Belajar Dari Kartini, Perempuan Bisa Jadi Inspirasi Lewat Literasi

Banyak orang yang hobi menulis tapi sedikit yang menuangkannya menjadi bentuk karya dalam sebuah buku. Salah satu novelis Ika Sarawati Sarah menceritakan, novel yang dibuatnya berawal dari hobinya menulis dan berimajinasi.

Melalui karyanya dia juga mencoba memberikan inspirasi untuk masyarakat luas. “Kumpulan tulisan bisa menjadi sebuah buku, seperti novel, bisa cerpen, puisi atau pun buku berupa kumpulan artikel,” kata Ika Sarah dalam keterangannya dikutip Rabu (28/4).

Diceritakannya, sejak lama, ia selalu membiasakan diri untuk menumpahkan kreativitas dengan menulis. Ika Sarah memandang, kekuatan karyanya adalah dari imajinasinya yang mampu menghasilkan buku fiksi berkualitas.

“Sejak kecil saya diajarkan untuk banyak menulis, menumpahkan perasaan, dan cerita tentang kejadian apa saja yang dilihat,” aku Ika Sarah.

Ika Sarah yang lahir dengan kelainan jantung bawaan ini memang sejak kecil doyan nulis buku harian. Sejak kecil pula, ia mulai berkhayal tentang konstruksi cerita dan kejadian yang kadang di dapat dengan kuat melalui mimpi.

“Papa sering ke luar negeri untuk tugas lalu setiap pulang bawa oleh-oleh buku. Di masa itu juga belum ada banyak toko buku, apalagi buku impor berbahasa Inggris, belum ada Gramedia dan Gunung Agung,” kisahnya.

Dia juga yakin, sebuah karya yang baik lahir dari sebuah proses. Bagi yang ingin membuat tulisan dalam bentuk novel atau karya lainnya maka sepatutnya membiasakan diri untuk sering menulis dan rajin membaca. Tak lupa menuangkan imajinasi dalam bentuk kalimat.

“Kuncinya adalah tekun. Karena bisa saja nantinya tulisan menjadi sebuah karya emas layaknya Kartini,” imbau Ika Sarah.

Di Bulan April ini, dia baru saja merilis novel terbarunya. Sosok RA Kartini ini lah yang menjadi inspirasinya. RA Kartini yang mencoba melawan kesewenangan kebijakan yang terjadi pada zamannya, dituangkan melalui tulisan.

Perempuan kelahiran Desember 1961 ini menerbitkan Novel terbarunya yang berjudul Bulan Madu yang Tertunda. Novel setebal 413 halaman ini berkisah tentang cinta yang tak lekang oleh waktu dan tak terbatasi oleh usia. “Memilih pasangan hidup ternyata tetap butuh keberanian dan perjuangan,” demikian Ika Sarah bercerita tentang buku terbarunya.

Ika Sarah merupakan anak dari seorang pejabat pemerintahan masa Presiden Soehartoz Bambang Sarah dengan DR. Ataswarin Kamariah Moewardi seorang pendidik, guru dan dosen yang juga penulis. Ika sempat mewakili SMP Tarakanita II pada pertandingan baca puisi karya Chairil Anwar di Bulungan.

Bacaan sastra yang menjadi favoritnya adalah Layar Terkembang, Malin Kundang, Siti Nurbaya dan sastra penulis William Shakespeare, Love Story oleh Erich Segal, buku puisi Kahlil Gibran. Penulis yang mempengaruhi Ika pada genre Novel Pop Roman masa kecil sampai dewasa adalah Teguh Esha Ali Topan Anak Jalanan, Ashadi Siregar, Mira W, Marga T, Seno Gumira Adjidharma, Tere Liye, Andrea Hirata. Sedangkan penulis luar negeri, Jackie Collins, Paulo Coelho, Agatha Christie, John Grisham sampai Sidney Sheldon.

Ika Sarah terus memilih literasi untuk tetap berkarya dan berkreasi di tengah pandemi. “Semoga para perempuan lainnya mampu berkarya melalui literasi untuk bisa memberikan inspirasi ke masyarakat luas,” harapnya. [JAR]

]]> Banyak orang yang hobi menulis tapi sedikit yang menuangkannya menjadi bentuk karya dalam sebuah buku. Salah satu novelis Ika Sarawati Sarah menceritakan, novel yang dibuatnya berawal dari hobinya menulis dan berimajinasi.

Melalui karyanya dia juga mencoba memberikan inspirasi untuk masyarakat luas. “Kumpulan tulisan bisa menjadi sebuah buku, seperti novel, bisa cerpen, puisi atau pun buku berupa kumpulan artikel,” kata Ika Sarah dalam keterangannya dikutip Rabu (28/4).

Diceritakannya, sejak lama, ia selalu membiasakan diri untuk menumpahkan kreativitas dengan menulis. Ika Sarah memandang, kekuatan karyanya adalah dari imajinasinya yang mampu menghasilkan buku fiksi berkualitas.

“Sejak kecil saya diajarkan untuk banyak menulis, menumpahkan perasaan, dan cerita tentang kejadian apa saja yang dilihat,” aku Ika Sarah.

Ika Sarah yang lahir dengan kelainan jantung bawaan ini memang sejak kecil doyan nulis buku harian. Sejak kecil pula, ia mulai berkhayal tentang konstruksi cerita dan kejadian yang kadang di dapat dengan kuat melalui mimpi.

“Papa sering ke luar negeri untuk tugas lalu setiap pulang bawa oleh-oleh buku. Di masa itu juga belum ada banyak toko buku, apalagi buku impor berbahasa Inggris, belum ada Gramedia dan Gunung Agung,” kisahnya.

Dia juga yakin, sebuah karya yang baik lahir dari sebuah proses. Bagi yang ingin membuat tulisan dalam bentuk novel atau karya lainnya maka sepatutnya membiasakan diri untuk sering menulis dan rajin membaca. Tak lupa menuangkan imajinasi dalam bentuk kalimat.

“Kuncinya adalah tekun. Karena bisa saja nantinya tulisan menjadi sebuah karya emas layaknya Kartini,” imbau Ika Sarah.

Di Bulan April ini, dia baru saja merilis novel terbarunya. Sosok RA Kartini ini lah yang menjadi inspirasinya. RA Kartini yang mencoba melawan kesewenangan kebijakan yang terjadi pada zamannya, dituangkan melalui tulisan.

Perempuan kelahiran Desember 1961 ini menerbitkan Novel terbarunya yang berjudul Bulan Madu yang Tertunda. Novel setebal 413 halaman ini berkisah tentang cinta yang tak lekang oleh waktu dan tak terbatasi oleh usia. “Memilih pasangan hidup ternyata tetap butuh keberanian dan perjuangan,” demikian Ika Sarah bercerita tentang buku terbarunya.

Ika Sarah merupakan anak dari seorang pejabat pemerintahan masa Presiden Soehartoz Bambang Sarah dengan DR. Ataswarin Kamariah Moewardi seorang pendidik, guru dan dosen yang juga penulis. Ika sempat mewakili SMP Tarakanita II pada pertandingan baca puisi karya Chairil Anwar di Bulungan.

Bacaan sastra yang menjadi favoritnya adalah Layar Terkembang, Malin Kundang, Siti Nurbaya dan sastra penulis William Shakespeare, Love Story oleh Erich Segal, buku puisi Kahlil Gibran. Penulis yang mempengaruhi Ika pada genre Novel Pop Roman masa kecil sampai dewasa adalah Teguh Esha Ali Topan Anak Jalanan, Ashadi Siregar, Mira W, Marga T, Seno Gumira Adjidharma, Tere Liye, Andrea Hirata. Sedangkan penulis luar negeri, Jackie Collins, Paulo Coelho, Agatha Christie, John Grisham sampai Sidney Sheldon.

Ika Sarah terus memilih literasi untuk tetap berkarya dan berkreasi di tengah pandemi. “Semoga para perempuan lainnya mampu berkarya melalui literasi untuk bisa memberikan inspirasi ke masyarakat luas,” harapnya. [JAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories