Berebut Wahyu Tohjali

Di sela-sela pelantikan Joe Biden sebagai Presiden Amerika ke-46, Barack Obama mengingatkan bahwa demokrasi Amerika sedang mengalami kemunduran.

Hal ini disebabkan oleh krisis Epistemologis yaitu suatu keadaan di mana masyarakat tidak bisa membedakan mana perilaku benar dan salah dalam berdemokrasi. Pasalnya, dua pekan sebelumnya ada sekelompok orang ingin menggagalkan penetapan presiden yang sah di Capitol Hill. Para perusuh dianggap melakukan intervensi proses demokrasi.

Munculnya epistemologis dipicu beberapa faktor. Di antaranya adalah kemajuan teknologi digital. Teknologi digital begitu cepat mengubah perilaku manusia. Seperti teknologi Artificial Intelegence (AI) pikiran buatan dan media sosial. Teknologi AI sejatinya dirancang untuk membantu manusia dalam membuat keputusan cepat. Akan tetapi oleh sekelompok orang dibelokkan dengan memanipulasi aspirasi demi mencapai tujuan tertentu. Di sisi lain, maraknya media sosial ikut berperan menebarkan provokasi kebohongan dan ujaran kebencian. Pemanfaatan teknologi yang keliru mendorong lahirnya pemimpin populis dan pemimpin model “pokoke”. Model pokoke adalah pemimpin yang mengedepankan emosi daripada akal sehat dalam menyikapi suatu permasalahan.

“Di sini juga sedang rame gontok-gontokan rebutan partai, Mo,” celetuk Petruk. Romo Semar tidak begitu antusias untuk mengomentari para elite saling sikut berebut partai. Rakyat sedang susah berjibaku dengan Covid malah memberikan contoh yang tidak baik. Biarkan rakyat yang menilai perilaku mereka. Romo Semar justru berpikir bagaimana rakyat segera mendapat vaksin supaya pandemi lekas pergi. Pisang rebus dan kopi pahit selalu setia menemani sarapan pagi Romo Semar. Isapan rokok klobot tingwe alias linting dewe membawa ingatan Semar ke zaman Bethara Guru merebut Wahyu Tohjali milik Harjuna.

Kocap Kacarito, Shang Hyang Wenang memberikan Wahyu Tohjali kepada Harjuna atas jasa-jasanya menyelamatkan para dewa di Khayangan. Wahyu Tohjali merupakan wahyu lelanange jagat yang dapat menurunkan wiji ratu kepada anak turunnya. Siapa yang memiliki wahyu Tohjali dapat memiliki tahta kekuasaan. Shang Hyang Wenang menitipkan Wahyu Tohjali kepada Bethara Guru untuk diberikan kepada yang berhak yakni Harjuna.

 

Bethara Guru merasa tidak legowo untuk memberikan Tohjali kepada Harjuna. Apalagi istrinya Bethara Guru yakni Bethari Durga juga menginginkan Tohjali untuk anaknya sendiri Dewasrani. Keduanya sepakat Tohjali akan diberikan kepada Dewasrani. Untuk memuluskan niat busuknya tersebut Harjuna harus dibinasakan terlebih dulu. Selain itu Semar juga harus disingkirkan supaya kelak tidak ada gugatan ke Dewasrani.

Semar dan Harjuna mengetahui rencana jahat Bethara Guru dan Durga. Untuk itu Semar gugat minta keadilan kepada Shang Hyang Wenang. Perbuatan Bethara Guru juga mendapat tentangan dari para dewa. Bethara Narada yang selama ini loyal sebagai wakil Bethara Guru terpaksa turun gunung memimpin perlawanan kepada Bethara Guru dan Durga. Shang Hyang Wenang murka mendapat laporan Semar atas perilaku Bethara Guru. Atas perbuatan memalukan tersebut Bethara Guru dikutuk Shang Hyang Wenang menjadi wujud raksasa. Kelak Bethara Guru dapat berubah wujud kembali setelah memohon maaf kepada Semar dan Harjuna. Sedangkan Bethari Durga tidak kuat melawan kesaktian Semar dan melarikan diri ke Sentra Gandamayit. Dewasrani tidak mampu melawan Harjuna dan merelakan Wahyu Tohjali diambil kembali.

“Pantesan Tohjali sangat menggiurkan. Karena siapa memiliki wahyu Tohjali kelak menjadi ratu,” celetuk Petruk cengengesan. “Tidak semua orang kuat menerima wahyu ratu, Tole,” jawab Semar pendek. Wahyu ratu tidak bisa dikejar dan tidak bisa ditolak. Wahyu ratu akan datang kepada siapa saja yang berbudi luhur, suka laku prihatin dan dicintai rakyat. Oye

]]> Di sela-sela pelantikan Joe Biden sebagai Presiden Amerika ke-46, Barack Obama mengingatkan bahwa demokrasi Amerika sedang mengalami kemunduran.

Hal ini disebabkan oleh krisis Epistemologis yaitu suatu keadaan di mana masyarakat tidak bisa membedakan mana perilaku benar dan salah dalam berdemokrasi. Pasalnya, dua pekan sebelumnya ada sekelompok orang ingin menggagalkan penetapan presiden yang sah di Capitol Hill. Para perusuh dianggap melakukan intervensi proses demokrasi.

Munculnya epistemologis dipicu beberapa faktor. Di antaranya adalah kemajuan teknologi digital. Teknologi digital begitu cepat mengubah perilaku manusia. Seperti teknologi Artificial Intelegence (AI) pikiran buatan dan media sosial. Teknologi AI sejatinya dirancang untuk membantu manusia dalam membuat keputusan cepat. Akan tetapi oleh sekelompok orang dibelokkan dengan memanipulasi aspirasi demi mencapai tujuan tertentu. Di sisi lain, maraknya media sosial ikut berperan menebarkan provokasi kebohongan dan ujaran kebencian. Pemanfaatan teknologi yang keliru mendorong lahirnya pemimpin populis dan pemimpin model “pokoke”. Model pokoke adalah pemimpin yang mengedepankan emosi daripada akal sehat dalam menyikapi suatu permasalahan.

“Di sini juga sedang rame gontok-gontokan rebutan partai, Mo,” celetuk Petruk. Romo Semar tidak begitu antusias untuk mengomentari para elite saling sikut berebut partai. Rakyat sedang susah berjibaku dengan Covid malah memberikan contoh yang tidak baik. Biarkan rakyat yang menilai perilaku mereka. Romo Semar justru berpikir bagaimana rakyat segera mendapat vaksin supaya pandemi lekas pergi. Pisang rebus dan kopi pahit selalu setia menemani sarapan pagi Romo Semar. Isapan rokok klobot tingwe alias linting dewe membawa ingatan Semar ke zaman Bethara Guru merebut Wahyu Tohjali milik Harjuna.

Kocap Kacarito, Shang Hyang Wenang memberikan Wahyu Tohjali kepada Harjuna atas jasa-jasanya menyelamatkan para dewa di Khayangan. Wahyu Tohjali merupakan wahyu lelanange jagat yang dapat menurunkan wiji ratu kepada anak turunnya. Siapa yang memiliki wahyu Tohjali dapat memiliki tahta kekuasaan. Shang Hyang Wenang menitipkan Wahyu Tohjali kepada Bethara Guru untuk diberikan kepada yang berhak yakni Harjuna.

 

Bethara Guru merasa tidak legowo untuk memberikan Tohjali kepada Harjuna. Apalagi istrinya Bethara Guru yakni Bethari Durga juga menginginkan Tohjali untuk anaknya sendiri Dewasrani. Keduanya sepakat Tohjali akan diberikan kepada Dewasrani. Untuk memuluskan niat busuknya tersebut Harjuna harus dibinasakan terlebih dulu. Selain itu Semar juga harus disingkirkan supaya kelak tidak ada gugatan ke Dewasrani.

Semar dan Harjuna mengetahui rencana jahat Bethara Guru dan Durga. Untuk itu Semar gugat minta keadilan kepada Shang Hyang Wenang. Perbuatan Bethara Guru juga mendapat tentangan dari para dewa. Bethara Narada yang selama ini loyal sebagai wakil Bethara Guru terpaksa turun gunung memimpin perlawanan kepada Bethara Guru dan Durga. Shang Hyang Wenang murka mendapat laporan Semar atas perilaku Bethara Guru. Atas perbuatan memalukan tersebut Bethara Guru dikutuk Shang Hyang Wenang menjadi wujud raksasa. Kelak Bethara Guru dapat berubah wujud kembali setelah memohon maaf kepada Semar dan Harjuna. Sedangkan Bethari Durga tidak kuat melawan kesaktian Semar dan melarikan diri ke Sentra Gandamayit. Dewasrani tidak mampu melawan Harjuna dan merelakan Wahyu Tohjali diambil kembali.

“Pantesan Tohjali sangat menggiurkan. Karena siapa memiliki wahyu Tohjali kelak menjadi ratu,” celetuk Petruk cengengesan. “Tidak semua orang kuat menerima wahyu ratu, Tole,” jawab Semar pendek. Wahyu ratu tidak bisa dikejar dan tidak bisa ditolak. Wahyu ratu akan datang kepada siapa saja yang berbudi luhur, suka laku prihatin dan dicintai rakyat. Oye
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories