Berdekatan Dengan JIS Dan Pemukiman Warga Proyek Pengolahan Sampah ITF Sunter Kudu Dikaji Ulang

Kebon Sirih mendukung proyek pengelolaan sampah (Intermediate Treatment Facility/ITF) di Ibu Kota diteruskan. Namun, mereka mengusulkan lokasinya yang di Sunter, dikaji ulang. Sebab, berdekatan dengan Jakarta International Stadium (JIS) dan pemukiman warga.

Pembangunan ITF Sunter mangkrak usai groundbreaking tahun 2018 akibat calon investor mundur dari proyek tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, pihaknya tengah mencari lagi investor baru untuk melanjutkan pembangunan ITF Sunter.

“Saat ini masih berproses,” kata Asep Kuswanto di Jakarta Pusat, belum lama ini. Asep berharap, sebelum akhir tahun, pihaknya mendapatkan investor.

“Targetnya kalau bisa di akhir bulan September dan di awal bulan November sudah ada mitra baru,” harapnya.

Untuk diketahui, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI menunjuk PT Jakarta Propertindo (Jakpro) membangun ITF Sunter. Saat ini Jakpro sedang menjajaki kerja sama dengan sejumlah investor baru.

Pindah Lokasi

Sekretaris Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta Yusuf mengusulkan, lokasi pembangunan ITF Sunter ditinjau ulang. Sebab, berdekatan dengan JIS dan pemukiman warga.

“Kami ingin tahu apakah ITF tersebut bisa beroperasi normal ketika trafik lalu lintas tinggi saat JIS menggelar event. Apakah truk tetap bisa membuang sampah ke sana,” ujarnya di lokasi ITF Sunter, Rabu (10/8).

Yusuf mematok, tak hanya mengelola sampah Jakarta, ITF Sunter harus bisa mengolah residu yang dihasilkan.

“Kalau bisa residu dari ITF bisa untuk membuat bata atau paving block yang bisa dipergunakan untuk membangun DKI Jakarta,” ujarnya.

Direktur Utama PT Jakarta Solusi Lestari (JSL) Iwan Takwin menyambut baik evaluasi Komisi C DPRD DKI Jakarta. Ditegaskannya, pihaknya akan menindaklanjuti sejumlah poin evaluasi tersebut. Untuk diketahui, JSL merupakan anak perusahaan Jakpro.

 

“Tentunya itu masukan positif, pekerjaan rumah kita memastikan untuk rapat berikutnya agar lebih detail lagi,” kata Iwan.

Iwan menargetkan proyek ITF selesai tiga tahun, yakni pada tahun 2025. Ia berharap ITF bukan hanya mengelola sampah, tetapi dapat memberi manfaat yang positif lain untuk masyarakat.

“Misalnya ITF juga bisa menghasilkan listrik untuk masyarakat Jakarta. Tentunya itu bisa tereksekusi dengan memastikan ITF dikelola dengan benar,” tandasnya.

Dalam keterangannya, Jakpro menyebut ITF Sunter merupakan solusi pengolahan sampah dalam kota. ITF Sunter mampu mengelola 2.200 ton sampah setiap harinya dan dapat memproduksi listrik 35 MWh.

Memiliki teknologi yang ramah lingkungan, ITF Sunter diharapkan bisa menjadi solusi bagi pengolahan sampah dalam kota serta dapat mengurangi beban TPST Bantar Gebang, Kota Bekasi.

Tak Perlu Pindah

Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan Nirwono Yoga menilai, lokasi pembangunan ITF Sunter dapat dipertahankan. Tapi pengelolaannya harus ramah lingkungan. Sehingga, ITF bisa menjadi laboratorium percontohan pengolahan sampah yang modern, ramah lingkungan, dan bisa menjadi destinasi wisata bagi masyarakat dan anak sekolah.

“Keberadaan ITF Sunter sudah tepat karena dibutuhkan oleh warga Sunter dan Jakarta Utara. JIS juga butuh ITF untuk membuang sampah jika ada kegiatan besar,” kata Nirwono, Minggu (14/8).

Menurut dia, lokasi ITF maupun TPS sampah sementara tetap dibutuhkan di dekat kawasan permukiman, pusat perdagangan, pasar, perbelanjaan, perkantoran, karena ITF/TPS dibutuhkan masyarakat setiap hari.

“Yang perlu dipastikan ITF harus modern, ramah lingkungan, rapi tertib, dan tidak bau sama sekali,” ujarnya. ■

]]> Kebon Sirih mendukung proyek pengelolaan sampah (Intermediate Treatment Facility/ITF) di Ibu Kota diteruskan. Namun, mereka mengusulkan lokasinya yang di Sunter, dikaji ulang. Sebab, berdekatan dengan Jakarta International Stadium (JIS) dan pemukiman warga.

Pembangunan ITF Sunter mangkrak usai groundbreaking tahun 2018 akibat calon investor mundur dari proyek tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, pihaknya tengah mencari lagi investor baru untuk melanjutkan pembangunan ITF Sunter.

“Saat ini masih berproses,” kata Asep Kuswanto di Jakarta Pusat, belum lama ini. Asep berharap, sebelum akhir tahun, pihaknya mendapatkan investor.

“Targetnya kalau bisa di akhir bulan September dan di awal bulan November sudah ada mitra baru,” harapnya.

Untuk diketahui, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI menunjuk PT Jakarta Propertindo (Jakpro) membangun ITF Sunter. Saat ini Jakpro sedang menjajaki kerja sama dengan sejumlah investor baru.

Pindah Lokasi

Sekretaris Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta Yusuf mengusulkan, lokasi pembangunan ITF Sunter ditinjau ulang. Sebab, berdekatan dengan JIS dan pemukiman warga.

“Kami ingin tahu apakah ITF tersebut bisa beroperasi normal ketika trafik lalu lintas tinggi saat JIS menggelar event. Apakah truk tetap bisa membuang sampah ke sana,” ujarnya di lokasi ITF Sunter, Rabu (10/8).

Yusuf mematok, tak hanya mengelola sampah Jakarta, ITF Sunter harus bisa mengolah residu yang dihasilkan.

“Kalau bisa residu dari ITF bisa untuk membuat bata atau paving block yang bisa dipergunakan untuk membangun DKI Jakarta,” ujarnya.

Direktur Utama PT Jakarta Solusi Lestari (JSL) Iwan Takwin menyambut baik evaluasi Komisi C DPRD DKI Jakarta. Ditegaskannya, pihaknya akan menindaklanjuti sejumlah poin evaluasi tersebut. Untuk diketahui, JSL merupakan anak perusahaan Jakpro.

 

“Tentunya itu masukan positif, pekerjaan rumah kita memastikan untuk rapat berikutnya agar lebih detail lagi,” kata Iwan.

Iwan menargetkan proyek ITF selesai tiga tahun, yakni pada tahun 2025. Ia berharap ITF bukan hanya mengelola sampah, tetapi dapat memberi manfaat yang positif lain untuk masyarakat.

“Misalnya ITF juga bisa menghasilkan listrik untuk masyarakat Jakarta. Tentunya itu bisa tereksekusi dengan memastikan ITF dikelola dengan benar,” tandasnya.

Dalam keterangannya, Jakpro menyebut ITF Sunter merupakan solusi pengolahan sampah dalam kota. ITF Sunter mampu mengelola 2.200 ton sampah setiap harinya dan dapat memproduksi listrik 35 MWh.

Memiliki teknologi yang ramah lingkungan, ITF Sunter diharapkan bisa menjadi solusi bagi pengolahan sampah dalam kota serta dapat mengurangi beban TPST Bantar Gebang, Kota Bekasi.

Tak Perlu Pindah

Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan Nirwono Yoga menilai, lokasi pembangunan ITF Sunter dapat dipertahankan. Tapi pengelolaannya harus ramah lingkungan. Sehingga, ITF bisa menjadi laboratorium percontohan pengolahan sampah yang modern, ramah lingkungan, dan bisa menjadi destinasi wisata bagi masyarakat dan anak sekolah.

“Keberadaan ITF Sunter sudah tepat karena dibutuhkan oleh warga Sunter dan Jakarta Utara. JIS juga butuh ITF untuk membuang sampah jika ada kegiatan besar,” kata Nirwono, Minggu (14/8).

Menurut dia, lokasi ITF maupun TPS sampah sementara tetap dibutuhkan di dekat kawasan permukiman, pusat perdagangan, pasar, perbelanjaan, perkantoran, karena ITF/TPS dibutuhkan masyarakat setiap hari.

“Yang perlu dipastikan ITF harus modern, ramah lingkungan, rapi tertib, dan tidak bau sama sekali,” ujarnya. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories