Bursa Calon Gubernur DKI Makin Hangat DKI-1, Jalan Pintas Meraih Kursi RI-1 .

Bursa nama Calon Gubernur DKI diyakini akan terus dinamis dan menghangat hingga pendaftaran pasangan calon. Pasalnya, kursi DKI-1 (Gubernur DKI) bisa menjadi jalan pintas untuk menduduki kursi RI-1 (Presiden).

Demikian hal itu disampaikan pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati, kepada Rakyat Merdeka, belum lama ini.

Menurutnya, panasnya bursa nama Cagub DKI harus bisa dipahami sebagai sebuah dinamika kepemiluan nasional. Sehingga tensinya pasti akan sangat panas. Banyak faktor yang membuat kursi DKI-1 itu sangat sexy bagi partai politik. Atau bahkan kandidat dari jalur perseorangan.

Pertama, sebut Wasisto, kursi Gubernur DKI bisa mengantarkan seseorang untuk duduk di kursi presiden maupun wakil presiden. Hal ini sudah dialami mantan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi).

Dalam pandangannya, seorang Gubernur DKI punya kesempatan duduk di kursi RI-1 karena lebih banyak disorot media nasional. Pasalnya, daerah yang dipimpinnya adalah ibu kota negara. “Ini kursi untuk menuju RI-1. Step by step,” ujarnya.

Kedua, lanjut Wasisto, kemampuan menduduki kursi DKI-1 memiliki sebuah kebanggan tersendiri. Sebab posisi gubernur sebuah ibu kota negara sudah seperti duduk di kursi RI-1. “Kalau tidak dapat kursi RI-1 juga tidak apa-apa. Sudah puas bisa duduk di posisi gubernur,” ujarnya.

Terkait munculnya nama-nama kandidat, termasuk dari kalangan artis, Wasisto menilai, fenomena itu masih normal. Sebab, nantinya nama-nama itu akan berguguran dengan sendirinya, karena diseleksi oleh partai maupun opini publik.

“Ini masih awal. Akan terus berdinamika. Akan mengerucut lagi, bahkan saat masa pendaf­taran sudah dibuka (Komisi Pemilihan Umum),” tandasnya.

Secara terpisah, Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan DKI Jakarta, Gembong Warsono memastikan, partai tidak akan latah dengan mengumbar nama-nama Cagub DKI seperti partai-partai lainnya. “Kami belum sampai kesana. Masih jauh,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka.

Gembong mengatakan, di internal PDIP ada mekanisme dalam menentukan nama calon usungan di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Semua namayang ada atau pun diusulkan akan diseleksi secara ketat. Bukan datang tiba-tiba. Sekalipun begitu, sebagai partai pemenang di DKI, Gembong memastikan, partainya tetap menjadikan DKI sebagai prioritas dalam agenda-agenda politik.

Seperti diketahui, belakangan ini bursa nama Cagub DKI memanas. Sejumlah partai saling mengumbar nama-nama potensial yang bisa diusung di kursi DKI 1. Bahkan, nama dari kalangan artis muncul sebagai bursa kandidat Cagub DKI.

Namun Direktur Eksekutif Lembaga Survei Kelompok Kajian dan Diskusi Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), Kunto Adi Wibowo mengatakan, belum ada sejarahnya artis mampu menang sebagai Cagub di kancah Pilkada.

Umumnya, papar Kunto, banyak partai memposisikan artis sebagai Cawagub karena tingkat popularitasnya cukup tinggi di masyarakat. Faktor ini diyakini akan mempermudah sosialisasi partai pengusung.

“Umumnya artis itu dijadikan wakil. Bisa wakil wali kota, bupati atau gubernur,” ujar dosen Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran ini.

Meski cocok untuk posisi Cawagub, Kunto menilai, partai juga tetap hati-hati dalam memilih. Sebab, artis dengan pengalaman di birokrasi atau partai lebih cocok diusung.

“Bukannya artis yang tingkat pengalamannya di organisasi tidak ada,” jelasnya.

Selain itu, tambah dia, artis berpengalaman diyakini akan mempermudah mesin partai bekerja. Ini disebabkan artis itu sudah mengerti organisasi dan opini publik di kancah Pilkada.

Sekalipun demikian, Kunto tidak menyalahkan partai bila memutuskan mengusung artis untuk DKI-1. Hal itu sah-sah saja karena memang sudah diatur oleh undang-undang. “Sah kok, partai usung artis,” tandasnya. [SSL]

]]> .
Bursa nama Calon Gubernur DKI diyakini akan terus dinamis dan menghangat hingga pendaftaran pasangan calon. Pasalnya, kursi DKI-1 (Gubernur DKI) bisa menjadi jalan pintas untuk menduduki kursi RI-1 (Presiden).

Demikian hal itu disampaikan pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati, kepada Rakyat Merdeka, belum lama ini.

Menurutnya, panasnya bursa nama Cagub DKI harus bisa dipahami sebagai sebuah dinamika kepemiluan nasional. Sehingga tensinya pasti akan sangat panas. Banyak faktor yang membuat kursi DKI-1 itu sangat sexy bagi partai politik. Atau bahkan kandidat dari jalur perseorangan.

Pertama, sebut Wasisto, kursi Gubernur DKI bisa mengantarkan seseorang untuk duduk di kursi presiden maupun wakil presiden. Hal ini sudah dialami mantan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi).

Dalam pandangannya, seorang Gubernur DKI punya kesempatan duduk di kursi RI-1 karena lebih banyak disorot media nasional. Pasalnya, daerah yang dipimpinnya adalah ibu kota negara. “Ini kursi untuk menuju RI-1. Step by step,” ujarnya.

Kedua, lanjut Wasisto, kemampuan menduduki kursi DKI-1 memiliki sebuah kebanggan tersendiri. Sebab posisi gubernur sebuah ibu kota negara sudah seperti duduk di kursi RI-1. “Kalau tidak dapat kursi RI-1 juga tidak apa-apa. Sudah puas bisa duduk di posisi gubernur,” ujarnya.

Terkait munculnya nama-nama kandidat, termasuk dari kalangan artis, Wasisto menilai, fenomena itu masih normal. Sebab, nantinya nama-nama itu akan berguguran dengan sendirinya, karena diseleksi oleh partai maupun opini publik.

“Ini masih awal. Akan terus berdinamika. Akan mengerucut lagi, bahkan saat masa pendaf­taran sudah dibuka (Komisi Pemilihan Umum),” tandasnya.

Secara terpisah, Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan DKI Jakarta, Gembong Warsono memastikan, partai tidak akan latah dengan mengumbar nama-nama Cagub DKI seperti partai-partai lainnya. “Kami belum sampai kesana. Masih jauh,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka.

Gembong mengatakan, di internal PDIP ada mekanisme dalam menentukan nama calon usungan di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Semua namayang ada atau pun diusulkan akan diseleksi secara ketat. Bukan datang tiba-tiba. Sekalipun begitu, sebagai partai pemenang di DKI, Gembong memastikan, partainya tetap menjadikan DKI sebagai prioritas dalam agenda-agenda politik.

Seperti diketahui, belakangan ini bursa nama Cagub DKI memanas. Sejumlah partai saling mengumbar nama-nama potensial yang bisa diusung di kursi DKI 1. Bahkan, nama dari kalangan artis muncul sebagai bursa kandidat Cagub DKI.

Namun Direktur Eksekutif Lembaga Survei Kelompok Kajian dan Diskusi Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), Kunto Adi Wibowo mengatakan, belum ada sejarahnya artis mampu menang sebagai Cagub di kancah Pilkada.

Umumnya, papar Kunto, banyak partai memposisikan artis sebagai Cawagub karena tingkat popularitasnya cukup tinggi di masyarakat. Faktor ini diyakini akan mempermudah sosialisasi partai pengusung.

“Umumnya artis itu dijadikan wakil. Bisa wakil wali kota, bupati atau gubernur,” ujar dosen Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran ini.

Meski cocok untuk posisi Cawagub, Kunto menilai, partai juga tetap hati-hati dalam memilih. Sebab, artis dengan pengalaman di birokrasi atau partai lebih cocok diusung.

“Bukannya artis yang tingkat pengalamannya di organisasi tidak ada,” jelasnya.

Selain itu, tambah dia, artis berpengalaman diyakini akan mempermudah mesin partai bekerja. Ini disebabkan artis itu sudah mengerti organisasi dan opini publik di kancah Pilkada.

Sekalipun demikian, Kunto tidak menyalahkan partai bila memutuskan mengusung artis untuk DKI-1. Hal itu sah-sah saja karena memang sudah diatur oleh undang-undang. “Sah kok, partai usung artis,” tandasnya. [SSL]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories