Bicara Di Acara NasDem Bamsoet: Pancasila Tak Boleh Jadi Gincu, Tapi Harus Seperti Garam

Ketua MPR sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo sepakat dengan pandangan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh bahwa Pancasila harus menjadi bagian integral yang tidak terpisahkan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pancasila harus hadir dalam setiap ruang publik, diimplementasikan secara nyata dan membumi, serta dimanifestasikan dalam berbagai dimensi realitas sosial, politik dan ekonomi. Pancasila tidak boleh sekadar menjadi aksesoris yang manis diucapkan, namun lupa diimplementasikan.

Hal itu disampaikan Bamsoet, sapaan akrab Bambang, saat menjadi narasumber ‘Silaturahmi Nasional Kita Pancasila’, di Nasdem Tower, Jakarta, Kamis (2/6). Acara ini dihadiri Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, Wakil Ketua MPR sekaligus Majelis Tinggi Partai Nasdem Lestari Moerdijat, Wakil Ketua DPR Rahmat Gobel, Menkominfo sekaligus Sekjen Partai Nasdem Johnny G Plate, Menteri BUMN Erick Thohir, Staf Khusus Presiden Diaz Hendropriyono, serta tokoh ekonomi nasional Peter Gontha.

“Pancasila tidak boleh menjadi gincu yang hanya manis dan mencolok dilihat, namun tidak terasa apa-apa. Pancasila harus menjadi garam yang bisa dirasakan kehadirannya di berbagai praktik hidup keseharian. Melalui ‘Silaturahmi Nasional Kita Pancasila’ diharapkan menjadi ikhtiar membangun komitmen kolektif bangsa, khususnya dari kalangan muda bangsa, untuk menghadirkan Pancasila sebagai rujukan dalam setiap gerak langkah kehidupan kebangsaan. Termasuk dalam membangun kedewasaan politik, sekaligus mendewasakan kehidupan berdemokrasi,” ujar Bamsoet.

Ketua DPR ke-20 ini melanjutkan, gagasan menghadirkan Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) yang dirintis MPR, selain dalam rangka menjamin kesinambungan pembangunan antar periode kepemimpinan, juga untuk mengaktualisasikan Pancasila ke dalam kerangka operatif. Yaitu dengan cara mempertemukan nilai-nilai luhur falsafah bangsa dengan aturan dasar yang diatur dalam konstitusi. PPHN dengan paradigma Pancasila ini akan menjadi arahan dalam pencapaian tujuan bernegara, yakni mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Bamsoet melanjutkan, sebentar lagi Indonesia akan menyongsong agenda besar nasional, Pemilu dan Pilkada Serentak 2024. Berdasarkan catatan sejarah, Pemilu hampir selalu menyisakan berbagai residu persoalan. Mulai dari sengketa Pemilu hingga terjadinya polarisasi yang menempatkan rakyat pada dua kutub berseberangan yang dapat memantik potensi terjadinya konflik horizontal.

“Dengan mengedepankan Pancasila, kita berharap suasana politik menuju 2024 tetap sejuk, aman, damai, dan penuh suasana persaudaraan. Persaingan politik bukan untuk memecah belah bangsa, melainkan berkompetisi secara sehat untuk mencari pemimpin terbaik bagi bangsa,” jelas Bamsoet.

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini meyakini, Pancasila akan senantiasa mampu menjawab dinamika dan tantangan zaman. Mengingat serangkaian nilai yang terkandung dalam Pancasila, yaitu nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan, adalah nilai-nilai yang bersifat universal yang dapat diterima semua kalangan, dan akan senantiasa selaras dengan perkembangan peradaban global.

Dia melanjutkan, Pancasila juga merupakan kristalisasi nilai-nilai luhur budaya bangsa dan warisan kearifan lokal yang membentuk kepribadian dan jatidiri bangsa Indonesia. Rumusan sila-sila Pancasila memuat prinsip-prinsip dasar yang memiliki relevansi dan jangkauan masa depan, sehingga mampu membaca kebutuhan zaman.

“Tidak heran jika Pancasila bisa menjadi titik temu, titik tumpu, dan titik tuju. Sebagai titik temu, Pancasila mempersatukan berbagai paradigma keberagaman bangsa. Sebagai titik tumpu, Pancasila mendasari ideologi, norma, dan kebijakan negara. Sebagai titik tuju, Pancasila memberi orientasi visi dan misi bangsa Indonesia, di tengah dinamika peradaban global,” pungkas Bamsoet.■

]]> Ketua MPR sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo sepakat dengan pandangan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh bahwa Pancasila harus menjadi bagian integral yang tidak terpisahkan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pancasila harus hadir dalam setiap ruang publik, diimplementasikan secara nyata dan membumi, serta dimanifestasikan dalam berbagai dimensi realitas sosial, politik dan ekonomi. Pancasila tidak boleh sekadar menjadi aksesoris yang manis diucapkan, namun lupa diimplementasikan.

Hal itu disampaikan Bamsoet, sapaan akrab Bambang, saat menjadi narasumber ‘Silaturahmi Nasional Kita Pancasila’, di Nasdem Tower, Jakarta, Kamis (2/6). Acara ini dihadiri Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, Wakil Ketua MPR sekaligus Majelis Tinggi Partai Nasdem Lestari Moerdijat, Wakil Ketua DPR Rahmat Gobel, Menkominfo sekaligus Sekjen Partai Nasdem Johnny G Plate, Menteri BUMN Erick Thohir, Staf Khusus Presiden Diaz Hendropriyono, serta tokoh ekonomi nasional Peter Gontha.

“Pancasila tidak boleh menjadi gincu yang hanya manis dan mencolok dilihat, namun tidak terasa apa-apa. Pancasila harus menjadi garam yang bisa dirasakan kehadirannya di berbagai praktik hidup keseharian. Melalui ‘Silaturahmi Nasional Kita Pancasila’ diharapkan menjadi ikhtiar membangun komitmen kolektif bangsa, khususnya dari kalangan muda bangsa, untuk menghadirkan Pancasila sebagai rujukan dalam setiap gerak langkah kehidupan kebangsaan. Termasuk dalam membangun kedewasaan politik, sekaligus mendewasakan kehidupan berdemokrasi,” ujar Bamsoet.

Ketua DPR ke-20 ini melanjutkan, gagasan menghadirkan Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) yang dirintis MPR, selain dalam rangka menjamin kesinambungan pembangunan antar periode kepemimpinan, juga untuk mengaktualisasikan Pancasila ke dalam kerangka operatif. Yaitu dengan cara mempertemukan nilai-nilai luhur falsafah bangsa dengan aturan dasar yang diatur dalam konstitusi. PPHN dengan paradigma Pancasila ini akan menjadi arahan dalam pencapaian tujuan bernegara, yakni mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Bamsoet melanjutkan, sebentar lagi Indonesia akan menyongsong agenda besar nasional, Pemilu dan Pilkada Serentak 2024. Berdasarkan catatan sejarah, Pemilu hampir selalu menyisakan berbagai residu persoalan. Mulai dari sengketa Pemilu hingga terjadinya polarisasi yang menempatkan rakyat pada dua kutub berseberangan yang dapat memantik potensi terjadinya konflik horizontal.

“Dengan mengedepankan Pancasila, kita berharap suasana politik menuju 2024 tetap sejuk, aman, damai, dan penuh suasana persaudaraan. Persaingan politik bukan untuk memecah belah bangsa, melainkan berkompetisi secara sehat untuk mencari pemimpin terbaik bagi bangsa,” jelas Bamsoet.

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini meyakini, Pancasila akan senantiasa mampu menjawab dinamika dan tantangan zaman. Mengingat serangkaian nilai yang terkandung dalam Pancasila, yaitu nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan, adalah nilai-nilai yang bersifat universal yang dapat diterima semua kalangan, dan akan senantiasa selaras dengan perkembangan peradaban global.

Dia melanjutkan, Pancasila juga merupakan kristalisasi nilai-nilai luhur budaya bangsa dan warisan kearifan lokal yang membentuk kepribadian dan jatidiri bangsa Indonesia. Rumusan sila-sila Pancasila memuat prinsip-prinsip dasar yang memiliki relevansi dan jangkauan masa depan, sehingga mampu membaca kebutuhan zaman.

“Tidak heran jika Pancasila bisa menjadi titik temu, titik tumpu, dan titik tuju. Sebagai titik temu, Pancasila mempersatukan berbagai paradigma keberagaman bangsa. Sebagai titik tumpu, Pancasila mendasari ideologi, norma, dan kebijakan negara. Sebagai titik tuju, Pancasila memberi orientasi visi dan misi bangsa Indonesia, di tengah dinamika peradaban global,” pungkas Bamsoet.■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories