Banjir Di Kecamatan Pebayuran Kabupaten Bekasi, 5 Rumah Hanyut

Kerusakan infrastruktur berupa tanggul jebol, memicu banjir beberapa desa di wilayah Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Banjir terpantau pada Minggu (21/2), pukul 01.00 WIB, dan menggenangi sejumlah desa. 

Berdasarkan laporan yang diterima Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Pusdalops BNPB) dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), banjir tersebut melanda 4 desa yang berada di Kecamatan Pebayuran. Yakni Desa Sukaurip, Karangsegar, Bantasari dan Sumber Urip.  

Dalam musibah banjir sedalam 100-250 cm itu, 5 unit rumah dilaporkan hanyut.

BPBD telah mengidentifikasi kebutuhan mendesak penanganan darurat, seperti bambu, karung, mie instan, air mineral, makanan siap saji, obat-obatan, vitamin, perahu evakuasi, mesin perahu, tali tambang dan lampu tembak.

Sementara itu, berdasarkan pantauan Tim Reaksi Cepat (TRC) BNPB banjir Kabupaten Karawang pada Sabtu (20/2) pukul 22.00 WIB, sebanyak 34 desa di 15 kecamatan terdampak banjir. Banjir yang antara lain disebabkan oleh hujan berintensitas tinggi dan luapan Sungai Citarum itu menggenangi Kecamatan Rengasdengklok, Telukjambe Barat, Tirtajaya, Pedes, Cikampek, Purwasari, Ciampel, Pangkalan, Klari, Tempuran, Tirtamulya, Jatisari, Rawamerta, Karawang Barat dan Cilamaya Wetan.

Warga terdampak mencapai 9.331 KK atau 28.329 jiwa, sedangkan 1.075 KK atau 4.184 jiwa mengungsi. Banjir mengakibatkan 8.539 unit rumah terendam, dan sejumlah infrastruktur terdampak. Petugas di lapangan masih terus melakukan pendataan lanjutan.

Merespons banjir tersebut, BPBD Kabupaten Karawang bersama TNI, Polri dan organisais perangkat daerah terkait serta sukarelawan membantu evakuasi warga di lokasi terdampak. BPBD juga mengoperasikan dapur umum, untuk penyediaan kebutuhan nutrisi warga terdampak.

Tak semua warga mengungsi menuju titik pengungsi. Sebagian mengungsi ke rumah kerabat, masjid dan hotel. Sedangkan BNPB telah memberikan dukungan berupa pendampingan pos komando penanganan banjir, bantuan dana siap pakai sebesar Rp 250 juta, masker 10 ribu buah, selimut 80 buah dan lampu garam 300 buah.

BNPB juga mendukung 1 perahu karet dan 10 buah pelampung yang dibutuhkan untuk mengevakuasi warga.

Pemerintah Kabupaten Karawang sebelumnya telah menetapkan status tanggap darurat bencana banjir terhitung 8 Februari hingga 21 Februari 2021. Dengan kondisi saat ini, pemerintah daerah akan memperpanjang hingga 14 hari ke depan.

Kondisi terakhir, banjir terpantau masih menggenangi rumah-rumah warga. Penerangan listrik PLN dan suplai air dari PDM di Kabupaten Karawang, masih dalam kondisi padam. Jumlah masyarakat terdampak, pengungsi dan pelayanan dapur umum yang dikelola secara mandiri oleh warga juga nelum terdata semua.

Kepala BNPB Doni Monardo dijadwalkan meninjau kondisi dampak banjir di wilayah Karawang dan Bekasi pada hari ini, Minggu (21/2). [HES]

]]> Kerusakan infrastruktur berupa tanggul jebol, memicu banjir beberapa desa di wilayah Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Banjir terpantau pada Minggu (21/2), pukul 01.00 WIB, dan menggenangi sejumlah desa. 

Berdasarkan laporan yang diterima Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Pusdalops BNPB) dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), banjir tersebut melanda 4 desa yang berada di Kecamatan Pebayuran. Yakni Desa Sukaurip, Karangsegar, Bantasari dan Sumber Urip.  

Dalam musibah banjir sedalam 100-250 cm itu, 5 unit rumah dilaporkan hanyut.

BPBD telah mengidentifikasi kebutuhan mendesak penanganan darurat, seperti bambu, karung, mie instan, air mineral, makanan siap saji, obat-obatan, vitamin, perahu evakuasi, mesin perahu, tali tambang dan lampu tembak.

Sementara itu, berdasarkan pantauan Tim Reaksi Cepat (TRC) BNPB banjir Kabupaten Karawang pada Sabtu (20/2) pukul 22.00 WIB, sebanyak 34 desa di 15 kecamatan terdampak banjir. Banjir yang antara lain disebabkan oleh hujan berintensitas tinggi dan luapan Sungai Citarum itu menggenangi Kecamatan Rengasdengklok, Telukjambe Barat, Tirtajaya, Pedes, Cikampek, Purwasari, Ciampel, Pangkalan, Klari, Tempuran, Tirtamulya, Jatisari, Rawamerta, Karawang Barat dan Cilamaya Wetan.

Warga terdampak mencapai 9.331 KK atau 28.329 jiwa, sedangkan 1.075 KK atau 4.184 jiwa mengungsi. Banjir mengakibatkan 8.539 unit rumah terendam, dan sejumlah infrastruktur terdampak. Petugas di lapangan masih terus melakukan pendataan lanjutan.

Merespons banjir tersebut, BPBD Kabupaten Karawang bersama TNI, Polri dan organisais perangkat daerah terkait serta sukarelawan membantu evakuasi warga di lokasi terdampak. BPBD juga mengoperasikan dapur umum, untuk penyediaan kebutuhan nutrisi warga terdampak.

Tak semua warga mengungsi menuju titik pengungsi. Sebagian mengungsi ke rumah kerabat, masjid dan hotel. Sedangkan BNPB telah memberikan dukungan berupa pendampingan pos komando penanganan banjir, bantuan dana siap pakai sebesar Rp 250 juta, masker 10 ribu buah, selimut 80 buah dan lampu garam 300 buah.

BNPB juga mendukung 1 perahu karet dan 10 buah pelampung yang dibutuhkan untuk mengevakuasi warga.

Pemerintah Kabupaten Karawang sebelumnya telah menetapkan status tanggap darurat bencana banjir terhitung 8 Februari hingga 21 Februari 2021. Dengan kondisi saat ini, pemerintah daerah akan memperpanjang hingga 14 hari ke depan.

Kondisi terakhir, banjir terpantau masih menggenangi rumah-rumah warga. Penerangan listrik PLN dan suplai air dari PDM di Kabupaten Karawang, masih dalam kondisi padam. Jumlah masyarakat terdampak, pengungsi dan pelayanan dapur umum yang dikelola secara mandiri oleh warga juga nelum terdata semua.

Kepala BNPB Doni Monardo dijadwalkan meninjau kondisi dampak banjir di wilayah Karawang dan Bekasi pada hari ini, Minggu (21/2). [HES]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories