Bangun Kapasitas Petani Kopi Subang, LPEI Luncurkan Desa Devisa

Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank komitmen mendorong komoditas unggulan desa, melalui program Desa Devisa untuk dikembangkan kapasitasnya berorientasi ekspor.

Desa Devisa di Indonesia menjadi salah satu program yang dipelopori untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing komoditas yang dihasilkan wilayah sekitarnya.

Program Desa Devisa yang memberikan pendampingan dan pengembangan kapasitas pelaku usaha berorientasi ekspor hari ini mencatatkan sejarah dengan meluncurkan Desa Devisa ketiga di Indonesia berlokasi di Kabupaten Subang, Jawa Barat, di mana hari ini bertepatan dengan Hari Koperasi.

Direktur Eksekutif LPEI, D. James Rompas mengaku sangat optimistis dengan kerja sama ini. Pihaknya yakin, dengan potensi Subang dengan komoditas kopinya dan berharap melalui program pelatihan selama enam bulan ke depan dapat meningkatkan kapasitas petani. Sehingga kualitas biji kopinya juga dapat memenuhi kebutuhan ekspor.

“Kami juga berharap, kolaborasi yang terjalin antara Koperasi Gunung Luhur Berkah dan Pemda Subang dapat menjadi salah satu solusi awal di tengah kondisi pandemi yang kita hadapi,” tegasnya dalam acara peluncuran Desa Devisa Kopi Subang yang diselenggarakan secara virtual, Senin (12/7).

James mengatakan, program yang berbasis pemberdayaan masyarakat ini akan mendorong kemandirian petani kopi melalui rangkaian pelatihan, pendampingan serta pemanfaatan jasa konsultasi. Sehingga mampu merambah pasar ekspor kopi dunia dengan produk berkualitas.

 

Para petani kopi yang jumlahnya lebih dari 200 orang dan bernaung di bawah binaan Koperasi Gunung Luhur Berkah di Subang ini akan mendapatkan program pelatihan dan pendampingan selama enam bulan ke depan.

Programnya meliputi pelatihan mengenai teknik budidaya dan pengolahan kopi, perluasan akses pasar ekspor, penyusunan laporan keuangan, dan peningkatan kapasitas produksi, dan LPEI akan bekerja sama dengan Koperasi Gunung Luhur Berkah (GLB) dalam proses pendampingan.

Pendampingan akan diberikan kepada petani di enam desa yaitu Cisalak, Nagrak, Cupunagara, Darmaga, Sukakerti, dan Pasanggrahan dengan produk unggulan kopi Arabika (Java Preanger) dan Robusta.

Adapun penerima manfaat langsung dari program pendampingan ini mencapai 208 petani kopi. Kapasitas produksi keenam desa mencapai lebih dari 100 ton biji kopi setiap tahunnya dengan luas kebun 140 hektar.

James menegaskan, kolaborasi menjadi kunci keberhasilan program Desa Devisa. LPEI pun mendorong kolaborasi kuat di mana pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat berbagi tanggung jawab, menghadirkan soluasi nyata dan berkelanjutan.

“Kemitraan yang dijalankan LPEI lebih dari sekadar hubungan finansial, namun bagaimana melibatkan masyarakat dan dunia usaha, sebagai model bisnis,” ucapnya.

Sementara itu Ketua Koperasi GLB, Miftahudin Shaf menuturkan, masyarakat telah bertani kopi dalam jangka waktu yang panjang dan tidak pernah terbayang bahwa produknya dapat diekspor.

“Kami tentu berharap dengan program Desa Devisa, kopi kita dapat diekspor, terkenal hingga mancanegara dan petani dapat merasakan manfaat ekonomi dan sosial secara langsung,” ujarnya di kesempatan yang sama.

Saat ini, komoditas kopi yang dikelola GLB telah melakukan ekspor internasional ke beberapa negara seperti Taiwan, Korea Selatan (Korsel) dan Australia. Bahkan dalam waktu dekat, kopi GLB juga akan diekspor ke Arab Saudi sekitar 150 ton kopi.

Bupati Subang, Ruhimat mengapresiasi program yang diinisiasi oleh LPEI. Ia mengatakan, segala upaya dari seluruh pihak untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Subang sangat berarti bagi daerahnya.

“Kami berharap melalui Desa Devisa menjadi program yang berkelanjutan, kopi Subang dapat mendunia dan menjadi jalan untuk terciptanya Subang Jawara yaitu jaya, istimewa dan sejahtera,” katanya.

Sekadar informasi Program Desa Devisa membangun sinergi yang mengedepankan aspek koordinasi antar lembaga. Selain dengan pemerintah daerah dan koperasi setempat, LPEI juga bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (DJPEN) dalam proses penjajakan Desa Devisa Kopi Subang.

Kolaborasi sejumlah institusi pusat dan daerah ini juga diharapkan dapat memperkuat program pendampingan yang akan diberikan.

Sebelumnya, LPEI telah berhasil membentuk dua Desa Devisa yaitu Desa Devisa Kakao di Jembrana, Bali dengan komoditas unggulan berupa biji kakao yang difermentasi. Selanjutnya Desa Devisa Kerajinan di Bantul, Yogyakarta dengan produk kerajinan ramah lingkungan yang telah mampu melakukan ekspor secara berkelanjutan ke Eropa.

Kesuksesan pada dua desa tersebut dapat diduplikasi oleh Desa Devisa Kopi Subang. Sehingga diharapkan, produk lokal Indonesia dapat mendunia serta memberikan dampak positif terhadap peningkatan ekonomi, sosial dan lingkungan bagi masyarakat setempat. [DWI]

]]> Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank komitmen mendorong komoditas unggulan desa, melalui program Desa Devisa untuk dikembangkan kapasitasnya berorientasi ekspor.

Desa Devisa di Indonesia menjadi salah satu program yang dipelopori untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing komoditas yang dihasilkan wilayah sekitarnya.

Program Desa Devisa yang memberikan pendampingan dan pengembangan kapasitas pelaku usaha berorientasi ekspor hari ini mencatatkan sejarah dengan meluncurkan Desa Devisa ketiga di Indonesia berlokasi di Kabupaten Subang, Jawa Barat, di mana hari ini bertepatan dengan Hari Koperasi.

Direktur Eksekutif LPEI, D. James Rompas mengaku sangat optimistis dengan kerja sama ini. Pihaknya yakin, dengan potensi Subang dengan komoditas kopinya dan berharap melalui program pelatihan selama enam bulan ke depan dapat meningkatkan kapasitas petani. Sehingga kualitas biji kopinya juga dapat memenuhi kebutuhan ekspor.

“Kami juga berharap, kolaborasi yang terjalin antara Koperasi Gunung Luhur Berkah dan Pemda Subang dapat menjadi salah satu solusi awal di tengah kondisi pandemi yang kita hadapi,” tegasnya dalam acara peluncuran Desa Devisa Kopi Subang yang diselenggarakan secara virtual, Senin (12/7).

James mengatakan, program yang berbasis pemberdayaan masyarakat ini akan mendorong kemandirian petani kopi melalui rangkaian pelatihan, pendampingan serta pemanfaatan jasa konsultasi. Sehingga mampu merambah pasar ekspor kopi dunia dengan produk berkualitas.

 

Para petani kopi yang jumlahnya lebih dari 200 orang dan bernaung di bawah binaan Koperasi Gunung Luhur Berkah di Subang ini akan mendapatkan program pelatihan dan pendampingan selama enam bulan ke depan.

Programnya meliputi pelatihan mengenai teknik budidaya dan pengolahan kopi, perluasan akses pasar ekspor, penyusunan laporan keuangan, dan peningkatan kapasitas produksi, dan LPEI akan bekerja sama dengan Koperasi Gunung Luhur Berkah (GLB) dalam proses pendampingan.

Pendampingan akan diberikan kepada petani di enam desa yaitu Cisalak, Nagrak, Cupunagara, Darmaga, Sukakerti, dan Pasanggrahan dengan produk unggulan kopi Arabika (Java Preanger) dan Robusta.

Adapun penerima manfaat langsung dari program pendampingan ini mencapai 208 petani kopi. Kapasitas produksi keenam desa mencapai lebih dari 100 ton biji kopi setiap tahunnya dengan luas kebun 140 hektar.

James menegaskan, kolaborasi menjadi kunci keberhasilan program Desa Devisa. LPEI pun mendorong kolaborasi kuat di mana pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat berbagi tanggung jawab, menghadirkan soluasi nyata dan berkelanjutan.

“Kemitraan yang dijalankan LPEI lebih dari sekadar hubungan finansial, namun bagaimana melibatkan masyarakat dan dunia usaha, sebagai model bisnis,” ucapnya.

Sementara itu Ketua Koperasi GLB, Miftahudin Shaf menuturkan, masyarakat telah bertani kopi dalam jangka waktu yang panjang dan tidak pernah terbayang bahwa produknya dapat diekspor.

“Kami tentu berharap dengan program Desa Devisa, kopi kita dapat diekspor, terkenal hingga mancanegara dan petani dapat merasakan manfaat ekonomi dan sosial secara langsung,” ujarnya di kesempatan yang sama.

Saat ini, komoditas kopi yang dikelola GLB telah melakukan ekspor internasional ke beberapa negara seperti Taiwan, Korea Selatan (Korsel) dan Australia. Bahkan dalam waktu dekat, kopi GLB juga akan diekspor ke Arab Saudi sekitar 150 ton kopi.

Bupati Subang, Ruhimat mengapresiasi program yang diinisiasi oleh LPEI. Ia mengatakan, segala upaya dari seluruh pihak untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Subang sangat berarti bagi daerahnya.

“Kami berharap melalui Desa Devisa menjadi program yang berkelanjutan, kopi Subang dapat mendunia dan menjadi jalan untuk terciptanya Subang Jawara yaitu jaya, istimewa dan sejahtera,” katanya.

Sekadar informasi Program Desa Devisa membangun sinergi yang mengedepankan aspek koordinasi antar lembaga. Selain dengan pemerintah daerah dan koperasi setempat, LPEI juga bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (DJPEN) dalam proses penjajakan Desa Devisa Kopi Subang.

Kolaborasi sejumlah institusi pusat dan daerah ini juga diharapkan dapat memperkuat program pendampingan yang akan diberikan.

Sebelumnya, LPEI telah berhasil membentuk dua Desa Devisa yaitu Desa Devisa Kakao di Jembrana, Bali dengan komoditas unggulan berupa biji kakao yang difermentasi. Selanjutnya Desa Devisa Kerajinan di Bantul, Yogyakarta dengan produk kerajinan ramah lingkungan yang telah mampu melakukan ekspor secara berkelanjutan ke Eropa.

Kesuksesan pada dua desa tersebut dapat diduplikasi oleh Desa Devisa Kopi Subang. Sehingga diharapkan, produk lokal Indonesia dapat mendunia serta memberikan dampak positif terhadap peningkatan ekonomi, sosial dan lingkungan bagi masyarakat setempat. [DWI]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories