Benny juga melihat vaksinasi menjadi suatu hal yang penting. Sayangnya, pelaksanaan belum seperti yang diharapkan.

“Bisa dilihat dari pelarangan mudik berarti vaksinasi belum sempurna,” ucapnya. [KPJ]

]]> Anggota Komisi XI DPR Heri Gunawan menilai, untuk mengejar target pertumbuhan dicanangkan pemerintah, cukup berat.

Politisi Partai Gerindra ini menuturkan, pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2021, pertumbuhan ekonomi ditetapkan pada kisaran 4,5-5,5 persen.

Namun, pada pertengahan Februari 2021, Menteri Keuangan Sri Mulyani merevisinya menjadi 4,3-5,3 persen.

Untuk mencapai target, lanjutnya, kinerja minus pada kuartal I-2021 harus ditutup dengan pertumbuhan yang tinggi pada kuartal-kuartal berikutnya.

Dan kuartal II-2021 merupakan penentunya. Sementara kondisi kuartal II-2021 sendiri diprediksi belum sepenuhnya pulih.

“Kuartal I-2021 diprediksi masih minus, sehingga dibutuhkan dorongan super besar untuk mencapai pertumbuhan 7 persen pada kuartal II-2021,” ujarnya.

Heri menyebut ada dua data yang menunjukkan optimisme kinerjaekonomi. Pertama, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI).

Hasil survei BI memperkirakan, kinerja sektor industri pengolahan meningkat dari 50,01 persen pada kuartal I 2021 menjadi 55,25 persen atau berada dalam fase ekspansi pada kuartal II-2021.

Kedua, hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI yang menunjukkan kegiatan dunia usaha terus menguat.

Indikasinya, nilai saldo bersih tertimbang (SBT) kuartal II 2021 mencapai 18,87 persen dibanding 4,50 persen pada kuartal I 2021 dan minus 3,90 persen pada kuartal IV-2020.

Peningkatan terjadi pada seluruh sektor, terutama industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran, serta pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan.

Apalagi, pada kuartal II-2021 juga bertepatan dengan bulan Ramadan dan Idul Fitri. Biasanya pada kedua momentum tersebut, masyarakat meningkatkan konsumsinya karena didorong penerimaan THR (Tunjangan Hari Raya).

“Pemerintah memperkirakan penambahan konsumsi masyarakat sebesar Rp 215 triliun yang berasal dari THR dan gaji ke-13 ASN sebesar Rp 43 triliun, THR pekerja formal sebesar Rp 100 triliun dan THR pekerja informal sebesar Rp 72 triliun,” ungkapnya.

 

Dia menambahkan, data positif itu harus dibandingkan pula dengan proyeksi negatif dari IMF (International Monetary Fund) yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

IMF menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi dari 4,8 persen menjadi 4,3 persen sepanjang tahun 2021. Padahal, untuk pertumbuhan ekonomi dunia, IMF memproyeksikan naik dari 5,5 persen ke 6 persen.

Ia berharap, pemerintah mempejari betul proyeksi IMF tersebut. “Bukan tidak mungkin proyeksi IMF lebih presisi dibanding proyeksi yang disampaikan pemerintah,” ucapnya.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perdagangan Benny Soetrisno menilai, pertumbuhan ekonomi membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Apalagi pada kuartal II 2021. “Pertumbuhan akan meninggi di kuartal III dan kuartal IV, bisa ke 7 persen. Tapi, setelah UU Cipta Kerja jalan, itu yang jadi game changer,” katanya.

Benny juga melihat vaksinasi menjadi suatu hal yang penting. Sayangnya, pelaksanaan belum seperti yang diharapkan.

“Bisa dilihat dari pelarangan mudik berarti vaksinasi belum sempurna,” ucapnya. [KPJ]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories