Bongkar Kabinet Di Tengah Pandemi Bambro Sudah Pamitan, Bahlil Menteri Investasi?

Di saat sedang berjibaku memerangi Corona, wacana bongkar kabinet kembali mengemuka. Pemicunya, Presiden Jokowi memilih menggabungkan Kemenristek ke Kemendikbud, lalu akan dibentuk pula kementerian baru. Namanya: Kementerian Investasi. Menristek Bambang Brodjonegoro (Bambro) sudah kasih isyarat akan berhenti. Lalu, siapa yang akan jadi Menteri Investasi? Apakah Bahlil Lahadalia yang saat ini menjabat Kepala BKPM? Atau…? Kita tunggu saja.

Keputusan penggabungan Kemenristek (Kementerian Riset dan Teknologi) dengan Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) baru diketahui publik setelah Rapat Paripurna DPR, kemarin. Dalam Rapat Paripurna itu, para politisi Senayan menyetujui Surat Presiden Nomor R-14/Pres/03/2021 perihal Pertimbangan Pengubahan Kementerian, yang sebelumnya dibahas dalam Rapat Konsultasi Pengganti Badan Musyawarah (Bamus) DPR, Kamis (8/4).

Keputusannya ada dua. Pertama, menggabungkan sebagian tugas dan fungsi Kemenristek ke Kemendikbud. Kedua, membentuk Kementerian Investasi.

Adanya keputusan ini langsung menghangatkan isu reshuffle. Apalagi sudah beredar kabar Menteri Bambang Brodjonegoro sudah mengirimkan surat pengunduran diri ke Presiden Jokowi.

Saat dikonfirmasi Rakyat Merdeka, tadi malam, Bambang irit bicara. “No comment,” jawab Bambang, singkat.

Namun, Bambang sudah memberikan sinyal akan mundur saat bicara di peresmian Science Technology Park, di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, kemarin. Bambang menyebut, kunjungan itu mungkin jadi yang terakhir bagi dirinya sebagai Menristek.

“Hari ini (kemarin, red), mungkin akan menjadi kunjungan saya terakhir ke daerah sebagai Menristek. Karena sesuai hasil Rapat Paripurna DPR, Kemenristek akan dilebur ke dalam Kemendikbud. Jadi, artinya, tidak ada lagi Menristek, dan tidak ada lagi kunjungan daerah dari Menristek,” ucapnya.

Kunjungan ini, lanjut Bambang, begitu istimewa. Selain menjadi akhir kunjungannya sebagai Menristek, Unhas juga adalah kampus pertama yang dikunjunginnya sebagai Menristek. Saat itu, dirinya membuka joint group meeting Indonesia-Perancis dalam bidang penelitian.

“Kebetulan atau karena apa. Padahal acara ini sudah disusun jauh-jauh hari. Tapi, kok yang terakhir di Sulawesi Selatan juga, di Unhas juga tempatnya,” ungkapnya.

Sementara terkait Kementerian Investasi, Juru Bicara Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Jodi Mahardi memberikan sedikit bocoran.

“Rencananya, BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) akan menjadi Kementerian Investasi. Untuk detailnya, silakan cek ke BKPM,” ucap Jodi, kemarin.

Jika lembaganya akan “naik kelas” menjadi kementerian, apa Kepala BKPM Bahlil Lahadalia juga akan ikut naik kelas? Mantan Ketua Umum HIPMI tersebut tidak mau menduga-duga. Ia menyerahkan sepenuhnya ke Presiden Jokowi.

 

“Terkait pembentukan Kementerian Investasi, hal tersebut merupakan hak prerogatif Bapak Presiden. BKPM dalam posisi mengikuti arahan Bapak Presiden,” ujarnya Juru Bicara BKPM, Tina Talisa, kemarin.

Soal kewenangan, peran, maupun fungsi Kementerian Investasi, Tina tidak mau berbicara lebih spesifik. Dia hanya menyebut, dalam waktu dekat akan dijelaskan secara rinci, namun bukan oleh BKPM.

“Yang jelas, BKPM siap menjalankan apa pun yang diputuskan dan diarahkan Bapak Presiden,” terang mantan presenter TV kondang tersebut.

Anggota Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun tak mau ikut cawe-cawe soal siapa yang akan ditunjuk Jokowi menjadi Menteri Investasi. Dia hanya menyebut, kalau dilihat dari fungsinya, kursi ini bisa diisi Kepala BKPM.

“Soal siapa figur menteri yang memimpin Kementerian Investasi, itu kewenangan Bapak Presiden. Bisa saja Pak Bahlil sebagai Kepala BKPM diangkat sebagai menterinya. Atau bisa juga Bapak Presiden menetapkan nama lainnya,” tuturnya, kemarin.

Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari tidak heran dengan keputusan pembentukan Kementerian Investasi. Dia melihat, dari awal Jokowi memang ingin memiliki Kementerian Investasi. Menurut dia, selama ini Bahlil pun sudah berperan sebagai Menteri Investasi. Namun, karena nomenklatur dan aturan main, jabatannya tetap Kepala BKPM.

“Karena itu, saya melihat menterinya tetap Bahlil. Karena saya lihat Pak Jokowi puas dan senang dengan kinerja Bahlil,” ucap Qodari, saat dihubungi, tadi malam.

Menurutnya, periode kedua Jokowi, memang fokus mengedepankan investasi. Terlebih, suasana pandemi membuat peran investasi semakin besar. Terlihat dari porsi konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi turun.

Qodari menyebut, keputusan membentuk Kementerian Investasi sejalan dengan diberlakukannya Undang-Undang Cipta Kerja yang memaksimalkan peran investasi untuk membuka lapangan pekerjaan dan mengentaskan kemiskinan. “Perangkat undang-undangnya sudah ada, lembaganya dibuat maksimal. Apalagi kementerian koordinatornya sudah ada, yakni Kemenko Marves,” paparnya.

Soal Kemenristekdikti, ia menganggap wajar dua kementerian itu, digabung. Siapa yang didapuk menjadi menteri, ini yang menarik. Apakah Bambang akan menjadi menteri baru, atau terpental dari kabinet. Atau bahkan Nadiem Makarim yang tetap diplot sebagai Menteri Pendidikan dan Ristek.

“Perubahan ini akan memicu reshuffle kedua. Akan mengalami pergeseran, bukan hanya Bambang atau Makarim, atau kementerian lain. Tapi, saya belum mendengar pos lain yang akan bergeser,” pungkasnya. [MEN]

]]> Di saat sedang berjibaku memerangi Corona, wacana bongkar kabinet kembali mengemuka. Pemicunya, Presiden Jokowi memilih menggabungkan Kemenristek ke Kemendikbud, lalu akan dibentuk pula kementerian baru. Namanya: Kementerian Investasi. Menristek Bambang Brodjonegoro (Bambro) sudah kasih isyarat akan berhenti. Lalu, siapa yang akan jadi Menteri Investasi? Apakah Bahlil Lahadalia yang saat ini menjabat Kepala BKPM? Atau…? Kita tunggu saja.

Keputusan penggabungan Kemenristek (Kementerian Riset dan Teknologi) dengan Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) baru diketahui publik setelah Rapat Paripurna DPR, kemarin. Dalam Rapat Paripurna itu, para politisi Senayan menyetujui Surat Presiden Nomor R-14/Pres/03/2021 perihal Pertimbangan Pengubahan Kementerian, yang sebelumnya dibahas dalam Rapat Konsultasi Pengganti Badan Musyawarah (Bamus) DPR, Kamis (8/4).

Keputusannya ada dua. Pertama, menggabungkan sebagian tugas dan fungsi Kemenristek ke Kemendikbud. Kedua, membentuk Kementerian Investasi.

Adanya keputusan ini langsung menghangatkan isu reshuffle. Apalagi sudah beredar kabar Menteri Bambang Brodjonegoro sudah mengirimkan surat pengunduran diri ke Presiden Jokowi.

Saat dikonfirmasi Rakyat Merdeka, tadi malam, Bambang irit bicara. “No comment,” jawab Bambang, singkat.

Namun, Bambang sudah memberikan sinyal akan mundur saat bicara di peresmian Science Technology Park, di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, kemarin. Bambang menyebut, kunjungan itu mungkin jadi yang terakhir bagi dirinya sebagai Menristek.

“Hari ini (kemarin, red), mungkin akan menjadi kunjungan saya terakhir ke daerah sebagai Menristek. Karena sesuai hasil Rapat Paripurna DPR, Kemenristek akan dilebur ke dalam Kemendikbud. Jadi, artinya, tidak ada lagi Menristek, dan tidak ada lagi kunjungan daerah dari Menristek,” ucapnya.

Kunjungan ini, lanjut Bambang, begitu istimewa. Selain menjadi akhir kunjungannya sebagai Menristek, Unhas juga adalah kampus pertama yang dikunjunginnya sebagai Menristek. Saat itu, dirinya membuka joint group meeting Indonesia-Perancis dalam bidang penelitian.

“Kebetulan atau karena apa. Padahal acara ini sudah disusun jauh-jauh hari. Tapi, kok yang terakhir di Sulawesi Selatan juga, di Unhas juga tempatnya,” ungkapnya.

Sementara terkait Kementerian Investasi, Juru Bicara Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Jodi Mahardi memberikan sedikit bocoran.

“Rencananya, BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) akan menjadi Kementerian Investasi. Untuk detailnya, silakan cek ke BKPM,” ucap Jodi, kemarin.

Jika lembaganya akan “naik kelas” menjadi kementerian, apa Kepala BKPM Bahlil Lahadalia juga akan ikut naik kelas? Mantan Ketua Umum HIPMI tersebut tidak mau menduga-duga. Ia menyerahkan sepenuhnya ke Presiden Jokowi.

 

“Terkait pembentukan Kementerian Investasi, hal tersebut merupakan hak prerogatif Bapak Presiden. BKPM dalam posisi mengikuti arahan Bapak Presiden,” ujarnya Juru Bicara BKPM, Tina Talisa, kemarin.

Soal kewenangan, peran, maupun fungsi Kementerian Investasi, Tina tidak mau berbicara lebih spesifik. Dia hanya menyebut, dalam waktu dekat akan dijelaskan secara rinci, namun bukan oleh BKPM.

“Yang jelas, BKPM siap menjalankan apa pun yang diputuskan dan diarahkan Bapak Presiden,” terang mantan presenter TV kondang tersebut.

Anggota Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun tak mau ikut cawe-cawe soal siapa yang akan ditunjuk Jokowi menjadi Menteri Investasi. Dia hanya menyebut, kalau dilihat dari fungsinya, kursi ini bisa diisi Kepala BKPM.

“Soal siapa figur menteri yang memimpin Kementerian Investasi, itu kewenangan Bapak Presiden. Bisa saja Pak Bahlil sebagai Kepala BKPM diangkat sebagai menterinya. Atau bisa juga Bapak Presiden menetapkan nama lainnya,” tuturnya, kemarin.

Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari tidak heran dengan keputusan pembentukan Kementerian Investasi. Dia melihat, dari awal Jokowi memang ingin memiliki Kementerian Investasi. Menurut dia, selama ini Bahlil pun sudah berperan sebagai Menteri Investasi. Namun, karena nomenklatur dan aturan main, jabatannya tetap Kepala BKPM.

“Karena itu, saya melihat menterinya tetap Bahlil. Karena saya lihat Pak Jokowi puas dan senang dengan kinerja Bahlil,” ucap Qodari, saat dihubungi, tadi malam.

Menurutnya, periode kedua Jokowi, memang fokus mengedepankan investasi. Terlebih, suasana pandemi membuat peran investasi semakin besar. Terlihat dari porsi konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi turun.

Qodari menyebut, keputusan membentuk Kementerian Investasi sejalan dengan diberlakukannya Undang-Undang Cipta Kerja yang memaksimalkan peran investasi untuk membuka lapangan pekerjaan dan mengentaskan kemiskinan. “Perangkat undang-undangnya sudah ada, lembaganya dibuat maksimal. Apalagi kementerian koordinatornya sudah ada, yakni Kemenko Marves,” paparnya.

Soal Kemenristekdikti, ia menganggap wajar dua kementerian itu, digabung. Siapa yang didapuk menjadi menteri, ini yang menarik. Apakah Bambang akan menjadi menteri baru, atau terpental dari kabinet. Atau bahkan Nadiem Makarim yang tetap diplot sebagai Menteri Pendidikan dan Ristek.

“Perubahan ini akan memicu reshuffle kedua. Akan mengalami pergeseran, bukan hanya Bambang atau Makarim, atau kementerian lain. Tapi, saya belum mendengar pos lain yang akan bergeser,” pungkasnya. [MEN]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories