BUMN Kerahkan Jaringan Atasi Kelangkaan Pangan .

PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI bersama anggota Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Klaster Pangan mengerahkan jaringan distribusi untuk mengatasi kelangkaan pangan di sejumlah daerah.

Langkah itu diambil me­nyikapi Perkembangan Pangan Tahun 2021 yang disampai­kan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan). Dalam laporannya, Kementan menyebut sejumlah komoditas strategis mengalami kelangkaan di sejumlah wilayah. Sehingga, hal itu membuat harga komoditas tersebut mengalami kenaikan.

Direktur Utama RNI Arief Prasetyo Adi mengatakan, BUMN Klaster Pangan memiliki sumber daya untuk mendukung pen­guatan rantai distribusi pangan. Di antaranya, melalui jaringan distribusi dan pergudangan yang dimiliki BGR Logistics dan PT Perusahaan Perdagangan Indo­nesia (Persero) atau PPI.

Selain itu, RNI juga memi­liki PT Rajawali Nusindo, anak perusahaan RNI Group, yang bergerak dalam bidang perda­gangan dan distribusi.

Karena itu, sambung Arief, RNI bersama 8 BUMN Anggota Klaster Pangan, sepakat untuk memperkuat pendistribusian komoditas pangan strategis ke berbagai wilayah.

“Hal ini kita lakukan guna menjaga stok pangan serta sta­bilitas harga pangan,” ujar Arief dalam keterangan resminya, kemarin.

Untuk diketahui, anggota BUMN Klaster Pangan tersebut adalah Perum Perikanan Indone­sia, PT Berdikari (Persero), BGR Logistics, PT Garam (Persero), PT Pertani (Persero), PT Peru­sahaan Perdagangan Indonesia (Persero), dan PT Sang Hyang Seri (Persero), dan PT Perikanan Nusantara (Persero).

Arief menyampaikan rencana RNI ke depan dalam upaya menciptakan ketahanan pangan di Indonesia. Khususnya men­jelang diresmikannya holding BUMN Pangan. Ia bilang, peran BUMN Klaster Pangan akan lebih signifikan nanti. Oleh se­bab itu, Arief percaya diri (pede) ke depan pihaknya akan meraup market share yang lebih tinggi.

Meskipun begitu, Arief mengakui, saat ini kontribusi RNI dalam bidang pangan belum terlalu besar. Misalnya, untuk komoditas gula nasional, RNI hanya berkontribusi sebesar 12 persen. Sedangkan, untuk yang terendah di antaranya komoditas beras dan perikanan yang rata-rata di bawah 1 persen.

Ia meyakini, ke depan akan tercipta kebangkitan kembali di sektor pangan.

Untuk menciptakan ketahanan pangan, lanjutnya, pihaknya akan menerapkan integrasi yang baik antara hulu dan hilir.

Arief memaparkan, saat ini sudah ada beberapa kegiatan yang dilakukan holding pangan dalam mengurangi permasalahan harga pangan. Di antaranya, PT Berdikari tengah menyiapkan produksi ayam sampai ke final stock.

 

“Kami juga sudah menanda­tangani kerja sama terkait daging dengan Mexico,” ungkapnya.

Dia menggarisbawahi, kerja sama dengan importir tetap diperlukan jika komoditas itu memang tidak ada atau tidak bisa memenuhi kebutuhan di Indonesia. “Misalnya kedelai, confirm impor. Hari ini private yang diberikan kesempatan,” tambahnya.

Menurut Arief, untuk men­capai tujuan harus dihilangkan ego sektoral. Karena itu, BUMN Klaster Pangan telah menjalin kerja sama dengan Kementan dan Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Menyoal ini, Chief Economics Danareksa Research Institute, Moekti Prasetiani Soejachmoen mengingatkan, harga pangan nasional naik selama pandemi Covid-19. Dan itu, bukan hanya terjadi di Indonesia, namun men­jadi tren global.

“Kalau kita lihat, sejak pandemi harga pangan global alami peningkatan, begitupun Indone­sia. Walaupun tidak setinggi kri­sis pangan 2007, meningkatnya cukup tinggi banding sebelumnya,” tutur Moekti kepada Rakyat Merdeka, Senin (22/2).

Mengutip laporan World Bank, Moekti bilang, prospek harga pangan komoditas agri­kultur dari 2021-2030 masih akan mengalami peningkatan. Baik itu untuk kategori bever­ages maupun food. Komoditas pangan yang mengalami pening­katan harga paling tinggi yakni minyak nabati.

Hal itu disebabkan penggu­naan minyak nabati tidak hanya untuk makanan. Ini menyebab­kan permintaan meningkat aki­bat terjadinya kenaikan populasi. Otomatis, kondisi ini mengerek harga suatu komoditas.

Selain itu, lanjut Moekti, peningkatan harga selama pandemi ini pula terjadi karena adanya faktor cuaca buruk dan ham­batan distribusi. “Awal pandemi Indonesia mengalami kesulitan distribusi pangan dari sentra produksi sampai konsumen. Lalu sekarang ada cuaca

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas San­tosa berpendapat, dari sisi ketersediaan stok pangan, khusus­nya di musim hujan, seharusnya tidak ada masalah. Apalagi, Perum Bulog awal tahun ini memastikan stok bahan pangan, khususnya beras, tersedia cukup aman hingga beberapa bulan ke depan.

Namun yang mesti diperhatikan, kata Andreas, terjadi peningkatan biaya produksi oleh petani pada musim hujan seperti ini.

“Sementara, tidak ada ke­naikan Harga Pokok Produksi (HPP) yang ditetapkan untuk produk pangan strategis, khususnya beras,” tutup Andreas kepada Rakyat Merdeka, kemarin. [DWI]

]]> .
PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI bersama anggota Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Klaster Pangan mengerahkan jaringan distribusi untuk mengatasi kelangkaan pangan di sejumlah daerah.

Langkah itu diambil me­nyikapi Perkembangan Pangan Tahun 2021 yang disampai­kan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan). Dalam laporannya, Kementan menyebut sejumlah komoditas strategis mengalami kelangkaan di sejumlah wilayah. Sehingga, hal itu membuat harga komoditas tersebut mengalami kenaikan.

Direktur Utama RNI Arief Prasetyo Adi mengatakan, BUMN Klaster Pangan memiliki sumber daya untuk mendukung pen­guatan rantai distribusi pangan. Di antaranya, melalui jaringan distribusi dan pergudangan yang dimiliki BGR Logistics dan PT Perusahaan Perdagangan Indo­nesia (Persero) atau PPI.

Selain itu, RNI juga memi­liki PT Rajawali Nusindo, anak perusahaan RNI Group, yang bergerak dalam bidang perda­gangan dan distribusi.

Karena itu, sambung Arief, RNI bersama 8 BUMN Anggota Klaster Pangan, sepakat untuk memperkuat pendistribusian komoditas pangan strategis ke berbagai wilayah.

“Hal ini kita lakukan guna menjaga stok pangan serta sta­bilitas harga pangan,” ujar Arief dalam keterangan resminya, kemarin.

Untuk diketahui, anggota BUMN Klaster Pangan tersebut adalah Perum Perikanan Indone­sia, PT Berdikari (Persero), BGR Logistics, PT Garam (Persero), PT Pertani (Persero), PT Peru­sahaan Perdagangan Indonesia (Persero), dan PT Sang Hyang Seri (Persero), dan PT Perikanan Nusantara (Persero).

Arief menyampaikan rencana RNI ke depan dalam upaya menciptakan ketahanan pangan di Indonesia. Khususnya men­jelang diresmikannya holding BUMN Pangan. Ia bilang, peran BUMN Klaster Pangan akan lebih signifikan nanti. Oleh se­bab itu, Arief percaya diri (pede) ke depan pihaknya akan meraup market share yang lebih tinggi.

Meskipun begitu, Arief mengakui, saat ini kontribusi RNI dalam bidang pangan belum terlalu besar. Misalnya, untuk komoditas gula nasional, RNI hanya berkontribusi sebesar 12 persen. Sedangkan, untuk yang terendah di antaranya komoditas beras dan perikanan yang rata-rata di bawah 1 persen.

Ia meyakini, ke depan akan tercipta kebangkitan kembali di sektor pangan.

Untuk menciptakan ketahanan pangan, lanjutnya, pihaknya akan menerapkan integrasi yang baik antara hulu dan hilir.

Arief memaparkan, saat ini sudah ada beberapa kegiatan yang dilakukan holding pangan dalam mengurangi permasalahan harga pangan. Di antaranya, PT Berdikari tengah menyiapkan produksi ayam sampai ke final stock.

 

“Kami juga sudah menanda­tangani kerja sama terkait daging dengan Mexico,” ungkapnya.

Dia menggarisbawahi, kerja sama dengan importir tetap diperlukan jika komoditas itu memang tidak ada atau tidak bisa memenuhi kebutuhan di Indonesia. “Misalnya kedelai, confirm impor. Hari ini private yang diberikan kesempatan,” tambahnya.

Menurut Arief, untuk men­capai tujuan harus dihilangkan ego sektoral. Karena itu, BUMN Klaster Pangan telah menjalin kerja sama dengan Kementan dan Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Menyoal ini, Chief Economics Danareksa Research Institute, Moekti Prasetiani Soejachmoen mengingatkan, harga pangan nasional naik selama pandemi Covid-19. Dan itu, bukan hanya terjadi di Indonesia, namun men­jadi tren global.

“Kalau kita lihat, sejak pandemi harga pangan global alami peningkatan, begitupun Indone­sia. Walaupun tidak setinggi kri­sis pangan 2007, meningkatnya cukup tinggi banding sebelumnya,” tutur Moekti kepada Rakyat Merdeka, Senin (22/2).

Mengutip laporan World Bank, Moekti bilang, prospek harga pangan komoditas agri­kultur dari 2021-2030 masih akan mengalami peningkatan. Baik itu untuk kategori bever­ages maupun food. Komoditas pangan yang mengalami pening­katan harga paling tinggi yakni minyak nabati.

Hal itu disebabkan penggu­naan minyak nabati tidak hanya untuk makanan. Ini menyebab­kan permintaan meningkat aki­bat terjadinya kenaikan populasi. Otomatis, kondisi ini mengerek harga suatu komoditas.

Selain itu, lanjut Moekti, peningkatan harga selama pandemi ini pula terjadi karena adanya faktor cuaca buruk dan ham­batan distribusi. “Awal pandemi Indonesia mengalami kesulitan distribusi pangan dari sentra produksi sampai konsumen. Lalu sekarang ada cuaca

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas San­tosa berpendapat, dari sisi ketersediaan stok pangan, khusus­nya di musim hujan, seharusnya tidak ada masalah. Apalagi, Perum Bulog awal tahun ini memastikan stok bahan pangan, khususnya beras, tersedia cukup aman hingga beberapa bulan ke depan.

Namun yang mesti diperhatikan, kata Andreas, terjadi peningkatan biaya produksi oleh petani pada musim hujan seperti ini.

“Sementara, tidak ada ke­naikan Harga Pokok Produksi (HPP) yang ditetapkan untuk produk pangan strategis, khususnya beras,” tutup Andreas kepada Rakyat Merdeka, kemarin. [DWI]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories