BPIP Imbau Generasi Milenial Pakai Gadgetnya Sebar Nilai Pancasila .

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Antonius Benny Susetyo  menyatakan, generasi milenial memiliki kemampuan yang lebih, yaitu kemampuan dalam membangun jejaring digital yang melewati batas ruang dan waktu.

“Generasi anda adalah generasi yang melihat hubungan tidak seperti dulu, tetapi sudah lintas batas. Karenanya, harus memanfaatkan ini dengan baik,” kata Romo Benny dalam acara Sarasehan Pembudayaan Nilai-Nilai Pancasila pada Generasi Milenial di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (5/4).

Acara yang diikuti oleh 85 orang, terutama dari kalangan mahasiswa ini dibuka oleh Rektor UMY, Gunawan Budiyanto. Kepala BPIP, Yudian Wahyudi dan Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah juga memberikan pengarahan. Turut hadir sebagai narasumber dalam acara ini adalah FX. Adji Samekto, Deputi Pengkajian dan Materi BPIP, M. Najib Azca, dari Sosiolog Universitas Gadjah Mada, dan Zuly Qodir, Direktor Program Doktor Politik Islam Ilmu Politik (UMY).

Romo Benny mengingatkan, generasi milenial harus tahu bahwa negara Indonesia adalah terdiri dari ratusan suku, bangsa, dan agama keyakinan, sehingga nilai multikultural tercipta di Indonesia. “Habitus kita adalah multikultur, sejak lahir, bangsa kita sudah seperti itu,” ingatnya.

Karenanya, generasi muda harus meneruskan kelestarian keberagaman ini. Yakni dengan mengaplikasikan Pancasila, melalui narasi positif lewat teknologi informasi, dan mengaplikasikannya menjadi tindakan yang nyata.

“Misalnya anak muda membuat aplikasi untuk memudahkan petani menjual hasil panennya tanpa melalui perantara, serta membantu korban bencana alam, lewat kemajuan teknologi informasi. Ini nilai Pancasila digaungkan dengan aplikatif,” katanya.

Selain itu, generasi muda diharapkan dapat ikut berkontribusi dalam membangun bangsa dan negara, membuat diskusi online dan membangun jejaring nasional, dan membuat konten positif untuk melawan informasi hoaks dan negatif di media sosial.

Menurut Romo Benny, penguasaan dalam bidang teknologi adalah kemampuan generasi milenial saat ini.

“Gunakanlah gadget kalian untuk melakukan perubahan. Bangunlah network, dan aplikasikan rasa ketuhanan, persatuan, dan keadilan, melalui kekuatan-kekuatan tersebut. Masa depan di tangan anda, anda bisa mengubah dunia tanpa merusak,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BPIP Yudian Wahyudi menyatakan, semua orang Indonesia, terutama kaum milenial, adalah calon-calon pemimpin masa depan Indonesia. Sehingga pembudayaan nilai-nilai Pancasila sangat penting diberikan kepada semua orang, terutama kaum milenial. 

“Konstitusi kita mengikat lebih dari 40 bangsa menjadi satu, dan memberikan jaminan bahwa semua warga negara Indonesia berhak menjadi pemimpin, menjadi Presiden Republik Indonesia,” jelasnya.

Sedangkan Ketua Umum PP Muhammadiyah menyerukan untuk menggali isi pikiran dan pengertian kaum milenial tentang kebangsaan Indonesia, terkhusus tentang pandangan mereka atas Pancasila. “Mereka juga mencari role model dalam pelaksanaan Pancasila. Mari generasi kolonial, jadilah role model tersebut,” ajaknya. 

Adji Samekto dalam paparannya menyampaikan empat indikator untuk mencapai masyarakat adil dan makmur yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa. Empat indikator itu adalah terjaminnya pangan, sandang, papan, adanya jaminan kesehatan, adanya jaminan untuk melaksanakan kegiatan kerohanian bagi seluruh rakyat Indonesia, dan kesempatan untuk menikmati kehidupan yang baik dalam lingkungan hidup.

Terkait dengan kehidupan beragama di Indonesia, Adji pun menambahkan, pendidikan agama di Indonesia secara keseluruhan memerlukan juga studi relasi antar umat beragama, selain pendidikan tentang ketuhanan, dengan peruntukan diwujudkan dalam hal-hal konkrit, seperti kerja sama mengembangkan UMKM, koperasi, yang sifatnya lintas agama. 

Najib Azca, sebagai narasumber selanjutnya menambahkan, terkait moderasi Islam di Kampus, terdapat beberapa ragam moderasi Islam, yaitu di ranah politik, ranah budaya, dan ranah ekonomi. Najib melanjutkan bahwa tantangan moderasi Islam di Indonesia adalah posisi inferior, masa politik Islam yang myopik, kegagalan melalui politik eketoral, dan tradisi militeristik.

Sehubungan dengan penanggulangan tantangan tersebut, Najib menyebutkan beberapa hal yang perlu dibangun. Yakni gerakan budaya keagamaan yang inklusif dan kosmopolitan, budaya umat yang visioner, gerakan politik substansionalisme Islam, gerakan ekonomi umat, dan tradisi intelektualisme berkeadaban dalam gerakan Islam harus dibangun di masyarakat Indonesia. [FAQ]

]]> .
Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Antonius Benny Susetyo  menyatakan, generasi milenial memiliki kemampuan yang lebih, yaitu kemampuan dalam membangun jejaring digital yang melewati batas ruang dan waktu.

“Generasi anda adalah generasi yang melihat hubungan tidak seperti dulu, tetapi sudah lintas batas. Karenanya, harus memanfaatkan ini dengan baik,” kata Romo Benny dalam acara Sarasehan Pembudayaan Nilai-Nilai Pancasila pada Generasi Milenial di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (5/4).

Acara yang diikuti oleh 85 orang, terutama dari kalangan mahasiswa ini dibuka oleh Rektor UMY, Gunawan Budiyanto. Kepala BPIP, Yudian Wahyudi dan Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah juga memberikan pengarahan. Turut hadir sebagai narasumber dalam acara ini adalah FX. Adji Samekto, Deputi Pengkajian dan Materi BPIP, M. Najib Azca, dari Sosiolog Universitas Gadjah Mada, dan Zuly Qodir, Direktor Program Doktor Politik Islam Ilmu Politik (UMY).

Romo Benny mengingatkan, generasi milenial harus tahu bahwa negara Indonesia adalah terdiri dari ratusan suku, bangsa, dan agama keyakinan, sehingga nilai multikultural tercipta di Indonesia. “Habitus kita adalah multikultur, sejak lahir, bangsa kita sudah seperti itu,” ingatnya.

Karenanya, generasi muda harus meneruskan kelestarian keberagaman ini. Yakni dengan mengaplikasikan Pancasila, melalui narasi positif lewat teknologi informasi, dan mengaplikasikannya menjadi tindakan yang nyata.

“Misalnya anak muda membuat aplikasi untuk memudahkan petani menjual hasil panennya tanpa melalui perantara, serta membantu korban bencana alam, lewat kemajuan teknologi informasi. Ini nilai Pancasila digaungkan dengan aplikatif,” katanya.

Selain itu, generasi muda diharapkan dapat ikut berkontribusi dalam membangun bangsa dan negara, membuat diskusi online dan membangun jejaring nasional, dan membuat konten positif untuk melawan informasi hoaks dan negatif di media sosial.

Menurut Romo Benny, penguasaan dalam bidang teknologi adalah kemampuan generasi milenial saat ini.

“Gunakanlah gadget kalian untuk melakukan perubahan. Bangunlah network, dan aplikasikan rasa ketuhanan, persatuan, dan keadilan, melalui kekuatan-kekuatan tersebut. Masa depan di tangan anda, anda bisa mengubah dunia tanpa merusak,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BPIP Yudian Wahyudi menyatakan, semua orang Indonesia, terutama kaum milenial, adalah calon-calon pemimpin masa depan Indonesia. Sehingga pembudayaan nilai-nilai Pancasila sangat penting diberikan kepada semua orang, terutama kaum milenial. 

“Konstitusi kita mengikat lebih dari 40 bangsa menjadi satu, dan memberikan jaminan bahwa semua warga negara Indonesia berhak menjadi pemimpin, menjadi Presiden Republik Indonesia,” jelasnya.

Sedangkan Ketua Umum PP Muhammadiyah menyerukan untuk menggali isi pikiran dan pengertian kaum milenial tentang kebangsaan Indonesia, terkhusus tentang pandangan mereka atas Pancasila. “Mereka juga mencari role model dalam pelaksanaan Pancasila. Mari generasi kolonial, jadilah role model tersebut,” ajaknya. 

Adji Samekto dalam paparannya menyampaikan empat indikator untuk mencapai masyarakat adil dan makmur yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa. Empat indikator itu adalah terjaminnya pangan, sandang, papan, adanya jaminan kesehatan, adanya jaminan untuk melaksanakan kegiatan kerohanian bagi seluruh rakyat Indonesia, dan kesempatan untuk menikmati kehidupan yang baik dalam lingkungan hidup.

Terkait dengan kehidupan beragama di Indonesia, Adji pun menambahkan, pendidikan agama di Indonesia secara keseluruhan memerlukan juga studi relasi antar umat beragama, selain pendidikan tentang ketuhanan, dengan peruntukan diwujudkan dalam hal-hal konkrit, seperti kerja sama mengembangkan UMKM, koperasi, yang sifatnya lintas agama. 

Najib Azca, sebagai narasumber selanjutnya menambahkan, terkait moderasi Islam di Kampus, terdapat beberapa ragam moderasi Islam, yaitu di ranah politik, ranah budaya, dan ranah ekonomi. Najib melanjutkan bahwa tantangan moderasi Islam di Indonesia adalah posisi inferior, masa politik Islam yang myopik, kegagalan melalui politik eketoral, dan tradisi militeristik.

Sehubungan dengan penanggulangan tantangan tersebut, Najib menyebutkan beberapa hal yang perlu dibangun. Yakni gerakan budaya keagamaan yang inklusif dan kosmopolitan, budaya umat yang visioner, gerakan politik substansionalisme Islam, gerakan ekonomi umat, dan tradisi intelektualisme berkeadaban dalam gerakan Islam harus dibangun di masyarakat Indonesia. [FAQ]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories