Bulan Suci Ramadan, Lawan Corona Dengan Ikhtiar Lahir Batin… .

Bulan Ramadan dianggap sebagai momentum tepat untuk memohon ampun perlindungan Allah dari bencana alam dan bencana non alam seperti Covid-19.

Hal itu disampaikan Wakil Presiden (Wapres) Prof KH Ma’ruf Amin saat membuka kegiatan Tarhib Ramadan secara virtual dari Kediaman Resmi Wapres, Jalan Diponegoro Nomor 2, Jakarta, kemarin. Dia berpidato dengan penampilan khasnya; sarung batik gelap, jas abu-abu dengan dalaman kemeja putih, dan peci hitam. Hadir men­dampingi Ma’ruf, Staf Khusus Wapres Bambang Widianto dan Masduki Baidlowi.

“Mari kita mohon kepada Allah semoga memperoleh inayah-Nya, pertolongan-Nya, baik melalui ikhtiar batiniyah maupun ikhtiar-ikhtiar zahiri­yah yang kita lakukan,” ajak Ma’ruf.

Ikhtiar batiniyah, bisa dilakukan misalnya dengan melakukan Istighasah Kubra. Sementara ikhtiar zahiriyah, dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan pencegah penularan Corona.

Ma’ruf menyebut, upaya-upaya yang pemerintah dan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 jalankan sudah maksimal.

Pemerintah sudah mengerahkan hati dan pikirannya untuk mengatasi pandemi. Pemerintah juga mengalokasikan dana yang makin terbatas, serta melakukan upaya pencegahan dengan pembatasan yang mesti dipatuhi masyarakat. Juga, dengan melakukan vaksinasi.

“Secara lahir, sudah ber­juang mengatasi Covid-19 yang menimpa Indonesia. Tapi tidak ada kekuatan yang bisa mengatasi ini, kecuali kalau kita memperoleh pertolongan Allah,” tegas mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu.

Meski begitu, Ma’ruf meng­ingatkan masyarakat untuk tidak pasrah, pesimistis, atau menyerah. Dia juga mengingatkan, berbagai kebijakan pemerintah, sudah sesuai kon­disi saat ini. Salah satunya, larangan menggelar salat tarawih berjemaah dan tadarus di zona merah.

Jemaah di zona merah, disa­rankan Ma’ruf menggunakan prinsip rukhsah atau kemudahan dalam menjalankan ibadah. Anjuran MUI, kedua ibadah itu dilakukan di rumah saja untuk menghindari dari­pada penularan.

“Anjuran itu benar sekali; karena tarawih itu sunnah (tidak wajib -red), tadarus itu sunnah, tetapi menjaga penu­laran (Covid-19) itu wajib,” tutur eks Rais Aam PBNU ini. Pertimbangan yang sama juga berlaku untuk mudik. [JAR]

]]> .
Bulan Ramadan dianggap sebagai momentum tepat untuk memohon ampun perlindungan Allah dari bencana alam dan bencana non alam seperti Covid-19.

Hal itu disampaikan Wakil Presiden (Wapres) Prof KH Ma’ruf Amin saat membuka kegiatan Tarhib Ramadan secara virtual dari Kediaman Resmi Wapres, Jalan Diponegoro Nomor 2, Jakarta, kemarin. Dia berpidato dengan penampilan khasnya; sarung batik gelap, jas abu-abu dengan dalaman kemeja putih, dan peci hitam. Hadir men­dampingi Ma’ruf, Staf Khusus Wapres Bambang Widianto dan Masduki Baidlowi.

“Mari kita mohon kepada Allah semoga memperoleh inayah-Nya, pertolongan-Nya, baik melalui ikhtiar batiniyah maupun ikhtiar-ikhtiar zahiri­yah yang kita lakukan,” ajak Ma’ruf.

Ikhtiar batiniyah, bisa dilakukan misalnya dengan melakukan Istighasah Kubra. Sementara ikhtiar zahiriyah, dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan pencegah penularan Corona.

Ma’ruf menyebut, upaya-upaya yang pemerintah dan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 jalankan sudah maksimal.

Pemerintah sudah mengerahkan hati dan pikirannya untuk mengatasi pandemi. Pemerintah juga mengalokasikan dana yang makin terbatas, serta melakukan upaya pencegahan dengan pembatasan yang mesti dipatuhi masyarakat. Juga, dengan melakukan vaksinasi.

“Secara lahir, sudah ber­juang mengatasi Covid-19 yang menimpa Indonesia. Tapi tidak ada kekuatan yang bisa mengatasi ini, kecuali kalau kita memperoleh pertolongan Allah,” tegas mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu.

Meski begitu, Ma’ruf meng­ingatkan masyarakat untuk tidak pasrah, pesimistis, atau menyerah. Dia juga mengingatkan, berbagai kebijakan pemerintah, sudah sesuai kon­disi saat ini. Salah satunya, larangan menggelar salat tarawih berjemaah dan tadarus di zona merah.

Jemaah di zona merah, disa­rankan Ma’ruf menggunakan prinsip rukhsah atau kemudahan dalam menjalankan ibadah. Anjuran MUI, kedua ibadah itu dilakukan di rumah saja untuk menghindari dari­pada penularan.

“Anjuran itu benar sekali; karena tarawih itu sunnah (tidak wajib -red), tadarus itu sunnah, tetapi menjaga penu­laran (Covid-19) itu wajib,” tutur eks Rais Aam PBNU ini. Pertimbangan yang sama juga berlaku untuk mudik. [JAR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories