Booster Sinovac Tak Cukup Lawan Omicron, Benarkah?

Belum lama ini, The University Hong Kong menerbitkan rilis, yang menyebut antibodi yang dihasilkan pasca vaksin booster Sinovac tak cukup melawan Omicron.

Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan, apakah rendahnya antibodi tersebut menyebabkan penurunan efektivitas vaksin Sinovac terhadap Omicron?

Terkait hal tersebut, Kandidat PhD Kobe University dr. Adam Prabata mengatakan, sampai saat ini masih belum diketahui pasti, efektivitas vaksin Sinovac 2 dosis dan booster terhadap Omicron.

“Masih perlu penelitian lebih lanut, untuk mengetahui efek rendahnya antibodi tersebut, terhadap efektivitas vaksin Sinovac dalam melawan Omicron,” ujar Adam melalui laman Instagram-nya.

Adam juga mengatakan, kita tak bisa buru-buru melabeli Sinovac tak bermanfaat untuk varian Omicron.

“Belum tentu. Karena sampai saat ini, belum ada data efektivitas booster vaksin Sinovac untuk varian Omicron. Terutama dalam mencegah sakit berat, rawat inap dan meninggal dunia,” jelas Adam.

Selain itu, lanjutnya, juga belum diketahui konsistensi hasil penelitian dari Hong Kong tersebut, pada riset lainnya. [HES]

]]> Belum lama ini, The University Hong Kong menerbitkan rilis, yang menyebut antibodi yang dihasilkan pasca vaksin booster Sinovac tak cukup melawan Omicron.

Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan, apakah rendahnya antibodi tersebut menyebabkan penurunan efektivitas vaksin Sinovac terhadap Omicron?

Terkait hal tersebut, Kandidat PhD Kobe University dr. Adam Prabata mengatakan, sampai saat ini masih belum diketahui pasti, efektivitas vaksin Sinovac 2 dosis dan booster terhadap Omicron.

“Masih perlu penelitian lebih lanut, untuk mengetahui efek rendahnya antibodi tersebut, terhadap efektivitas vaksin Sinovac dalam melawan Omicron,” ujar Adam melalui laman Instagram-nya.

Adam juga mengatakan, kita tak bisa buru-buru melabeli Sinovac tak bermanfaat untuk varian Omicron.

“Belum tentu. Karena sampai saat ini, belum ada data efektivitas booster vaksin Sinovac untuk varian Omicron. Terutama dalam mencegah sakit berat, rawat inap dan meninggal dunia,” jelas Adam.

Selain itu, lanjutnya, juga belum diketahui konsistensi hasil penelitian dari Hong Kong tersebut, pada riset lainnya. [HES]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories