Bener Nggak Sih, Air Kelapa Hijau Bisa Sembuhkan Covid-19?

Berbagai informasi seputar penyembuhan Covid-19, viral di media sosial atau grup WhatsApp. Tak cuma daftar obat medis, tetapi juga berbagai jenis herbal, suplemen, dan minuman.

Salah satunya, air kelapa hijau yang sejak dulu memang diyakini masyarakat kita, sebagai obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit.

Menanggapi hal ini, dr. Decsa Medika Hertanto, Sp.PD mengatakan, kelapa hijau memang banyak manfaatnya. Namun, jangan dibuat klaim berlebihan, terutama dalam pengobatan Covid-19. “Harus ada penelitian dan pembuktian. Nggak bisa hanya sekadar opini atau testimoni,” kata Decsa via laman Instagramnya.

Dokter spesialis penyakit dalam yang berpraktek di RSUD Dr. Soetomo Surabaya ini menjelaskan, dalam 100 cc air kelapa hijau, terdapat 1 gram protein, 4 gram karbohidrat, elektrolit (natrium, kalium, magnesium, fosfor, manganese), dan zat besi.

“Kandungannya yang mirip dengan komposisi cairan tubuh ini lah, yang membuat air kelapa hijau dapat digunakan untuk mengganti cairan, yang hilang pada saat dehidrasi. Sehingga, sebagian orang yang mengalami diare ringan, dapat minum air kelapa hijau,” terang Decsa.

 

Namun hingga saat ini, belum ada penelitian yang menyatakan, air kelapa hijau memiliki efek dalam pengobatan Covid-19.

“Jadi, berita mengenai air kelapa hijau sebagai terapi Covid-19 saat ini kurang tepat. Masih perlu penelitian lebih lanjut,” sambungnya.

Bahaya Untuk Penderita Ginjal

Decsa juga mengingatkan penderita ginjal, agar tak mengkonsumsi air kelapa hijau. Sebab, penderita ginjal memiliki masalah dalam membuang kalium. Terutama, pada tahap lanjut. Padahal faktanya, air kelapa hijau sangat tinggi kalium.

“Karena itu, konsumsi air kelapa hijau pada penderita ginjal dapat meningkatkan kalium dan menyebabkan terjadinya aritmia (gangguan irama jantung). Yang terburuk, bisa henti jantung,” tandasnya.

“Intinya, jangan langsung percaya pada informasi yang beredar. Cross check informasi dengan sumber yang valid,” pungkas Decsa. [HES]

]]> Berbagai informasi seputar penyembuhan Covid-19, viral di media sosial atau grup WhatsApp. Tak cuma daftar obat medis, tetapi juga berbagai jenis herbal, suplemen, dan minuman.

Salah satunya, air kelapa hijau yang sejak dulu memang diyakini masyarakat kita, sebagai obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit.

Menanggapi hal ini, dr. Decsa Medika Hertanto, Sp.PD mengatakan, kelapa hijau memang banyak manfaatnya. Namun, jangan dibuat klaim berlebihan, terutama dalam pengobatan Covid-19. “Harus ada penelitian dan pembuktian. Nggak bisa hanya sekadar opini atau testimoni,” kata Decsa via laman Instagramnya.

Dokter spesialis penyakit dalam yang berpraktek di RSUD Dr. Soetomo Surabaya ini menjelaskan, dalam 100 cc air kelapa hijau, terdapat 1 gram protein, 4 gram karbohidrat, elektrolit (natrium, kalium, magnesium, fosfor, manganese), dan zat besi.

“Kandungannya yang mirip dengan komposisi cairan tubuh ini lah, yang membuat air kelapa hijau dapat digunakan untuk mengganti cairan, yang hilang pada saat dehidrasi. Sehingga, sebagian orang yang mengalami diare ringan, dapat minum air kelapa hijau,” terang Decsa.

 

Namun hingga saat ini, belum ada penelitian yang menyatakan, air kelapa hijau memiliki efek dalam pengobatan Covid-19.

“Jadi, berita mengenai air kelapa hijau sebagai terapi Covid-19 saat ini kurang tepat. Masih perlu penelitian lebih lanjut,” sambungnya.

Bahaya Untuk Penderita Ginjal

Decsa juga mengingatkan penderita ginjal, agar tak mengkonsumsi air kelapa hijau. Sebab, penderita ginjal memiliki masalah dalam membuang kalium. Terutama, pada tahap lanjut. Padahal faktanya, air kelapa hijau sangat tinggi kalium.

“Karena itu, konsumsi air kelapa hijau pada penderita ginjal dapat meningkatkan kalium dan menyebabkan terjadinya aritmia (gangguan irama jantung). Yang terburuk, bisa henti jantung,” tandasnya.

“Intinya, jangan langsung percaya pada informasi yang beredar. Cross check informasi dengan sumber yang valid,” pungkas Decsa. [HES]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories