Berpikir Sempit Bikin Negara Berpenduduk Muslim Jadi Tertinggal .

Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin mengatakan, cara berpikir sempit dan kerdil menyebabkan negara dengan mayoritas penduduk Muslim mengalami ketertinggalan. Hal itu yang menjadi salah satu penyebab mengapa banyak negara berpenduduk Muslim masih tergolong underdeveloped country dalam bidang ekonomi, pendidikan, iptek, dan bidang lainnya.

“Saya memandang bahwa salah satu hambatan dalam perkembangan peradaban saat ini antara lain adalah cara berpikir sempit dan tidak terbuka terhadap perubahan,” ungkap Kiai Ma’ruf saat menghadiri acara Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-65 Universitas Ibnu Chaldun Jakarta dan membuka Seminar Internasional dengan tema “Membangun Peradaban Islam Berbasis Masjid” melalui konferensi video di Kediaman Resmi Wapres, Jalan Diponegoro Nomor 2, Jakarta Pusat, Kamis (11/2).

Dikatakan Kiai Ma’ruf, Islam pernah mencapai masa puncak kejayaan yaitu dari tahun 800 sampai 1258 Masehi hingga peradaban Islam menjadi supremasi peradaban dunia. Pada masa itu, Islam menyumbangkan berbagai ilmu pengetahuan yang menjadi dasar peradaban modern saat ini, seperti ilmu kedokteran, fisika, aljabar, astronomi, dan sebagainya. Pelestarian dan penerapan cara berpikir yang moderat, dinamis, namun tetap dalam koridor manhaji dan tidak ekstrim adalah kunci membangun peradaban Islam pada saat itu.

Oleh sebab itu, Kiai Ma’ruf tidak ingin umat Islam ikut dalam arus berpikir sempit. Misalnya fenomena yang muncul belakangan ini tentang Covid-19. “Contoh sederhana cara berpikir sempit adalah tidak percaya bahwa Covid-19 adalah nyata, atau percaya pada teori-teori konspirasi tanpa mencoba untuk memahami fenomena dengan akal sehat dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan,” tutur Wapres.

Cara berpikir sempit itu, lanjutnya, juga merupakan salah satu penyebab munculnya sifat egoistik, tidak menghargai perbedaan pendapat serta tidak mau berdialog. “Cara berpikir sempit juga bisa melahirkan pola pikir yang menyimpang dari arus utama atau bahkan menjadi radikal yang dapat menjustifikasi kekerasan dalam menyelesaikan masalah,” terangnya.

Oleh karenanya, Kiai Ma’ruf berharap umat Islam dapat kembali melestarikan cara berpikir yang bisa menjadi sumber terbentuknya peradaban Islam sebagaimana terjadi di era keemasannya yakni cara berpikir wasathy yang moderat dan dinamis.

Akan tetapi, Kiai Ma’ruf menambahkan, kita juga tidak bisa menyerahkan sepenuhnya pada perkembangan ilmu pengetahuan dan mengabaikan motivasi agama (ruh diniyah) dalam memandang dan menyikapi setiap persoalan yang muncul dalam kehidupan keseharian. Maksudnya di sini, tegas Wapres, tidak berpikir secara liberal. “Dengan demikian cara berpikir Islami itu tidak tekstual dan tidak liberal, la tekstualiyan wala liberaliyan) tetapi moderat (wasathiyan/ tawassuthiyan),” ungkapnya.

Kata Wapres, upaya untuk membangun kembali peradaban Islam adalah dengan mengembalikan cara berpikir wasathy (manhaj al-fikr al-wasathy) yang moderat (tawasuthiyaan), dinamis (tathawuriyan), manhajy (manhajiyan), dan tidak ekstrim.

“Cara berfikir wasathy ini merupakan jalan lurus yang senantiasa kita minta dalam setiap shalat dengan bacaan (Ihdinas shirathal mustaqim). Shirathal mustaqim adalah jalan moderat. Bukan jalan yang melenceng ke kanan (asshirath alifrathy) ataupun jalan yang melenceng ke kiri (asshirath altafrithy),” jelas Kiai jebolan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur ini.

Adapun tempat yang paling baik untuk melakukan penguatan cara berpikir wasathy tersebut, sambung Wapres, adalah masjid, karena tidak ada umat Islam yang lepas dari pengaruh masjid. “Sehingga dalam jangka panjang hal itu bisa menjadi embrio membangun kembali peradaban Islam dan menjadikan umat Islam sebagai umat terbaik atau khaira ummah,” pungkasnya. [FAQ]

]]> .
Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin mengatakan, cara berpikir sempit dan kerdil menyebabkan negara dengan mayoritas penduduk Muslim mengalami ketertinggalan. Hal itu yang menjadi salah satu penyebab mengapa banyak negara berpenduduk Muslim masih tergolong underdeveloped country dalam bidang ekonomi, pendidikan, iptek, dan bidang lainnya.

“Saya memandang bahwa salah satu hambatan dalam perkembangan peradaban saat ini antara lain adalah cara berpikir sempit dan tidak terbuka terhadap perubahan,” ungkap Kiai Ma’ruf saat menghadiri acara Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-65 Universitas Ibnu Chaldun Jakarta dan membuka Seminar Internasional dengan tema “Membangun Peradaban Islam Berbasis Masjid” melalui konferensi video di Kediaman Resmi Wapres, Jalan Diponegoro Nomor 2, Jakarta Pusat, Kamis (11/2).

Dikatakan Kiai Ma’ruf, Islam pernah mencapai masa puncak kejayaan yaitu dari tahun 800 sampai 1258 Masehi hingga peradaban Islam menjadi supremasi peradaban dunia. Pada masa itu, Islam menyumbangkan berbagai ilmu pengetahuan yang menjadi dasar peradaban modern saat ini, seperti ilmu kedokteran, fisika, aljabar, astronomi, dan sebagainya. Pelestarian dan penerapan cara berpikir yang moderat, dinamis, namun tetap dalam koridor manhaji dan tidak ekstrim adalah kunci membangun peradaban Islam pada saat itu.

Oleh sebab itu, Kiai Ma’ruf tidak ingin umat Islam ikut dalam arus berpikir sempit. Misalnya fenomena yang muncul belakangan ini tentang Covid-19. “Contoh sederhana cara berpikir sempit adalah tidak percaya bahwa Covid-19 adalah nyata, atau percaya pada teori-teori konspirasi tanpa mencoba untuk memahami fenomena dengan akal sehat dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan,” tutur Wapres.

Cara berpikir sempit itu, lanjutnya, juga merupakan salah satu penyebab munculnya sifat egoistik, tidak menghargai perbedaan pendapat serta tidak mau berdialog. “Cara berpikir sempit juga bisa melahirkan pola pikir yang menyimpang dari arus utama atau bahkan menjadi radikal yang dapat menjustifikasi kekerasan dalam menyelesaikan masalah,” terangnya.

Oleh karenanya, Kiai Ma’ruf berharap umat Islam dapat kembali melestarikan cara berpikir yang bisa menjadi sumber terbentuknya peradaban Islam sebagaimana terjadi di era keemasannya yakni cara berpikir wasathy yang moderat dan dinamis.

Akan tetapi, Kiai Ma’ruf menambahkan, kita juga tidak bisa menyerahkan sepenuhnya pada perkembangan ilmu pengetahuan dan mengabaikan motivasi agama (ruh diniyah) dalam memandang dan menyikapi setiap persoalan yang muncul dalam kehidupan keseharian. Maksudnya di sini, tegas Wapres, tidak berpikir secara liberal. “Dengan demikian cara berpikir Islami itu tidak tekstual dan tidak liberal, la tekstualiyan wala liberaliyan) tetapi moderat (wasathiyan/ tawassuthiyan),” ungkapnya.

Kata Wapres, upaya untuk membangun kembali peradaban Islam adalah dengan mengembalikan cara berpikir wasathy (manhaj al-fikr al-wasathy) yang moderat (tawasuthiyaan), dinamis (tathawuriyan), manhajy (manhajiyan), dan tidak ekstrim.

“Cara berfikir wasathy ini merupakan jalan lurus yang senantiasa kita minta dalam setiap shalat dengan bacaan (Ihdinas shirathal mustaqim). Shirathal mustaqim adalah jalan moderat. Bukan jalan yang melenceng ke kanan (as-shirath al-ifrathy) ataupun jalan yang melenceng ke kiri (as-shirath al-tafrithy),” jelas Kiai jebolan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur ini.

Adapun tempat yang paling baik untuk melakukan penguatan cara berpikir wasathy tersebut, sambung Wapres, adalah masjid, karena tidak ada umat Islam yang lepas dari pengaruh masjid. “Sehingga dalam jangka panjang hal itu bisa menjadi embrio membangun kembali peradaban Islam dan menjadikan umat Islam sebagai umat terbaik atau khaira ummah,” pungkasnya. [FAQ]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories