Balapan Di Padang Kurusetra

Perhelatan balapan Formula E digelar di Jakarta, Sabtu kemarin. Hal ini menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia telah bangkit dari pandemi dan peduli terhadap lingkungan. Jakarta EPrix mengusung tema “We Go Green” sangat strategis untuk menjawab isu-isu global bagaimana menurunkan emisi karbon dan menjaga keseimbangan lingkungan. Memasuki era “Global Warming” pembangunan berkesinambungan atau sustain development akan terwujud jika kita mampu menjaga keseimbangan alam termasuk menekan laju gas rumah kaca.

“Tapi, yang ramai justru isu sponsorship dan membandingkan jumlah penonton, Mo,” celetuk Petruk, cengengesan. Romo Semar mesem tidak mau komentar banyak menanggapi kegalauan anaknya Petruk. Setelah kita sukses menggelar MotoGp di Mandalika dua bulan lalu, mestinya kita bangga dengan suksesnya event internasional Formula E ini. Bukan malah sebaliknya, rakyat dibenturkan dan terbelah untuk saling mencela kedua ajang sportainment tersebut.

Kopi pahit dan pisang rebus dibiarkan dingin. Romo Semar kurang semangat untuk menyeruput kopi pahit buatan istrinya Dewi Kanestren. Kepulan asap rokok klobot menggoda Romo Semar untuk nimbrung komentar tentang perilaku para elite politik. Maraknya perilaku nggege mongso lan rumongso biso dalam memasuki tahun politik saat ini. Kebulatan tekad dan saling mendukung hampir terjadi di mana-mana. Romo Semar flashback ke zaman Mahabarata di mana padang Kurusetra terbelah dalam dua kekuatan besar. Yaitu kelompok penyuka dan pembenci. Kelompok penyuka atau lover melakukan hal-hal yang dinilai baik. Sedangkan hater akan terus membenci dan cenderung mencari kelemahan pihak lawan.

Kocap kacarito, Perang Baratayuda sudah memasuki hari kelima belas. Adipati Karna maju sebagai senopati dari pihak Kurawa. Sedangkan Arjuna mewakili Pandawa untuk menghadapi Adipati Karna. Kedua anak Dewi Kunti akhirnya bertemu dalam perang saudara untuk memperebutkan tahta Hastina dan Indraprasta. Sebagai saudara yang lebih muda, Arjuna turun kereta memberikan sembah dan hormat kepada Karna sebelum perang tanding. Arjuna menawarkan kepada Karna untuk mau bergabung kepada Pandawa. Tapi Karna justru menolak dengan keras. Menurut Karna keberadaannya di pihak Kurawa justru mendorong Duryudana berani maju ke medan perang. Dengan adanya Adipati Karna di pihak Kurawa berfungsi sebagai penyeimbang kekuatan Pandawa.

 

Prabu Salya sebagai kusir kereta adipati Karna. Sedangkan Arjuna dibantu Prabu Kresna untuk mengendalikan laju keretanya. Kedua senopati perang panah dari atas kereta. Kedua kereta saling kejar dan berputar ibarat balapan tanpa terkendali. Serangan panah Karna dapat dibendung oleh Arjuna. Begitu sebaliknya hujan panah dari jemparing Arjuna dapat dikembalikan Karna.

Dalam keadaan genting, tiba-tiba muncul seekor naga besar di angkasa mengganggu jalannya perang Baratayuda. Ular besar bernama Hardawalika merupakan jelmaan siluman musuh bebuyutan Arjuna. Tanpa membuang waktu Arjuna melepas panah sakti ke angkasa. Hardawalika tewas seketika oleh panah Arjuna. Kematian ular raksasa di tengah medan perang membuat panik pasukan Kurawa. Dalam kepanikan itulah Arjuna berhasil melepaskan senjata pamungkas Pasopati dan tepat mengenai leher Adipati Karna.

“Adipati Karna gugur sebagai kusuma bangsa, Mo. Walaupun berbeda ideologi politik dengan Arjuna,” sela Petruk, membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Berbeda haluan politik hal yang lumrah dalam berdemokrasi. Tapi jangan sampai membenturkan kepentingan yang lebih besar,” jawab Semar pendek. Tujuan berpolitik bukan berebut kue kekuasaan semata. Akan tetapi tujuan berpolitik untuk mensejahterakan rakyat. [Oye]

]]> Perhelatan balapan Formula E digelar di Jakarta, Sabtu kemarin. Hal ini menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia telah bangkit dari pandemi dan peduli terhadap lingkungan. Jakarta EPrix mengusung tema “We Go Green” sangat strategis untuk menjawab isu-isu global bagaimana menurunkan emisi karbon dan menjaga keseimbangan lingkungan. Memasuki era “Global Warming” pembangunan berkesinambungan atau sustain development akan terwujud jika kita mampu menjaga keseimbangan alam termasuk menekan laju gas rumah kaca.

“Tapi, yang ramai justru isu sponsorship dan membandingkan jumlah penonton, Mo,” celetuk Petruk, cengengesan. Romo Semar mesem tidak mau komentar banyak menanggapi kegalauan anaknya Petruk. Setelah kita sukses menggelar MotoGp di Mandalika dua bulan lalu, mestinya kita bangga dengan suksesnya event internasional Formula E ini. Bukan malah sebaliknya, rakyat dibenturkan dan terbelah untuk saling mencela kedua ajang sportainment tersebut.

Kopi pahit dan pisang rebus dibiarkan dingin. Romo Semar kurang semangat untuk menyeruput kopi pahit buatan istrinya Dewi Kanestren. Kepulan asap rokok klobot menggoda Romo Semar untuk nimbrung komentar tentang perilaku para elite politik. Maraknya perilaku nggege mongso lan rumongso biso dalam memasuki tahun politik saat ini. Kebulatan tekad dan saling mendukung hampir terjadi di mana-mana. Romo Semar flashback ke zaman Mahabarata di mana padang Kurusetra terbelah dalam dua kekuatan besar. Yaitu kelompok penyuka dan pembenci. Kelompok penyuka atau lover melakukan hal-hal yang dinilai baik. Sedangkan hater akan terus membenci dan cenderung mencari kelemahan pihak lawan.

Kocap kacarito, Perang Baratayuda sudah memasuki hari kelima belas. Adipati Karna maju sebagai senopati dari pihak Kurawa. Sedangkan Arjuna mewakili Pandawa untuk menghadapi Adipati Karna. Kedua anak Dewi Kunti akhirnya bertemu dalam perang saudara untuk memperebutkan tahta Hastina dan Indraprasta. Sebagai saudara yang lebih muda, Arjuna turun kereta memberikan sembah dan hormat kepada Karna sebelum perang tanding. Arjuna menawarkan kepada Karna untuk mau bergabung kepada Pandawa. Tapi Karna justru menolak dengan keras. Menurut Karna keberadaannya di pihak Kurawa justru mendorong Duryudana berani maju ke medan perang. Dengan adanya Adipati Karna di pihak Kurawa berfungsi sebagai penyeimbang kekuatan Pandawa.

 

Prabu Salya sebagai kusir kereta adipati Karna. Sedangkan Arjuna dibantu Prabu Kresna untuk mengendalikan laju keretanya. Kedua senopati perang panah dari atas kereta. Kedua kereta saling kejar dan berputar ibarat balapan tanpa terkendali. Serangan panah Karna dapat dibendung oleh Arjuna. Begitu sebaliknya hujan panah dari jemparing Arjuna dapat dikembalikan Karna.

Dalam keadaan genting, tiba-tiba muncul seekor naga besar di angkasa mengganggu jalannya perang Baratayuda. Ular besar bernama Hardawalika merupakan jelmaan siluman musuh bebuyutan Arjuna. Tanpa membuang waktu Arjuna melepas panah sakti ke angkasa. Hardawalika tewas seketika oleh panah Arjuna. Kematian ular raksasa di tengah medan perang membuat panik pasukan Kurawa. Dalam kepanikan itulah Arjuna berhasil melepaskan senjata pamungkas Pasopati dan tepat mengenai leher Adipati Karna.

“Adipati Karna gugur sebagai kusuma bangsa, Mo. Walaupun berbeda ideologi politik dengan Arjuna,” sela Petruk, membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Berbeda haluan politik hal yang lumrah dalam berdemokrasi. Tapi jangan sampai membenturkan kepentingan yang lebih besar,” jawab Semar pendek. Tujuan berpolitik bukan berebut kue kekuasaan semata. Akan tetapi tujuan berpolitik untuk mensejahterakan rakyat. [Oye]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories