BPIP Bekali Taruna Poltekip Dan Poltekim .

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi mengingatkan, mahasiswa agar mensyukuri kemerdekaan. Caranya meningkatkan pencapaian yang diraih  para pemuda zaman old. 

Pandangan itu disampaikan Yudian saat membuka Webinar Nasional Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dengan tema Membumikan Pancasila di Kalangan Mahasiswa/Taruna, via Zoom, Kamis (26/8). 

Diskusi virtual atas kerjasama BPIP dengan Kementerian Hukum dan HAM dalam rangka memperingati Kemerdekaan Indonesia ke-76. Hadir Deputi Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP Prakoso, Kepala Badan Pembinaan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemenkumham Asep Kurnia. Narasumber lain, Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian,  Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud Nizam, Irjen Kemenkumham Razilu dan Deputi Pengkajian dan Materi BPIP Aji Samekto. 

Peserta webinar adalah taruna Politeknik Ilmu Pemasyarakatan (Poltekip) dan Politeknik Ilmu Imigrasi (Poltekim) Kemenkumham. 

Yudian memaparkan, pergerakan melawan penjajah awalnya dimotori oleh generasi muda pada akhir abad ke-19. Hanya saja saat itu, pergerakan bercirikan kedaerahan dan sporadis. Baru pada abad ke-20, khususnya melalui Sumpah Pemuda, menjadi gerakan nasional atau kebangsaan. 

“Perlu diingat, pergerakan ini dimotori oleh para pemuda. Mereka kaum terpelajar yang sebagian disekolahkan oleh Belanda,” kata Yudian. 

Eks Rektor UIN Yogyakarta ini menjelaskan, ada 9 ciri para pemuda saat itu. Namun yang perlu diingat, kata dia, adalah para pemuda yang disekolahkan oleh Belanda itu akhirnya hanya dalam kurun 30 tahun telah memutuskan untuk bersumpah melawan penjajah yang tak lain pihak yang memberinya akses dan beasiswa untuk sekolah. Kemudian mereka mewujudkan cita-cita Negara Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

“Ini tidak pernah terjadi dalam sejarah dunia  dimanapun,” terangnya. 

Yudian lalu mengajak para taruna Poltekip dan Poltekim untuk bersyukur karena bisa mendapat akses sekolah tinggi dan mendapat beasiswa. Karena di zaman dulu, akses pendidikan hanya khusus keturunan bangsawan. Saat ini, akses pendidikan sudah terbuka.

Bagaimana cara mensyukurinya? “Mempertahankan kemerdekaan yang dicapai para pemuda dahulu. Setelah itu, baru meningkatkan pencapaian kemerdekaan. Untuk meningkatkan capaian itu, pemuda harus mempersiapkan diri agar siap saat menjadi pemimpin kelak,” seloroh Yudian. 

Kemudian, pemuda harus siap mengembangkan potensi menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, cakap kreatif, mandiri serta menjadi warga yang demokratis dan bertanggung jawab. “Kita tidak hanya perlu untuk cakap secara kognitif menguasai sains dan teknologi. Diharapkan pula kritis inovatif, memiliki kepekaan sosial, dan mampu mengembangkan budaya,” pesan Yudian. 

Sementara itu, Asep Kurnia mengucapkan terima kasih kepada BPIP yang sudah memfasilitasi webinar. Ia menyampaikan, Kemenkumham saat ini memiliki 2 perguruan tinggi kedinasan yaitu Poltekip dengan jumlah 1.207 taruna, dan Poltekim 1.141 taruna. Setelah lulus para taruna ini akan ditempatkan di unit teknis sebagai aparatur Kemenkumham. 

Asep menjelaskan, Pancasila dan rakyat Indonesia tidak bisa dipisahkan. Sebab Pancasila adalah jati diri bangsa. Karena rumusan  nilai-nilai adalah nilai yang digali dari rakyat  sebagai falsafah dan pandangan hidup bangsa. 

Karena itu, Pancasila harus menjadi pedoman baik sebagai aparatur sipil negara  maupun  sebagai anggota masyarakat. Agar kita tidak mudah melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan norma hukum norma agama dan norma kesusilaan yang berlaku di tengah-tengah nilai-nilai Pancasila. Selain itu Pancasila dapat menggalang persatuan dalam mengatasi semua tantangan. 

“Pancasila harus kita hadirkan secara nyata dalam kehidupan dan diinternalisasi dalam kebijakan dan keputusan yang diambil,” ucapnya. 

Deputi BPIP, Prakoso mengatakan, manifestasi dan rasa syukur  kepada Tuhan atas kemerdekaan yaitu dengan mengaktualisasikan Pancasila. Harapannya,  nilai-nilai luhur Pancasila itu bisa diwariskan kepada segenap komponen bangsa khususnya kepada taruna di Poltekip dan Poltekim. “Karena generasi milenial adalah pewaris bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ucap Prakoso. [BCG]

]]> .
Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi mengingatkan, mahasiswa agar mensyukuri kemerdekaan. Caranya meningkatkan pencapaian yang diraih  para pemuda zaman old. 

Pandangan itu disampaikan Yudian saat membuka Webinar Nasional Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dengan tema Membumikan Pancasila di Kalangan Mahasiswa/Taruna, via Zoom, Kamis (26/8). 

Diskusi virtual atas kerjasama BPIP dengan Kementerian Hukum dan HAM dalam rangka memperingati Kemerdekaan Indonesia ke-76. Hadir Deputi Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP Prakoso, Kepala Badan Pembinaan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemenkumham Asep Kurnia. Narasumber lain, Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian,  Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud Nizam, Irjen Kemenkumham Razilu dan Deputi Pengkajian dan Materi BPIP Aji Samekto. 

Peserta webinar adalah taruna Politeknik Ilmu Pemasyarakatan (Poltekip) dan Politeknik Ilmu Imigrasi (Poltekim) Kemenkumham. 

Yudian memaparkan, pergerakan melawan penjajah awalnya dimotori oleh generasi muda pada akhir abad ke-19. Hanya saja saat itu, pergerakan bercirikan kedaerahan dan sporadis. Baru pada abad ke-20, khususnya melalui Sumpah Pemuda, menjadi gerakan nasional atau kebangsaan. 

“Perlu diingat, pergerakan ini dimotori oleh para pemuda. Mereka kaum terpelajar yang sebagian disekolahkan oleh Belanda,” kata Yudian. 

Eks Rektor UIN Yogyakarta ini menjelaskan, ada 9 ciri para pemuda saat itu. Namun yang perlu diingat, kata dia, adalah para pemuda yang disekolahkan oleh Belanda itu akhirnya hanya dalam kurun 30 tahun telah memutuskan untuk bersumpah melawan penjajah yang tak lain pihak yang memberinya akses dan beasiswa untuk sekolah. Kemudian mereka mewujudkan cita-cita Negara Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

“Ini tidak pernah terjadi dalam sejarah dunia  dimanapun,” terangnya. 

Yudian lalu mengajak para taruna Poltekip dan Poltekim untuk bersyukur karena bisa mendapat akses sekolah tinggi dan mendapat beasiswa. Karena di zaman dulu, akses pendidikan hanya khusus keturunan bangsawan. Saat ini, akses pendidikan sudah terbuka.

Bagaimana cara mensyukurinya? “Mempertahankan kemerdekaan yang dicapai para pemuda dahulu. Setelah itu, baru meningkatkan pencapaian kemerdekaan. Untuk meningkatkan capaian itu, pemuda harus mempersiapkan diri agar siap saat menjadi pemimpin kelak,” seloroh Yudian. 

Kemudian, pemuda harus siap mengembangkan potensi menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, cakap kreatif, mandiri serta menjadi warga yang demokratis dan bertanggung jawab. “Kita tidak hanya perlu untuk cakap secara kognitif menguasai sains dan teknologi. Diharapkan pula kritis inovatif, memiliki kepekaan sosial, dan mampu mengembangkan budaya,” pesan Yudian. 

Sementara itu, Asep Kurnia mengucapkan terima kasih kepada BPIP yang sudah memfasilitasi webinar. Ia menyampaikan, Kemenkumham saat ini memiliki 2 perguruan tinggi kedinasan yaitu Poltekip dengan jumlah 1.207 taruna, dan Poltekim 1.141 taruna. Setelah lulus para taruna ini akan ditempatkan di unit teknis sebagai aparatur Kemenkumham. 

Asep menjelaskan, Pancasila dan rakyat Indonesia tidak bisa dipisahkan. Sebab Pancasila adalah jati diri bangsa. Karena rumusan  nilai-nilai adalah nilai yang digali dari rakyat  sebagai falsafah dan pandangan hidup bangsa. 

Karena itu, Pancasila harus menjadi pedoman baik sebagai aparatur sipil negara  maupun  sebagai anggota masyarakat. Agar kita tidak mudah melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan norma hukum norma agama dan norma kesusilaan yang berlaku di tengah-tengah nilai-nilai Pancasila. Selain itu Pancasila dapat menggalang persatuan dalam mengatasi semua tantangan. 

“Pancasila harus kita hadirkan secara nyata dalam kehidupan dan diinternalisasi dalam kebijakan dan keputusan yang diambil,” ucapnya. 

Deputi BPIP, Prakoso mengatakan, manifestasi dan rasa syukur  kepada Tuhan atas kemerdekaan yaitu dengan mengaktualisasikan Pancasila. Harapannya,  nilai-nilai luhur Pancasila itu bisa diwariskan kepada segenap komponen bangsa khususnya kepada taruna di Poltekip dan Poltekim. “Karena generasi milenial adalah pewaris bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ucap Prakoso. [BCG]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories