Banjir Zaman Ahok Vs Banjir Zaman Anies, Emang Parahan Mana?

Banjir yang melanda sebagian wilayah Jakarta, akhir pekan kemarin, terus menjadi perdebatan panas. Bahkan, banyak pihak yang membanding-bandingkan banjir di era Anies Baswedan dengan era Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Emang lebih parah mana ya?

Banjir yang terjadi Sabtu pekan lalu memang cukup besar. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, banjir terjadi di 49 RT. Lima orang meninggal. 1.722 orang mengungsi.

Daerah yang terkena banjir antara lain Cipinang Melayu, Pasar Rebo, Pasar Minggu, Ragunan, Tebet, dan Kemang. Ketinggian air di beberapa daerah cukup parah, mencapai 2 meter. Di Kemang, saking tingginya banjir, banyak mobil hanyut terbawa arus air. Namun, daerah-daerah strategis di Ibu Kota tidak ikut kebanjiran.

Di zaman Ahok, juga terjadi banjir besar. Tepatnya Februari 2015. Saat itu, yang terdampak cukup luas, mencapai 615 RW. Yang mengungsi juga tinggi, mencapai 41.202 orang, korban meninggal lima orang.

Banjir tersebut tidak hanya terjadi di pinggiran, tapi sampai ke jantung kota. Istana Presiden, Jalan Sudirman-Thamrin, dan Bundaran Hotel Indonesia (HI), ikut terendam. Foto-foto banjir tersebut menyebar di dunia maya.

Meski begitu, masih banyak pihak yang meminta Anies belajar pada Ahok dalam upaya mengendalikan banjir. Contohnya, Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo. 

“Apa yang dilakukan Ahok harus dilanjutkan. Sehingga penataan Kota Jakarta dalam mengatasi masalah banjir itu menyeluruh, tidak parsial dan tidak sifatnya politis. Kalau sifatnya politis, nggak akan selesai-selesai,” ucapnya, dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube Rumah Kebudayaan Nusantara, Minggu (21/2).

Eks politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean juga ikut membanding-bandingkan. Kata dia, Ahok menunjukkan kerja keras dalam mengatasi banjir, sehingga minim cacian. Sedangkan Anies, tak bekerja. Makanya, saat banjir datang, cacian pun datang.

Plt Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Giring Ganesha ikut menyerang Anies. Dia menuding, Anies tak punya rencana menangani banjir. 

“Pada banjir kemarin, status pintu air di Bogor dan Depok normal. Artinya, banjir terjadi karena Mas Gubernur Anies tidak punya rencana dan cara yang jelas untuk mengatasinya,” tulis Giring, di akun Instagram @giring.

Menurut vokalis band Nidji tersebut, selama tiga tahun terakhir, Anies tidak pernah serius mengatasi banjir. Dia juga menuding Anies tidak punya kapabilitas mengelola Jakarta. “Naturalisasi sungai yang selalu digembar-gemborkan Mas Anies terbukti cuma konsep di atas kertas, tidak dikerjakan di lapangan, sementara normalisasi sungai dihapuskan,” lanjut Giring.

 

Giring juga menyebut, pihaknya tak melihat upaya Anies mengeruk sungai atau antisipasi lainnya sebelum banjir datang. “Ketika tindakan-tindakan itu tidak dilakukan, mustahil Jakarta bebas dari banjir. Padahal anggaran DKI Jakarta lebih dari cukup untuk membiayai itu semua,” lanjutnya.

Namun, banyak juga pihak yang membela Anies. Salah satunya Ketua DPP PAN Sigit Purnomo Syamsuddin alias Pasha Ungu. Secara khusus, dia membalas komentar Giring. Menurutnya, kritik Giring ke Anies terlalu naif dan kerdil.

“Saudaraku bro @giring yang terhormat. Saya izin komen di laman Pak Plt. Ketum PSI. Judgement Bro Ketum terkait kapabilitas Pak Gubernur @aniesbaswedan yang Bro anggap tidak mampu mengelola Jakarta, saya kira terlalu naif dan kerdil. Mengelola Jakarta tidak semudah Bro mengkritik di medsos,” tulis Pasha, dalam kolom komentar.

Pasha menyebut Giring tidak punya kapasitas untuk menilai kapabilitas Anies sebagai kepala daerah. Ia lantas menanyakan pengalaman Giring dalam memimpin suatu daerah.

“Apakah Bro Giring sudah pernah teruji mengelola sebuah kota/daerah atau bahkan kelurahan? Mohon maaf kalau saya keliru berpendapat Bro Ketum. Salam millenial! Hidup PSI! Salam hormat saya -Pasha- Ketua DPP PAN,” tulis Pasha.

Politisi senior PKS Hidayat Nur Wahid juga membela Anies. Dia khusus menanggapi pernyataan Benny Susetyo. 

“Benny S, dari @BPIPRI minta @aniesbaswedan belajar dari Ahok atasi banjir. Ahok dipanggil Presiden @jokowi karena banjir sentuh Istana, Anies nggak pernah,” katanya, dalam akun Twitter @hnurwahid, kemarin. [QAR]

]]> Banjir yang melanda sebagian wilayah Jakarta, akhir pekan kemarin, terus menjadi perdebatan panas. Bahkan, banyak pihak yang membanding-bandingkan banjir di era Anies Baswedan dengan era Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Emang lebih parah mana ya?

Banjir yang terjadi Sabtu pekan lalu memang cukup besar. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, banjir terjadi di 49 RT. Lima orang meninggal. 1.722 orang mengungsi.

Daerah yang terkena banjir antara lain Cipinang Melayu, Pasar Rebo, Pasar Minggu, Ragunan, Tebet, dan Kemang. Ketinggian air di beberapa daerah cukup parah, mencapai 2 meter. Di Kemang, saking tingginya banjir, banyak mobil hanyut terbawa arus air. Namun, daerah-daerah strategis di Ibu Kota tidak ikut kebanjiran.

Di zaman Ahok, juga terjadi banjir besar. Tepatnya Februari 2015. Saat itu, yang terdampak cukup luas, mencapai 615 RW. Yang mengungsi juga tinggi, mencapai 41.202 orang, korban meninggal lima orang.

Banjir tersebut tidak hanya terjadi di pinggiran, tapi sampai ke jantung kota. Istana Presiden, Jalan Sudirman-Thamrin, dan Bundaran Hotel Indonesia (HI), ikut terendam. Foto-foto banjir tersebut menyebar di dunia maya.

Meski begitu, masih banyak pihak yang meminta Anies belajar pada Ahok dalam upaya mengendalikan banjir. Contohnya, Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo. 

“Apa yang dilakukan Ahok harus dilanjutkan. Sehingga penataan Kota Jakarta dalam mengatasi masalah banjir itu menyeluruh, tidak parsial dan tidak sifatnya politis. Kalau sifatnya politis, nggak akan selesai-selesai,” ucapnya, dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube Rumah Kebudayaan Nusantara, Minggu (21/2).

Eks politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean juga ikut membanding-bandingkan. Kata dia, Ahok menunjukkan kerja keras dalam mengatasi banjir, sehingga minim cacian. Sedangkan Anies, tak bekerja. Makanya, saat banjir datang, cacian pun datang.

Plt Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Giring Ganesha ikut menyerang Anies. Dia menuding, Anies tak punya rencana menangani banjir. 

“Pada banjir kemarin, status pintu air di Bogor dan Depok normal. Artinya, banjir terjadi karena Mas Gubernur Anies tidak punya rencana dan cara yang jelas untuk mengatasinya,” tulis Giring, di akun Instagram @giring.

Menurut vokalis band Nidji tersebut, selama tiga tahun terakhir, Anies tidak pernah serius mengatasi banjir. Dia juga menuding Anies tidak punya kapabilitas mengelola Jakarta. “Naturalisasi sungai yang selalu digembar-gemborkan Mas Anies terbukti cuma konsep di atas kertas, tidak dikerjakan di lapangan, sementara normalisasi sungai dihapuskan,” lanjut Giring.

 

Giring juga menyebut, pihaknya tak melihat upaya Anies mengeruk sungai atau antisipasi lainnya sebelum banjir datang. “Ketika tindakan-tindakan itu tidak dilakukan, mustahil Jakarta bebas dari banjir. Padahal anggaran DKI Jakarta lebih dari cukup untuk membiayai itu semua,” lanjutnya.

Namun, banyak juga pihak yang membela Anies. Salah satunya Ketua DPP PAN Sigit Purnomo Syamsuddin alias Pasha Ungu. Secara khusus, dia membalas komentar Giring. Menurutnya, kritik Giring ke Anies terlalu naif dan kerdil.

“Saudaraku bro @giring yang terhormat. Saya izin komen di laman Pak Plt. Ketum PSI. Judgement Bro Ketum terkait kapabilitas Pak Gubernur @aniesbaswedan yang Bro anggap tidak mampu mengelola Jakarta, saya kira terlalu naif dan kerdil. Mengelola Jakarta tidak semudah Bro mengkritik di medsos,” tulis Pasha, dalam kolom komentar.

Pasha menyebut Giring tidak punya kapasitas untuk menilai kapabilitas Anies sebagai kepala daerah. Ia lantas menanyakan pengalaman Giring dalam memimpin suatu daerah.

“Apakah Bro Giring sudah pernah teruji mengelola sebuah kota/daerah atau bahkan kelurahan? Mohon maaf kalau saya keliru berpendapat Bro Ketum. Salam millenial! Hidup PSI! Salam hormat saya -Pasha- Ketua DPP PAN,” tulis Pasha.

Politisi senior PKS Hidayat Nur Wahid juga membela Anies. Dia khusus menanggapi pernyataan Benny Susetyo. 

“Benny S, dari @BPIPRI minta @aniesbaswedan belajar dari Ahok atasi banjir. Ahok dipanggil Presiden @jokowi karena banjir sentuh Istana, Anies nggak pernah,” katanya, dalam akun Twitter @hnurwahid, kemarin. [QAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories