Belum Mau Divaksin Covid, Presiden Uganda Ngaku Masih Pilih-pilih

Presiden Uganda Yoweri Museveni (76) mengaku belum disuntik vaksin Covid-19, karena mengedepankan prinsip kehati-hatian dan masih mempertimbangkan vaksin mana yang akan digunakan.

“Saya belum memutuskan untuk divaksin, karena saya orang yang cukup hati-hati. Saya pun masih pilih-pilih, vaksin mana yang akan saya pakai,” ujar Museveni dalam sebuah tayangan TV, seperti dilansir Reuters, Senin (15/3).

“Vaksinasi tahap awal ini tentunya mendahulukan orang-orang yang rentan terkena Covid seperti para tenaga medis,” sambungnya.

Pernyataan Museveni jelas dapat menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat Uganda terhadap vaksin. Apalagi, negara tersebut baru aja memulai program vaksinasinya.

“Keraguan Museveni dapat menumbuhkan pesimisme vaksin yang ekstrim di tengah masyarakat Uganda,” kata Peter Mwesige, salah satu pendiri sebuah wadah pemikir lokal, dalam cuitannya. 

Saat ini, masih banyak negara Afrika yang belum mendapat vaksin Covid, ataupun memulai program imunisasinya.

Sementara vaksinasi Covid tahap awal di Uganda yang menyasar tenaga kesehatan dan lansia, telah dimulai pada pekan lalu.

Vaksinasi dilaksanakan segera, setelah negara Afrika Timur itu menerima 864 ribu dosis vaksin AstraZeneca dari aliansi COVAX, yang merupakan program pemberian vaksin dari WHO untuk negara miskin dan menengah.

Layaknya negara-negara Afrika, kecuali Afrika Selatan, Uganda melaporkan jumlah kasus Covid yang relatif sedikit dengan angka 40.500, dan 334 angka kematian. 

Begitu mendeteksi kasus pertama Covid, negara berpenduduk 42 juta jiwa itu langsung menerapkan pembatasan ketat. 

Sebagian besar pembatasan tersebut kini tengah dilonggarkan. Namun, jam malam dan penutupan bar masih diberlakukan. [HES] 

]]> Presiden Uganda Yoweri Museveni (76) mengaku belum disuntik vaksin Covid-19, karena mengedepankan prinsip kehati-hatian dan masih mempertimbangkan vaksin mana yang akan digunakan.

“Saya belum memutuskan untuk divaksin, karena saya orang yang cukup hati-hati. Saya pun masih pilih-pilih, vaksin mana yang akan saya pakai,” ujar Museveni dalam sebuah tayangan TV, seperti dilansir Reuters, Senin (15/3).

“Vaksinasi tahap awal ini tentunya mendahulukan orang-orang yang rentan terkena Covid seperti para tenaga medis,” sambungnya.

Pernyataan Museveni jelas dapat menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat Uganda terhadap vaksin. Apalagi, negara tersebut baru aja memulai program vaksinasinya.

“Keraguan Museveni dapat menumbuhkan pesimisme vaksin yang ekstrim di tengah masyarakat Uganda,” kata Peter Mwesige, salah satu pendiri sebuah wadah pemikir lokal, dalam cuitannya. 

Saat ini, masih banyak negara Afrika yang belum mendapat vaksin Covid, ataupun memulai program imunisasinya.

Sementara vaksinasi Covid tahap awal di Uganda yang menyasar tenaga kesehatan dan lansia, telah dimulai pada pekan lalu.

Vaksinasi dilaksanakan segera, setelah negara Afrika Timur itu menerima 864 ribu dosis vaksin AstraZeneca dari aliansi COVAX, yang merupakan program pemberian vaksin dari WHO untuk negara miskin dan menengah.

Layaknya negara-negara Afrika, kecuali Afrika Selatan, Uganda melaporkan jumlah kasus Covid yang relatif sedikit dengan angka 40.500, dan 334 angka kematian. 

Begitu mendeteksi kasus pertama Covid, negara berpenduduk 42 juta jiwa itu langsung menerapkan pembatasan ketat. 

Sebagian besar pembatasan tersebut kini tengah dilonggarkan. Namun, jam malam dan penutupan bar masih diberlakukan. [HES] 
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories