Berharap Jadi Pertanda Baik Hubungan Indonesia-Jepang Matahari Bersinar Cerah Saat Serahkan Surat Kepercayaan

Bertugas sebagai perwakilan negara di masa pandemi Covid-19, bukanlah hal mudah. Namun Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Kenji Kanasugi tetap berharap, dapat membawa hubungan kedua negara ke tingkat yang lebih tinggi.

Hal ini dia ungkap dalam wawancara eksklusif secara virtual, Selasa (23/2), kepada tim redak­si Rakyat Merdeka & RM.id, Kartika Sari, Firsty Hetyarini, Muhammad Rusmadi, Mellani Eka Mahayana dan Diananda Rahmasari.

Menurutnya, Indonesia adalah negara berkembang yang penuh dengan energi generasi muda. Nah, untuk menciptakan hubungan yang saling menguntung­kan antara kedua negara, Dubes yang pernah bertugas di Malay­sia itu menilai, diperlukan energi ekonomi yang lebih besar antara Indonesia dan Jepang. Karena, hal itu saling menguntungkan.

Tak hanya meningkatkan hubungan antar kedua negara, Dubes Kanasugi bercerita, dirinya akan berupaya keras mengembangkan yang terbaik pada hubungan Indonesia-Jepang. Agar lebih dekat dengan rakyat Indonesia, khususnya anak muda, ia juga berinteraksi lewat media sosial Instagram. Berikut petikan wawancaranya:

Anda tiba di Jakarta di saat yang sulit, yaitu di tengah pan­demi Corona. Pasti juga tidak mudah dalam posisi anda sebagai duta besar. Bisa anda cerita­kan, bagaimana pekan pertama atau bulan pertama anda di Jakarta?

Saya tiba di sini pada pertengahan Januari, dan menyerahkan Surat Kepercayaan (Letter of Cre­dentials) kepada Presiden Jokowi pada 4 Februari. Sejak itu, mulai bekerja sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh.

Sejak pertama tiba, saya disambut dengan hangat oleh pemerintah Indonesia dan masyarakat Indonesia. Saya ber­harap, dapat bekerja di sini untuk lebih meningkatkan hubungan bilateral kita.

Hubungan kedua negara, kami menyebutnya kemitraan strategis, sangat penting, tidak hanya di bidang ekonomi dan perdagangan, tetapi juga politik, keamanan, keragaman budaya, semua hal ini digabungkan.

Kita adalah mitra yang sangat dekat dan saling membutuhkan. Saya sangat senang berada di sini dan akan memberikan yang terbaik untuk mempromosikan hubungan bilateral kita ke ting­kat yang lebih tinggi.

Setibanya saya di Jakarta, saya langsung menjalani karantina mandiri selama dua pekan. Setelah itu, saya mulai bekerja.

Kesan pertama saya, Indonesia adalah negara yang berkembang dan penuh energi generasi muda.

Ya, Indonesia adalah penduduk terbesar keempat di dunia. Populasinya sekitar 270 juta orang, dan terus tumbuh 3 juta setiap tahun. Sementara di Jepang, populasi kami menyusut 500 ribu setiap tahun.

Untuk menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara kedua negara, diperlukan energi ekonomi yang lebih besar dari Indonesia ke Jepang dan dari Jepang ke Indonesia. Itu saling menguntungkan. Saya akan berupaya keras mengem­bangkan yang terbaik dalam hubungan kita.

 

Saat pertama kali bertemu Presiden Joko Widodo, bagaimana kesan pribadi anda?

Terus terang, selama ini duta besar yang datang memiliki kesempatan untuk one on one meeting dengan presiden. Tapi, karena Covid-19, pertemuan saya dengan Presiden Jokowi sangat terbatas.

Tapi saya disambut hangat saat menyerahkan Letter of Cre­dentials (Surat Kepercayaan). Meski sedang musim hujan, pagi hari pada 4 Februari saat saya menyerahkan Surat Keper­cayaan kepada presiden, langit cerah dengan sinar matahari. Jadi keseluruhan upacara, baik upacara kehormatan berlang­sung di luar.

Saya melihat ini sebagai pertanda bagus. Tidak hanya untuk saya, tapi juga untuk semua duta besar yang menyerahkan surat kepercayaan pada hari itu. Itu adalah awal yang baik bagi kita semua.

Sejak saya tiba, sinar ma­tahari hanya beberapa hari saja, selanjutnya selalu turun hujan. Tapi pada 4 Februari itu sinar matahari bersinar cerah. Jadi ini awal yang baik untuk me­mulai tugas saya, meneruskan hubungan baik Jepang dengan Indonesia.

Bagaimana dengan kerja sama Jepang dan Indonesia saat ini?

Belakangan, akibat pandemi Covid-19, investasi langsung Jepang ke Indonesia tahun lalu menurun. Pandemi sudah mem­pengaruhi pengambilan keputusan di kantor pusat perusahaan Jepang di Tokyo.

Tapi saya tetap optimistis tentang hubungan Jepang-In­donesia di masa depan. Sekali lagi, Indonesia merupakan pasar yang berkembang besar bagi perusahaan Jepang. Perusahaan Jepang juga ingin memanfaatkan Indonesia sebagai salah satu hub produksi penting untuk produk mereka, sekaligus sebagai hub ekspor di kawasan.

Jadi, setelah kita mengendali­kan Covid-19, saya rasa, kita bisa melihat lebih banyak investasi yang datang dari Jepang dan merevitalisasi hubungan ekonomi Jepang-Indonesia. Saya sangat menantikan melihat itu terjadi.

Bagaimana pebisnis Jepang melihat Indonesia usai Om­nibus Law dikeluarkan? Ba­gaimana anda melihat iklim investasi di Indonesia di era pandemi?

Seperti yang saya katakan, investasi langsung Jepang menu­run tahun lalu. Posisi Jepang menurut pemerintah Indonesia, menduduki peringkat ke-4. Turun satu peringkat dari tahun sebelumnya. Sedangkan menu­rut JBIC (Japan Bank for Inter­national Cooperation), tahun lalu Indonesia menduduki peringkat ke-6 untuk tujuan investasi masa depan. Ini satu peringkat turun dari tahun sebelumnya.

Saya tetap optimis dengan masa depan hubungan Jepang-Indonesia. Sebab, Pemerintah Indonesia sedang berupaya mem­perbaiki lingkungan investasi dengan memberlakukan Omni­bus Law pada November lalu.

Sekarang, pemerintah Indo­nesia sedang mengimplementa­sikan Undang-Undang tersebut. Setahu saya, ada 66 peraturan dan 51 sudah disepakati. Setelah Pemerintah Indonesia member­lakukan Omnibus Law, saya sangat berharap iklim investasi membaik dan kami dapat me­narik banyak perusahaan Jepang berinvestasi ke Indonesia.

Terlebih lagi, Indonesia me­wakili 40 persen PDB (Produk Domestik Bruto) di antara nega­ra-negara ASEAN (Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara) dan 40 persen dari total populasi ASEAN ada di Indonesia.

 

Di antara sekian banyak bidang kerja sama Indonesia-Jepang, apa prioritas anda?

Tentunya, hubungan perda­gangan dan investasi antara kedua negara, sangat penting. Tahun depan, Indonesia akan menjadi tuan rumah G20. In­donesia adalah anggota yang sangat penting. Pada 2023, Indonesia akan menjadi Ketua Negara ASEAN.

Tahun itu juga bertepatan dengan peringatan 50 tahun hubungan Jepang-ASEAN.

Jadi, dua tahun berturut-turut, Indonesia akan menjadi tuan rumah acara diplomatik penting. Tentunya para pemimpin dunia, termasuk Perdana Menteri Jepang, datang ke Indonesia untuk menghadiri pertemuan ini, sekali­gus menghadiri konsultasi bilateral dengan Presiden Jokowi.

Jadi tidak hanya bidang per­dagangan dan investasi, kita bisa memperdalam kerja sama di bidang kebijakan. Seperti Myanmar misalnya, kami sangat mengandalkan upaya Indonesia dalam menyelesaikan masalah Myanmar. Kami ingin mem­bantu upaya Indonesia.

Antara Jepang dan China sering dibanding-bandingkan dalam hal investasinya di Indo­nesia. Komentar anda?

Perusahaan Jepang cenderung memiliki perspektif yang pan­jang dalam membuat keputusan investasi. Keputusan tersebut mungkin membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan investor lain.

Tapi ketika perusahaan Jepang membuat keputusan, mereka tetap tinggal di negara itu, bah­kan melalui masa-masa sulit dan berusaha memenuhi komitmen mereka. Begitulah cara kami berbisnis di Jepang, juga di Indonesia.

Postingan anda di Instagram menarik perhatian netizen Indo­nesia. Apalagi soal tren terbaru, seperti ikan Cupang…

Pendahulu saya, Duta Besar (Masafumi) Ishii yang memulai aktif di Instagram. Saya hanya mewarisi akunnya. Salah satu manfaat media sosial adalah untuk menjangkau lebih banyak masyarakat Indonesia.

Biasanya, saya hanya ber­temu dengan menteri, pejabat tinggi pemerintah Indonesia dan orang-orang yang bekerja di bidang ekonomi. Tapi saya juga ingin menjangkau populasi yang lebih muda di Indonesia. Mereka penting untuk hubungan masa depan kita.

Saya punya dua anak perem­puan. Yang bungsu pernah men­jalani kegiatan sukarela menjadi guru di Banjarnegara, Jawa Tengah, lima atau enam tahun yang lalu. Dia sangat menikmatinya.

Di Banjarnegara, mungkin dia satu-satunya orang Jepang yang tinggal di sana. Jadi ketika dia mengajar di sekolah, tidak hanya siswa, warga desa juga datang untuk melihat dia mengajar.

Ini pengalaman yang luar biasa baginya. Dia banyak cerita soal pengalamannya ini. Dia sangat suka Indonesia. Ternyata kebetulan, saya kemudian ditugaskan ke Indonesia. Gara-gara kisah putri saya, saya jadi ingin ber­temu banyak warga Indonesia.

 

Ngomong-ngomong, apa nama beta anda (ikan cupang dalam bahasa Jepang)?

Dia dinamai Ipang. I un­tuk Indonesia dan Pang untuk Jepang. Dengan menggunakan Instagram, saya berhasil me­nentukan nama dan memutuskan menamainya Ipang.

Konten Instagram anda, apakah staf kedutaan ikut mem­bantu, atau putri anda juga ikut memberi masukan mengenai konten menarik bagi anak muda Indonesia?

Saya tidak pandai mengguna­kan media sosial he…he…he… Saya tidak pernah menggunakan media sosial di Jepang. Jadi, staf kedutaan yang banyak mem­bantu saya. Konten media sosial harus bagus sehingga menarik lebih banyak penonton, terutama anak muda.

Makan siang dan memiliki beta adalah salah satu hal me­narik perhatian generasi muda. Saya juga terbuka untuk menerima ide mengenai konten yang bakal kami buat.

Apakah anda membaca respons netizen terhadap postingan anda? Apa anda memba­las respons mereka?

Saya mencoba membalas. Saat ini, terjemahan otomatis di media sosial sudah sangat bagus, tetapi tidak semua dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Jadi saya hanya bisa membalas sedikit saja. Ketika saya punya waktu, saya selalu membaca komentar. Kami menerima semua komentar.

Ngomong-ngomong, apa hobi dan makanan Indonesia kesukaan anda?

Saya tidak terlalu punya hobi khusus. Tapi ketika saya di Jepang, saya sangat suka mema­sak. Memasak makanan untuk saya dan keluarga saya. Di sini, saya membawa chef. Jadi saya tidak perlu memasak untuk saya atau keluarga saya.

Tapi, ketika saya punya wak­tu, saya lebih suka memasak apa yang ingin saya makan. Ma­kanan favorit saya, mie. Anda mungkin memperhatikan makan siang saya di Instagram adalah mie. Namun, saya mencoba me­nikmati mie di Indonesia.

Bagaimana dengan sate, gado-gado, soto atau nasi Padang?

Saya sudah mencoba sate. Tapi, saya berusaha tidak ma­kan terlalu banyak. Terutama saat makan siang, karena saya bisa mengantuk. Tapi, dengan senang hati saya ingin mencoba makanan yang menarik, apapun yang enak.

Saya belum mencoba banyak makanan Indonesia. Karena pan­demi Covid-19, aktivitas saya di Jakarta sangat terbatas. Setelah Covid-19 terkendali, saya akan berkeliling di sekitar kompleks kedutaan maupun rumah untuk mencoba sesuatu yang baru.

 

Kembali ke pandemi, berapa banyak warga Jepang yang kembali ke Jepang?

Secara umum, kami mencatat ada sekitar 200 ribu ekspatriat Jepang di Indonesia. Sekarang kami tidak memiliki jumlah pastinya. Beberapa dari mereka kembali ke Jepang karena pan­demi pada Maret-April tahun lalu. Itu bertepatan dengan pe­rubahan tahun fiskal.

Seperti yang anda ketahui, tahun fiskal Jepang dimulai pada April dan selama liburan di musim semi, beberapa warga negara Jepang kembali untuk liburan dan mereka tidak kem­bali ke Indonesia.

Beberapa orang Jepang yang pulang belum kembali. Tapi, mayoritas orang Jepang masih ada di sini, untuk melanjutkan aktivitas mereka. Baik itu kegiatan pemerintah maupun interaksi ekonomi dengan mitra kerja Indonesia. Komitmen kami untuk hubungan Jepang-Indonesia sangat kuat.

Pandemi membuat sebagian dari kita tidak bisa bertemu keluarganya.

Apa arti keluarga bagi anda?

Nilai keluarga itu sangat penting. Keluarga adalah kelompok orang yang sangat penting. Jika kita bisa berkumpul, kita bisa mendapatkan energi dan saling mendukung dari anggota keluar­ga kita. Kami sangat menjunjung tinggi nilai keluarga.

Sayangnya, karena pandemi Covid-19, sulit bertatap muka dengan anggota keluarga lain. Namun, karena perkembangan media sosial, sekarang mudah terhubung dengan mereka mela­lui online.

Saya biasa menghubungi ibu saya, yang tinggal di Tokyo setiap Minggu pagi. Ibu saya yang sudah berusia 90 tahun, tidak terbiasa menggunakan handphone. Tapi sebelum datang ke Indonesia, saya ajari beliau agar kita bisa saling berhubungan secara online.

Tentang vaksinasi, apakah Kaisar Jepang dan keluarganya akan mendapatkan vaksin Covid-19?

Sampai saat ini saya belum tahu. Program vaksinasi sudah dimulai pekan lalu. Prioritasnya adalah orang-orang yang bekerja di sektor medis dan lansia. Tetapi untuk keluarga kekaisaran, saya belum tahu info terkini.

Apakah anda akan divaksi­nasi di Indonesia?

Kami belum tahu pasti. Kami belum diberi tahu Pemerintah Jepang bagaimana kami menda­patkan vaksinasi. Sekarang, saya hanya ingin memastikan kalau saya tetap aman dan sehat selama tinggal di Indonesia. Se­lama saya tetap berhati-hati, kita akan sehat dan selamat. (*)

]]> Bertugas sebagai perwakilan negara di masa pandemi Covid-19, bukanlah hal mudah. Namun Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Kenji Kanasugi tetap berharap, dapat membawa hubungan kedua negara ke tingkat yang lebih tinggi.

Hal ini dia ungkap dalam wawancara eksklusif secara virtual, Selasa (23/2), kepada tim redak­si Rakyat Merdeka & RM.id, Kartika Sari, Firsty Hetyarini, Muhammad Rusmadi, Mellani Eka Mahayana dan Diananda Rahmasari.

Menurutnya, Indonesia adalah negara berkembang yang penuh dengan energi generasi muda. Nah, untuk menciptakan hubungan yang saling menguntung­kan antara kedua negara, Dubes yang pernah bertugas di Malay­sia itu menilai, diperlukan energi ekonomi yang lebih besar antara Indonesia dan Jepang. Karena, hal itu saling menguntungkan.

Tak hanya meningkatkan hubungan antar kedua negara, Dubes Kanasugi bercerita, dirinya akan berupaya keras mengembangkan yang terbaik pada hubungan Indonesia-Jepang. Agar lebih dekat dengan rakyat Indonesia, khususnya anak muda, ia juga berinteraksi lewat media sosial Instagram. Berikut petikan wawancaranya:

Anda tiba di Jakarta di saat yang sulit, yaitu di tengah pan­demi Corona. Pasti juga tidak mudah dalam posisi anda sebagai duta besar. Bisa anda cerita­kan, bagaimana pekan pertama atau bulan pertama anda di Jakarta?

Saya tiba di sini pada pertengahan Januari, dan menyerahkan Surat Kepercayaan (Letter of Cre­dentials) kepada Presiden Jokowi pada 4 Februari. Sejak itu, mulai bekerja sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh.

Sejak pertama tiba, saya disambut dengan hangat oleh pemerintah Indonesia dan masyarakat Indonesia. Saya ber­harap, dapat bekerja di sini untuk lebih meningkatkan hubungan bilateral kita.

Hubungan kedua negara, kami menyebutnya kemitraan strategis, sangat penting, tidak hanya di bidang ekonomi dan perdagangan, tetapi juga politik, keamanan, keragaman budaya, semua hal ini digabungkan.

Kita adalah mitra yang sangat dekat dan saling membutuhkan. Saya sangat senang berada di sini dan akan memberikan yang terbaik untuk mempromosikan hubungan bilateral kita ke ting­kat yang lebih tinggi.

Setibanya saya di Jakarta, saya langsung menjalani karantina mandiri selama dua pekan. Setelah itu, saya mulai bekerja.

Kesan pertama saya, Indonesia adalah negara yang berkembang dan penuh energi generasi muda.

Ya, Indonesia adalah penduduk terbesar keempat di dunia. Populasinya sekitar 270 juta orang, dan terus tumbuh 3 juta setiap tahun. Sementara di Jepang, populasi kami menyusut 500 ribu setiap tahun.

Untuk menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara kedua negara, diperlukan energi ekonomi yang lebih besar dari Indonesia ke Jepang dan dari Jepang ke Indonesia. Itu saling menguntungkan. Saya akan berupaya keras mengem­bangkan yang terbaik dalam hubungan kita.

 

Saat pertama kali bertemu Presiden Joko Widodo, bagaimana kesan pribadi anda?

Terus terang, selama ini duta besar yang datang memiliki kesempatan untuk one on one meeting dengan presiden. Tapi, karena Covid-19, pertemuan saya dengan Presiden Jokowi sangat terbatas.

Tapi saya disambut hangat saat menyerahkan Letter of Cre­dentials (Surat Kepercayaan). Meski sedang musim hujan, pagi hari pada 4 Februari saat saya menyerahkan Surat Keper­cayaan kepada presiden, langit cerah dengan sinar matahari. Jadi keseluruhan upacara, baik upacara kehormatan berlang­sung di luar.

Saya melihat ini sebagai pertanda bagus. Tidak hanya untuk saya, tapi juga untuk semua duta besar yang menyerahkan surat kepercayaan pada hari itu. Itu adalah awal yang baik bagi kita semua.

Sejak saya tiba, sinar ma­tahari hanya beberapa hari saja, selanjutnya selalu turun hujan. Tapi pada 4 Februari itu sinar matahari bersinar cerah. Jadi ini awal yang baik untuk me­mulai tugas saya, meneruskan hubungan baik Jepang dengan Indonesia.

Bagaimana dengan kerja sama Jepang dan Indonesia saat ini?

Belakangan, akibat pandemi Covid-19, investasi langsung Jepang ke Indonesia tahun lalu menurun. Pandemi sudah mem­pengaruhi pengambilan keputusan di kantor pusat perusahaan Jepang di Tokyo.

Tapi saya tetap optimistis tentang hubungan Jepang-In­donesia di masa depan. Sekali lagi, Indonesia merupakan pasar yang berkembang besar bagi perusahaan Jepang. Perusahaan Jepang juga ingin memanfaatkan Indonesia sebagai salah satu hub produksi penting untuk produk mereka, sekaligus sebagai hub ekspor di kawasan.

Jadi, setelah kita mengendali­kan Covid-19, saya rasa, kita bisa melihat lebih banyak investasi yang datang dari Jepang dan merevitalisasi hubungan ekonomi Jepang-Indonesia. Saya sangat menantikan melihat itu terjadi.

Bagaimana pebisnis Jepang melihat Indonesia usai Om­nibus Law dikeluarkan? Ba­gaimana anda melihat iklim investasi di Indonesia di era pandemi?

Seperti yang saya katakan, investasi langsung Jepang menu­run tahun lalu. Posisi Jepang menurut pemerintah Indonesia, menduduki peringkat ke-4. Turun satu peringkat dari tahun sebelumnya. Sedangkan menu­rut JBIC (Japan Bank for Inter­national Cooperation), tahun lalu Indonesia menduduki peringkat ke-6 untuk tujuan investasi masa depan. Ini satu peringkat turun dari tahun sebelumnya.

Saya tetap optimis dengan masa depan hubungan Jepang-Indonesia. Sebab, Pemerintah Indonesia sedang berupaya mem­perbaiki lingkungan investasi dengan memberlakukan Omni­bus Law pada November lalu.

Sekarang, pemerintah Indo­nesia sedang mengimplementa­sikan Undang-Undang tersebut. Setahu saya, ada 66 peraturan dan 51 sudah disepakati. Setelah Pemerintah Indonesia member­lakukan Omnibus Law, saya sangat berharap iklim investasi membaik dan kami dapat me­narik banyak perusahaan Jepang berinvestasi ke Indonesia.

Terlebih lagi, Indonesia me­wakili 40 persen PDB (Produk Domestik Bruto) di antara nega­ra-negara ASEAN (Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara) dan 40 persen dari total populasi ASEAN ada di Indonesia.

 

Di antara sekian banyak bidang kerja sama Indonesia-Jepang, apa prioritas anda?

Tentunya, hubungan perda­gangan dan investasi antara kedua negara, sangat penting. Tahun depan, Indonesia akan menjadi tuan rumah G20. In­donesia adalah anggota yang sangat penting. Pada 2023, Indonesia akan menjadi Ketua Negara ASEAN.

Tahun itu juga bertepatan dengan peringatan 50 tahun hubungan Jepang-ASEAN.

Jadi, dua tahun berturut-turut, Indonesia akan menjadi tuan rumah acara diplomatik penting. Tentunya para pemimpin dunia, termasuk Perdana Menteri Jepang, datang ke Indonesia untuk menghadiri pertemuan ini, sekali­gus menghadiri konsultasi bilateral dengan Presiden Jokowi.

Jadi tidak hanya bidang per­dagangan dan investasi, kita bisa memperdalam kerja sama di bidang kebijakan. Seperti Myanmar misalnya, kami sangat mengandalkan upaya Indonesia dalam menyelesaikan masalah Myanmar. Kami ingin mem­bantu upaya Indonesia.

Antara Jepang dan China sering dibanding-bandingkan dalam hal investasinya di Indo­nesia. Komentar anda?

Perusahaan Jepang cenderung memiliki perspektif yang pan­jang dalam membuat keputusan investasi. Keputusan tersebut mungkin membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan investor lain.

Tapi ketika perusahaan Jepang membuat keputusan, mereka tetap tinggal di negara itu, bah­kan melalui masa-masa sulit dan berusaha memenuhi komitmen mereka. Begitulah cara kami berbisnis di Jepang, juga di Indonesia.

Postingan anda di Instagram menarik perhatian netizen Indo­nesia. Apalagi soal tren terbaru, seperti ikan Cupang…

Pendahulu saya, Duta Besar (Masafumi) Ishii yang memulai aktif di Instagram. Saya hanya mewarisi akunnya. Salah satu manfaat media sosial adalah untuk menjangkau lebih banyak masyarakat Indonesia.

Biasanya, saya hanya ber­temu dengan menteri, pejabat tinggi pemerintah Indonesia dan orang-orang yang bekerja di bidang ekonomi. Tapi saya juga ingin menjangkau populasi yang lebih muda di Indonesia. Mereka penting untuk hubungan masa depan kita.

Saya punya dua anak perem­puan. Yang bungsu pernah men­jalani kegiatan sukarela menjadi guru di Banjarnegara, Jawa Tengah, lima atau enam tahun yang lalu. Dia sangat menikmatinya.

Di Banjarnegara, mungkin dia satu-satunya orang Jepang yang tinggal di sana. Jadi ketika dia mengajar di sekolah, tidak hanya siswa, warga desa juga datang untuk melihat dia mengajar.

Ini pengalaman yang luar biasa baginya. Dia banyak cerita soal pengalamannya ini. Dia sangat suka Indonesia. Ternyata kebetulan, saya kemudian ditugaskan ke Indonesia. Gara-gara kisah putri saya, saya jadi ingin ber­temu banyak warga Indonesia.

 

Ngomong-ngomong, apa nama beta anda (ikan cupang dalam bahasa Jepang)?

Dia dinamai Ipang. I un­tuk Indonesia dan Pang untuk Jepang. Dengan menggunakan Instagram, saya berhasil me­nentukan nama dan memutuskan menamainya Ipang.

Konten Instagram anda, apakah staf kedutaan ikut mem­bantu, atau putri anda juga ikut memberi masukan mengenai konten menarik bagi anak muda Indonesia?

Saya tidak pandai mengguna­kan media sosial he…he…he… Saya tidak pernah menggunakan media sosial di Jepang. Jadi, staf kedutaan yang banyak mem­bantu saya. Konten media sosial harus bagus sehingga menarik lebih banyak penonton, terutama anak muda.

Makan siang dan memiliki beta adalah salah satu hal me­narik perhatian generasi muda. Saya juga terbuka untuk menerima ide mengenai konten yang bakal kami buat.

Apakah anda membaca respons netizen terhadap postingan anda? Apa anda memba­las respons mereka?

Saya mencoba membalas. Saat ini, terjemahan otomatis di media sosial sudah sangat bagus, tetapi tidak semua dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Jadi saya hanya bisa membalas sedikit saja. Ketika saya punya waktu, saya selalu membaca komentar. Kami menerima semua komentar.

Ngomong-ngomong, apa hobi dan makanan Indonesia kesukaan anda?

Saya tidak terlalu punya hobi khusus. Tapi ketika saya di Jepang, saya sangat suka mema­sak. Memasak makanan untuk saya dan keluarga saya. Di sini, saya membawa chef. Jadi saya tidak perlu memasak untuk saya atau keluarga saya.

Tapi, ketika saya punya wak­tu, saya lebih suka memasak apa yang ingin saya makan. Ma­kanan favorit saya, mie. Anda mungkin memperhatikan makan siang saya di Instagram adalah mie. Namun, saya mencoba me­nikmati mie di Indonesia.

Bagaimana dengan sate, gado-gado, soto atau nasi Padang?

Saya sudah mencoba sate. Tapi, saya berusaha tidak ma­kan terlalu banyak. Terutama saat makan siang, karena saya bisa mengantuk. Tapi, dengan senang hati saya ingin mencoba makanan yang menarik, apapun yang enak.

Saya belum mencoba banyak makanan Indonesia. Karena pan­demi Covid-19, aktivitas saya di Jakarta sangat terbatas. Setelah Covid-19 terkendali, saya akan berkeliling di sekitar kompleks kedutaan maupun rumah untuk mencoba sesuatu yang baru.

 

Kembali ke pandemi, berapa banyak warga Jepang yang kembali ke Jepang?

Secara umum, kami mencatat ada sekitar 200 ribu ekspatriat Jepang di Indonesia. Sekarang kami tidak memiliki jumlah pastinya. Beberapa dari mereka kembali ke Jepang karena pan­demi pada Maret-April tahun lalu. Itu bertepatan dengan pe­rubahan tahun fiskal.

Seperti yang anda ketahui, tahun fiskal Jepang dimulai pada April dan selama liburan di musim semi, beberapa warga negara Jepang kembali untuk liburan dan mereka tidak kem­bali ke Indonesia.

Beberapa orang Jepang yang pulang belum kembali. Tapi, mayoritas orang Jepang masih ada di sini, untuk melanjutkan aktivitas mereka. Baik itu kegiatan pemerintah maupun interaksi ekonomi dengan mitra kerja Indonesia. Komitmen kami untuk hubungan Jepang-Indonesia sangat kuat.

Pandemi membuat sebagian dari kita tidak bisa bertemu keluarganya.

Apa arti keluarga bagi anda?

Nilai keluarga itu sangat penting. Keluarga adalah kelompok orang yang sangat penting. Jika kita bisa berkumpul, kita bisa mendapatkan energi dan saling mendukung dari anggota keluar­ga kita. Kami sangat menjunjung tinggi nilai keluarga.

Sayangnya, karena pandemi Covid-19, sulit bertatap muka dengan anggota keluarga lain. Namun, karena perkembangan media sosial, sekarang mudah terhubung dengan mereka mela­lui online.

Saya biasa menghubungi ibu saya, yang tinggal di Tokyo setiap Minggu pagi. Ibu saya yang sudah berusia 90 tahun, tidak terbiasa menggunakan handphone. Tapi sebelum datang ke Indonesia, saya ajari beliau agar kita bisa saling berhubungan secara online.

Tentang vaksinasi, apakah Kaisar Jepang dan keluarganya akan mendapatkan vaksin Covid-19?

Sampai saat ini saya belum tahu. Program vaksinasi sudah dimulai pekan lalu. Prioritasnya adalah orang-orang yang bekerja di sektor medis dan lansia. Tetapi untuk keluarga kekaisaran, saya belum tahu info terkini.

Apakah anda akan divaksi­nasi di Indonesia?

Kami belum tahu pasti. Kami belum diberi tahu Pemerintah Jepang bagaimana kami menda­patkan vaksinasi. Sekarang, saya hanya ingin memastikan kalau saya tetap aman dan sehat selama tinggal di Indonesia. Se­lama saya tetap berhati-hati, kita akan sehat dan selamat. (*)
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories