Bubble Burst Bukan Hantu Prospek Pasar Digital RI Masih Kinclong Lho

Fenomena bubble burst (ledakan gelembung) diyakini proses alami menuju keseimbangan baru. Sebab, faktanya nilai ekonomi digital di Indonesia terus tumbuh.

Bubble burst yang tengah menerpa usaha rintisan (startup) tak selalu negatif. Bisa jadi merupakan pertanda baik bagi ekonomi digital ke depannya.

Pernyataan ini diungkapkan, Chief Executive Officer (CEO) dan Co-Founder Katadata Indonesia Metta Dharmasaputra. Diakuinya, fenomena bubble burst sudah menjadi isu yang menakutkan. Khususnya bagi perusahaan startup.

Apalagi, fenomena internet bubble pernah terjadi pada tahun 2000. Dan menjadi masa kelam bagi startup teknologi karena banyak yang gulung tikar.

“Tapi apakah benar demikian? Atau justru ini (bubble burst) menuju sesuatu yang lebih sehat. Suatu titik keseimbangan baru atau equilibrium,” ujar Metta dalam webinar “Fenomena Bubble Burst: Jalan Terjal Startup Indonesia”, kemarin.

Sebagai gambaran, sedikitnya ada tujuh startup yang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap karyawan dalam enam bulan terakhir.

Hal ini disinyalir akibat terjadinya fenomena bubble burst, yakni siklus ekonomi yang ditandai meningkatnya nilai pasar, terutama harga aset secara drastis. Namun diikuti penurunan nilai atau harga yang cepat atau kontraksi.

Ia memaparkan, dunia sudah melewati tiga masa dari revolusi industri. Yaitu tahun 1760, yang ditandai dengan penemuan mesin uap dan kereta api. Lalu, revolusi industri kedua ditandai adanya listrik. Serta periode 1960-1990 terjadi revolusi industri ketiga, dengan ditemukannya komputer dan internet.

“Kini memasuki revolusi industri keempat, yang masih tahap awal. Di mana internet makin meluas, kecerdasan buatan, mesin learning dan lainnya makin berkembang. Bahkan akselerasi transformasi digital terjadi ketika pandemi Covid-19,” ungkapnya.

 

Menariknya, lanjut Metta, berdasarkan data Google dan Temasek, selama empat tahun dari 2015-2019, populasi yang terhubung internet hanya bertambah sebanyak 100 juta.

Berbeda ketika pandemi Covid-19 melanda, di mana dalam kurun waktu dua tahun yaitu 2020-2021, terjadi penambahan 40 juta orang yang terhubung dengan internet setiap tahun.

Ia menyampaikan, jumlah pengguna ini masih akan terus bertambah. Apalagi ada outlook yang menyebutkan, region dari Asia Tenggara, diproyeksi akan memiliki nilai internet ekonomi yang akan terus tumbuh.

Hal ini terlihat mulai tahun 2021, bahwa nilai internet ekonomi sebesar 170 miliar dolar Amerika Serikat (AS) (Rp 2.525 triliun), dan akan bertambah dalam empat tahun ke depan menjadi 360 miliar dolar AS (Rp 5.348 triliun), hingga di tahun 2030 menjadi 1 triliun dolar AS (Rp 14.860 triliun).

“Ini merupakan satu nilai yang sangat besar dan berlangsung secara simultan. Lalu di mana posisi Indonesia? Disebut-sebut, Indonesia akan menjadi pemain terbesar di Asia Tenggara,” katanya.

Pasalnya, di 2020, internet ekonomi Indonesia baru sebesar 47 miliar dolar AS (Rp 698,5 triliun). Lalu di 2021 tumbuh dua kali lipat menjadi 70 miliar dolar AS (Rp 1.040 triliun). Dan diperkirakan tahun 2025 menjadi 146 miliar dolar AS (Rp 2.170 triliun).

Artinya, kata Metta, sebanyak 40 persen internet ekonomi dari Asia Tenggara ada di Indonesia di tahun 2025. Sebab, bila dibandingkan dengan tahun 2015, maka nilainya naik hingga 12 persen.

“Angka-angka ini, membawa kita ke titik optimisme baru. Bahwa ekonomi digital akan mewarnai semangat baru. Dan bubble burst bukan fenomena hantu seperti yang ditakutkan,” katanya.

Di kesempatan yang sama, Koordinator Startup Digital, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Sonny Sudaryana mengatakan, pandemic Covid yang sudah terjadi hampir tiga tahun telah banyak mengubah aspek kehidupan sehari-hari ke arah digital.

Bahkan, kondisi pandemi dijadikan sebuah peluang, sehingga Presiden Joko Widodo juga memberi mandat untuk mempercepat transformasi digital nasional.

Karena itu, menurutnya, langkah PHK pada startup dalam enam bulan terakhir, menjadi salah satu fase atau tahapan menuju digitalisasi yang lebih baik.

 

Kominfo juga meyakini, dengan dibangunnya infrastruktur akan memperluas market yang bisa dijangkau startup. Bahkan, startup asal luar negeri juga mulai masuk ke Indonesia karena potensi pasarnya masih tinggi.

“Makanya, penting bagi startup Indonesia untuk bisa bersaing dengan startup luar negeri yang masuk ke sini” katanya.

Saat ini infrastruktur digital yang telah dibangun Kominfo seperti 550 BTS (Base Transceiver Station) di seluruh Indonesia, 459 ribu kilometer (km) palapa ring atau fiber optic. Serta, untuk maksimalkan konektivitas digital, pihaknya memiliki lima satelit telekomunikasi nasional. Dan ada tambahan empat satelit yang akan disewa.

Pihaknya kini sedang melakukan pengadaan Satelit Indonesia Raya (Satria-1) berkapasitas 150 Gbps (gigabyte per second), yang rencananya beroperasi di kuartal III tahun 2023. Disusul Satria dua di tahun 2024, dan Satria 3 di 2030.

“Tujuannya untuk pemerataan internet di seluruh Indonesia, sehingga otomatis market juga bertambah,” tutup Sonny.

Managing Partner Impactto, Italo Gani menilai, kehadiran startup di Indonesia tahun 2000 berbeda dengan startup yang hadir saat ini. Saat ini startup memberikan impact bagi ekonomi.

“Di era inilah tercipta produk-produk nasional, seperti Tokopedia, Gojek, Ruangguru, Halodoc, Sociola. Ini tipe-tipe produk nasional yang perlu dibangun dan dikembangkan,” katanya. ■

]]> Fenomena bubble burst (ledakan gelembung) diyakini proses alami menuju keseimbangan baru. Sebab, faktanya nilai ekonomi digital di Indonesia terus tumbuh.

Bubble burst yang tengah menerpa usaha rintisan (startup) tak selalu negatif. Bisa jadi merupakan pertanda baik bagi ekonomi digital ke depannya.

Pernyataan ini diungkapkan, Chief Executive Officer (CEO) dan Co-Founder Katadata Indonesia Metta Dharmasaputra. Diakuinya, fenomena bubble burst sudah menjadi isu yang menakutkan. Khususnya bagi perusahaan startup.

Apalagi, fenomena internet bubble pernah terjadi pada tahun 2000. Dan menjadi masa kelam bagi startup teknologi karena banyak yang gulung tikar.

“Tapi apakah benar demikian? Atau justru ini (bubble burst) menuju sesuatu yang lebih sehat. Suatu titik keseimbangan baru atau equilibrium,” ujar Metta dalam webinar “Fenomena Bubble Burst: Jalan Terjal Startup Indonesia”, kemarin.

Sebagai gambaran, sedikitnya ada tujuh startup yang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap karyawan dalam enam bulan terakhir.

Hal ini disinyalir akibat terjadinya fenomena bubble burst, yakni siklus ekonomi yang ditandai meningkatnya nilai pasar, terutama harga aset secara drastis. Namun diikuti penurunan nilai atau harga yang cepat atau kontraksi.

Ia memaparkan, dunia sudah melewati tiga masa dari revolusi industri. Yaitu tahun 1760, yang ditandai dengan penemuan mesin uap dan kereta api. Lalu, revolusi industri kedua ditandai adanya listrik. Serta periode 1960-1990 terjadi revolusi industri ketiga, dengan ditemukannya komputer dan internet.

“Kini memasuki revolusi industri keempat, yang masih tahap awal. Di mana internet makin meluas, kecerdasan buatan, mesin learning dan lainnya makin berkembang. Bahkan akselerasi transformasi digital terjadi ketika pandemi Covid-19,” ungkapnya.

 

Menariknya, lanjut Metta, berdasarkan data Google dan Temasek, selama empat tahun dari 2015-2019, populasi yang terhubung internet hanya bertambah sebanyak 100 juta.

Berbeda ketika pandemi Covid-19 melanda, di mana dalam kurun waktu dua tahun yaitu 2020-2021, terjadi penambahan 40 juta orang yang terhubung dengan internet setiap tahun.

Ia menyampaikan, jumlah pengguna ini masih akan terus bertambah. Apalagi ada outlook yang menyebutkan, region dari Asia Tenggara, diproyeksi akan memiliki nilai internet ekonomi yang akan terus tumbuh.

Hal ini terlihat mulai tahun 2021, bahwa nilai internet ekonomi sebesar 170 miliar dolar Amerika Serikat (AS) (Rp 2.525 triliun), dan akan bertambah dalam empat tahun ke depan menjadi 360 miliar dolar AS (Rp 5.348 triliun), hingga di tahun 2030 menjadi 1 triliun dolar AS (Rp 14.860 triliun).

“Ini merupakan satu nilai yang sangat besar dan berlangsung secara simultan. Lalu di mana posisi Indonesia? Disebut-sebut, Indonesia akan menjadi pemain terbesar di Asia Tenggara,” katanya.

Pasalnya, di 2020, internet ekonomi Indonesia baru sebesar 47 miliar dolar AS (Rp 698,5 triliun). Lalu di 2021 tumbuh dua kali lipat menjadi 70 miliar dolar AS (Rp 1.040 triliun). Dan diperkirakan tahun 2025 menjadi 146 miliar dolar AS (Rp 2.170 triliun).

Artinya, kata Metta, sebanyak 40 persen internet ekonomi dari Asia Tenggara ada di Indonesia di tahun 2025. Sebab, bila dibandingkan dengan tahun 2015, maka nilainya naik hingga 12 persen.

“Angka-angka ini, membawa kita ke titik optimisme baru. Bahwa ekonomi digital akan mewarnai semangat baru. Dan bubble burst bukan fenomena hantu seperti yang ditakutkan,” katanya.

Di kesempatan yang sama, Koordinator Startup Digital, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Sonny Sudaryana mengatakan, pandemic Covid yang sudah terjadi hampir tiga tahun telah banyak mengubah aspek kehidupan sehari-hari ke arah digital.

Bahkan, kondisi pandemi dijadikan sebuah peluang, sehingga Presiden Joko Widodo juga memberi mandat untuk mempercepat transformasi digital nasional.

Karena itu, menurutnya, langkah PHK pada startup dalam enam bulan terakhir, menjadi salah satu fase atau tahapan menuju digitalisasi yang lebih baik.

 

Kominfo juga meyakini, dengan dibangunnya infrastruktur akan memperluas market yang bisa dijangkau startup. Bahkan, startup asal luar negeri juga mulai masuk ke Indonesia karena potensi pasarnya masih tinggi.

“Makanya, penting bagi startup Indonesia untuk bisa bersaing dengan startup luar negeri yang masuk ke sini” katanya.

Saat ini infrastruktur digital yang telah dibangun Kominfo seperti 550 BTS (Base Transceiver Station) di seluruh Indonesia, 459 ribu kilometer (km) palapa ring atau fiber optic. Serta, untuk maksimalkan konektivitas digital, pihaknya memiliki lima satelit telekomunikasi nasional. Dan ada tambahan empat satelit yang akan disewa.

Pihaknya kini sedang melakukan pengadaan Satelit Indonesia Raya (Satria-1) berkapasitas 150 Gbps (gigabyte per second), yang rencananya beroperasi di kuartal III tahun 2023. Disusul Satria dua di tahun 2024, dan Satria 3 di 2030.

“Tujuannya untuk pemerataan internet di seluruh Indonesia, sehingga otomatis market juga bertambah,” tutup Sonny.

Managing Partner Impactto, Italo Gani menilai, kehadiran startup di Indonesia tahun 2000 berbeda dengan startup yang hadir saat ini. Saat ini startup memberikan impact bagi ekonomi.

“Di era inilah tercipta produk-produk nasional, seperti Tokopedia, Gojek, Ruangguru, Halodoc, Sociola. Ini tipe-tipe produk nasional yang perlu dibangun dan dikembangkan,” katanya. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories