Bulan Ramadan Tiba Jangan Heran, Bakal Capres Tebar Pesona

Bulan Ramadan menjadi ajang bagi para tokoh yang disebut-sebut bakal calon presiden (capres) maupun calon wakil presiden (cawapres) mensosialisasikan diri. Jangan heran, para tokoh itu aktif melakukan kegiatan sosial maupun keagamaan di bulan suci umat Islam ini.

“Politik harus pandai memanfaatkan momentum. Bulan Ramadan ini momentum mereka mendekatkan dan meraih simpati pemilih, tebar pesona, khususnya kepada segmen pemilih Islam,” kata pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) itu tak heran, sejumlah tokoh sudah punya jadwal padat mengisi ceramah atau kegiatan sosial selama Ramadan, untuk mendongkrak elektabilitas dan simpati segmen pemilih muslim.

“Anies Baswedan dipersepsikan paling dekat dengan irisan pemilih Islam. Tapi tokoh yang lain juga mulai gencar mengidentifikasikan diri dalam kelompok Islam. Semua berpeluang, tinggal kemasannya dan penyajiannya saja, siapa yang paling menarik,” tuturnya.

Apakah kegiatan sosial dan kampanye terselubung ini melanggar? Ujang tak bisa memastikan. Sebab, tahapan Pemilu belum dimulai. Tak ada juga ajakan atau alat peraga identik yang ditampilkan. Paling-paling, yang bisa dikejar adalah kepala daerah atau menteri yang berkegiatan di jam kerja.

“Tapi susah ya. Misalnya, ceramah habis tarawih, itu bukan jam kerja,” tandasnya.

Sementara, Relawan Anies Baswedan dari Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI) membantah Anies memanfaatkan Ramadan untuk kampanye.

“Kan diundang, bukan menawarkan diri. Dan yang diceramahkan isinya tidak politik praktis. Minta dipilih. Bahwa ada orang yang hadir simpati, tertarik, tentu di luar kendali Anies dan yang mengundang,” kata Syarief Hidayatulloh, Ketua Umum GPMI saat berbincang dengan Rakyat Merdeka, kemarin.

 

Syarief menyebut, di luar Ramadan, Anies sudah sering diundang sejumlah elemen keagamaan dalam berbagai acara dan agenda. “Agendanya juga di luar jam kerja. Saya kira sah saja,” tuturnya.

Seperti diketahui, Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) akan menyelenggarakan kajian offline selama Ramadan setelah dua tahun terhenti karena pandemi Covid-19.

Sejumlah tokoh bakal menjadi penceramah kajian selepas Tarawih. Dari mulai Menko Polhukam Mahfud MD hingga tokoh-tokoh yang santer disebut capres-cawapres seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Ada pula, Menparekraf Sandiaga Uno, Mendikbudristek, Nadiem Makarim, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menko PMK, Muhadjir Effendy, Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf, dan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin.

Ketua Takmir Masjid Kampus UGM Rizal Mustansyir membenarkan pihaknya mengun­dang sejumlah tokoh nasional. Namun, pemilihan tokoh sebagai penceramah tidak ada kaitannya dengan politik praktis.

Alasan mengundang tokoh-tokoh nasional yang lagi ramai disebut sebagai Capres-Cawapres 2024, karena mereka merupakan akademisi. “Masjid Kampus UGM tidak mengibarkan bendera partai. Ini murni akademi,” katanya.

Rizal belum dapat memastikan seluruh tokoh dapat hadir menjadi pembicara tarawih di Masjid Kampus UGM atau tidak. Namun, dia memberikan alternatif bagi tokoh yang tidak dapat hadir langsung di tempat. Mereka dapat mengirimkan file video. “Misalnya, Pak Anies Baswedan. Kalau tidak datang, akan kirim videonya,” tuturnya. [FAQ]

]]> Bulan Ramadan menjadi ajang bagi para tokoh yang disebut-sebut bakal calon presiden (capres) maupun calon wakil presiden (cawapres) mensosialisasikan diri. Jangan heran, para tokoh itu aktif melakukan kegiatan sosial maupun keagamaan di bulan suci umat Islam ini.

“Politik harus pandai memanfaatkan momentum. Bulan Ramadan ini momentum mereka mendekatkan dan meraih simpati pemilih, tebar pesona, khususnya kepada segmen pemilih Islam,” kata pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) itu tak heran, sejumlah tokoh sudah punya jadwal padat mengisi ceramah atau kegiatan sosial selama Ramadan, untuk mendongkrak elektabilitas dan simpati segmen pemilih muslim.

“Anies Baswedan dipersepsikan paling dekat dengan irisan pemilih Islam. Tapi tokoh yang lain juga mulai gencar mengidentifikasikan diri dalam kelompok Islam. Semua berpeluang, tinggal kemasannya dan penyajiannya saja, siapa yang paling menarik,” tuturnya.

Apakah kegiatan sosial dan kampanye terselubung ini melanggar? Ujang tak bisa memastikan. Sebab, tahapan Pemilu belum dimulai. Tak ada juga ajakan atau alat peraga identik yang ditampilkan. Paling-paling, yang bisa dikejar adalah kepala daerah atau menteri yang berkegiatan di jam kerja.

“Tapi susah ya. Misalnya, ceramah habis tarawih, itu bukan jam kerja,” tandasnya.

Sementara, Relawan Anies Baswedan dari Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI) membantah Anies memanfaatkan Ramadan untuk kampanye.

“Kan diundang, bukan menawarkan diri. Dan yang diceramahkan isinya tidak politik praktis. Minta dipilih. Bahwa ada orang yang hadir simpati, tertarik, tentu di luar kendali Anies dan yang mengundang,” kata Syarief Hidayatulloh, Ketua Umum GPMI saat berbincang dengan Rakyat Merdeka, kemarin.

 

Syarief menyebut, di luar Ramadan, Anies sudah sering diundang sejumlah elemen keagamaan dalam berbagai acara dan agenda. “Agendanya juga di luar jam kerja. Saya kira sah saja,” tuturnya.

Seperti diketahui, Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) akan menyelenggarakan kajian offline selama Ramadan setelah dua tahun terhenti karena pandemi Covid-19.

Sejumlah tokoh bakal menjadi penceramah kajian selepas Tarawih. Dari mulai Menko Polhukam Mahfud MD hingga tokoh-tokoh yang santer disebut capres-cawapres seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Ada pula, Menparekraf Sandiaga Uno, Mendikbudristek, Nadiem Makarim, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menko PMK, Muhadjir Effendy, Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf, dan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin.

Ketua Takmir Masjid Kampus UGM Rizal Mustansyir membenarkan pihaknya mengun­dang sejumlah tokoh nasional. Namun, pemilihan tokoh sebagai penceramah tidak ada kaitannya dengan politik praktis.

Alasan mengundang tokoh-tokoh nasional yang lagi ramai disebut sebagai Capres-Cawapres 2024, karena mereka merupakan akademisi. “Masjid Kampus UGM tidak mengibarkan bendera partai. Ini murni akademi,” katanya.

Rizal belum dapat memastikan seluruh tokoh dapat hadir menjadi pembicara tarawih di Masjid Kampus UGM atau tidak. Namun, dia memberikan alternatif bagi tokoh yang tidak dapat hadir langsung di tempat. Mereka dapat mengirimkan file video. “Misalnya, Pak Anies Baswedan. Kalau tidak datang, akan kirim videonya,” tuturnya. [FAQ]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories