Baru Ketemu Sekali Di Anchorage Menlu AS Vs Pejabat China Perang Mulut

Setelah empat tahun marahan, perwakilan diplomat Amerika Serikat (AS) dan China akhirnya bertemu untuk pertamakalinya. Mereka membahas sejumlah daftar sumber perselisihan selama kepemimpinan Presiden AS Donald Trump.

Sayangnya, pertemuan itu malah jadi ajang perang mulut. Menteri Luar Negeri AS Anthony J Blinken dan Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake Sullivan, serta peja­bat kebijakan luar negeri paling senior China Yang Jiechi dan Menteri Luar Negeri Wang Yi, malah saling tuding dalam per­temuan di Anchorage, Alaska, Kamis (18/3).

Dilansir Channel News Asia, kemarin, ketegangan antara Washington dan Beijing terlihat nyata dalam sesi pembukaan yang dihadiri awak media. Yang Jiechi menuding AS menggunakan kekuatan militer dan hegenomi keuangannya untuk menekan negara-negara lain.

Yang juga menyatakan, penegakan HAM di AS berada di titik terendah, di mana kelompok kulit hitam tertindas.

“Jadi, izinkan saya mengata­kan di sini bahwa Amerika Serikat tidak memiliki kualifikasi untuk berbicara kepada China,” tegas Yang.

Pernyataan sengit itu disam­paikan Yang ketika Blinken blak-blakan mengatakan akan membahas kekhawatiran mereka atas tindakan China, termasuk di Xinjiang, Hong Kong, Taiwan, serangan dunia maya, pemak­saan ekonomi terhadap sekutu-sekutu AS.

“Setiap tindakan ini mengancam tatanan aturan yang menjaga stabilitas global,” tegasnya.

Yang menanggapi Blinken dengan pidato berbahasa China selama 15 menit. Lalu pihak AS harus menunggu terjema­han dari pernyataannya. Ucapan Yang nampaknya mengejutkan Blinken. Dia pun menahan war­tawan tetap berada di ruangan.

 

Sullivan kemudian bicara. Dia menyatakan, AS tidak mencari permusuhan dengan China, namun akan membela prinsip-prinsipnya dan sekutunya.

“Kami akan terus mempertahankan apa yang menjadi kepentingan rakyat dan sekutu kami,” jelasnya.

Pernyataan pada sesi pembu­kaan yang seharusnya berlang­sung beberapa menit, gara-gara perang mulut itu menjadi molor lebih dari satu jam.

Salah satu delegasi AS menuding China sudah melanggar kesepakatan pernyataan pem­buka selama dua menit.

“Delegasi China memang berniat untuk sok di sini. Menampilkan teatrikal dramatis di luar substansi,” kata sang pejabat.

Sebelumnya, Pemerintah AS menjatuhkan sanksi kepada pejabat China dan Hong Kong setelah Beijing membatasi rakyat bebas memilih pemimpin mereka. Blinken juga mengkri­tik China dalam pertemuan di Tokyo, Jepang.

Meski hadir, delegasi keduanegara merasa pertemuan Anchorage tidak akan membawa perubahan dalam hubungan mereka. Namun, Pemerintahan Joe Biden telah menekankan, pertemuan tersebut menjadi langkah awal perbaikan hubungan.

China berharap, pertemuan Alaska akan memisahkan poli­tik dari perdagangan, dan pada akhirnya mengarah pada penu­runan tariff AS serta komitmen­nya untuk membeli lebih banyak barang AS.

Menurut pakar perdagangandi Pusat Kajian Strategis dan Internasional AS William Reinsch, kemungkinan besar perselisihan politik lainnya akan mendominasi percakapan di Anchorage. [DAY]

]]> Setelah empat tahun marahan, perwakilan diplomat Amerika Serikat (AS) dan China akhirnya bertemu untuk pertamakalinya. Mereka membahas sejumlah daftar sumber perselisihan selama kepemimpinan Presiden AS Donald Trump.

Sayangnya, pertemuan itu malah jadi ajang perang mulut. Menteri Luar Negeri AS Anthony J Blinken dan Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake Sullivan, serta peja­bat kebijakan luar negeri paling senior China Yang Jiechi dan Menteri Luar Negeri Wang Yi, malah saling tuding dalam per­temuan di Anchorage, Alaska, Kamis (18/3).

Dilansir Channel News Asia, kemarin, ketegangan antara Washington dan Beijing terlihat nyata dalam sesi pembukaan yang dihadiri awak media. Yang Jiechi menuding AS menggunakan kekuatan militer dan hegenomi keuangannya untuk menekan negara-negara lain.

Yang juga menyatakan, penegakan HAM di AS berada di titik terendah, di mana kelompok kulit hitam tertindas.

“Jadi, izinkan saya mengata­kan di sini bahwa Amerika Serikat tidak memiliki kualifikasi untuk berbicara kepada China,” tegas Yang.

Pernyataan sengit itu disam­paikan Yang ketika Blinken blak-blakan mengatakan akan membahas kekhawatiran mereka atas tindakan China, termasuk di Xinjiang, Hong Kong, Taiwan, serangan dunia maya, pemak­saan ekonomi terhadap sekutu-sekutu AS.

“Setiap tindakan ini mengancam tatanan aturan yang menjaga stabilitas global,” tegasnya.

Yang menanggapi Blinken dengan pidato berbahasa China selama 15 menit. Lalu pihak AS harus menunggu terjema­han dari pernyataannya. Ucapan Yang nampaknya mengejutkan Blinken. Dia pun menahan war­tawan tetap berada di ruangan.

 

Sullivan kemudian bicara. Dia menyatakan, AS tidak mencari permusuhan dengan China, namun akan membela prinsip-prinsipnya dan sekutunya.

“Kami akan terus mempertahankan apa yang menjadi kepentingan rakyat dan sekutu kami,” jelasnya.

Pernyataan pada sesi pembu­kaan yang seharusnya berlang­sung beberapa menit, gara-gara perang mulut itu menjadi molor lebih dari satu jam.

Salah satu delegasi AS menuding China sudah melanggar kesepakatan pernyataan pem­buka selama dua menit.

“Delegasi China memang berniat untuk sok di sini. Menampilkan teatrikal dramatis di luar substansi,” kata sang pejabat.

Sebelumnya, Pemerintah AS menjatuhkan sanksi kepada pejabat China dan Hong Kong setelah Beijing membatasi rakyat bebas memilih pemimpin mereka. Blinken juga mengkri­tik China dalam pertemuan di Tokyo, Jepang.

Meski hadir, delegasi keduanegara merasa pertemuan Anchorage tidak akan membawa perubahan dalam hubungan mereka. Namun, Pemerintahan Joe Biden telah menekankan, pertemuan tersebut menjadi langkah awal perbaikan hubungan.

China berharap, pertemuan Alaska akan memisahkan poli­tik dari perdagangan, dan pada akhirnya mengarah pada penu­runan tariff AS serta komitmen­nya untuk membeli lebih banyak barang AS.

Menurut pakar perdagangandi Pusat Kajian Strategis dan Internasional AS William Reinsch, kemungkinan besar perselisihan politik lainnya akan mendominasi percakapan di Anchorage. [DAY]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories