Buntut Perang Rusia Dan Ukraina, Borong 60 Chinook Jerman Memilih Sedia Payung Sebelum Hujan

Sedia payung sebelum hujan. Strategi tersebut diambil Jerman dalam menjaga pertahanan negara. Selain mempekuat bunker, negeri tersebut memperkuat persenjataan.

Jerman melakukan perubahan besar strategi Pertahanan setelah pecah perang Rusia dengan Ukraina. Jerman akan memborong 60 helikopter angkut berat CH-47F Chinook dari Boeing, Amerika Serikat (AS), senilai sekitar 5 miliar euro (Rp 78 triliun) untuk meningkatkan persenjataannya.

Pembelian itu menggunakan dana khusus. Kabar ini diumumkan Kanselir Jerman Olaf Scholz. CH-47F Chinook tersebut dapat dikirim paling cepat pada 2025 atau 2026, sebagaimana dilansir Reuters mengutip surat kabar Jerman, Bild am Sonntag, kemarin.

Helikopter buatan Boeing tersebut akan menggantikan helikopter CH-53G yang berusia sekitar 50 tahun yang dibuat unit Sikorsky dari Lockheed Martin.

“Menteri Pertahanan Jerman Christine Lambrecht akan memberi tahu parlemen tentang keputusan itu pekan depan,” tulis surat kabar itu.

Pesaing untuk pengadaan itu termasuk di dalamnya CH-53K King Stallion buatan Lockheed Martin. Tetapi karena helikopter buatan Boeing lebih murah dan banyak sekutu NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) yang memakainya, Jerman memutuskan mengambil Chinook CH-47F.

 

Sebelumnya, Jerman menyampaikan akan memulai pekerjaan untuk memperkuat bunker penampungan bawah tanahnya serta membangun stok krisis jika terjadi perang. Jerman juga mencari cara untuk meningkatkan sistem tempat penampungan umum.

“Saat ini ada 599 tempat penampungan umum di Jerman. Kami akan memeriksa apakah kami dapat meningkatkan lebih banyak sistem seperti itu,” kata Menteri Dalam Negeri Jerman Nancy Faeser, awal April.

Dia menambahkan, Jerman sedang mengerjakan konsep baru untuk memperkuat tempat parkir bawah tanah, stasiun kereta bawah tanah, dan ruang bawah tanah untuk menjadi tempat perlindungan.

Sebelumnya, Scholz mengatakan, NATO harus menghindari konfrontasi militer langsung dengan Rusia yang dapat menyebabkan perang dunia ketiga. Hal tersebut, ia sampaikan dalam wawancara dengan Der Spiegel ketika ditanya tentang keengganan Jerman mengirim senjata berat ke Ukraina.

Scholz telah dihujani kritik di dalam dan luar negeri karena keengganan pemerintahannya untuk mengirimkan senjata berat, seperti tank dan howitzer, ke Ukraina. Padahal negara-negara Barat lainnya meningkatkan pengiriman senjata ke Kiev.

“Untuk menghindari eskalasi terhadap NATO adalah prioritas utama bagi saya,” kata pengganti Angela Merkel itu.

 

Scholz menambahkan, dia tidak akan ambil pusing terhadap kritik yang dilayangkan. Pasalnya, kesalahan sedikit saja dapat membawa konsekuensi yang sangat besar.

“Itulah sebabnya penting bahwa kita mempertimbangkan setiap langkah dengan sangat hati-hati dan berkoordinasi erat satu sama lain,” kata Scholz.

Secara terpisah, Scholz membela keputusannya untuk tidak segera mengakhiri impor gas dari Rusia.

“Saya sama sekali tidak melihat bagaimana embargo gas akan mengakhiri perang. Jika (Presiden Rusia Vladimir) Putin terbuka terhadap argumen ekonomi, dia tidak akan pernah memulai perang gila ini,” ucap Scholz.

“Kedua, ini tentang menghindari krisis ekonomi dan hilangnya jutaan pekerjaan dan pabrik yang akan tutup,” pungkas Scholz. [DAY]

]]> Sedia payung sebelum hujan. Strategi tersebut diambil Jerman dalam menjaga pertahanan negara. Selain mempekuat bunker, negeri tersebut memperkuat persenjataan.

Jerman melakukan perubahan besar strategi Pertahanan setelah pecah perang Rusia dengan Ukraina. Jerman akan memborong 60 helikopter angkut berat CH-47F Chinook dari Boeing, Amerika Serikat (AS), senilai sekitar 5 miliar euro (Rp 78 triliun) untuk meningkatkan persenjataannya.

Pembelian itu menggunakan dana khusus. Kabar ini diumumkan Kanselir Jerman Olaf Scholz. CH-47F Chinook tersebut dapat dikirim paling cepat pada 2025 atau 2026, sebagaimana dilansir Reuters mengutip surat kabar Jerman, Bild am Sonntag, kemarin.

Helikopter buatan Boeing tersebut akan menggantikan helikopter CH-53G yang berusia sekitar 50 tahun yang dibuat unit Sikorsky dari Lockheed Martin.

“Menteri Pertahanan Jerman Christine Lambrecht akan memberi tahu parlemen tentang keputusan itu pekan depan,” tulis surat kabar itu.

Pesaing untuk pengadaan itu termasuk di dalamnya CH-53K King Stallion buatan Lockheed Martin. Tetapi karena helikopter buatan Boeing lebih murah dan banyak sekutu NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) yang memakainya, Jerman memutuskan mengambil Chinook CH-47F.

 

Sebelumnya, Jerman menyampaikan akan memulai pekerjaan untuk memperkuat bunker penampungan bawah tanahnya serta membangun stok krisis jika terjadi perang. Jerman juga mencari cara untuk meningkatkan sistem tempat penampungan umum.

“Saat ini ada 599 tempat penampungan umum di Jerman. Kami akan memeriksa apakah kami dapat meningkatkan lebih banyak sistem seperti itu,” kata Menteri Dalam Negeri Jerman Nancy Faeser, awal April.

Dia menambahkan, Jerman sedang mengerjakan konsep baru untuk memperkuat tempat parkir bawah tanah, stasiun kereta bawah tanah, dan ruang bawah tanah untuk menjadi tempat perlindungan.

Sebelumnya, Scholz mengatakan, NATO harus menghindari konfrontasi militer langsung dengan Rusia yang dapat menyebabkan perang dunia ketiga. Hal tersebut, ia sampaikan dalam wawancara dengan Der Spiegel ketika ditanya tentang keengganan Jerman mengirim senjata berat ke Ukraina.

Scholz telah dihujani kritik di dalam dan luar negeri karena keengganan pemerintahannya untuk mengirimkan senjata berat, seperti tank dan howitzer, ke Ukraina. Padahal negara-negara Barat lainnya meningkatkan pengiriman senjata ke Kiev.

“Untuk menghindari eskalasi terhadap NATO adalah prioritas utama bagi saya,” kata pengganti Angela Merkel itu.

 

Scholz menambahkan, dia tidak akan ambil pusing terhadap kritik yang dilayangkan. Pasalnya, kesalahan sedikit saja dapat membawa konsekuensi yang sangat besar.

“Itulah sebabnya penting bahwa kita mempertimbangkan setiap langkah dengan sangat hati-hati dan berkoordinasi erat satu sama lain,” kata Scholz.

Secara terpisah, Scholz membela keputusannya untuk tidak segera mengakhiri impor gas dari Rusia.

“Saya sama sekali tidak melihat bagaimana embargo gas akan mengakhiri perang. Jika (Presiden Rusia Vladimir) Putin terbuka terhadap argumen ekonomi, dia tidak akan pernah memulai perang gila ini,” ucap Scholz.

“Kedua, ini tentang menghindari krisis ekonomi dan hilangnya jutaan pekerjaan dan pabrik yang akan tutup,” pungkas Scholz. [DAY]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories