BIN Terus Geber Vaksinasi Lawan Corona, Belum Saatnya Kita Istirahat

Tren penyebaran Covid-19 di Tanah Air terus menggembirakan. Data Kementerian Kesehatan, per 4 Maret 2022 menunjukkan, positivity rate Covid-19 secara nasional sudah turun menjadi 16,3 persen dari 18,2 persen pada akhir Februari. Pada saat yang sama, ada 15 provinsi yang mengalami penurunan kasus harian, dan 8 provinsi yang melandai. Apakah ini tanda-tanda Indonesia menuju akhir pandemi? Apakah sudah saatnya kita istirahat melawan Covid-19?

“BELUM,” tegas Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan, di Jakarta, kemarin.

Ini data yang menggembirakan, tapi tidak boleh mengurangi kewaspadaan. Saat puncak positivity rate terlampaui, dan penurunan kasus harian terlihat, upaya pengendalian penyebaran Covid-19 justru harus dioptimalkan. Agar fenomena itu berlanjut ke titik yang paling dekat bagi Indonesia untuk aman dari pandemi,” tambah Budi Gunawan.

Puncak positivity rate memang telah lewat, tapi lanjut mantan Wakapolri yang akrab disapa BG ini, tidak berarti akhir pandemi. Itu hanya titik jenuh yang bisa saja berbalik arah bila setiap elemen Bangsa cepat berpuas diri.

Target kita, tegas BG, adalah standar WHO: positivity rate harus ditekan di bawah lima persen, sementara kita masih 16,3 persen. Kemudian, effective reproduction number atau angka reproduksi efektif harus di bawah 1, kita masih dikisaran 1,161.

“Tantangan kita masih besar. Belum saatnya kita istirahat,” kata BG, kasih penekanan.

BG juga bicara soal vaksinasi yang selama ini terus digencarkan pemerintah, juga BIN. Untuk cakupan vaksinasi, Indonesia menargetkan 70-75 persen populasi nasional pada Maret-April ini. Sasaran kelompok vaksinasi terutama anak-anak, lansia, dan dosis booster. Dengan demikian Indonesia diharapkan bisa menjaga keberlangsungan fenomena penurunan positivity rate dan kasus harian.

Soal tahapan pandemi, apakah sudah hampir masuk ke periode endemi, menurut BG, masih perlu dukungan banyak variabel dan sebenarnya hanya WHO yang bisa menentukan status tersebut.

“Kita lakukan saja semua upaya yang terbaik. Seperti instruksi Presiden Jokowi, manfaatkan sebaik mungkin peluang untuk mengoptimalkan vaksinasi, deteksi, mitigasi, serta disiplin protokol kesehatan,” ujar BG.

 

Vaksinasi Door to Door Efektif Tingkatkan Cakupan

Untuk memperbesar dan memperluas capaian vaksinasi, BIN terus menggencarkan vaksinasi di semua daerah. Termasuk wilayah 4T (Terpencil, Terdalam, Terluar dan Terjauh). BIN Daerah (Binda) Sulawesi Utara yang memiliki banyak kepulauan perbatasan, misalnya, secara khusus menyasar warga di daerah sulit ini dengan metode door to door.

“Kami mengakselerasi ke seluruh lapisan masyarakat di Sulut, termasuk mereka yang tinggal di wilayah 4T, dengan menargetkan 5.000 dosis per hari,” ujar Kabinda Sulut, Laksma TNI Adriansyah.

Di Provinsi Banten, angka vaksinasi sepekan mencapai 173.000 jiwa. Kegiatan vaksinasi digelar serentak di empat lokasi: Kota dan Kabupaten Tangerang, Serang, dan Tangerang Selatan. Peserta vaksin didominasi anak usia 6 hingga 11 tahun, lansia, serta mereka yang memasuki dosis booster.

“Selain di Sentra Vaksin Teras Kota Mall BSD untuk lansia, pelayan publk, dan booster, kami juga menyasar ribuan anak melalui sekolah untuk divaksinasi,” ujar Kabinda Banten, Brigjen Pol Hilman, Rabu (2/3).

Di Bangka Belitung, jajaran BIN juga menggunakan strategi door to door. Vaksinasi digelar dengan membuka gerai di tempat-tempat umum dekat pemukiman warga. Imbauan kepada kelompok sasaran, anak-anak, lansia dan dosis booster dilakukan dengan menggandeng pengurus lingkungan sekitar.

“Gerai vaksinasi kita buka di banyak titik, bekerja sama dengan perangkat pemerintahan setempat, sehingga cakupannya memang luas dan langsung ke sasaran,” ujar Kabinda Bangka Belitung, Imam Santoso, Kamis (3/3).

Berdasarkan kajian para ilmuan, vaksinasi terbukti memperingan gejala Covid-19. Kalau terinfeksi, efeknya tidak berat, dan kemampuan penyebarannya menurun jauh. Kelompok usia rentan, anak-anak dan lansia sangat membutuhkan perlindungan ini.

Ahli Epidemiologi Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengapresiasi capaian vaksinasi lengkap di Indonesia. Dimana per Jumat (4/3), sudah melampaui target 70 persen populasi. Lebih cepat dari target yang ditargetkan WHO, yakni Oktober mendatang. Kendati demikian, bukan berarti Indonesia sudah aman. Virus Corona dengan berbagai varian terbarunya masih terus mengancam.

 

“Menghadapi Omicron itu tidak cukup hanya 2 dosis. Harus juga dengan 3 dosis atau booster,” kata Dicky kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Menurutnya, vaksinasi dosis ketiga yang saat ini masih di kisaran 5 persenan, harus terus digenjot lagi. Minimal, sebutnya, Indonesia harus mengejar cakupan 25 persen untuk meminimalisir resiko. Khususnya jelang bulan puasa Ramadhan.

“Dosis 2 okelah 75 persen misalnya, dosis 3 nya harus 25 persen. Ini yang harus dikejar. Sehingga kita dalam situasi yang lebih, bukan aman tapi setidaknya jauh lebih baik,” pungkasnya.

Melihat data terakhir, tren kasus konfirmasi positif harian terus menurun. Dari 30.156 orang pada Sabtu (5/3) lalu, turun penambahannya menjadi 24.867 orang, perkemarin. Kasus aktif juga dilaporkan turun sebesar 24.467 kasus.

Angka kematian juga turun menjadi 254 orang, kemarin. Lebih rendah dibandingkan sehari sebelumnya, yakni Sabtu, mencapai 322 orang.

Yang mengalami kenaikan adalah angka kesembuhan. Kemarin mencatatkan 49.080 kasus sembuh. Lebih tinggi dibandingkan Sabtu lalu, 46.669 kasus.

Kapan Masuki Ke Fase Endemi?

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito memberi gambaran kapan sebetulnya Indonesia bisa memasuki fase endemi. Antara lain, ketika Indonesia berhasil melewati gelombang kedua dengan kasus sangat rendah dan angka kematian nol.

“Keadaan terkendali seperti itu dan berlangsung lama, maka saat seperti itulah yg bisa disebut Indonesia masuk endemi,” kata Prof Wiku, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

“Dunia akan masuk endemi dan status pandemi dicabut WHO bila makin banyak negara yang kasusnya terkendali dan rendah,” sambungnya. [SAR]

]]> Tren penyebaran Covid-19 di Tanah Air terus menggembirakan. Data Kementerian Kesehatan, per 4 Maret 2022 menunjukkan, positivity rate Covid-19 secara nasional sudah turun menjadi 16,3 persen dari 18,2 persen pada akhir Februari. Pada saat yang sama, ada 15 provinsi yang mengalami penurunan kasus harian, dan 8 provinsi yang melandai. Apakah ini tanda-tanda Indonesia menuju akhir pandemi? Apakah sudah saatnya kita istirahat melawan Covid-19?

“BELUM,” tegas Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan, di Jakarta, kemarin.

Ini data yang menggembirakan, tapi tidak boleh mengurangi kewaspadaan. Saat puncak positivity rate terlampaui, dan penurunan kasus harian terlihat, upaya pengendalian penyebaran Covid-19 justru harus dioptimalkan. Agar fenomena itu berlanjut ke titik yang paling dekat bagi Indonesia untuk aman dari pandemi,” tambah Budi Gunawan.

Puncak positivity rate memang telah lewat, tapi lanjut mantan Wakapolri yang akrab disapa BG ini, tidak berarti akhir pandemi. Itu hanya titik jenuh yang bisa saja berbalik arah bila setiap elemen Bangsa cepat berpuas diri.

Target kita, tegas BG, adalah standar WHO: positivity rate harus ditekan di bawah lima persen, sementara kita masih 16,3 persen. Kemudian, effective reproduction number atau angka reproduksi efektif harus di bawah 1, kita masih dikisaran 1,161.

“Tantangan kita masih besar. Belum saatnya kita istirahat,” kata BG, kasih penekanan.

BG juga bicara soal vaksinasi yang selama ini terus digencarkan pemerintah, juga BIN. Untuk cakupan vaksinasi, Indonesia menargetkan 70-75 persen populasi nasional pada Maret-April ini. Sasaran kelompok vaksinasi terutama anak-anak, lansia, dan dosis booster. Dengan demikian Indonesia diharapkan bisa menjaga keberlangsungan fenomena penurunan positivity rate dan kasus harian.

Soal tahapan pandemi, apakah sudah hampir masuk ke periode endemi, menurut BG, masih perlu dukungan banyak variabel dan sebenarnya hanya WHO yang bisa menentukan status tersebut.

“Kita lakukan saja semua upaya yang terbaik. Seperti instruksi Presiden Jokowi, manfaatkan sebaik mungkin peluang untuk mengoptimalkan vaksinasi, deteksi, mitigasi, serta disiplin protokol kesehatan,” ujar BG.

 

Vaksinasi Door to Door Efektif Tingkatkan Cakupan

Untuk memperbesar dan memperluas capaian vaksinasi, BIN terus menggencarkan vaksinasi di semua daerah. Termasuk wilayah 4T (Terpencil, Terdalam, Terluar dan Terjauh). BIN Daerah (Binda) Sulawesi Utara yang memiliki banyak kepulauan perbatasan, misalnya, secara khusus menyasar warga di daerah sulit ini dengan metode door to door.

“Kami mengakselerasi ke seluruh lapisan masyarakat di Sulut, termasuk mereka yang tinggal di wilayah 4T, dengan menargetkan 5.000 dosis per hari,” ujar Kabinda Sulut, Laksma TNI Adriansyah.

Di Provinsi Banten, angka vaksinasi sepekan mencapai 173.000 jiwa. Kegiatan vaksinasi digelar serentak di empat lokasi: Kota dan Kabupaten Tangerang, Serang, dan Tangerang Selatan. Peserta vaksin didominasi anak usia 6 hingga 11 tahun, lansia, serta mereka yang memasuki dosis booster.

“Selain di Sentra Vaksin Teras Kota Mall BSD untuk lansia, pelayan publk, dan booster, kami juga menyasar ribuan anak melalui sekolah untuk divaksinasi,” ujar Kabinda Banten, Brigjen Pol Hilman, Rabu (2/3).

Di Bangka Belitung, jajaran BIN juga menggunakan strategi door to door. Vaksinasi digelar dengan membuka gerai di tempat-tempat umum dekat pemukiman warga. Imbauan kepada kelompok sasaran, anak-anak, lansia dan dosis booster dilakukan dengan menggandeng pengurus lingkungan sekitar.

“Gerai vaksinasi kita buka di banyak titik, bekerja sama dengan perangkat pemerintahan setempat, sehingga cakupannya memang luas dan langsung ke sasaran,” ujar Kabinda Bangka Belitung, Imam Santoso, Kamis (3/3).

Berdasarkan kajian para ilmuan, vaksinasi terbukti memperingan gejala Covid-19. Kalau terinfeksi, efeknya tidak berat, dan kemampuan penyebarannya menurun jauh. Kelompok usia rentan, anak-anak dan lansia sangat membutuhkan perlindungan ini.

Ahli Epidemiologi Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengapresiasi capaian vaksinasi lengkap di Indonesia. Dimana per Jumat (4/3), sudah melampaui target 70 persen populasi. Lebih cepat dari target yang ditargetkan WHO, yakni Oktober mendatang. Kendati demikian, bukan berarti Indonesia sudah aman. Virus Corona dengan berbagai varian terbarunya masih terus mengancam.

 

“Menghadapi Omicron itu tidak cukup hanya 2 dosis. Harus juga dengan 3 dosis atau booster,” kata Dicky kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Menurutnya, vaksinasi dosis ketiga yang saat ini masih di kisaran 5 persenan, harus terus digenjot lagi. Minimal, sebutnya, Indonesia harus mengejar cakupan 25 persen untuk meminimalisir resiko. Khususnya jelang bulan puasa Ramadhan.

“Dosis 2 okelah 75 persen misalnya, dosis 3 nya harus 25 persen. Ini yang harus dikejar. Sehingga kita dalam situasi yang lebih, bukan aman tapi setidaknya jauh lebih baik,” pungkasnya.

Melihat data terakhir, tren kasus konfirmasi positif harian terus menurun. Dari 30.156 orang pada Sabtu (5/3) lalu, turun penambahannya menjadi 24.867 orang, perkemarin. Kasus aktif juga dilaporkan turun sebesar 24.467 kasus.

Angka kematian juga turun menjadi 254 orang, kemarin. Lebih rendah dibandingkan sehari sebelumnya, yakni Sabtu, mencapai 322 orang.

Yang mengalami kenaikan adalah angka kesembuhan. Kemarin mencatatkan 49.080 kasus sembuh. Lebih tinggi dibandingkan Sabtu lalu, 46.669 kasus.

Kapan Masuki Ke Fase Endemi?

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito memberi gambaran kapan sebetulnya Indonesia bisa memasuki fase endemi. Antara lain, ketika Indonesia berhasil melewati gelombang kedua dengan kasus sangat rendah dan angka kematian nol.

“Keadaan terkendali seperti itu dan berlangsung lama, maka saat seperti itulah yg bisa disebut Indonesia masuk endemi,” kata Prof Wiku, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

“Dunia akan masuk endemi dan status pandemi dicabut WHO bila makin banyak negara yang kasusnya terkendali dan rendah,” sambungnya. [SAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories