Banyak Aksi Teror, Sosialisasi 4 Pilar Terhadap Generasi Milenial Harus Digencarkan

Anggota Komisi XI DPR Marsiaman Saragih menilai, aksi teror bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Minggu (28/3) dan aksi teror yang dilakukan oleh ZA di Mabes Polri, Rabu (31/3), dapat mempengaruhi kondisi ekonomi di Indonesia.

Padahal, kata dia, pemerintah telah berupaya sekuat tenaga memperbaiki kondisi ekonomi yang sudah berat dihajar pandemi Covid-19 yang berjalan selama setahun ini.

“Kami meminta kepolisian dan intelijen segera mengungkap kasus dua teror yang terjadi dengan menangkap pelaku dan aktor intelektual dibelakangnya,” pinta Marsiaman dalam keteranganya, Senin (5/4).

Menurut Marsiaman, aksi teror tidak hanya berpengaruh terhadap ekonomi secara makro. Tapi juga, secara mikro, khususnya sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Karena aksi teror, masyarakat menjadi tidak tenang dalam menjalankan usahanya. Mereka selalu was-was akan kondisi keamanan yang tidak stabil.

Untuk itu, kata politikus PDIP ini, tindakan cepat yang dilakukan aparat penegak hukum, sangat penting dilakukan untuk meminimalisir dampak ekonomi akibat aksi teror tersebut. Dengan begitu, masyarakat bisa tenang kembali dan tak menimbulkan gejolak di bawah.

“Juga penting saling membangun solidaritas antar sesama untuk membangkitkan ekonomi di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini,” harap legislator dari Dapil Riau ini. 

Selain itu, Marsiaman juga meminta agar sosialiasi 4 pilar kebangsaan yaitu, Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI, terus digencarkan. Khususnya, terhadap generasi milenial.

Soalnya, dua aksi teror yang terjadi di Makassar dan Mabes Polri dilakukan oleh generasi muda atau millenial.

“Jadi generasi milenial ini harus diberi pemahaman ideologi yang benar agar mereka tidak mengikuti pemahaman yang melenceng,” tutur Marsiaman.

Dia menegaskan, ideologi Pancasila telah disepakati bersama menjadi ideologi pemersatu di tengah keanekaragaman suku, bangsa, agama dan golongan yang ada di Indonesia. “Ini yang harus dipahami oleh generasi milenial,” ucapnya.

Marsiaman menilai, salah satu akar dari terorisme yaitu kemiskinan dan ketidakadilan yang selama ini banyak rasakan oleh generasi milenial.

Hal ini harus segera dicarikan solusinya oleh pemerintah dan juga semua pihak yang terlibat. Bila akar masalah ini diselesaikan, aksi teror sudah tidak ada lagi.

Tak lupa, Marsiaman juga menyoroti upaya Bank Indonesia (BI) dalam melakukan pencegahan virus Corona. Caranya, dengan melakukan sosialisasi yang gencar dalam digital banking.

Masyarakat harus didorong agar menggunakan transaksi mobile daripada mengambil uang melalui mesin ATM.

Mesin penarik uang itu, bisa menjadi salah satu sumber penyebaran Covid-19. “Dengan mobile banking masyarakat akan terlindungi dari terpapar virus Corona,” tandas Marsiaman. [TIF]

]]> Anggota Komisi XI DPR Marsiaman Saragih menilai, aksi teror bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Minggu (28/3) dan aksi teror yang dilakukan oleh ZA di Mabes Polri, Rabu (31/3), dapat mempengaruhi kondisi ekonomi di Indonesia.

Padahal, kata dia, pemerintah telah berupaya sekuat tenaga memperbaiki kondisi ekonomi yang sudah berat dihajar pandemi Covid-19 yang berjalan selama setahun ini.

“Kami meminta kepolisian dan intelijen segera mengungkap kasus dua teror yang terjadi dengan menangkap pelaku dan aktor intelektual dibelakangnya,” pinta Marsiaman dalam keteranganya, Senin (5/4).

Menurut Marsiaman, aksi teror tidak hanya berpengaruh terhadap ekonomi secara makro. Tapi juga, secara mikro, khususnya sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Karena aksi teror, masyarakat menjadi tidak tenang dalam menjalankan usahanya. Mereka selalu was-was akan kondisi keamanan yang tidak stabil.

Untuk itu, kata politikus PDIP ini, tindakan cepat yang dilakukan aparat penegak hukum, sangat penting dilakukan untuk meminimalisir dampak ekonomi akibat aksi teror tersebut. Dengan begitu, masyarakat bisa tenang kembali dan tak menimbulkan gejolak di bawah.

“Juga penting saling membangun solidaritas antar sesama untuk membangkitkan ekonomi di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini,” harap legislator dari Dapil Riau ini. 

Selain itu, Marsiaman juga meminta agar sosialiasi 4 pilar kebangsaan yaitu, Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI, terus digencarkan. Khususnya, terhadap generasi milenial.

Soalnya, dua aksi teror yang terjadi di Makassar dan Mabes Polri dilakukan oleh generasi muda atau millenial.

“Jadi generasi milenial ini harus diberi pemahaman ideologi yang benar agar mereka tidak mengikuti pemahaman yang melenceng,” tutur Marsiaman.

Dia menegaskan, ideologi Pancasila telah disepakati bersama menjadi ideologi pemersatu di tengah keanekaragaman suku, bangsa, agama dan golongan yang ada di Indonesia. “Ini yang harus dipahami oleh generasi milenial,” ucapnya.

Marsiaman menilai, salah satu akar dari terorisme yaitu kemiskinan dan ketidakadilan yang selama ini banyak rasakan oleh generasi milenial.

Hal ini harus segera dicarikan solusinya oleh pemerintah dan juga semua pihak yang terlibat. Bila akar masalah ini diselesaikan, aksi teror sudah tidak ada lagi.

Tak lupa, Marsiaman juga menyoroti upaya Bank Indonesia (BI) dalam melakukan pencegahan virus Corona. Caranya, dengan melakukan sosialisasi yang gencar dalam digital banking.

Masyarakat harus didorong agar menggunakan transaksi mobile daripada mengambil uang melalui mesin ATM.

Mesin penarik uang itu, bisa menjadi salah satu sumber penyebaran Covid-19. “Dengan mobile banking masyarakat akan terlindungi dari terpapar virus Corona,” tandas Marsiaman. [TIF]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories