Bima Arya Bangga Digitalisasi Aksara Sunda Dimulai Dari Kota Bogor

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) mengadakan Simposium Digitalisasi Aksara Sunda secara virtual, di Paseban Sri Bima, Balai Kota Bogor, Senin (7/6).

Dalam sambutannya, Wali Kota Bogor, Bima Arya mengatakan, digitalisasi aksara Sunda merupakan contoh manifestasi yang paling tepat. Dia mengaku sangat senang karena momentum ini pertama kali dimulai dari kota Bogor.

“Ini adalah ikhtiar awal. Saya bangga karena ini dimulai di Bogor, bukan di tempat lain. Karena di sinilah ibu kota Kerajaan Pakuan Pajajaran 5 abad yang lalu. Bukan di Bandung, bukan di Bekasi, bukan di Tangerang,” ungkap Bima.

Wakil Ketua Bidang Pengembangan Bisnis, Kerja Sama, dan Marketing PANDI, Heru Nugroho mengapresiasi pernyataan Bima tersebut. “Dalam pembukaan simposium tadi, statement yang disampaikan Pak Walikota menurut saya cukup berani dan patut diapresiasi,” pujinya.

Heru menganggap pernyataan Bima sebagai sebuah sinyal baik keseriusan dukungan Pemkot Bogor untuk bersama-sama melakukan aksi nyata dalam mendigitalisasikan aksara Sunda. “Bukan sekadar retorika politis semata,” imbuh Heru.

Dia menjelaskan, dalam proses pendaftaran aksara sunda menuju go digital, dibutuhkan semacam peraturan pemerintah yang secara spesifik menyebutkan bahwa memang aksara daerah tersebut diatur dan tertuang dalam sebuah peraturan.

“Dalam hal ini aksara Sunda sudah mempunyai modal yang cukup karena Kota Bogor sudah mempunyai Peraturan Wali Kota Bogor No.62 Tahun 2017 tentang Pemartabatan Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda di Ruang Publik, sebagai dasar acuan untuk proses selanjutnya,” ungkapnya.

Acara tersebut merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara daring selama dua hari, yang dikemas dalam bentuk webinar, workshop dan Focus Group Discussion (FGD).

Di tempat terpisah, Ketua PANDI Yudho Giri Sucahyo mengapresiasi para nara sumber yang terlibat pada gelaran Simposium Digitalisasi Aksara Sunda tersebut.

Menurutnya, simposium ini merupakan inovasi pelestarian aksara daerah, khususnya aksara Sunda supaya bisa masuk ke dunia digital.

“Saya berterimakasih dan berharap dengan adanya simposium aksara Sunda, bisa menjadi tonggak sejarah bagi perkembangan aksara Sunda ke depannya,” harap Yudho.

Dengan begitu, sambungnya, estafet literasi aksara bisa diteruskan pada generasi selanjutnya. “Dengan demikian, digitalisasi ini bisa lebih memudahkan berbagai hal mulai dari pendidikan hingga kebutuhan praktis dalam pemanfaatan aksara Sunda,” tandasnya. [OKT]

]]> Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) mengadakan Simposium Digitalisasi Aksara Sunda secara virtual, di Paseban Sri Bima, Balai Kota Bogor, Senin (7/6).

Dalam sambutannya, Wali Kota Bogor, Bima Arya mengatakan, digitalisasi aksara Sunda merupakan contoh manifestasi yang paling tepat. Dia mengaku sangat senang karena momentum ini pertama kali dimulai dari kota Bogor.

“Ini adalah ikhtiar awal. Saya bangga karena ini dimulai di Bogor, bukan di tempat lain. Karena di sinilah ibu kota Kerajaan Pakuan Pajajaran 5 abad yang lalu. Bukan di Bandung, bukan di Bekasi, bukan di Tangerang,” ungkap Bima.

Wakil Ketua Bidang Pengembangan Bisnis, Kerja Sama, dan Marketing PANDI, Heru Nugroho mengapresiasi pernyataan Bima tersebut. “Dalam pembukaan simposium tadi, statement yang disampaikan Pak Walikota menurut saya cukup berani dan patut diapresiasi,” pujinya.

Heru menganggap pernyataan Bima sebagai sebuah sinyal baik keseriusan dukungan Pemkot Bogor untuk bersama-sama melakukan aksi nyata dalam mendigitalisasikan aksara Sunda. “Bukan sekadar retorika politis semata,” imbuh Heru.

Dia menjelaskan, dalam proses pendaftaran aksara sunda menuju go digital, dibutuhkan semacam peraturan pemerintah yang secara spesifik menyebutkan bahwa memang aksara daerah tersebut diatur dan tertuang dalam sebuah peraturan.

“Dalam hal ini aksara Sunda sudah mempunyai modal yang cukup karena Kota Bogor sudah mempunyai Peraturan Wali Kota Bogor No.62 Tahun 2017 tentang Pemartabatan Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda di Ruang Publik, sebagai dasar acuan untuk proses selanjutnya,” ungkapnya.

Acara tersebut merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara daring selama dua hari, yang dikemas dalam bentuk webinar, workshop dan Focus Group Discussion (FGD).

Di tempat terpisah, Ketua PANDI Yudho Giri Sucahyo mengapresiasi para nara sumber yang terlibat pada gelaran Simposium Digitalisasi Aksara Sunda tersebut.

Menurutnya, simposium ini merupakan inovasi pelestarian aksara daerah, khususnya aksara Sunda supaya bisa masuk ke dunia digital.

“Saya berterimakasih dan berharap dengan adanya simposium aksara Sunda, bisa menjadi tonggak sejarah bagi perkembangan aksara Sunda ke depannya,” harap Yudho.

Dengan begitu, sambungnya, estafet literasi aksara bisa diteruskan pada generasi selanjutnya. “Dengan demikian, digitalisasi ini bisa lebih memudahkan berbagai hal mulai dari pendidikan hingga kebutuhan praktis dalam pemanfaatan aksara Sunda,” tandasnya. [OKT]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories