Bertekad Kecilkan Backlog Perumahan BTN Gencar Tawarkan Program KPR Pro Rakyat

Setiap tahun, ada sekitar 400 ribu pasangan menikah. Sementara jumlah perumahan yang disediakan pemerintah dan lembaga keuangan, hanya di kisaran 200 ribu-250 ribuan unit. Jadi, bagaimana memenuhi sisanya? Inilah salah satu tugas yang berupaya diselesaikan oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, sebagai salah satu bank yang inti bisnisnya di pembiayaan perumahan.

Saat wawancara eksklusif dengan Rakyat Merdeka, Direktur Utama BTN Haru Koesmahargyo mengatakan, hak mendapatkan tempat tinggal tertulis dalam Undang-Undang (UU). Tercantum bahwa, setiap orang berhak hidup sejahtera lahir batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Serta berhak memperoleh layanan kesehatan.

“Kami, BTN sebagai salah satu partisipan, memiliki tugas untuk bisa memenuhi kebutuhan perumahan,” tegas Haru saat ditemui Tim Rakyat Merdeka, yaitu Direktur Utama dan CEO RM Group Kiki Iswara Darmayana, Wakil Pemimpin Redaksi Kartika Sari, dan Pemimpin Redaksi RMid Firsty Hestyarini, Redaktur Eksekutif Esti Fitria Wulandari di Jakarta, baru-baru ini.

Selisih antara kebutuhan perumahan (yang saat ini di kisaran 400 ribuan) dengan ketersediaan (yang hanya 200 ribu-250 ribuan), namanya backlog. Angka backlog perumahan akan semakin besar, apabila tidak ditangani dengan tepat. BTN, kata Haru, bertekad memperkecil backlog lewat program-program anyar mereka yang pro rakyat kecil. 

Data menunjukkan, backlog di tahun 2020 saja sudah tercatat 12,75 juta. Merujuk pada Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), angka backlog akan terus naik bila tidak ada program yang mengurangi beban masyarakat untuk memiliki rumah.

Program apa saja yang ditawarkan BTN untuk memudahkan masyarakat punya rumah? Haru menyebut beberapa jenis. Yaitu, program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), yang khusus menyasar Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Skema ini menawarkan cicilan tetap selama 20 tahun. Dan telah berhasil mendorong kepemilikan 1,1 juta unit rumah. 
Selain itu, ada program Selisih Bantuan Uang Muka (SBUM) dan Subsidi Selisih Bunga (SSB).

Untuk menggenjot pembiayaan perumahan, perseroan mengembangkan berbagai program yang lebih inklusif. Mantan General Manager Kantor Cabang BRI di New York ini bilang, program perumahan tidak lagi menyasar masyarakat berpenghasilan tetap. Tetapi, mulai ke golongan masyarakat di sektor informal, yang penghasilannya tidak tetap.

“Kami mengembangkan pola rent to own. Di awalnya sewa, nanti di akhirnya ada opsi memiliki atau beli properti,” terang pria jebolan Investment Banking Emory University, Amerika Serikat ini.

BTN juga punya program Graduated Payment Mortgage (GPM). Yaitu, menawarkan cicilan per bulan yang menyesuaikan dengan penghasilan konsumen. Untuk mempermudah dan memperluas jangkauan, BTN juga bersinergi dengan Perumnas, Tapera dan BPJS Ketenagakerjaan. Semua upaya ini, diyakini Haru, akan menjadi kekuatan untuk memperkecil angka backlog perumahan. “Angka backlog mudah-mudahan bisa makin mengecil dan insya Allah semoga bisa nol,” harap pria kelahiran Jakarta, 16 April 1966 ini.

Bangun Rumah Milenial 
Menurut Haru, sebuah peradaban dimulai dari terbentuknya pemukiman. Dengan mendorong pembiayaan perumahan, maka BTN merasa ikut membangun peradaban dan generasi yang sehat. Belakangan ini, BTN mengenalkan program baru yang diintroduksi oleh Kementerian BUMN. Yaitu:  rumah milenial. 

“Konsep rumah milenial, hunian vertikal yang ada di tengah kota. Terintegrasi dengan moda transportasi, seperti stasiun kereta api atau lainnya. Sehingga lebih mudah dan praktis,” ucap Haru.

Ini juga satu solusi untuk mereka yang ingin memiliki rumah di lokasi yang strategis, tapi harganya terjangkau. Contohnya, rumah susun berkonsep Transit Oriented Development (TOD) yang dibangun di kawasan Pondok Cina, Depok, Jawa Barat. Rusun yang dibangun di area parkir Stasiun Pondok Cina ini pun laris manis.

“Konsep ini juga mengurangi kebutuhan BBM berbahan bakar fosil. Penghuni mudah kemana-mana. Mau kemana saja dekat. Ini yang terus kami upayakan. Beda dengan rumah tapak, yang makin sulit, mahal dan biasanya lokasi jauh,” ungkapnya.

Mengenai performa BTN, mantan Direktur Keuangan BRI itu menjelaskan, pertumbuhan kinerja perusahaan yang dipimpinnya semakin bagus. Laba bersih perseroan sepanjang semester I-2022 tumbuh 60 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Laporan keuangan yang dipublikasikan pada Kamis (15/9), bank berkode saham BBTN itu sukses mengantongi laba Rp 1,47 triliun sepanjang enam bulan pertama tahun ini.

Pertumbuhan kinerja ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) yang tumbuh 35,95 persen. BTN juga mampu menekan beban bunga hingga 28 persen secara tahunan. Dan pendapatan bunga perseroannya naik tipis dari Rp 12,5 triliun menjadi  Rp 12,6 triliun.

Sepanjang semester I-2022, BTN mencatatkan kredit sebesar Rp 256,9 triliun atau tumbuh 7,61 persen. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 2,99 persen. Dan total aset perseroan Rp 381,74 triliun atau naik tipis sebesar 0,4 persen yoy. Pertumbuhan kreditnya diimbangi dengan perbaikan kualitas aset. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan/NPL) secara gross di level 3,54 persen, sementara NPL net 1,04 persen.

Rasio profitabilitas BTN juga mengalami peningkatan. Margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) naik menjadi 4,58 persen. Perseroan juga sukses meningkatkan efisiensi dengan cost to income ratio turun menjadi 46,07 persen.

Menurut Haru, kondisi pandemi Covid-19 yang melandai dan ekonomi mulai menggeliat, membuatnya optimistis sektor pembiayaan perumahan makin terbuka lebar. Untuk menangkap peluang tersebut, BTN berencana menggelar right issue agar amunisi perseroan bisa bertambah kuat.

DPR sudah merestui rencana BTN menghimpun dana senilai Rp 4,13 triliun. Dengan rincian, Rp 2,48 triliun dari Penyertaan Modal Negara (PMN) melalui right issue. Dan sisanya, sebesar Rp 1,65 triliun dihimpun dari publik. “Mudah-mudahan right issue bisa akhir tahun ini,” harap Haru.

Tak lupa, Dirut BTN juga berterima kasih kepada Pemerintah, yang telah menyediakan beragam bantuan subsidi untuk mengurangi beban masyarakat yang ingin memiliki rumah.■

]]> Setiap tahun, ada sekitar 400 ribu pasangan menikah. Sementara jumlah perumahan yang disediakan pemerintah dan lembaga keuangan, hanya di kisaran 200 ribu-250 ribuan unit. Jadi, bagaimana memenuhi sisanya? Inilah salah satu tugas yang berupaya diselesaikan oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, sebagai salah satu bank yang inti bisnisnya di pembiayaan perumahan.

Saat wawancara eksklusif dengan Rakyat Merdeka, Direktur Utama BTN Haru Koesmahargyo mengatakan, hak mendapatkan tempat tinggal tertulis dalam Undang-Undang (UU). Tercantum bahwa, setiap orang berhak hidup sejahtera lahir batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Serta berhak memperoleh layanan kesehatan.

“Kami, BTN sebagai salah satu partisipan, memiliki tugas untuk bisa memenuhi kebutuhan perumahan,” tegas Haru saat ditemui Tim Rakyat Merdeka, yaitu Direktur Utama dan CEO RM Group Kiki Iswara Darmayana, Wakil Pemimpin Redaksi Kartika Sari, dan Pemimpin Redaksi RMid Firsty Hestyarini, Redaktur Eksekutif Esti Fitria Wulandari di Jakarta, baru-baru ini.

Selisih antara kebutuhan perumahan (yang saat ini di kisaran 400 ribuan) dengan ketersediaan (yang hanya 200 ribu-250 ribuan), namanya backlog. Angka backlog perumahan akan semakin besar, apabila tidak ditangani dengan tepat. BTN, kata Haru, bertekad memperkecil backlog lewat program-program anyar mereka yang pro rakyat kecil. 

Data menunjukkan, backlog di tahun 2020 saja sudah tercatat 12,75 juta. Merujuk pada Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), angka backlog akan terus naik bila tidak ada program yang mengurangi beban masyarakat untuk memiliki rumah.

Program apa saja yang ditawarkan BTN untuk memudahkan masyarakat punya rumah? Haru menyebut beberapa jenis. Yaitu, program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), yang khusus menyasar Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Skema ini menawarkan cicilan tetap selama 20 tahun. Dan telah berhasil mendorong kepemilikan 1,1 juta unit rumah. 
Selain itu, ada program Selisih Bantuan Uang Muka (SBUM) dan Subsidi Selisih Bunga (SSB).

Untuk menggenjot pembiayaan perumahan, perseroan mengembangkan berbagai program yang lebih inklusif. Mantan General Manager Kantor Cabang BRI di New York ini bilang, program perumahan tidak lagi menyasar masyarakat berpenghasilan tetap. Tetapi, mulai ke golongan masyarakat di sektor informal, yang penghasilannya tidak tetap.

“Kami mengembangkan pola rent to own. Di awalnya sewa, nanti di akhirnya ada opsi memiliki atau beli properti,” terang pria jebolan Investment Banking Emory University, Amerika Serikat ini.

BTN juga punya program Graduated Payment Mortgage (GPM). Yaitu, menawarkan cicilan per bulan yang menyesuaikan dengan penghasilan konsumen. Untuk mempermudah dan memperluas jangkauan, BTN juga bersinergi dengan Perumnas, Tapera dan BPJS Ketenagakerjaan. Semua upaya ini, diyakini Haru, akan menjadi kekuatan untuk memperkecil angka backlog perumahan. “Angka backlog mudah-mudahan bisa makin mengecil dan insya Allah semoga bisa nol,” harap pria kelahiran Jakarta, 16 April 1966 ini.

Bangun Rumah Milenial 
Menurut Haru, sebuah peradaban dimulai dari terbentuknya pemukiman. Dengan mendorong pembiayaan perumahan, maka BTN merasa ikut membangun peradaban dan generasi yang sehat. Belakangan ini, BTN mengenalkan program baru yang diintroduksi oleh Kementerian BUMN. Yaitu:  rumah milenial. 

“Konsep rumah milenial, hunian vertikal yang ada di tengah kota. Terintegrasi dengan moda transportasi, seperti stasiun kereta api atau lainnya. Sehingga lebih mudah dan praktis,” ucap Haru.

Ini juga satu solusi untuk mereka yang ingin memiliki rumah di lokasi yang strategis, tapi harganya terjangkau. Contohnya, rumah susun berkonsep Transit Oriented Development (TOD) yang dibangun di kawasan Pondok Cina, Depok, Jawa Barat. Rusun yang dibangun di area parkir Stasiun Pondok Cina ini pun laris manis.

“Konsep ini juga mengurangi kebutuhan BBM berbahan bakar fosil. Penghuni mudah kemana-mana. Mau kemana saja dekat. Ini yang terus kami upayakan. Beda dengan rumah tapak, yang makin sulit, mahal dan biasanya lokasi jauh,” ungkapnya.

Mengenai performa BTN, mantan Direktur Keuangan BRI itu menjelaskan, pertumbuhan kinerja perusahaan yang dipimpinnya semakin bagus. Laba bersih perseroan sepanjang semester I-2022 tumbuh 60 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Laporan keuangan yang dipublikasikan pada Kamis (15/9), bank berkode saham BBTN itu sukses mengantongi laba Rp 1,47 triliun sepanjang enam bulan pertama tahun ini.

Pertumbuhan kinerja ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) yang tumbuh 35,95 persen. BTN juga mampu menekan beban bunga hingga 28 persen secara tahunan. Dan pendapatan bunga perseroannya naik tipis dari Rp 12,5 triliun menjadi  Rp 12,6 triliun.

Sepanjang semester I-2022, BTN mencatatkan kredit sebesar Rp 256,9 triliun atau tumbuh 7,61 persen. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 2,99 persen. Dan total aset perseroan Rp 381,74 triliun atau naik tipis sebesar 0,4 persen yoy. Pertumbuhan kreditnya diimbangi dengan perbaikan kualitas aset. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan/NPL) secara gross di level 3,54 persen, sementara NPL net 1,04 persen.

Rasio profitabilitas BTN juga mengalami peningkatan. Margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) naik menjadi 4,58 persen. Perseroan juga sukses meningkatkan efisiensi dengan cost to income ratio turun menjadi 46,07 persen.

Menurut Haru, kondisi pandemi Covid-19 yang melandai dan ekonomi mulai menggeliat, membuatnya optimistis sektor pembiayaan perumahan makin terbuka lebar. Untuk menangkap peluang tersebut, BTN berencana menggelar right issue agar amunisi perseroan bisa bertambah kuat.

DPR sudah merestui rencana BTN menghimpun dana senilai Rp 4,13 triliun. Dengan rincian, Rp 2,48 triliun dari Penyertaan Modal Negara (PMN) melalui right issue. Dan sisanya, sebesar Rp 1,65 triliun dihimpun dari publik. “Mudah-mudahan right issue bisa akhir tahun ini,” harap Haru.

Tak lupa, Dirut BTN juga berterima kasih kepada Pemerintah, yang telah menyediakan beragam bantuan subsidi untuk mengurangi beban masyarakat yang ingin memiliki rumah.■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories