Bos BI Pede Pertumbuhan Ekonomi Capai 5,3 Persen

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo tetap optimistis perekonomian Indonesia akan tetap mampu tumbuh sekitar 4,8 persen sampai 5,3 persen tahun ini.

Pihaknya juga tidak khawatir dengan proyeksi IMF yang hanya mematok proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 4,3 persen.

“Kami lebih optimistis dari IMF sebab sinergi yang sudah kita jalankan cukup kuat dan ekspor kita juga bagus,” katanya dalam acara Sarasehan Akselerasi Pemulihan Ekonomi Nasional di Jakarta, Jumat (9/4).

Ia menuturkan sinergi yang kuat itu dilakukan baik dari sisi ekspor, inflasi, rasio kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL), perbankan, pemberian stimulus ekonomi, program vaksinasi maupun dalam mendorong penyaluran kredit.

Perry yakin, melalui sinergi kuat, ditambah dengan vaksinasi, stimulus fiskal, stimulus moneter, stimulus OJK, dukungan Komisi XI DPR, perbankan, hingga dunia usaha, recovery ekonomi Indonesia akan berjalan sesuai harapan.

“Kita pastikan semua policy BI mendukung pertumbuhan ekonomi dengan sinergi bersama pemerintah dan seluruh stakeholder,” tegasnya.

Sementara, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, agar proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini bisa terealisasi, pemerintah berkomitmen untuk lebih mendorong pemulihan ekonomi, sekaligus tetap melakukan penanganan Covid-19 secara ketat.

 

Ia mengatakan, pemerintah menjadikan Ramadan dan Lebaran Idul Fitri tahun 2021 ini sebagai momentum untuk mengungkit ekonomi di kuartal II-2021, dengan tetap menjaga pengendalian pandemi Covid-19.

“Pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2021 diproyeksikan masih negatif, sehingga untuk dapat kembali ke level pertumbuhan pra-Covid, ekonomi harus tumbuh mencapai 7 persen di kuartal II-2021,” kata Airlangga dalam keterangannya, Kamis (8/4).

Dilanjutkannya, pemerintah telah menyusun beberapa kebijakan guna mengoptimalkan peningkatan konsumsi pada Ramadan dan Lebaran Idul Fitri 2021.

Kebijakan tersebut antara lain dengan mewajibkan pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) kepada karyawan swasta dan Gaji ke-13 dan THR untuk Aparatur Sipil Negara (ASN), TNI dan Polri. [NOV]

]]> Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo tetap optimistis perekonomian Indonesia akan tetap mampu tumbuh sekitar 4,8 persen sampai 5,3 persen tahun ini.

Pihaknya juga tidak khawatir dengan proyeksi IMF yang hanya mematok proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 4,3 persen.

“Kami lebih optimistis dari IMF sebab sinergi yang sudah kita jalankan cukup kuat dan ekspor kita juga bagus,” katanya dalam acara Sarasehan Akselerasi Pemulihan Ekonomi Nasional di Jakarta, Jumat (9/4).

Ia menuturkan sinergi yang kuat itu dilakukan baik dari sisi ekspor, inflasi, rasio kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL), perbankan, pemberian stimulus ekonomi, program vaksinasi maupun dalam mendorong penyaluran kredit.

Perry yakin, melalui sinergi kuat, ditambah dengan vaksinasi, stimulus fiskal, stimulus moneter, stimulus OJK, dukungan Komisi XI DPR, perbankan, hingga dunia usaha, recovery ekonomi Indonesia akan berjalan sesuai harapan.

“Kita pastikan semua policy BI mendukung pertumbuhan ekonomi dengan sinergi bersama pemerintah dan seluruh stakeholder,” tegasnya.

Sementara, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, agar proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini bisa terealisasi, pemerintah berkomitmen untuk lebih mendorong pemulihan ekonomi, sekaligus tetap melakukan penanganan Covid-19 secara ketat.

 

Ia mengatakan, pemerintah menjadikan Ramadan dan Lebaran Idul Fitri tahun 2021 ini sebagai momentum untuk mengungkit ekonomi di kuartal II-2021, dengan tetap menjaga pengendalian pandemi Covid-19.

“Pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2021 diproyeksikan masih negatif, sehingga untuk dapat kembali ke level pertumbuhan pra-Covid, ekonomi harus tumbuh mencapai 7 persen di kuartal II-2021,” kata Airlangga dalam keterangannya, Kamis (8/4).

Dilanjutkannya, pemerintah telah menyusun beberapa kebijakan guna mengoptimalkan peningkatan konsumsi pada Ramadan dan Lebaran Idul Fitri 2021.

Kebijakan tersebut antara lain dengan mewajibkan pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) kepada karyawan swasta dan Gaji ke-13 dan THR untuk Aparatur Sipil Negara (ASN), TNI dan Polri. [NOV]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories