BP Jamsostek Beli Saham Yang Diburu Investor, Nilai Investasinya Disebut Terus Naik

Pengamat ekonomi Ardo R Dwitanto menilai, penurunan investasi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BP Jamsostek) berbeda dengan Jiwasraya dan Asabri. Buktinya, nilai yang diinvestasikan BP Jamsostek terus meningkat.

Ada empat perbedaan pengelolaan investasi antara BP Jamsostek dengan Asabri maupun Jiwasraya. Pertama, emiten yang sahamnya dibeli BP Jamsostek merupakan saham-saham yang umumnya dibeli investor. Kedua, penurunan nilai investasi disebabkan risiko pasar. Ketiga, risiko pasar setelah diversifikasi mengikuti indeks pasar saham. Keempat, penurunan nilai investasi BP Jamsostek tidak berdampak pada kemampuan pembayaran klaim.

Emiten yang dibeli BP Jamsostek juga penghuni tetap Indeks LQ45 dan sebagian besar merupakan indeks saham investasi global, seperti MSCI Indonesia Index. Sedangkan yang masuk di LQ45 di antaranya BBCA, BBRI, TLKM, BMRI, ASII, UNVR, BBNI, dan UNTR. Sebagai catatan, MSCI Indonesia Index merupakan indeks acuan bagi investor global ketika berinvestasi saham di Indonesia.

“BP Jamsostek memiliki profil risiko investasi saham yang cenderung konservatif, yakni mengikuti indeks pasar saham. Emiten-emiten saham yang berada dalam portofolio investasinya merupakan penghuni tetap indeks pasar,” ulas Ardo, melalui keterangan resmi yang diterima RM.id, Senin (15/3).

Artinya, emiten pilihan BP Jamsostek itu memang banyak diburu investor karena kinerja bagus, mapan, dan nilai kapitalisasinya besar. Sedangkan, penurunan nilai investasi, disebabkan risiko pasar. Semua investasi memiliki dua sisi yang tidak dapat dipisahkan: potensi untung dan potensi rugi.

Ardo menerangkan, ketika pemegang saham mengejar keuntungan tinggi, berarti dia juga bersiap menerima potensi kerugian tinggi. Begitu juga sebaliknya. Potensi untung yang rendah diikuti potensi kerugian rendah. Hal-hal seperti ini dinamakan risk-return trade-off.

Sedangkan kejadian pada BP Jamsostek, meski terjadi unrealized loss, secara keseluruhan nilai dana kelola investasi terus meningkat. Per Desember 2015, nilai dana investasinya hanya Rp 206,05 triliun. Kemudian, pada akhir 2020, investasinya tembus Rp 486,38 triliun, atau meningkat 137 persen. “Ini merupakan bukti bahwa manajemen risiko investasi yang diterapkan BP Jamsostek telah membuahkan hasil portofolio investasi yang tahan uji terhadap stock market crash akibat lonjakan ketidakpastian yang ditimbulkan  pandemi Covid-19,” terang Ardo. 

Dia menambahkan, sejak 2016, imbal hasil Jaminan Hari Tua (JHT) berhasil dipertahankan di atas rata-rata bunga deposito bank pemerintah. Pada 2017, imbal hasil JHT mencapai 7,83 persen per tahun. Sedangkan di 2020, imbal hasil JHT sebesar 5,59 persen per tahun, tetap di atas rata-rata bunga deposito bank pemerintah, yang hanya 3,62 persen per tahun.

Kata Ardo, program ini saja sudah membuktikan komitmen BP Jamsostek dalam menjaga sustainable growth nilai investasi di atas rata-rata bunga deposito bank pemerintah. Selain itu, lembaga yang dinakhodai Anggoro Eko Cahyo itu tidak mengalami kesulitan dalam melakukan pembayaran klaim peserta.

Hal ini tercermin dalam kenaikan pembayaran klaim 2020 sebesar 22,82 persen atau Rp 36,94 triliun. Ini menunjukkan bahwa penurunan nilai investasi saham tidak berdampak pada kemampuan BP Jamsostek dalam pembayaran klaim peserta.

Unrealized loss belum benar-benar mengakibatkan kerugian selama saham-saham yang mengalami kerugian tidak dijual. Ketika saham-saham yang mengalami kerugian dijual, unrealized loss menjadi kenyataan. Jika itu dilakukan, maka terjadi transaksi yang merugikan. Bukti dari sebuah transaksi yaitu adanya biaya transaksi yang dikeluarkan, di mana itu tidak ada ketika masih unrealized loss,” pungkas Ardo. [MEN]

]]> Pengamat ekonomi Ardo R Dwitanto menilai, penurunan investasi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BP Jamsostek) berbeda dengan Jiwasraya dan Asabri. Buktinya, nilai yang diinvestasikan BP Jamsostek terus meningkat.

Ada empat perbedaan pengelolaan investasi antara BP Jamsostek dengan Asabri maupun Jiwasraya. Pertama, emiten yang sahamnya dibeli BP Jamsostek merupakan saham-saham yang umumnya dibeli investor. Kedua, penurunan nilai investasi disebabkan risiko pasar. Ketiga, risiko pasar setelah diversifikasi mengikuti indeks pasar saham. Keempat, penurunan nilai investasi BP Jamsostek tidak berdampak pada kemampuan pembayaran klaim.

Emiten yang dibeli BP Jamsostek juga penghuni tetap Indeks LQ45 dan sebagian besar merupakan indeks saham investasi global, seperti MSCI Indonesia Index. Sedangkan yang masuk di LQ45 di antaranya BBCA, BBRI, TLKM, BMRI, ASII, UNVR, BBNI, dan UNTR. Sebagai catatan, MSCI Indonesia Index merupakan indeks acuan bagi investor global ketika berinvestasi saham di Indonesia.

“BP Jamsostek memiliki profil risiko investasi saham yang cenderung konservatif, yakni mengikuti indeks pasar saham. Emiten-emiten saham yang berada dalam portofolio investasinya merupakan penghuni tetap indeks pasar,” ulas Ardo, melalui keterangan resmi yang diterima RM.id, Senin (15/3).

Artinya, emiten pilihan BP Jamsostek itu memang banyak diburu investor karena kinerja bagus, mapan, dan nilai kapitalisasinya besar. Sedangkan, penurunan nilai investasi, disebabkan risiko pasar. Semua investasi memiliki dua sisi yang tidak dapat dipisahkan: potensi untung dan potensi rugi.

Ardo menerangkan, ketika pemegang saham mengejar keuntungan tinggi, berarti dia juga bersiap menerima potensi kerugian tinggi. Begitu juga sebaliknya. Potensi untung yang rendah diikuti potensi kerugian rendah. Hal-hal seperti ini dinamakan risk-return trade-off.

Sedangkan kejadian pada BP Jamsostek, meski terjadi unrealized loss, secara keseluruhan nilai dana kelola investasi terus meningkat. Per Desember 2015, nilai dana investasinya hanya Rp 206,05 triliun. Kemudian, pada akhir 2020, investasinya tembus Rp 486,38 triliun, atau meningkat 137 persen. “Ini merupakan bukti bahwa manajemen risiko investasi yang diterapkan BP Jamsostek telah membuahkan hasil portofolio investasi yang tahan uji terhadap stock market crash akibat lonjakan ketidakpastian yang ditimbulkan  pandemi Covid-19,” terang Ardo. 

Dia menambahkan, sejak 2016, imbal hasil Jaminan Hari Tua (JHT) berhasil dipertahankan di atas rata-rata bunga deposito bank pemerintah. Pada 2017, imbal hasil JHT mencapai 7,83 persen per tahun. Sedangkan di 2020, imbal hasil JHT sebesar 5,59 persen per tahun, tetap di atas rata-rata bunga deposito bank pemerintah, yang hanya 3,62 persen per tahun.

Kata Ardo, program ini saja sudah membuktikan komitmen BP Jamsostek dalam menjaga sustainable growth nilai investasi di atas rata-rata bunga deposito bank pemerintah. Selain itu, lembaga yang dinakhodai Anggoro Eko Cahyo itu tidak mengalami kesulitan dalam melakukan pembayaran klaim peserta.

Hal ini tercermin dalam kenaikan pembayaran klaim 2020 sebesar 22,82 persen atau Rp 36,94 triliun. Ini menunjukkan bahwa penurunan nilai investasi saham tidak berdampak pada kemampuan BP Jamsostek dalam pembayaran klaim peserta.

“Unrealized loss belum benar-benar mengakibatkan kerugian selama saham-saham yang mengalami kerugian tidak dijual. Ketika saham-saham yang mengalami kerugian dijual, unrealized loss menjadi kenyataan. Jika itu dilakukan, maka terjadi transaksi yang merugikan. Bukti dari sebuah transaksi yaitu adanya biaya transaksi yang dikeluarkan, di mana itu tidak ada ketika masih unrealized loss,” pungkas Ardo. [MEN]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories