Bocah Tewas Di Tangan Junta, Khin Myo Chit: Ayah Sakit Aku Tak Tahan

Situasi di Myanmar sangat memprihatinkan. Anak-anak yang tewas rata-rata terbunuh di rumahnya. Padahal, seharusnya rumah menjadi tempat teraman bagi mereka. Demikian temuan Sava The Children, lembaga swadaya masyarakat, yang mengupayakan pemenuhan hak-hak anak.

Save the Children mengungkap, setidaknya ada 20 anak-anak yang kehilangan nyawa akibat keganasan militer Myanmar. “Fakta bahwa saat ini banyak anak dibunuh hampir setiap hari menunjukkan pengabaian terhadap kehidupan manusia oleh pasukan keamanan,’’ ujar lembaga yang berbasis di London, Inggris, tersebut.

Kejadian naas menimpa Khin Myo Chit. Bocah perempuan usia 7 tahun korban termuda tewas oleh peluru junta militer Myanmar yang menggrebek kediamannya, Selasa (23/4/2021). Sehari sebelumnya, remaja 14 tahun Tun Tun Aung juga meninggal karena ditembak aparat. Mereka berdua sama-sama ditembak di rumahnya di Mandalay.

Awalnya, aparat datang ke kediaman U Maung Ko Hashin Bai, ayah Khin Myo Chit. Mereka masuk dengan menendang pintu, lalu bertanya apakah ada orang lain di dalam rumah. Saat dijawab tidak ada, mereka tak percaya. Mungkin karena takut, Khin Myo Chit lari ke pelukan ayahnya. Saat itulah salah seorang polisi menembak bocah berambut pendek tersebut.

’’Ayah, aku tidak tahan. Ini terlalu sakit,’’ kata Khin Myo Chit kepada ayahnya di detik-detik menjelang kematiannya. Dia meninggal 30 menit setelah ditembak. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit. Kakaknya yang berusia 19 tahun juga dipukuli dan ditangkap polisi.

Save the Children menegaskan, situasi di Myanmar saat ini memprihatinkan. Anak-anak yang tewas rata-rata terbunuh di rumahnya. Padahal, seharusnya rumah menjadi tempat teraman bagi mereka.

Pada hari yang sama, Juru Bicara Junta Militer Zaw Min Tun menyatakan prihatin atas banyaknya korban tewas dalam aksi massa. Namun dia menuding demonstran bertindak anarkhis. Militer menyebut, jumlah yang tewas dalam demo Myanmar 164 orang. Namun, versi Asosiasi Pendampingan Tahanan Politik (AAPP), jumlah demonstran yang kehilangan nyawa setidaknya 261 orang.

Terpisah, (24/3) pemerintah Myanmar membebaskan sekitar 600 aktivis yang ditahan di Penjara Insein, Yangon. Mereka umumnya  mahasiswa. Fotografer Associated Press Thein Zaw juga termasuk yang akhirnya menghirup udara bebas.

Pada hari yang sama, massa melancarkan aksi hening. Mereka tak lagi turun ke jalan. Massa berdiam diri di rumah. Jalanan kota-kota hening dan sepi seperti kota mati. Akun Twitter Gerakan Pembangkangan Sipil mengungkap, hal itu dilakukan untuk menunjukkan kepada junta militer bahwa mereka bisa berbuat apa pun. Massa bisa menutup kota-kota atau membanjiri jalanan dengan lautan manusia.[MEL]

 

]]> Situasi di Myanmar sangat memprihatinkan. Anak-anak yang tewas rata-rata terbunuh di rumahnya. Padahal, seharusnya rumah menjadi tempat teraman bagi mereka. Demikian temuan Sava The Children, lembaga swadaya masyarakat, yang mengupayakan pemenuhan hak-hak anak.

Save the Children mengungkap, setidaknya ada 20 anak-anak yang kehilangan nyawa akibat keganasan militer Myanmar. “Fakta bahwa saat ini banyak anak dibunuh hampir setiap hari menunjukkan pengabaian terhadap kehidupan manusia oleh pasukan keamanan,’’ ujar lembaga yang berbasis di London, Inggris, tersebut.

Kejadian naas menimpa Khin Myo Chit. Bocah perempuan usia 7 tahun korban termuda tewas oleh peluru junta militer Myanmar yang menggrebek kediamannya, Selasa (23/4/2021). Sehari sebelumnya, remaja 14 tahun Tun Tun Aung juga meninggal karena ditembak aparat. Mereka berdua sama-sama ditembak di rumahnya di Mandalay.

Awalnya, aparat datang ke kediaman U Maung Ko Hashin Bai, ayah Khin Myo Chit. Mereka masuk dengan menendang pintu, lalu bertanya apakah ada orang lain di dalam rumah. Saat dijawab tidak ada, mereka tak percaya. Mungkin karena takut, Khin Myo Chit lari ke pelukan ayahnya. Saat itulah salah seorang polisi menembak bocah berambut pendek tersebut.

’’Ayah, aku tidak tahan. Ini terlalu sakit,’’ kata Khin Myo Chit kepada ayahnya di detik-detik menjelang kematiannya. Dia meninggal 30 menit setelah ditembak. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit. Kakaknya yang berusia 19 tahun juga dipukuli dan ditangkap polisi.

Save the Children menegaskan, situasi di Myanmar saat ini memprihatinkan. Anak-anak yang tewas rata-rata terbunuh di rumahnya. Padahal, seharusnya rumah menjadi tempat teraman bagi mereka.

Pada hari yang sama, Juru Bicara Junta Militer Zaw Min Tun menyatakan prihatin atas banyaknya korban tewas dalam aksi massa. Namun dia menuding demonstran bertindak anarkhis. Militer menyebut, jumlah yang tewas dalam demo Myanmar 164 orang. Namun, versi Asosiasi Pendampingan Tahanan Politik (AAPP), jumlah demonstran yang kehilangan nyawa setidaknya 261 orang.

Terpisah, (24/3) pemerintah Myanmar membebaskan sekitar 600 aktivis yang ditahan di Penjara Insein, Yangon. Mereka umumnya  mahasiswa. Fotografer Associated Press Thein Zaw juga termasuk yang akhirnya menghirup udara bebas.

Pada hari yang sama, massa melancarkan aksi hening. Mereka tak lagi turun ke jalan. Massa berdiam diri di rumah. Jalanan kota-kota hening dan sepi seperti kota mati. Akun Twitter Gerakan Pembangkangan Sipil mengungkap, hal itu dilakukan untuk menunjukkan kepada junta militer bahwa mereka bisa berbuat apa pun. Massa bisa menutup kota-kota atau membanjiri jalanan dengan lautan manusia.[MEL]

 
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories