Blusukan Di Semarang Ganjar-Sandi Cocok Nih

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno begitu kompak saat blusukan di Semarang, Kamis (1/4) lalu. Saling puji, juga saling menghormati. Menyaksikan kemesraan Ganjar-Sandi ini, ada yang menilai mereka cocok dipasangkan di Pilpres 2024. Mungkinkah?

Ganjar-Sandi blusukan di Desa Lerep, Desa Wisata andalan Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Awal Maret lalu, desa ini dapat penghargaan dari Sandi sebagai desa wisata berkelanjutan terbaik.

Sandi datang lebih awal. Ia disambut Bupati Semarang Ngesti Nugraha. Sempat ditawari makanan selametan khas desa itu, namun Sandi menolak halus, karena sedang puasa. “Boleh dibungkus, Pak,” jawab Sandi.

Tak lama setelah itu, Ganjar tiba. Saat itu, sedang turun hujan lebat. Sambil memegang payung, orang nomor satu di Jateng itu, lari-lari kecil. Ia bergegas menemui Sandi.

Hari itu, Ganjar tampil mengenakan pakaian khas Jawa. Sementara Sandi, mengenakan hoodie biru dongker, khas gaya anak muda. Meskipun penampilannya beda dan tidak satu partai, Ganjar dan Sandi terlihat kompak dan akrab.

Dalam beberapa kesempatan, Sandi terlihat memayungi Ganjar. Ketika salam Corona, Ganjar membungkuk. Sandi membalasnya dengan membungkuk lebih dalam lagi. Keduanya juga terlihat saling memuji satu sama lain.

“Jangan-jangan ini, besok jadi calon presiden sama wakil presiden,” goda pembawa acara. Sontak, hadirin bersorak dan tepuk tangan.

Momen blusukan ke desa wisata itu, yang diunggah Sandi di Instagram, juga mendapat banyak tanggapan. Termasuk dikomentari Ganjar. “Siap perintah Pak Menteri,” tulis Ganjar.

Melihat hal ini, banyak warganet rame-rame “nyomblangin” keduanya buat nyapres. “Ganjar-Sandi yok, 2024,” tulis akun @suarakeadilan. “Cocok untuk 2024,” sahut @milhiasjacob. “Presiden dan wakil presiden,” tulis @rechanp. “Pasangan super ideal, RI 1 dan RI 2,” komentar akun @mursidbudihartoyahoo.com1523.

Sejauh ini, elektabilitas keduanya di sejumlah lembaga survei memang tinggi. Ganjar misalnya. Dalam survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyebutkan, mayoritas responden yang mendukung Jokowi akan mengalihkan suaranya ke Ganjar di Pilpres 2024.

Kesimpulan itu didapat dari jawaban spontan responden terkait Capres 2024. Hasilnya, Jokowi masih yang paling banyak dijagokan jika nyapres lagi. Yakni 15,2 persen. Di bawahnya, Prabowo Subianto 13,4 persen. Lalu, Ganjar 6,1 persen, Anies Baswedan 5,4 persen, Sandi 3,1 persen.

Tapi, kalau Jokowi tak nyapres lagi, maka Ganjar yang paling banyak dipilih. Elektabilitasnya mencapai 18,4 persen. Suara pendukung Jokowi tumpah ke Ganjar. Sementara Anies, dapat urutan kedua: 15,2 persen. Lalu, Ridwan Kamil 13,1 persen, dan Tri Rismaharini 12,7 persen.

 

Direktur Eksekutif SMRC Sirojudin Abbas menerangkan kenapa Ganjar lebih unggul, ketika Jokowi tak nyalon lagi. “Ganjar unggul pada pemilih yang puas dengan kinerja Presiden Jokowi. Sementara yang tidak puas, limpahan suaranya tidak ke Pak Prabowo ternyata, malah ke Pak Anies,” jelasnya, Kamis (1/4).

Sejauh ini, Ganjar maupun Sandi masih malu-malu kucing kalau ngomongin Pilpres. Lalu, bagaimana dengan partai keduanya yakni PDIP dan Gerindra? Apa mau menyokong kedua kadernya itu.

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, aturan di partainya sudah jelas. Yang berwenang menentukan Capres dan Cawapres di Pilpres 2024 adalah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Namun, ia memberi bocoran bahwa akan ada regenerasi secara menyeluruh di 2024. “Demokrasi yang dibangun partai sangat jelas,” kata Hasto, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Soal duet Ganjar-Sandi, Hasto enggan mengomentari. Meskipun elektabilitas Ganjar, kader partainya lagi melejit di banyak lembaga survei. Bagi partai Banteng, yang jadi pertimbangan bukan elektoral semata. Tapi yang paling jadi pertimbangan adalah karakter, kepemimpinan, komitmen ideologis dalam membumikan Pancasila, menjalankan amanat konstitusi dan paham akan amanat penderitaan rakyat.

Siapa orangnya itu? PDIP, kata Hasto, selalu percaya akan ada petunjuk dan campur tangan Tuhan. “Elektoral atas basis-basis pencitraan bukanlah cara PDIP dalam memilih pemimpin,” sambungnya.

Sebab, menurut Hasto, pemimpin lahir dari pergulatan, tanggung jawab bagi masa depan bangsa, keluhuran budi, punya karakter yang kuat, dan kokoh dalam keyakinan politik. “Seluruh kader PDI Perjuangan memercayakan proses itu kepada Ibu Megawati Soekarnoputri,” terang Hasto.

Bagaimana dengan Gerindra? Sejumlah elite partai berlogo kepala burung Garuda itu enggan mengomentari soal duet Ganjar-Sandi. Yang jelas, hasil Kongres Luar Biasa Partai Gerindra Agustus tahun lalu masih menginginkan Prabowo nyapres lagi di 2024.

Pakar politik Maswandi Rauf bilang, sistem politik di Indonesia sejatinya masih berkembang secara alamiah. Yang paling menentukan dalam Pilpres adalah figur, bukan parpol. “Siapa yang menonjol, itu yang mendapat dukungan dari parpol. Bukan partai mencalonkan (lebih dulu),” kata Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia itu, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Karena itu, ia melihat duet Ganjar-Sandi punya peluang besar. Meskipun keduanya bukan pemegang tampuk pimpinan partai. Apalagi, hubungan PDIP dan Gerindra sejauh ini masih baik. “Saya pikir koalisi PDIP-Gerindra ada peluang. Karena hubungan personal Prabowo-Mega masih terjaga. Tidak tertutup sama sekali,” pungkasnya. [SAR]

]]> Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno begitu kompak saat blusukan di Semarang, Kamis (1/4) lalu. Saling puji, juga saling menghormati. Menyaksikan kemesraan Ganjar-Sandi ini, ada yang menilai mereka cocok dipasangkan di Pilpres 2024. Mungkinkah?

Ganjar-Sandi blusukan di Desa Lerep, Desa Wisata andalan Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Awal Maret lalu, desa ini dapat penghargaan dari Sandi sebagai desa wisata berkelanjutan terbaik.

Sandi datang lebih awal. Ia disambut Bupati Semarang Ngesti Nugraha. Sempat ditawari makanan selametan khas desa itu, namun Sandi menolak halus, karena sedang puasa. “Boleh dibungkus, Pak,” jawab Sandi.

Tak lama setelah itu, Ganjar tiba. Saat itu, sedang turun hujan lebat. Sambil memegang payung, orang nomor satu di Jateng itu, lari-lari kecil. Ia bergegas menemui Sandi.

Hari itu, Ganjar tampil mengenakan pakaian khas Jawa. Sementara Sandi, mengenakan hoodie biru dongker, khas gaya anak muda. Meskipun penampilannya beda dan tidak satu partai, Ganjar dan Sandi terlihat kompak dan akrab.

Dalam beberapa kesempatan, Sandi terlihat memayungi Ganjar. Ketika salam Corona, Ganjar membungkuk. Sandi membalasnya dengan membungkuk lebih dalam lagi. Keduanya juga terlihat saling memuji satu sama lain.

“Jangan-jangan ini, besok jadi calon presiden sama wakil presiden,” goda pembawa acara. Sontak, hadirin bersorak dan tepuk tangan.

Momen blusukan ke desa wisata itu, yang diunggah Sandi di Instagram, juga mendapat banyak tanggapan. Termasuk dikomentari Ganjar. “Siap perintah Pak Menteri,” tulis Ganjar.

Melihat hal ini, banyak warganet rame-rame “nyomblangin” keduanya buat nyapres. “Ganjar-Sandi yok, 2024,” tulis akun @suarakeadilan. “Cocok untuk 2024,” sahut @milhiasjacob. “Presiden dan wakil presiden,” tulis @rechanp. “Pasangan super ideal, RI 1 dan RI 2,” komentar akun @mursidbudihartoyahoo.com1523.

Sejauh ini, elektabilitas keduanya di sejumlah lembaga survei memang tinggi. Ganjar misalnya. Dalam survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyebutkan, mayoritas responden yang mendukung Jokowi akan mengalihkan suaranya ke Ganjar di Pilpres 2024.

Kesimpulan itu didapat dari jawaban spontan responden terkait Capres 2024. Hasilnya, Jokowi masih yang paling banyak dijagokan jika nyapres lagi. Yakni 15,2 persen. Di bawahnya, Prabowo Subianto 13,4 persen. Lalu, Ganjar 6,1 persen, Anies Baswedan 5,4 persen, Sandi 3,1 persen.

Tapi, kalau Jokowi tak nyapres lagi, maka Ganjar yang paling banyak dipilih. Elektabilitasnya mencapai 18,4 persen. Suara pendukung Jokowi tumpah ke Ganjar. Sementara Anies, dapat urutan kedua: 15,2 persen. Lalu, Ridwan Kamil 13,1 persen, dan Tri Rismaharini 12,7 persen.

 

Direktur Eksekutif SMRC Sirojudin Abbas menerangkan kenapa Ganjar lebih unggul, ketika Jokowi tak nyalon lagi. “Ganjar unggul pada pemilih yang puas dengan kinerja Presiden Jokowi. Sementara yang tidak puas, limpahan suaranya tidak ke Pak Prabowo ternyata, malah ke Pak Anies,” jelasnya, Kamis (1/4).

Sejauh ini, Ganjar maupun Sandi masih malu-malu kucing kalau ngomongin Pilpres. Lalu, bagaimana dengan partai keduanya yakni PDIP dan Gerindra? Apa mau menyokong kedua kadernya itu.

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, aturan di partainya sudah jelas. Yang berwenang menentukan Capres dan Cawapres di Pilpres 2024 adalah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Namun, ia memberi bocoran bahwa akan ada regenerasi secara menyeluruh di 2024. “Demokrasi yang dibangun partai sangat jelas,” kata Hasto, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Soal duet Ganjar-Sandi, Hasto enggan mengomentari. Meskipun elektabilitas Ganjar, kader partainya lagi melejit di banyak lembaga survei. Bagi partai Banteng, yang jadi pertimbangan bukan elektoral semata. Tapi yang paling jadi pertimbangan adalah karakter, kepemimpinan, komitmen ideologis dalam membumikan Pancasila, menjalankan amanat konstitusi dan paham akan amanat penderitaan rakyat.

Siapa orangnya itu? PDIP, kata Hasto, selalu percaya akan ada petunjuk dan campur tangan Tuhan. “Elektoral atas basis-basis pencitraan bukanlah cara PDIP dalam memilih pemimpin,” sambungnya.

Sebab, menurut Hasto, pemimpin lahir dari pergulatan, tanggung jawab bagi masa depan bangsa, keluhuran budi, punya karakter yang kuat, dan kokoh dalam keyakinan politik. “Seluruh kader PDI Perjuangan memercayakan proses itu kepada Ibu Megawati Soekarnoputri,” terang Hasto.

Bagaimana dengan Gerindra? Sejumlah elite partai berlogo kepala burung Garuda itu enggan mengomentari soal duet Ganjar-Sandi. Yang jelas, hasil Kongres Luar Biasa Partai Gerindra Agustus tahun lalu masih menginginkan Prabowo nyapres lagi di 2024.

Pakar politik Maswandi Rauf bilang, sistem politik di Indonesia sejatinya masih berkembang secara alamiah. Yang paling menentukan dalam Pilpres adalah figur, bukan parpol. “Siapa yang menonjol, itu yang mendapat dukungan dari parpol. Bukan partai mencalonkan (lebih dulu),” kata Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia itu, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Karena itu, ia melihat duet Ganjar-Sandi punya peluang besar. Meskipun keduanya bukan pemegang tampuk pimpinan partai. Apalagi, hubungan PDIP dan Gerindra sejauh ini masih baik. “Saya pikir koalisi PDIP-Gerindra ada peluang. Karena hubungan personal Prabowo-Mega masih terjaga. Tidak tertutup sama sekali,” pungkasnya. [SAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories