Bupati Ipuk: Jangan Sampai, Keterlibatan Perempuan Dalam Terorisme Dianggap Sebagai Kesetaraan Gender

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan pentingnya pelibatan kaum perempuan dalam pencegahan penyebaran paham ekstremisme di tengah masyarakat. Menyusul semakin banyaknya kaum perempuan yang terlibat aksi ekstremisme.

“Kita harus benar-benar menuangkan perhatian terkait posisi perempuan dalam ekstremisme, dalam terorisme,” ujar Ipuk, dalam forum “Open Mic” bertema “Solidaritas Makassar: Suara Perempuan Indonesia Melawan Ekstremisme Kekerasan” yang digelar secara virtual, Sabtu (3/4).

Ipuk menilai, tren pelibatan perempuan dalam ekstremisme semakin besar.

Dulu, kaum perempuan hanya bertindak pasif dalam tindakan ekstremisme. Atau hanya bersifat dukungan kepada suami, dalam menjalankan tindakan-tindakan ekstrem kekerasan.

Tapi kini, mulai ada pergeseran. Kaum ibu menjadi penggalang dana, merekrut kader baru, dan bahkan sudah menjadi pelaku secara langsung.

“Perempuan harus mengambil peran di garda depan tindakan penanggulangan terorisme. Kita takut, itu dipahami sebagai bentuk kesetaraan gender, bahwa perempuan juga bisa diandalkan dalam terorisme,” jelas Ipuk.

Indikasi keterlibatan perempuan dalam kasus terorisme di Indonesia bisa terlihat dari bom gereja di Surabaya (2018), bom di Sibolga (2019), bom di Makassar 28 Maret 2021, dan penyerangan area Mabes Polri 31 Maret 2021.

“Transfer ajaran radikalisme ke anak-anak, juga bisa dimulai dari ibu. Ini harus benar-benar kita perhatikan. Kaum perempuan harus dilibatkan dalam pencegahan dan penanggulangan radikalisme. Perspektif gender, harus masuk dalam kerja-kerja penanggulangan terorisme,” kata Bupati Ipuk.

 

Di Banyuwangi, Ipuk akan mengonsolidasikan PKK yang mempunyai jaringan hingga RT, untuk terlibat dalam pendidikan anti-radikalisme sejak dini dari keluarga.

Juga kolaborasi dengan berbagai organisasi perempuan, untuk bersama-sama dalam gerakan melawan ekstremisme ini.

“Program bupati berkantor di desa, yang rutin dijalankan setiap pekan, juga bakal menjadi sarana konsolidasi gerakan mencegah ekstremisme,” ujar Ipuk.

“Kami juga menyiapkan program pemberdayaan keluarga berbasis Dasa Wisma, pemberdayaan skala kecil 10-20 rumah tangga. Yang diberdayakan dari sisi ekonomi dengan pemanfaatan lahan pekarangan, pendidikan dengan memantau anak-anak usia sekolah, kesehatan dengan deteksi awal penyakit, dan lingkungan dengann pemilahan sampah,” paparnya.

Ipuk optimis, berbagai program pemberdayaan, kaum perempuan lebih berdaya, lebih mandiri, lebih peka lingkungan, dan lebih terlibat di ruang-ruang publik. 

“Saya yakin, sangat yakin. Semakin perempuan terlibat aktif di ruang publik, dia akan semakin inklusif karena berinteraksi dengan banyak perspektif. Dengan sendirinya, itu akan mengikis ekstremisme, mengikis radikalisme dan paham-paham yang eksklusif,” tandas Ipuk. [HES]

 

]]> Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan pentingnya pelibatan kaum perempuan dalam pencegahan penyebaran paham ekstremisme di tengah masyarakat. Menyusul semakin banyaknya kaum perempuan yang terlibat aksi ekstremisme.

“Kita harus benar-benar menuangkan perhatian terkait posisi perempuan dalam ekstremisme, dalam terorisme,” ujar Ipuk, dalam forum “Open Mic” bertema “Solidaritas Makassar: Suara Perempuan Indonesia Melawan Ekstremisme Kekerasan” yang digelar secara virtual, Sabtu (3/4).

Ipuk menilai, tren pelibatan perempuan dalam ekstremisme semakin besar.

Dulu, kaum perempuan hanya bertindak pasif dalam tindakan ekstremisme. Atau hanya bersifat dukungan kepada suami, dalam menjalankan tindakan-tindakan ekstrem kekerasan.

Tapi kini, mulai ada pergeseran. Kaum ibu menjadi penggalang dana, merekrut kader baru, dan bahkan sudah menjadi pelaku secara langsung.

“Perempuan harus mengambil peran di garda depan tindakan penanggulangan terorisme. Kita takut, itu dipahami sebagai bentuk kesetaraan gender, bahwa perempuan juga bisa diandalkan dalam terorisme,” jelas Ipuk.

Indikasi keterlibatan perempuan dalam kasus terorisme di Indonesia bisa terlihat dari bom gereja di Surabaya (2018), bom di Sibolga (2019), bom di Makassar 28 Maret 2021, dan penyerangan area Mabes Polri 31 Maret 2021.

“Transfer ajaran radikalisme ke anak-anak, juga bisa dimulai dari ibu. Ini harus benar-benar kita perhatikan. Kaum perempuan harus dilibatkan dalam pencegahan dan penanggulangan radikalisme. Perspektif gender, harus masuk dalam kerja-kerja penanggulangan terorisme,” kata Bupati Ipuk.

 

Di Banyuwangi, Ipuk akan mengonsolidasikan PKK yang mempunyai jaringan hingga RT, untuk terlibat dalam pendidikan anti-radikalisme sejak dini dari keluarga.

Juga kolaborasi dengan berbagai organisasi perempuan, untuk bersama-sama dalam gerakan melawan ekstremisme ini.

“Program bupati berkantor di desa, yang rutin dijalankan setiap pekan, juga bakal menjadi sarana konsolidasi gerakan mencegah ekstremisme,” ujar Ipuk.

“Kami juga menyiapkan program pemberdayaan keluarga berbasis Dasa Wisma, pemberdayaan skala kecil 10-20 rumah tangga. Yang diberdayakan dari sisi ekonomi dengan pemanfaatan lahan pekarangan, pendidikan dengan memantau anak-anak usia sekolah, kesehatan dengan deteksi awal penyakit, dan lingkungan dengann pemilahan sampah,” paparnya.

Ipuk optimis, berbagai program pemberdayaan, kaum perempuan lebih berdaya, lebih mandiri, lebih peka lingkungan, dan lebih terlibat di ruang-ruang publik. 

“Saya yakin, sangat yakin. Semakin perempuan terlibat aktif di ruang publik, dia akan semakin inklusif karena berinteraksi dengan banyak perspektif. Dengan sendirinya, itu akan mengikis ekstremisme, mengikis radikalisme dan paham-paham yang eksklusif,” tandas Ipuk. [HES]

 
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories