Beri Pelatihan Untuk Petani Menteri Siti Happy Madu Dan Gaharu Berhasil Tembus Pasar Global

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberikan Bimbingan Teknis dan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Masyarakat di dalam Kawasan Hutan.

Kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat/kelompok tani hutan dalam pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), serta meningkatkan daya beli untuk Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pada masa pandemi Covid-19. 

Dalam sambutannya, Menteri LHK, Siti Nurbaya mengatakan, HHBK akan mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat jika dikelola dengan baik.

“HHBK dari kawasan hutan memiliki potensi sangat besar, dan peran signifikan terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga masyarakat, peningkatan ekonomi lokal, dan kelestarian hutan itu sendiri,” ungkap Siti dikutip Jumat (26/2).

Siti menjelaskan, pelatihan ini untuk mendukung program pemberian akses legal pengelolaan hutan untuk masyarakat sebagai program prioritas Presiden Jokowi. 

Pelatihan ini akan meningkatkan keterampilan dan produktivitas masyarakat dalam memanfaatkan hutan, terutama dari HHBK.

Untuk itu, Menteri LHK mengajak semua pihak untuk mewujudkannya. “Kita akan bangun kerja sama tingkat lapangan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), birokrat, pembimbing lapangan, masyarakat tani dan dunia usaha sudah saatnya bisa dilakukan secara bahu membahu,” ujarnya.

Ia menilai, kehadiran Undang Undang Cipta Kerja dan turunannya semakin memperjelas langkah percepatan mensejahterakan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan hutan. 

Beberapa komoditi HHBK yang potensial dikembangkan, antara lain Daun Kayu Putih, Kopi, Getah, Bambu, Jagung, Sereh Wangi, Rumput Gajah, Gula Aren, Gamal, Rotan, Aren, Cengkeh, Damar, Gaharu, Getah, Kulit Kayu, Kemenyan, Kemiri, Kenari, Madu, dan Sagu dan lain sebagainya

Untuk saat ini, imbuh Siti, HHBK berhasil menjangkau pasar ekspor, seperti produk madu dan gaharu.”Kita memperkuat langkah-langkah produktif HHBK dan akan semakin meningkatkan ekspor kita,”jelasnya.

Menurut data, potensi HHBK saat ini setidaknya sebesar 66 juta ton. Produksinya, di tahun 2020 baru sebesar 558 ribu ton dengan PNBP Rp 4,2 miliar. 

Siti menyebutkan, ada tiga jenis HHBK dengan produksi tertinggi. Pertama HHBK kelompok getah sebanyak 126 ribu ton. Kedua, kelompok biji-bijian sebanyak 114 ribu ton, dan Ketiga kelompok daun/akar sebesar 63 ribu ton.

Pada kesempatan tersebut, Siti memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pemangku kepentingan atas daya juang dan kesabaran yang tinggi di tengah segala keterbatasan dalam Pandemi Covid-19, sambil terus mengembangkan inisiatif dan inovasi dilapangan. [MFA]
 

]]> Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberikan Bimbingan Teknis dan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Masyarakat di dalam Kawasan Hutan.

Kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat/kelompok tani hutan dalam pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), serta meningkatkan daya beli untuk Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pada masa pandemi Covid-19. 

Dalam sambutannya, Menteri LHK, Siti Nurbaya mengatakan, HHBK akan mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat jika dikelola dengan baik.

“HHBK dari kawasan hutan memiliki potensi sangat besar, dan peran signifikan terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga masyarakat, peningkatan ekonomi lokal, dan kelestarian hutan itu sendiri,” ungkap Siti dikutip Jumat (26/2).

Siti menjelaskan, pelatihan ini untuk mendukung program pemberian akses legal pengelolaan hutan untuk masyarakat sebagai program prioritas Presiden Jokowi. 

Pelatihan ini akan meningkatkan keterampilan dan produktivitas masyarakat dalam memanfaatkan hutan, terutama dari HHBK.

Untuk itu, Menteri LHK mengajak semua pihak untuk mewujudkannya. “Kita akan bangun kerja sama tingkat lapangan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), birokrat, pembimbing lapangan, masyarakat tani dan dunia usaha sudah saatnya bisa dilakukan secara bahu membahu,” ujarnya.

Ia menilai, kehadiran Undang Undang Cipta Kerja dan turunannya semakin memperjelas langkah percepatan mensejahterakan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan hutan. 

Beberapa komoditi HHBK yang potensial dikembangkan, antara lain Daun Kayu Putih, Kopi, Getah, Bambu, Jagung, Sereh Wangi, Rumput Gajah, Gula Aren, Gamal, Rotan, Aren, Cengkeh, Damar, Gaharu, Getah, Kulit Kayu, Kemenyan, Kemiri, Kenari, Madu, dan Sagu dan lain sebagainya

Untuk saat ini, imbuh Siti, HHBK berhasil menjangkau pasar ekspor, seperti produk madu dan gaharu.”Kita memperkuat langkah-langkah produktif HHBK dan akan semakin meningkatkan ekspor kita,”jelasnya.

Menurut data, potensi HHBK saat ini setidaknya sebesar 66 juta ton. Produksinya, di tahun 2020 baru sebesar 558 ribu ton dengan PNBP Rp 4,2 miliar. 

Siti menyebutkan, ada tiga jenis HHBK dengan produksi tertinggi. Pertama HHBK kelompok getah sebanyak 126 ribu ton. Kedua, kelompok biji-bijian sebanyak 114 ribu ton, dan Ketiga kelompok daun/akar sebesar 63 ribu ton.

Pada kesempatan tersebut, Siti memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pemangku kepentingan atas daya juang dan kesabaran yang tinggi di tengah segala keterbatasan dalam Pandemi Covid-19, sambil terus mengembangkan inisiatif dan inovasi dilapangan. [MFA]
 
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories