Bantu Pemulihan Ekonomi Fintech AdaKami Bidik Salurkan Pembiayaan Rp 12 Triliun

AdaKami, aplikasi online penyelenggara ​peer-to-peer lending (P2P) melalui fasilitas pinjaman tanpa agunan (KTA) menargetkan menyalurkan pembiayaan Rp 12 triliun pada tahun ini. 

Dana akan disalurkan kepada 10 juta peminjam terdaftar. 4 juta di antaranya adalah pelaku ekonomi riil, sepanjang 2021. 

Sejak awal berdiri AdaKami telah berhasil menyalurkan pinjaman sampai dengan Rp 3,1 triliun, yang disalurkan kepada lebih dari 5 juta peminjam terdaftar. Di mana 40 persen digunakan untuk kepentingan usaha atau ​capital loan​.

Direktur Utama AdaKami​, Bernardino M. Vega Jr mengatakan, Tahun 2020 adalah tahun perjuangan untuk semua. Namun, dia bersyukur AdaKami berhasil memupuk kepercayaan masyarakat di tengah masa pandemi ini dan bisa menjadi solusi bagi masyarakat yang memerlukan. 

Memasuki tahun 2021 ini, pihaknya ingin lebih banyak berkontribusi untuk memperkecil ​credit gap antara masyarakat yang masih ​unbankable untuk bisa menjadi bankable. “Melalui pemanfaatan fintech P2P​ lending​, masyarakat yang masih​ unbankable dapat membangun portfolio yang cukup untuk ke depannya bisa menjadi ​bankable​,” tegas ​Bernardino dalam keterangan tertulisnya, Minggu (21/2).

Memasuki tahun ketiganya beroperasi di Indonesia, AdaKami menyadari dinamika industri P2P ​lending lebih dari sekedar pemenuhan kebutuhan pinjaman, tapi lebih kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di mana para penyelenggara P2P ​lending harus lebih peka dengan kebutuhan nasabah. ​

Menurut dia, AdaKami komitmen untuk mendukung perekonomian Indonesia dan inklusi keuangan dengan memperkenalkan ​positioning baru sebagai fintech yang menyediakan solusi bagi kebutuhan hidup para penggunanya. Mayoritas penggunanya milenial dan gen Z.

 “Melalui proses ​rebranding​, sekarang lebih siap mendukung masyarakat Indonesia untuk bertumbuh dan meraih hidup yang lebih bermakna,” bebernya.

AdaKami juga mendukung upaya OJK dalam meningkatkan literasi keuangan yang secara rutin akan memberikan konten-konten edukasi perencanaan keuangan dasar melalui situs web dan media sosialnya. 

“Edukasi akan selalu kami lakukan, terutama melalui kanal media sosial. Tidak hanya itu, kami juga sudah menjalin kerja sama dengan beberapa pihak yang akan kami rilis di 2021 ini,” bebernya.

Dia berharap tahun ini, AdaKami dapat berkontribusi aktif untuk menjangkau populasi unbanked di Indonesia yang mencapai hampir 100 juta orang, dan memperkuat kiprah AdaKami dan layanan finansial digital dalam mendorong pemulihan ekonomi.

Deputi Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengembangan Fintech di Otoritas Jasa Keuangan​, Munawar mengatakan, industri P2P ​lending hadir untuk masyarakat kecil yang masih ​unbankable​ dan pertumbuhannya pada tahun 26,47 persen secara ​year on year.

Fintech juga telah menyakurkan dana Rp 262,16 miliar pada program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) kepada sekitar 48.629 rekening peminjam. “Jadi kami sangat menyambut baik peran ​fintech dalam perekonomian Indonesia terutama di masa pandemi sekarang,” bebernya.

Kendati begitu, kata dia, tantangannya pun cukup banyak. Antara lain meningkatkan kualitas pendanaan ke sektor yang memberi nilai tambah, misalnya pinjaman produktif, serta menjangkau lebih banyak pengguna di luar pulau Jawa.

Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI). Kuseryansyah mengatakan, potensi ​fintech P2P ​lending cukup menjanjikan, terutama sebagai alternatif pendanaan bagi UMKM. “Saat ini, kami berharap agar para penyelenggara P2P lending dapat menawarkan produk yang aman,” tukasnya. [DIT]

]]> AdaKami, aplikasi online penyelenggara ​peer-to-peer lending (P2P) melalui fasilitas pinjaman tanpa agunan (KTA) menargetkan menyalurkan pembiayaan Rp 12 triliun pada tahun ini. 

Dana akan disalurkan kepada 10 juta peminjam terdaftar. 4 juta di antaranya adalah pelaku ekonomi riil, sepanjang 2021. 

Sejak awal berdiri AdaKami telah berhasil menyalurkan pinjaman sampai dengan Rp 3,1 triliun, yang disalurkan kepada lebih dari 5 juta peminjam terdaftar. Di mana 40 persen digunakan untuk kepentingan usaha atau ​capital loan​.

Direktur Utama AdaKami​, Bernardino M. Vega Jr mengatakan, Tahun 2020 adalah tahun perjuangan untuk semua. Namun, dia bersyukur AdaKami berhasil memupuk kepercayaan masyarakat di tengah masa pandemi ini dan bisa menjadi solusi bagi masyarakat yang memerlukan. 

Memasuki tahun 2021 ini, pihaknya ingin lebih banyak berkontribusi untuk memperkecil ​credit gap antara masyarakat yang masih ​unbankable untuk bisa menjadi bankable. “Melalui pemanfaatan fintech P2P​ lending​, masyarakat yang masih​ unbankable dapat membangun portfolio yang cukup untuk ke depannya bisa menjadi ​bankable​,” tegas ​Bernardino dalam keterangan tertulisnya, Minggu (21/2).

Memasuki tahun ketiganya beroperasi di Indonesia, AdaKami menyadari dinamika industri P2P ​lending lebih dari sekedar pemenuhan kebutuhan pinjaman, tapi lebih kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di mana para penyelenggara P2P ​lending harus lebih peka dengan kebutuhan nasabah. ​

Menurut dia, AdaKami komitmen untuk mendukung perekonomian Indonesia dan inklusi keuangan dengan memperkenalkan ​positioning baru sebagai fintech yang menyediakan solusi bagi kebutuhan hidup para penggunanya. Mayoritas penggunanya milenial dan gen Z.

 “Melalui proses ​rebranding​, sekarang lebih siap mendukung masyarakat Indonesia untuk bertumbuh dan meraih hidup yang lebih bermakna,” bebernya.

AdaKami juga mendukung upaya OJK dalam meningkatkan literasi keuangan yang secara rutin akan memberikan konten-konten edukasi perencanaan keuangan dasar melalui situs web dan media sosialnya. 

“Edukasi akan selalu kami lakukan, terutama melalui kanal media sosial. Tidak hanya itu, kami juga sudah menjalin kerja sama dengan beberapa pihak yang akan kami rilis di 2021 ini,” bebernya.

Dia berharap tahun ini, AdaKami dapat berkontribusi aktif untuk menjangkau populasi unbanked di Indonesia yang mencapai hampir 100 juta orang, dan memperkuat kiprah AdaKami dan layanan finansial digital dalam mendorong pemulihan ekonomi.

Deputi Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengembangan Fintech di Otoritas Jasa Keuangan​, Munawar mengatakan, industri P2P ​lending hadir untuk masyarakat kecil yang masih ​unbankable​ dan pertumbuhannya pada tahun 26,47 persen secara ​year on year.

Fintech juga telah menyakurkan dana Rp 262,16 miliar pada program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) kepada sekitar 48.629 rekening peminjam. “Jadi kami sangat menyambut baik peran ​fintech dalam perekonomian Indonesia terutama di masa pandemi sekarang,” bebernya.

Kendati begitu, kata dia, tantangannya pun cukup banyak. Antara lain meningkatkan kualitas pendanaan ke sektor yang memberi nilai tambah, misalnya pinjaman produktif, serta menjangkau lebih banyak pengguna di luar pulau Jawa.

Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI). Kuseryansyah mengatakan, potensi ​fintech P2P ​lending cukup menjanjikan, terutama sebagai alternatif pendanaan bagi UMKM. “Saat ini, kami berharap agar para penyelenggara P2P lending dapat menawarkan produk yang aman,” tukasnya. [DIT]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories