Bank Mega Raup Laba Rp 747 Miliar, Tumbuh 11,6 Persen

Pandemi Covid-19, tak menurunkan kinerja PT Bank Mega Tbk (Bank Mega). Ini terbukti, Bank Mega sukses mencatat laba bersih tumbuh 11,6 persen atau sebesar Rp 747 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 669 Miliar.

Sementara laba sebelum pajak tumbuh sebesar 15,3 persen yoy menjadi Rp 923 miliar dari posisi sebelumnya sebesar Rp 801 miliar.

Direktur Utama Bank Mega, Kostaman Thayib menuturkan, pertumbuhan laba tersebut didorong dari pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) yang naik sebesar 17,8 persen menjadi Rp 1,2 triliun dari posisi yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 989 miliar.

“Selain pendapatan bunga bersih, pendapatan laba Bank Mega juga disebabkan oleh keberhasilan Bank Mega dalam menurunkan biaya operasional sebesar 22,6 persen menjadi Rp 686 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 887 miliar,” jelasnya dalam keterangan, Jumat (7/5).

Namun begitu, total Aset Bank tercatat sedikit turun sebesar -0,5 persen (YTD) menjadi Rp 111,6 triliun dari posisi akhir tahun 2020 sebesar Rp 112,2 triliun.

Untuk Dana Pihak Ketiga, Bank Mega mencatatkan pertumbuhan sedikit turun sebesar -0,9 persen (YTD) menjadi Rp 78,5 triliun dari posisi akhir tahun 2020 sebesar Rp 79,2 triliun.

Namun secara komposisi, rasio CASA Bank Mega pada Maret 2021 membaik menjadi 31 persen dibandingkan pada akhir tahun 2020 sebesar 28 persen.

Membaiknya rasio CASA ini ditopang oleh Giro yang tumbuh sebesar 25,6 persen (YTD) menjadi Rp 10,7 triliun pada Maret 2021 dari posisi akhir tahun 2020 sebesar Rp 8,5 triliun.

Sementara pada sisi penyaluran kredit, meski kondisi perekonomian masih terdampak pandemi Covid-19, namun Bank Mega masih mengalami pertumbuhan positif sebesar 1,6 persen (YTD), menjadi Rp 49,3 triliun dari posisi akhir tahun 2020 sebesar Rp 48,5 triliun.

“Ini terutama ditopang oleh kredit korporasi yang tumbuh positif sebesar 3,7 persen (YTD) menjadi Rp 27,2 triliun pada Maret 2021,” ujarnya.

Dari sisi rasio keuangan, keberhasilan inovasi digital dan otomasi yang telah dilakukan, nyatanya mendorong membaiknya rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), di mana tercatat menjadi 62,17 persen pada Maret 2021.

Atau membaik dari posisi yang sama tahun sebelumnya sebesar 69,71 persen. Bank Mega juga berhasil mencatatkan perbaikan rasio CAR (Capital Adequacy Ratio) menjadi 26,60 persen, dari posisi yang sama tahun sebelumnya sebesar 24,70 persen.

Dari kualitas aset, NPL juga terjaga pada posisi yang semakin membaik. Di mana NPL gross pada Maret 2021 tercatat menjadi 1,30 persen dari posisi yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,55 persen.

Sesuai dengan Rencana Bisnis Bank (RBB) tahun ini, Kostaman menegaskan pihaknya tetap optimistis, adanya pertumbuhan bisnis, meskipun tahun ini masih penuh tantangan akibat pandemi Covid 19.

“Kami targetkan laba bersih Bank Mega hingga Rp 3,5 Tmtriliun atau meningkat 16 persen dibandingkan. 2020. Kredit juga naik sebesar 10 persen atau menjadi Rp 53,1 triliun,” yakinnya.

Sementara pertumbuhan DPK ditargetkan sebesar 8 persen (Rp 85,5 triliun). Aset ditargetkan mencapai Rp 118,7 triliun atau meningkat 6 persen dibandingkan 2020. Kostaman bilang, untuk mencapai tujuan tersebut, pihaknya akan terus bersinergi dengan perusahaan-perusahaan dalam CT Corpora, untuk meningkatkan volume usaha dan menciptakan peluang usaha baru.

“Serta memanfaatkan ekosistem dan sinergi tepat, supaya bisa menciptakan produk dan layanan baru yang memberikan keuntungan bagi nasabah dan bank,” imbuh Kostaman.

Selain itu, transformasi teknologi informasi untuk mendukung perkembangan bisnis retail dan perbankan digital, mitigasi risiko operasional serta efisiensi biaya operasional. [DWI]

]]> Pandemi Covid-19, tak menurunkan kinerja PT Bank Mega Tbk (Bank Mega). Ini terbukti, Bank Mega sukses mencatat laba bersih tumbuh 11,6 persen atau sebesar Rp 747 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 669 Miliar.

Sementara laba sebelum pajak tumbuh sebesar 15,3 persen yoy menjadi Rp 923 miliar dari posisi sebelumnya sebesar Rp 801 miliar.

Direktur Utama Bank Mega, Kostaman Thayib menuturkan, pertumbuhan laba tersebut didorong dari pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) yang naik sebesar 17,8 persen menjadi Rp 1,2 triliun dari posisi yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 989 miliar.

“Selain pendapatan bunga bersih, pendapatan laba Bank Mega juga disebabkan oleh keberhasilan Bank Mega dalam menurunkan biaya operasional sebesar 22,6 persen menjadi Rp 686 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 887 miliar,” jelasnya dalam keterangan, Jumat (7/5).

Namun begitu, total Aset Bank tercatat sedikit turun sebesar -0,5 persen (YTD) menjadi Rp 111,6 triliun dari posisi akhir tahun 2020 sebesar Rp 112,2 triliun.

Untuk Dana Pihak Ketiga, Bank Mega mencatatkan pertumbuhan sedikit turun sebesar -0,9 persen (YTD) menjadi Rp 78,5 triliun dari posisi akhir tahun 2020 sebesar Rp 79,2 triliun.

Namun secara komposisi, rasio CASA Bank Mega pada Maret 2021 membaik menjadi 31 persen dibandingkan pada akhir tahun 2020 sebesar 28 persen.

Membaiknya rasio CASA ini ditopang oleh Giro yang tumbuh sebesar 25,6 persen (YTD) menjadi Rp 10,7 triliun pada Maret 2021 dari posisi akhir tahun 2020 sebesar Rp 8,5 triliun.

Sementara pada sisi penyaluran kredit, meski kondisi perekonomian masih terdampak pandemi Covid-19, namun Bank Mega masih mengalami pertumbuhan positif sebesar 1,6 persen (YTD), menjadi Rp 49,3 triliun dari posisi akhir tahun 2020 sebesar Rp 48,5 triliun.

“Ini terutama ditopang oleh kredit korporasi yang tumbuh positif sebesar 3,7 persen (YTD) menjadi Rp 27,2 triliun pada Maret 2021,” ujarnya.

Dari sisi rasio keuangan, keberhasilan inovasi digital dan otomasi yang telah dilakukan, nyatanya mendorong membaiknya rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), di mana tercatat menjadi 62,17 persen pada Maret 2021.

Atau membaik dari posisi yang sama tahun sebelumnya sebesar 69,71 persen. Bank Mega juga berhasil mencatatkan perbaikan rasio CAR (Capital Adequacy Ratio) menjadi 26,60 persen, dari posisi yang sama tahun sebelumnya sebesar 24,70 persen.

Dari kualitas aset, NPL juga terjaga pada posisi yang semakin membaik. Di mana NPL gross pada Maret 2021 tercatat menjadi 1,30 persen dari posisi yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,55 persen.

Sesuai dengan Rencana Bisnis Bank (RBB) tahun ini, Kostaman menegaskan pihaknya tetap optimistis, adanya pertumbuhan bisnis, meskipun tahun ini masih penuh tantangan akibat pandemi Covid 19.

“Kami targetkan laba bersih Bank Mega hingga Rp 3,5 Tmtriliun atau meningkat 16 persen dibandingkan. 2020. Kredit juga naik sebesar 10 persen atau menjadi Rp 53,1 triliun,” yakinnya.

Sementara pertumbuhan DPK ditargetkan sebesar 8 persen (Rp 85,5 triliun). Aset ditargetkan mencapai Rp 118,7 triliun atau meningkat 6 persen dibandingkan 2020. Kostaman bilang, untuk mencapai tujuan tersebut, pihaknya akan terus bersinergi dengan perusahaan-perusahaan dalam CT Corpora, untuk meningkatkan volume usaha dan menciptakan peluang usaha baru.

“Serta memanfaatkan ekosistem dan sinergi tepat, supaya bisa menciptakan produk dan layanan baru yang memberikan keuntungan bagi nasabah dan bank,” imbuh Kostaman.

Selain itu, transformasi teknologi informasi untuk mendukung perkembangan bisnis retail dan perbankan digital, mitigasi risiko operasional serta efisiensi biaya operasional. [DWI]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories