Belanja Barang Mewah Di Amerika Istri Edhy Prabowo Pakai Kartu Kredit Pejabat KKP .

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo meminjam kartu kredit anak buahnya untuk belanja barang mewah di Hawaii, Amerika Serikat.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Muhammad Zaini Hanafi membeberkannya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Ia menjadi saksi sidang perkara Suharjito, pemilik PT Dua Putra Perkasa Pratama (DPPP).

Awalnya, Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bertanya kepada Zaini, soal kunjungannya ke Amerika pada bulan November 2020. Staf Ahli Menteri Bidang Kemasyarakatan dan Hubungan Antar Lembaga itu mengatakan, diajak Edhy ikut ke Negeri Paman Sam.

Pada 18 November 2020 Zaini diberitahu akan diajak ke Amerika untuk meninjau ABK (Anak Buah Kapal) Indonesia yang kerja di kapal Amerika. “Satu lagi berkaitan dengan budi­daya,” tuturnya.

Setelah acara formal selesai di Hawaii, rombongan berkunjung ke toko jam Rolex. Toko itu terletak di depan hotel tempat rombongan menginap. Zaini ikut ke toko jam mewah itu mengikuti Edhy dan istrinya, Iis Rosita Dewi. “Ada beberapa orang lagi, kalau enggak salah ada Pak Ngabalin,” sebutnya.

Orang yang dimaksud Zaini adalah Ali Mochtar Ngabalin, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP). Zaini membeberkan, Edhy membeli satu jam tangan. Iis juga ingin membeli jam. Namun kartu kreditnya su­dah mencapai limit.

Edhy meminjam kartu kredit Zaini. “Pak Zaini ada kartu kredit enggak? Bisa dipakai enggak? Saya pinjam,” Zaini menirukan ucapan Edhy.

Namun kartu kredit Zaini tidak bisa dipakai. Lantaran ia belum melapor kepada bank penerbit akan melakukan transaksi di luar negeri. Akhirnya, kartu kredit Zaini tidak digunakan untuk membayar pembelian jam istri Edhy.

Keesokan harinya, Zaini melapor ke bank penerbit, bahwa kartu kreditnya akan dipakai berbelanja di Amerika. Setelah melapor, kartu kredit bisa digu­nakan. Zaini pun menyerahkan kartu kreditnya ke Edhy.

 

Edhy menggunakan kartu kredit Zaini untuk keperluan belanja istrinya. Iis membeli tas Hermes, parfum Hermes, syal Hermes, hingga sepatu Channel.

Harga tas Hermes 2.600 dolar AS, parfum Hermes 300 dolar AS. Syal dan brosnya 2.200 dolar AS. Kemudian, sepatu Channel 9.100 dolar AS. Total belanja Iis 14.200 dolar AS. Jika dikurs, sekitar Rp 199 juta.

Jaksa KPK mencurigai Zaini menyerahkan kartu kreditnya kepada Edhy sebagai pemberian. Namun Zaini membantahnya. Ia menandaskan, kartu kreditnya dipinjam. “Bukan saya menawarkan tapi beliau (Edhy) pinjam,” kata Zaini.

Hingga kini kartu kredit Zaini belum dikembalikan. Edhy dan Iis juga belum membayar transaksi yang menggunakan kartu kredit Zaini.

“Akan saya tagih karena (bilangnya) pinjam Pak. Kalau enggak ditagih di Akhirat,” ujar Zaini lagi.

Pada sidang ini, pemilik PT Dua Putera Perkasa Pratama (DPPP) Suharjito didakwa menyuap Edhy Prabowo Rp 2,1 miliar. Rasuah itu agar PT DPPP mendapat izin ekspor benih beninglobster atau benur.

Pemberian uang melalui Staf Khusus Edhy Prabowo Safri dan Andreau Misanta Pribadi, Amiril Mukminin (sekretaris pribadi Edhy), Ainul Faqih (staf pribadi Iis Rosita Dewi) dan Siswandi Pranoto Loe, Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PLI) sekaligus pendiri PT Aero Citra Kargo (ACK).

Edhy menggunakan uang suap pengurusan izin ekspor benur untuk belanja barang mewah saat lawatan ke Amerika. [BYU]

]]> .
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo meminjam kartu kredit anak buahnya untuk belanja barang mewah di Hawaii, Amerika Serikat.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Muhammad Zaini Hanafi membeberkannya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Ia menjadi saksi sidang perkara Suharjito, pemilik PT Dua Putra Perkasa Pratama (DPPP).

Awalnya, Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bertanya kepada Zaini, soal kunjungannya ke Amerika pada bulan November 2020. Staf Ahli Menteri Bidang Kemasyarakatan dan Hubungan Antar Lembaga itu mengatakan, diajak Edhy ikut ke Negeri Paman Sam.

Pada 18 November 2020 Zaini diberitahu akan diajak ke Amerika untuk meninjau ABK (Anak Buah Kapal) Indonesia yang kerja di kapal Amerika. “Satu lagi berkaitan dengan budi­daya,” tuturnya.

Setelah acara formal selesai di Hawaii, rombongan berkunjung ke toko jam Rolex. Toko itu terletak di depan hotel tempat rombongan menginap. Zaini ikut ke toko jam mewah itu mengikuti Edhy dan istrinya, Iis Rosita Dewi. “Ada beberapa orang lagi, kalau enggak salah ada Pak Ngabalin,” sebutnya.

Orang yang dimaksud Zaini adalah Ali Mochtar Ngabalin, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP). Zaini membeberkan, Edhy membeli satu jam tangan. Iis juga ingin membeli jam. Namun kartu kreditnya su­dah mencapai limit.

Edhy meminjam kartu kredit Zaini. “Pak Zaini ada kartu kredit enggak? Bisa dipakai enggak? Saya pinjam,” Zaini menirukan ucapan Edhy.

Namun kartu kredit Zaini tidak bisa dipakai. Lantaran ia belum melapor kepada bank penerbit akan melakukan transaksi di luar negeri. Akhirnya, kartu kredit Zaini tidak digunakan untuk membayar pembelian jam istri Edhy.

Keesokan harinya, Zaini melapor ke bank penerbit, bahwa kartu kreditnya akan dipakai berbelanja di Amerika. Setelah melapor, kartu kredit bisa digu­nakan. Zaini pun menyerahkan kartu kreditnya ke Edhy.

 

Edhy menggunakan kartu kredit Zaini untuk keperluan belanja istrinya. Iis membeli tas Hermes, parfum Hermes, syal Hermes, hingga sepatu Channel.

Harga tas Hermes 2.600 dolar AS, parfum Hermes 300 dolar AS. Syal dan brosnya 2.200 dolar AS. Kemudian, sepatu Channel 9.100 dolar AS. Total belanja Iis 14.200 dolar AS. Jika dikurs, sekitar Rp 199 juta.

Jaksa KPK mencurigai Zaini menyerahkan kartu kreditnya kepada Edhy sebagai pemberian. Namun Zaini membantahnya. Ia menandaskan, kartu kreditnya dipinjam. “Bukan saya menawarkan tapi beliau (Edhy) pinjam,” kata Zaini.

Hingga kini kartu kredit Zaini belum dikembalikan. Edhy dan Iis juga belum membayar transaksi yang menggunakan kartu kredit Zaini.

“Akan saya tagih karena (bilangnya) pinjam Pak. Kalau enggak ditagih di Akhirat,” ujar Zaini lagi.

Pada sidang ini, pemilik PT Dua Putera Perkasa Pratama (DPPP) Suharjito didakwa menyuap Edhy Prabowo Rp 2,1 miliar. Rasuah itu agar PT DPPP mendapat izin ekspor benih beninglobster atau benur.

Pemberian uang melalui Staf Khusus Edhy Prabowo Safri dan Andreau Misanta Pribadi, Amiril Mukminin (sekretaris pribadi Edhy), Ainul Faqih (staf pribadi Iis Rosita Dewi) dan Siswandi Pranoto Loe, Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PLI) sekaligus pendiri PT Aero Citra Kargo (ACK).

Edhy menggunakan uang suap pengurusan izin ekspor benur untuk belanja barang mewah saat lawatan ke Amerika. [BYU]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories