Blusukan Ke Xinjiang, Dubes Iran Lihat Warga Shalat Di Masjid .

Berkunjung ke Masjid Baida yang terletak di Urumqi, Daerah Otonom Etnis Uighur Xinjiang. Salat di permadani yang lembut yang menutupi lantai masjid membuat kabar yang selama ini memojokkan China sirna seketika.

Menanggapi rumor yang dibuat beberapa media Barat bahwa Xinjiang “membatasi kebebasan berkeyakinan,” Duta Besar Iran untuk China Mohammad Keshavarz-Zadeh mengatakan, selama kunjungan ke Masjid Baida yang terletak di Urumqi, aktivitas keagamaan Islam yang normal di masjid berlangsung sejalan dengan keinginan umat Muslim di Xinjiang.

“Sebagai seorang Muslim, saya salat di masjid. Saya melihat orang-orang bebas menjalankan aktivitas keagamaannya,” katanya takjub. Ia tidak melihat masjid Xinjiang dihancurkan.

Tak hanya suasanya menyenangkan, Ia juga marasa para lansia dan juga penyandang disabilitas nyaman beribadah di sana. Masjid juga memiliki fasilitas seperti toilet flush, ruang wudhu, kantin, dan pusat budaya. Keshavarz-Zadeh juga memperhatikan bahwa upaya pemerintah China dalam memerangi terorisme membuahkan hasil.

“Xinjiang telah membalikkan masa lalu, yang ditandai dengan aktivitas teroris yang sering terjadi. Tidak ada aksi terorisme di seluruh wilayah selama lebih dari empat tahun terakhir,” kata Shohrat Zakir, ketua pemerintah daerah, kepada delegasi dalam sebuah pengarahan.

Keshavarz-Zadeh bukan satu-satunya yang terkesan dengan perkembangan sosial dan ekonomi di Xinjiang dalam beberapa tahun terakhir. Dari 30 Maret hingga 2 April, delegasi lebih dari 30 diplomat dari 21 negara mengunjungi Xinjiang. Beberapa diplomat tersebut berasal dari Rusia, Azerbaijan, Iran, Nepal, Malaysia, dan Indonesia.

Mereka berbicara dengan penduduk setempat dari berbagai sektor masyarakat, mengunjungi sekolah dan perusahaan setempat, dan menyanggah rumor tentang Xinjiang, wilayah yang citranya sering dirusak beberapa politisi, organisasi, dan media Barat.

Sekretaris Jenderal Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) Vladimir Norov kagum pada bagaimana makanan pokok seperti roti ini telah mendorong perkembangan Daerah Otonomi Xinjiang Uighur di barat laut China. Ia menikmati sepotong naan yang ditaburi rempah-rempah dan mengobrol dengan seorang master naan di International Grand Bazaar di Urumqi.

“Naan bentuk integrasi sempurna antara tradisi dan modernitas,” kata Norov. Dia mengatakan yang paling membuatnya terkesan adalah rantai industri yang digerakkan naan, makanan sehari-hari untuk orang-orang di Xinjiang, yang juga populer di China bagian lain.

Pembuatan naan melibatkan produksi pertanian, pengolahan, logistik, kreativitas budaya, dan industri pariwisata, sehingga membuka kesempatan kerja. [MEL]

]]> .
Berkunjung ke Masjid Baida yang terletak di Urumqi, Daerah Otonom Etnis Uighur Xinjiang. Salat di permadani yang lembut yang menutupi lantai masjid membuat kabar yang selama ini memojokkan China sirna seketika.

Menanggapi rumor yang dibuat beberapa media Barat bahwa Xinjiang “membatasi kebebasan berkeyakinan,” Duta Besar Iran untuk China Mohammad Keshavarz-Zadeh mengatakan, selama kunjungan ke Masjid Baida yang terletak di Urumqi, aktivitas keagamaan Islam yang normal di masjid berlangsung sejalan dengan keinginan umat Muslim di Xinjiang.

“Sebagai seorang Muslim, saya salat di masjid. Saya melihat orang-orang bebas menjalankan aktivitas keagamaannya,” katanya takjub. Ia tidak melihat masjid Xinjiang dihancurkan.

Tak hanya suasanya menyenangkan, Ia juga marasa para lansia dan juga penyandang disabilitas nyaman beribadah di sana. Masjid juga memiliki fasilitas seperti toilet flush, ruang wudhu, kantin, dan pusat budaya. Keshavarz-Zadeh juga memperhatikan bahwa upaya pemerintah China dalam memerangi terorisme membuahkan hasil.

“Xinjiang telah membalikkan masa lalu, yang ditandai dengan aktivitas teroris yang sering terjadi. Tidak ada aksi terorisme di seluruh wilayah selama lebih dari empat tahun terakhir,” kata Shohrat Zakir, ketua pemerintah daerah, kepada delegasi dalam sebuah pengarahan.

Keshavarz-Zadeh bukan satu-satunya yang terkesan dengan perkembangan sosial dan ekonomi di Xinjiang dalam beberapa tahun terakhir. Dari 30 Maret hingga 2 April, delegasi lebih dari 30 diplomat dari 21 negara mengunjungi Xinjiang. Beberapa diplomat tersebut berasal dari Rusia, Azerbaijan, Iran, Nepal, Malaysia, dan Indonesia.

Mereka berbicara dengan penduduk setempat dari berbagai sektor masyarakat, mengunjungi sekolah dan perusahaan setempat, dan menyanggah rumor tentang Xinjiang, wilayah yang citranya sering dirusak beberapa politisi, organisasi, dan media Barat.

Sekretaris Jenderal Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) Vladimir Norov kagum pada bagaimana makanan pokok seperti roti ini telah mendorong perkembangan Daerah Otonomi Xinjiang Uighur di barat laut China. Ia menikmati sepotong naan yang ditaburi rempah-rempah dan mengobrol dengan seorang master naan di International Grand Bazaar di Urumqi.

“Naan bentuk integrasi sempurna antara tradisi dan modernitas,” kata Norov. Dia mengatakan yang paling membuatnya terkesan adalah rantai industri yang digerakkan naan, makanan sehari-hari untuk orang-orang di Xinjiang, yang juga populer di China bagian lain.

Pembuatan naan melibatkan produksi pertanian, pengolahan, logistik, kreativitas budaya, dan industri pariwisata, sehingga membuka kesempatan kerja. [MEL]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories