BAZNAS Bantu 13 Ribu UMKM Terdampak Covid-19 .

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memberikan bantuan kepada 13 ribu lebih pelaku usaha Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) terdampak pandemi Covid-19. Bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian BAZNAS dalam menjaga geliat perekonomian masyarakat rentan.

Penyaluran ini dikemas melalui program Kita Jaga Usaha, bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop) serta Pemerintah Daerah, yang diluncurkan resmi pada Jumat (27/8) di tiga titik berbeda, yakni Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.

BAZNAS menginisiasi program Kita Jaga Usaha sebagai respons darurat ekonomi Covid-19, yang terdiri dari UMKM Bangkit dan Dapur Kuliner Nusantara. Target penyaluran Kita Jaga Usaha sebesar Rp 13.937.500.000, untuk 13.086 mustahik penerima manfaat. Rinciannya, 10 ribu penerima modal dan 3.086 mustahik Dapur Kuliner Nusantara.

Ketua BAZNAS RI, Prof Dr KH Noor Achmad, MA, mengingatkan, hampir dua tahun ini semuanya hidup di tengah pandemi. Tentu saja begitu banyak persoalan menghimpit, terutama di bidang usaha kecil. BAZNAS RI sebagai lembaga Pemerintah nonstruktural yang diamanatkan Undang-Undang 23 Tahun 2011 dan PP 14 tahun 2014, adalah sebagai pengelola zakat nasional.

“BAZNAS juga berwenang menyalurkan zakat, infak, dan sedekah kepada semua pihak yang membutuhkan, khususnya para asnaf,” katanya, dalam acara peluncuran Kita Jaga Usaha di Yogyakarta, Jumat (27/8).

Untuk skema bantuan di Kita Jaga Usaha, Noor menjelaskan, UMKM Bangkit merupakan program pemberian bantuan langsung kepada 10.000 pelaku UMKM di wilayah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 dan level 4 dengan jumlah bantuan Rp 1 juta. Bantuan ini, lanjutnya, diberikan melalui kartu ATM, bekerja sama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI).

Sedangkan program Dapur Kuliner Nusantara adalah program pemberdayaan warteg, warung nasi, warung padang, dan usaha kuliner skala kecil lainnya untuk menyediakan 72.000 paket makanan. Didistribusikan kepada pelaku isoman, panti asuhan, panti jompo, lembaga pemasyarakatan, pesantren, rumah singgah, nakes dan warga terdampak PPKM.

Noor menambahkan, sejak Covid-19 melanda, hingga kini BAZNAS telah mengelola dana sekitar Rp 1,5 triliun, yang disalurkan kepada sekitar 6 juta mustahik dan penerima manfaat. Hal ini merupakan bentuk kepedulian BAZNAS terhadap masyarakat rentan yang terimbas pandemi dan membantu mereka agar segera keluar dari krisis.

 

Sesuai Undang-Undang, jelas Noor, BAZNAS juga diamanatkan untuk bisa bersama Pemerintah mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. BAZNAS merasa bertanggung jawab untuk bersama Pemerintah menyelesaikan persoalan-persoalan, khususnya di masa pandemi ini. Karena itu, BAZNAS telah membuat Satgas Nasional Covid BAZNAS menghadapi Covid-19 yang mempunyai banyak program.

“Kemarin kita sudah luncurkan Kita Jaga Kyai, Kita Jaga Yatim. Sekarang luncurkan Kita Jaga Usaha,” ujar Rektor Universitas Wahid Hasyim, Semarang pada 2010-2013 ini.

Acara peluncuran Kita Jaga Usaha diadakan di tiga tempat sekaligus, yakni, Kantor BAZNAS RI di Jakarta, Jalan Malioboro Yogyakarta, dan Sentra Kuliner Semolowaru Surabaya, pada Jumat (27/8).

Peluncuran itu juga mendapat dukungan dan dihadiri Menteri Koperasi dan UKM (Kemenkop), Teten Masduki; Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan; Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X; dan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, serta para pimpinan BAZNAS RI dan pejabat terkait.

Program Kita Jaga Usaha mendapat apresiasi positif dari Teten Masduki. Dia menilai, program inisiasi BAZNAS ini sebagai bentuk kehadiran Pemerintah terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat, salah satunya pelaku UMKM.

“Tanda kita semua, Pemerintah hadir dan tidak tinggal diam dengan kesulitan para pelaku UMKM. Pandemi Covid-19 berdampak luas terhadap krisis kesehatan maupun ekonomi global,” kata Teten.

Dia melanjutkan, pandemi telah memukul berbagai sektor di luar kesehatan dan ekonomi. UMKM sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia merasakan dampaknya secara signifikan. Penurunan omzet, kesulitan modal, dan yang terberat adalah penutupan usaha, serta daya beli masyarakat turun di waktu bersamaan.

“Pandemi belum dapat diketahui kapan berakhir. Tugas kita bersama adalah memastikan pelaku usaha kecil dapat beradaptasi untuk bisa bertahan, pulih dan melanjutkan usahanya di masa pandemi, salah satunya melalui program Kita Jaga Usaha,” ujar Teten. [RSM]

]]> .
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memberikan bantuan kepada 13 ribu lebih pelaku usaha Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) terdampak pandemi Covid-19. Bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian BAZNAS dalam menjaga geliat perekonomian masyarakat rentan.

Penyaluran ini dikemas melalui program Kita Jaga Usaha, bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop) serta Pemerintah Daerah, yang diluncurkan resmi pada Jumat (27/8) di tiga titik berbeda, yakni Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.

BAZNAS menginisiasi program Kita Jaga Usaha sebagai respons darurat ekonomi Covid-19, yang terdiri dari UMKM Bangkit dan Dapur Kuliner Nusantara. Target penyaluran Kita Jaga Usaha sebesar Rp 13.937.500.000, untuk 13.086 mustahik penerima manfaat. Rinciannya, 10 ribu penerima modal dan 3.086 mustahik Dapur Kuliner Nusantara.

Ketua BAZNAS RI, Prof Dr KH Noor Achmad, MA, mengingatkan, hampir dua tahun ini semuanya hidup di tengah pandemi. Tentu saja begitu banyak persoalan menghimpit, terutama di bidang usaha kecil. BAZNAS RI sebagai lembaga Pemerintah nonstruktural yang diamanatkan Undang-Undang 23 Tahun 2011 dan PP 14 tahun 2014, adalah sebagai pengelola zakat nasional.

“BAZNAS juga berwenang menyalurkan zakat, infak, dan sedekah kepada semua pihak yang membutuhkan, khususnya para asnaf,” katanya, dalam acara peluncuran Kita Jaga Usaha di Yogyakarta, Jumat (27/8).

Untuk skema bantuan di Kita Jaga Usaha, Noor menjelaskan, UMKM Bangkit merupakan program pemberian bantuan langsung kepada 10.000 pelaku UMKM di wilayah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 dan level 4 dengan jumlah bantuan Rp 1 juta. Bantuan ini, lanjutnya, diberikan melalui kartu ATM, bekerja sama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI).

Sedangkan program Dapur Kuliner Nusantara adalah program pemberdayaan warteg, warung nasi, warung padang, dan usaha kuliner skala kecil lainnya untuk menyediakan 72.000 paket makanan. Didistribusikan kepada pelaku isoman, panti asuhan, panti jompo, lembaga pemasyarakatan, pesantren, rumah singgah, nakes dan warga terdampak PPKM.

Noor menambahkan, sejak Covid-19 melanda, hingga kini BAZNAS telah mengelola dana sekitar Rp 1,5 triliun, yang disalurkan kepada sekitar 6 juta mustahik dan penerima manfaat. Hal ini merupakan bentuk kepedulian BAZNAS terhadap masyarakat rentan yang terimbas pandemi dan membantu mereka agar segera keluar dari krisis.

 

Sesuai Undang-Undang, jelas Noor, BAZNAS juga diamanatkan untuk bisa bersama Pemerintah mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. BAZNAS merasa bertanggung jawab untuk bersama Pemerintah menyelesaikan persoalan-persoalan, khususnya di masa pandemi ini. Karena itu, BAZNAS telah membuat Satgas Nasional Covid BAZNAS menghadapi Covid-19 yang mempunyai banyak program.

“Kemarin kita sudah luncurkan Kita Jaga Kyai, Kita Jaga Yatim. Sekarang luncurkan Kita Jaga Usaha,” ujar Rektor Universitas Wahid Hasyim, Semarang pada 2010-2013 ini.

Acara peluncuran Kita Jaga Usaha diadakan di tiga tempat sekaligus, yakni, Kantor BAZNAS RI di Jakarta, Jalan Malioboro Yogyakarta, dan Sentra Kuliner Semolowaru Surabaya, pada Jumat (27/8).

Peluncuran itu juga mendapat dukungan dan dihadiri Menteri Koperasi dan UKM (Kemenkop), Teten Masduki; Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan; Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X; dan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, serta para pimpinan BAZNAS RI dan pejabat terkait.

Program Kita Jaga Usaha mendapat apresiasi positif dari Teten Masduki. Dia menilai, program inisiasi BAZNAS ini sebagai bentuk kehadiran Pemerintah terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat, salah satunya pelaku UMKM.

“Tanda kita semua, Pemerintah hadir dan tidak tinggal diam dengan kesulitan para pelaku UMKM. Pandemi Covid-19 berdampak luas terhadap krisis kesehatan maupun ekonomi global,” kata Teten.

Dia melanjutkan, pandemi telah memukul berbagai sektor di luar kesehatan dan ekonomi. UMKM sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia merasakan dampaknya secara signifikan. Penurunan omzet, kesulitan modal, dan yang terberat adalah penutupan usaha, serta daya beli masyarakat turun di waktu bersamaan.

“Pandemi belum dapat diketahui kapan berakhir. Tugas kita bersama adalah memastikan pelaku usaha kecil dapat beradaptasi untuk bisa bertahan, pulih dan melanjutkan usahanya di masa pandemi, salah satunya melalui program Kita Jaga Usaha,” ujar Teten. [RSM]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories