Bupati Banjarnegara Tuding RS Covid-kan Pasien Pak Tito, Jewer Bupati Kaya Gini .

Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono kembali berulah. Setelah mengizinkan warganya bikin kerumunan di tengah pandemi Covid-19, kini dia bilang Rumah Sakit (RS) sengaja meng-Covid-kan pasien biar dapat untung. Agar si bupati ini tak nyeleneh terus, Mendagri Tito Karnavian -sebagai bapaknya para kepala daerah- disarankan segera “menjewernya”.

Budhi Sarwono viral di media sosial usai tampil dalam video berdurasi tiga menit. Video itu memperlihatkan pernyataan Budhi yang menuding ada permainan dari pihak RS dalam menangani pasien Corona.

Menurutnya, ada permainan klaim pihak rumah sakit dalam menangani pasien virus asal Wuhan itu. “Kalau karantina di rumah sakit kan lumayan klaimnya. Aku juga sudah ngerti,” kata Budhi dalam video tersebut.

Dia menyebut sudah bertemu dengan sales yang mencari orang sakit untuk dibawa ke RS. Orang tersebut akan mendapatkan honor dari setiap pasien yang dibawa. “Yang saya ketahui, sampai saat ini laporan dari dinas saya, itu untuk biaya tiap hari Rp 6.25 juta minimal, maksimal sampai Rp 10 juta per hari,” bebernya.

Karena itu, RS saling berebut pasien Corona. Semakin banyak bisa merawat pasien Corona, maka akan semakin banyak pula keuntungan yang bisa didapat. “Tempat karantina RS penuh. Ini pada berlomba membuat karantina lagi,” imbuhnya.

Karenanya, Budhi meminta, pemerintah pusat melakukan pengetatan screening klaim RS dan membentuk tim independen. Dia mengaku, sudah banyak laporan ada seseorang dites swab di RS positif, di laboratorium yang betul-betul profesional malah negatif.

“Jamnya sama, hanya selisih 10 menit, pada waktu melakukan swab, yang satu negatif, yang satu positif,” jelas Budi.

Saat dikonfirmasi perihal video tersebut, Budhi membenarkan. Menurut dia, video tersebut diambil satu minggu lalu.

Lalu apa tanggapan pihak RS? Sekjen Persatuan Rumah Sakit Indonesia (PERSI), Lia G Partakusuma membantah, tudingan RS meng-Covid-kan pasien. Menurutnya, klaim pasien Corona tidak semudah yang dibayangkan. Prosesnya panjang dan ketat.

 

“Ada aturan yang kuat. Rumah sakit harus melampirkan banyak sekali dokumen pendukung untuk menyampaikan bahwa ini Corona,” kata Lia.

Dia meminta masyarakat percaya kepada RS. Dokter pasti akan mengobati sesuai kondisi pasiennya. “Sama-sama kita menaruh kepercayaan bahwa dokter akan mengobati sesuai kondisi pasien,” lanjutnya.

Jika perbedaan hasil tes dipertanyakan, Lia bilang kemungkinan disebabkan infeksi baru terdeteksi pada kesempatan tes kedua, karena replikasi virus membutuhkan waktu. “Kami sama sekali tidak pernah menginginkan adanya satu rumah sakit pun yang meng-Covid-kan,” tegas Lia.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Banjarnegara, Agus Ujianto menjelaskan, protokol wajib calon pasien yang akan rawat inap di RS adalah pemeriksaan dengan rapid tes antigen. Tujuannya untuk melindungi tenaga kesehatan dan pasien lain di rumah sakit. Hasil pemeriksaan calon pasien itu juga digunakan untuk mengambil tindakan medis yang tepat jika terkonfirmasi positif.

“Itu memang protokol, bukan semua di-Covid-kan. Kami tidak sengaja mencari-cari, itu bentuk perlindungan terhadap tenaga medis dan pasien lain di rumah sakit,” terangnya.

Agus juga membantah soal tudingan terkait adanya yang sengaja mencari-cari pasien Corona. Bahkan, menurut Agus, apa yang disebut sales oleh bupati malah seharusnya memang ada dan dilakukan oleh pemerintah.

“Mungkin yang dimaksud sales oleh bupati itu relawan, kalau relawan memang ada poskonya, tapi yang namanya relawan ya tidak ada honornya, murni panggilan sosial,” pungkas Agus.

Bagaimana tanggapan epidemiolog? Epidemiolog Universitas Gadjah Mada, Riris Andono mengutuk pernyataan Budhi. Menurutnya, bupati tersebut tak patut jadi contoh warganya. “Bupati yang tidak bertanggung jawab,” sambar Riris kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Epidemiolog Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, dr Yudhi Wibowo meminta, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menjewer Budhi. Menurutnya, cara yang dilakukan Budhi jelas kontraproduktif dengan upaya-upaya yang dilakukan pemerintah untuk menekan laju penularan Covid-19 di tengah masyarakat. [UMM]

]]> .
Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono kembali berulah. Setelah mengizinkan warganya bikin kerumunan di tengah pandemi Covid-19, kini dia bilang Rumah Sakit (RS) sengaja meng-Covid-kan pasien biar dapat untung. Agar si bupati ini tak nyeleneh terus, Mendagri Tito Karnavian -sebagai bapaknya para kepala daerah- disarankan segera “menjewernya”.

Budhi Sarwono viral di media sosial usai tampil dalam video berdurasi tiga menit. Video itu memperlihatkan pernyataan Budhi yang menuding ada permainan dari pihak RS dalam menangani pasien Corona.

Menurutnya, ada permainan klaim pihak rumah sakit dalam menangani pasien virus asal Wuhan itu. “Kalau karantina di rumah sakit kan lumayan klaimnya. Aku juga sudah ngerti,” kata Budhi dalam video tersebut.

Dia menyebut sudah bertemu dengan sales yang mencari orang sakit untuk dibawa ke RS. Orang tersebut akan mendapatkan honor dari setiap pasien yang dibawa. “Yang saya ketahui, sampai saat ini laporan dari dinas saya, itu untuk biaya tiap hari Rp 6.25 juta minimal, maksimal sampai Rp 10 juta per hari,” bebernya.

Karena itu, RS saling berebut pasien Corona. Semakin banyak bisa merawat pasien Corona, maka akan semakin banyak pula keuntungan yang bisa didapat. “Tempat karantina RS penuh. Ini pada berlomba membuat karantina lagi,” imbuhnya.

Karenanya, Budhi meminta, pemerintah pusat melakukan pengetatan screening klaim RS dan membentuk tim independen. Dia mengaku, sudah banyak laporan ada seseorang dites swab di RS positif, di laboratorium yang betul-betul profesional malah negatif.

“Jamnya sama, hanya selisih 10 menit, pada waktu melakukan swab, yang satu negatif, yang satu positif,” jelas Budi.

Saat dikonfirmasi perihal video tersebut, Budhi membenarkan. Menurut dia, video tersebut diambil satu minggu lalu.

Lalu apa tanggapan pihak RS? Sekjen Persatuan Rumah Sakit Indonesia (PERSI), Lia G Partakusuma membantah, tudingan RS meng-Covid-kan pasien. Menurutnya, klaim pasien Corona tidak semudah yang dibayangkan. Prosesnya panjang dan ketat.

 

“Ada aturan yang kuat. Rumah sakit harus melampirkan banyak sekali dokumen pendukung untuk menyampaikan bahwa ini Corona,” kata Lia.

Dia meminta masyarakat percaya kepada RS. Dokter pasti akan mengobati sesuai kondisi pasiennya. “Sama-sama kita menaruh kepercayaan bahwa dokter akan mengobati sesuai kondisi pasien,” lanjutnya.

Jika perbedaan hasil tes dipertanyakan, Lia bilang kemungkinan disebabkan infeksi baru terdeteksi pada kesempatan tes kedua, karena replikasi virus membutuhkan waktu. “Kami sama sekali tidak pernah menginginkan adanya satu rumah sakit pun yang meng-Covid-kan,” tegas Lia.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Banjarnegara, Agus Ujianto menjelaskan, protokol wajib calon pasien yang akan rawat inap di RS adalah pemeriksaan dengan rapid tes antigen. Tujuannya untuk melindungi tenaga kesehatan dan pasien lain di rumah sakit. Hasil pemeriksaan calon pasien itu juga digunakan untuk mengambil tindakan medis yang tepat jika terkonfirmasi positif.

“Itu memang protokol, bukan semua di-Covid-kan. Kami tidak sengaja mencari-cari, itu bentuk perlindungan terhadap tenaga medis dan pasien lain di rumah sakit,” terangnya.

Agus juga membantah soal tudingan terkait adanya yang sengaja mencari-cari pasien Corona. Bahkan, menurut Agus, apa yang disebut sales oleh bupati malah seharusnya memang ada dan dilakukan oleh pemerintah.

“Mungkin yang dimaksud sales oleh bupati itu relawan, kalau relawan memang ada poskonya, tapi yang namanya relawan ya tidak ada honornya, murni panggilan sosial,” pungkas Agus.

Bagaimana tanggapan epidemiolog? Epidemiolog Universitas Gadjah Mada, Riris Andono mengutuk pernyataan Budhi. Menurutnya, bupati tersebut tak patut jadi contoh warganya. “Bupati yang tidak bertanggung jawab,” sambar Riris kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Epidemiolog Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, dr Yudhi Wibowo meminta, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menjewer Budhi. Menurutnya, cara yang dilakukan Budhi jelas kontraproduktif dengan upaya-upaya yang dilakukan pemerintah untuk menekan laju penularan Covid-19 di tengah masyarakat. [UMM]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories