Belum Lama Sesumbar Vaksinasi Berjalan Cepat Chile Dibombardir Covid Sampai Lockdown Lagi .

Menteri Kesehatan Chile Enrique Paris kini sedang pusing tujuh keliling, lantaran statistik Covid di negaranya yang kian memburuk.

9 April lalu, Chile membukukan rekor kasus harian Covid tertinggi sejak awal pandemi. Melampaui angka 9.000. Angka ini jauh di atas rekor 7.000 kasus, yang dicetak pada pertengahan Juni 2020.

“Ini mengkhawatirkan. Saat ini, kita memasuki momen kritis pandemi Covid-19. Saya minta Anda lebih berhati-hati menjaga diri, keluarga, dan orang yang kita cintai,” kata Santiago Paris, seperti dikutip BBC, Jumat (16/4).

Ruang perawatan ICU di Chile sudah pasti membludak nggak karuan. Negara berpenduduk 18 juta jiwa itu pun memutuskan memberlakukan lockdown untuk kedua kali, bagi siapa pun yang bukan warga setempat.

“Kita seperti mundur,” kata warga Santiago, Sofia Pinto.

“Untuk bepergian dengan tujuan penting seperti berbelanja makanan atau berobat saja, kami harus meminta izin online. Itu pun hanya boleh dua kali dalam seminggu,” ungkapnya.

Mayoritas warga Chile tak habis pikir, mengapa negaranya bisa kembali lockdown. Padahal, Presiden Sebastian Pinera sudah mengklaim Chile sebagai salah satu negara yang memiliki peluncuran vaksinasi tercepat di dunia.

Apa Yang Salah?

Atas situasi sulit yang kembali menghimpit Peru, Pinera banyak disalahkan karena terbius euforia vaksin. Dia terlalu cepat melonggarkan protokol kesehatan.

Seperti umumnya pemerintahan di seluruh dunia, menteri di Chile juga menghadapi pilihan yang sulit.

Perbatasan Chili telah ditutup sejak Maret hingga November 2020. Namun, tidak berlaku untuk pengecualian khusus. Lockdown ketat itu akhirnya dilonggarkan, setelah dalam sepekan terakhir, rata-rata kasus positif turun menjadi 1.300 per hari.

Akses untuk wisatawan internasional pun kembali dibuka. Warga Chile juga mendapat restu pemerintah, untuk bebas bepergian ke mana pun di seluruh negeri selama liburan musim panas.

Pelonggaran itu datang, setelah para ahli menyarankan pentingnya plesiran bagi kesehatan mental. Restoran, toko, dan resort pun dibuka untuk kembali menggairahkan ekonomi yang loyo.

Vaksinasi Covid

Vaksinasi di Chile yang berjalan pada akhir Desember 2020, berjalan cepat dengan memprioritaskan tenaga medis, lansia di atas 90 tahun, dan guru. Namun, mayoritas warga Chile belum divaksinasi pada saat mereka bertemu dengan handai taulan pada liburan musim panas Januari dan Februari 2021.

Penyebaran Covid yang begitu cepat, antara lain dipicu oleh varian P1, yang pertama kali terdeteksi di negara bagian Amazonas Brazil, November lalu.

“Lonjakan kasus Covid baru-baru ini di Chile disebabkan oleh banyak faktor. Faktor terbesar sepertinya adalah munculnya varian baru,” kata Profesor Imunologi Pontifical Catholic University, Dr. Susan Bueno.

“Karena itu, tidak bisa tidak, masyarakat harus mencegah penularan dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan. Selama bulan-bulan musim panas di Chile, banyak warga yang tidak memakai masker dan rajin mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer. Sangat mungkin, inilah yang membikin lonjakan kasus terjadi,” terangnya.

 

Vaksin Sinovac

Lebih dari 93 persen vaksin yang diberikan di Chile adalah CoronaVac, yang diproduksi oleh perushaan biofarmasi Cina, Sinovac.

Tingkat kemanjuran vaksin ini bervariasi. Di Brazil, tingkat kemanjurannya 50,4 persen. Sementara di Indonesia dan Turki jauh lebih tinggi, antara 65 – 83 persen.

Hasil studi yang diterbitkan University of Chile pada pekan lalu menunjukkan, CoronaVac terbukti 56,5 persen efektif dalam melindungi orang dari infeksi Covid, 2 pekan setelah mereka menerima dosis Covid kedua. Di antara rentang waktu itu, efikasinya diklaim hanya 3 persen. 

Bisa jadi, inilah salah satu faktor yang dapat menjelaskan, mengapa kasus Covid masih melonjak tinggi di Chile.

Total warga Chile yang telah menerima dosis pertama Sinovac berjumlah 7,4 juta orang. Namun, yang lengkap hingga 2 dosis, baru 4,3 juta.

Dosis Kedua Adalah Kunci

Prof. Bueno, yang merupakan Direktur Ilmiah Uji Klinis untuk vaksin CoronaVac di Chili menekankan pentingnya mematuhi jadwal vaksinasi.

“Satu dosis saja tidak memberi Anda respon preventif secara keseluruhan,” terangnya.

Warga Santiago María González berpendapat, pemerintah belum berbuat cukup banyak untuk menyampaikan pesan ini. 

“Sejujurnya, saya menginginkan vaksin Pfizer. Karena kedengarannya lebih efektif. Saya perlu vaksin Pfizer karena saya sering mobile, dan Pfizer dikenal luas,”kata Maria yang baru mendapat vaksinasi pertama.

Menanggapi hal ini, Prof Bueno mengatakan, vaksin CoronaVac memiliki kualitas yang bagus. Vaksin dengan tingkat efikasi 50 persen ini, mampu menurunkan derajat kesakitan pada orang yang terinfeksi Covid. Hingga tanpa gejala. 

“CoronaVac mencegah kematian dan penyakit parah, serta terbukti efektif melawan varian Brazil,” tegasnya.

Terkait  lonjakan kasus, pemerintah Chile tidak hanya memberlakukan lockdown ketat, tetapi juga memberikan informasi terbaru tentang kampanye vaksinasi di situs web yang terinspirasi oleh Coronavirus Resources Center,  Johns Hopkins University.

“Sangat penting bagi kami untuk mendapatkan vaksin. Saya tidak peduli, dapat yang mana. Semua vaksin membantu menyelamatkan nyawa,” ujar warga bernama Verónica Perez, yang belum lama ini disuntik CoronaVac. [HES]

 

]]> .
Menteri Kesehatan Chile Enrique Paris kini sedang pusing tujuh keliling, lantaran statistik Covid di negaranya yang kian memburuk.

9 April lalu, Chile membukukan rekor kasus harian Covid tertinggi sejak awal pandemi. Melampaui angka 9.000. Angka ini jauh di atas rekor 7.000 kasus, yang dicetak pada pertengahan Juni 2020.

“Ini mengkhawatirkan. Saat ini, kita memasuki momen kritis pandemi Covid-19. Saya minta Anda lebih berhati-hati menjaga diri, keluarga, dan orang yang kita cintai,” kata Santiago Paris, seperti dikutip BBC, Jumat (16/4).

Ruang perawatan ICU di Chile sudah pasti membludak nggak karuan. Negara berpenduduk 18 juta jiwa itu pun memutuskan memberlakukan lockdown untuk kedua kali, bagi siapa pun yang bukan warga setempat.

“Kita seperti mundur,” kata warga Santiago, Sofia Pinto.

“Untuk bepergian dengan tujuan penting seperti berbelanja makanan atau berobat saja, kami harus meminta izin online. Itu pun hanya boleh dua kali dalam seminggu,” ungkapnya.

Mayoritas warga Chile tak habis pikir, mengapa negaranya bisa kembali lockdown. Padahal, Presiden Sebastian Pinera sudah mengklaim Chile sebagai salah satu negara yang memiliki peluncuran vaksinasi tercepat di dunia.

Apa Yang Salah?

Atas situasi sulit yang kembali menghimpit Peru, Pinera banyak disalahkan karena terbius euforia vaksin. Dia terlalu cepat melonggarkan protokol kesehatan.

Seperti umumnya pemerintahan di seluruh dunia, menteri di Chile juga menghadapi pilihan yang sulit.

Perbatasan Chili telah ditutup sejak Maret hingga November 2020. Namun, tidak berlaku untuk pengecualian khusus. Lockdown ketat itu akhirnya dilonggarkan, setelah dalam sepekan terakhir, rata-rata kasus positif turun menjadi 1.300 per hari.

Akses untuk wisatawan internasional pun kembali dibuka. Warga Chile juga mendapat restu pemerintah, untuk bebas bepergian ke mana pun di seluruh negeri selama liburan musim panas.

Pelonggaran itu datang, setelah para ahli menyarankan pentingnya plesiran bagi kesehatan mental. Restoran, toko, dan resort pun dibuka untuk kembali menggairahkan ekonomi yang loyo.

Vaksinasi Covid

Vaksinasi di Chile yang berjalan pada akhir Desember 2020, berjalan cepat dengan memprioritaskan tenaga medis, lansia di atas 90 tahun, dan guru. Namun, mayoritas warga Chile belum divaksinasi pada saat mereka bertemu dengan handai taulan pada liburan musim panas Januari dan Februari 2021.

Penyebaran Covid yang begitu cepat, antara lain dipicu oleh varian P1, yang pertama kali terdeteksi di negara bagian Amazonas Brazil, November lalu.

“Lonjakan kasus Covid baru-baru ini di Chile disebabkan oleh banyak faktor. Faktor terbesar sepertinya adalah munculnya varian baru,” kata Profesor Imunologi Pontifical Catholic University, Dr. Susan Bueno.

“Karena itu, tidak bisa tidak, masyarakat harus mencegah penularan dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan. Selama bulan-bulan musim panas di Chile, banyak warga yang tidak memakai masker dan rajin mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer. Sangat mungkin, inilah yang membikin lonjakan kasus terjadi,” terangnya.

 

Vaksin Sinovac

Lebih dari 93 persen vaksin yang diberikan di Chile adalah CoronaVac, yang diproduksi oleh perushaan biofarmasi Cina, Sinovac.

Tingkat kemanjuran vaksin ini bervariasi. Di Brazil, tingkat kemanjurannya 50,4 persen. Sementara di Indonesia dan Turki jauh lebih tinggi, antara 65 – 83 persen.

Hasil studi yang diterbitkan University of Chile pada pekan lalu menunjukkan, CoronaVac terbukti 56,5 persen efektif dalam melindungi orang dari infeksi Covid, 2 pekan setelah mereka menerima dosis Covid kedua. Di antara rentang waktu itu, efikasinya diklaim hanya 3 persen. 

Bisa jadi, inilah salah satu faktor yang dapat menjelaskan, mengapa kasus Covid masih melonjak tinggi di Chile.

Total warga Chile yang telah menerima dosis pertama Sinovac berjumlah 7,4 juta orang. Namun, yang lengkap hingga 2 dosis, baru 4,3 juta.

Dosis Kedua Adalah Kunci

Prof. Bueno, yang merupakan Direktur Ilmiah Uji Klinis untuk vaksin CoronaVac di Chili menekankan pentingnya mematuhi jadwal vaksinasi.

“Satu dosis saja tidak memberi Anda respon preventif secara keseluruhan,” terangnya.

Warga Santiago María González berpendapat, pemerintah belum berbuat cukup banyak untuk menyampaikan pesan ini. 

“Sejujurnya, saya menginginkan vaksin Pfizer. Karena kedengarannya lebih efektif. Saya perlu vaksin Pfizer karena saya sering mobile, dan Pfizer dikenal luas,”kata Maria yang baru mendapat vaksinasi pertama.

Menanggapi hal ini, Prof Bueno mengatakan, vaksin CoronaVac memiliki kualitas yang bagus. Vaksin dengan tingkat efikasi 50 persen ini, mampu menurunkan derajat kesakitan pada orang yang terinfeksi Covid. Hingga tanpa gejala. 

“CoronaVac mencegah kematian dan penyakit parah, serta terbukti efektif melawan varian Brazil,” tegasnya.

Terkait  lonjakan kasus, pemerintah Chile tidak hanya memberlakukan lockdown ketat, tetapi juga memberikan informasi terbaru tentang kampanye vaksinasi di situs web yang terinspirasi oleh Coronavirus Resources Center,  Johns Hopkins University.

“Sangat penting bagi kami untuk mendapatkan vaksin. Saya tidak peduli, dapat yang mana. Semua vaksin membantu menyelamatkan nyawa,” ujar warga bernama Verónica Perez, yang belum lama ini disuntik CoronaVac. [HES]

 
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories