Bakal Panen Dalam Waktu Dekat Mendag Jamin Harga Cabe Segera Turun

Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus memantau perkembangan harga dan ketersediaan barang kebutuhan pokok secara harian. Termasuk cabe, yang harganya naik di pasaran.

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menyatakan, harga sebagian barang pangan su­dah berangsur turun jika dibanding Lebaran, kecuali untuk produk hortikultura. Salah satunya cabe.

Meski begitu, Lutfi meminta masyarakat tak perlu khawatir dengan kenaikan harga cabe di pasaran. Dia memastikan, dalam beberapa pekan ke depan, harga cabe bakal turun.

“Kami harapkan harga akan segera turun, seiring panen da­lam beberapa minggu ke depan,” kata Lutfi dalam keterangan resminya, Kamis (9/6).

Menurut Lutfi, kenaikan produk hortikultura, khususnya cabe, salah satunya disebabkan curah hujan yang masih tinggi di beberapa daerah.

Meski ada kenaikan, Lutfi menjamin, Pemerintah akan terus memastikan kecukupan stok barang kebutuhan pokok agar masyarakat mendapat harga yang terjangkau.

“Harga akan normal lagi, ke­marin kan sempat Rp 60 ribu,” imbuhnya.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Per­dagangan (Kemendag) Oke Nur­wan mengatakan, harga cabe yang meningkat nyaris dua kali lipat dari harga normal, disebabkan pa­sokan harian cabe secara nasional di bawah kondisi normal.

Hal itu mengakibatkan kenaikan harga yang sangat memberat­kan konsumen.

Oke membeberkan, rata-rata stok indikator komoditas cabe sebanyak 358,89 ton per hari. Pasokan tersebut sekitar 7,02 persen di bawah jumlah pasokan cabe dalam kondisi normal.

”Kondisi ini diduga karena curah hujan tinggi dan serangan penyakit anthracnose di sentra produksi cabe di Tuban, Blitar, dan Kediri, yang menyebabkan panen berkurang signifikan,” ujar Oke di Jakarta, Rabu (8/6).

Kenaikan harga paling tinggi terdapat pada jenis cabe rawit merah. Secara rata-rata nasional, Kemendag mencatat harga cabe rawit merah mencapai Rp 76.500 per kilogram (kg) atau naik 60,7 persen dari bulan lalu.

 

Bahkan, di beberapa pasar tra­disional di Jakarta, harganya bisa mencapai Rp 100 ribu per kg.

Berdasarkan pantauan Rakyat Merdeka, di situs web Informasi Pangan Jakarta, Jumat (10/6), harga cabe masih tinggi.

Cabe rawit merah menempati posisi tertinggi dengan harga jual Rp 120 ribu di Pasar Ka­libaru. Padahal di saat normal, cabe rawit merah dijual Rp 40 ribu sampai Rp 60 ribu per kg.

Untuk cabe merah keriting, harga tertinggi di Pasar Jembatan Merah dengan harga jual Rp 90 ribu per kg. Harga normalnya di kisaran Rp 40 ribu per kg.

Untuk harga cabe merah TW tertinggi dijual Rp 90 ribu per kg di Pasar Sunter Podomoro. Harga normalnya Rp 50 ribu per kg.

Dan harga cabe rawit hijau tertinggi dijual di Pasar Pondok Labu dengan harga Rp 100 ribu per kg. Biasanya cabe jenis ini dijual Rp 40 ribu per kg.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdul­lah Mansuri mengatakan, untuk mensiasati kenaikan harga cabe, pedagang biasanya mencampur cabe rawit merah dengan cabe rawit hijau.

“Kami jelaskan ke pembeli, ini dicampur untuk menekan harga jual agar pelanggan tidak kabur. Setelah kita jelaskan, mereka mau mengerti,” kata Mansuri.

Dia juga mengungkapkan, tingginya harga cabe di pasar tradisional hingga pasar modern karena produksi yang lebih sedikit dibandingkan permintaan.

Ditambah lagi, data stok pangan berbeda dengan fakta di lapangan, sehingga disparitas harga harus segera diatasi karena sebentar lagi memasuki Idul Adha.

“Permintaan akan tinggi dan harga-harga di pasar terus berge­jolak,” ucap Mansuri. [NOV]

]]> Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus memantau perkembangan harga dan ketersediaan barang kebutuhan pokok secara harian. Termasuk cabe, yang harganya naik di pasaran.

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menyatakan, harga sebagian barang pangan su­dah berangsur turun jika dibanding Lebaran, kecuali untuk produk hortikultura. Salah satunya cabe.

Meski begitu, Lutfi meminta masyarakat tak perlu khawatir dengan kenaikan harga cabe di pasaran. Dia memastikan, dalam beberapa pekan ke depan, harga cabe bakal turun.

“Kami harapkan harga akan segera turun, seiring panen da­lam beberapa minggu ke depan,” kata Lutfi dalam keterangan resminya, Kamis (9/6).

Menurut Lutfi, kenaikan produk hortikultura, khususnya cabe, salah satunya disebabkan curah hujan yang masih tinggi di beberapa daerah.

Meski ada kenaikan, Lutfi menjamin, Pemerintah akan terus memastikan kecukupan stok barang kebutuhan pokok agar masyarakat mendapat harga yang terjangkau.

“Harga akan normal lagi, ke­marin kan sempat Rp 60 ribu,” imbuhnya.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Per­dagangan (Kemendag) Oke Nur­wan mengatakan, harga cabe yang meningkat nyaris dua kali lipat dari harga normal, disebabkan pa­sokan harian cabe secara nasional di bawah kondisi normal.

Hal itu mengakibatkan kenaikan harga yang sangat memberat­kan konsumen.

Oke membeberkan, rata-rata stok indikator komoditas cabe sebanyak 358,89 ton per hari. Pasokan tersebut sekitar 7,02 persen di bawah jumlah pasokan cabe dalam kondisi normal.

”Kondisi ini diduga karena curah hujan tinggi dan serangan penyakit anthracnose di sentra produksi cabe di Tuban, Blitar, dan Kediri, yang menyebabkan panen berkurang signifikan,” ujar Oke di Jakarta, Rabu (8/6).

Kenaikan harga paling tinggi terdapat pada jenis cabe rawit merah. Secara rata-rata nasional, Kemendag mencatat harga cabe rawit merah mencapai Rp 76.500 per kilogram (kg) atau naik 60,7 persen dari bulan lalu.

 

Bahkan, di beberapa pasar tra­disional di Jakarta, harganya bisa mencapai Rp 100 ribu per kg.

Berdasarkan pantauan Rakyat Merdeka, di situs web Informasi Pangan Jakarta, Jumat (10/6), harga cabe masih tinggi.

Cabe rawit merah menempati posisi tertinggi dengan harga jual Rp 120 ribu di Pasar Ka­libaru. Padahal di saat normal, cabe rawit merah dijual Rp 40 ribu sampai Rp 60 ribu per kg.

Untuk cabe merah keriting, harga tertinggi di Pasar Jembatan Merah dengan harga jual Rp 90 ribu per kg. Harga normalnya di kisaran Rp 40 ribu per kg.

Untuk harga cabe merah TW tertinggi dijual Rp 90 ribu per kg di Pasar Sunter Podomoro. Harga normalnya Rp 50 ribu per kg.

Dan harga cabe rawit hijau tertinggi dijual di Pasar Pondok Labu dengan harga Rp 100 ribu per kg. Biasanya cabe jenis ini dijual Rp 40 ribu per kg.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdul­lah Mansuri mengatakan, untuk mensiasati kenaikan harga cabe, pedagang biasanya mencampur cabe rawit merah dengan cabe rawit hijau.

“Kami jelaskan ke pembeli, ini dicampur untuk menekan harga jual agar pelanggan tidak kabur. Setelah kita jelaskan, mereka mau mengerti,” kata Mansuri.

Dia juga mengungkapkan, tingginya harga cabe di pasar tradisional hingga pasar modern karena produksi yang lebih sedikit dibandingkan permintaan.

Ditambah lagi, data stok pangan berbeda dengan fakta di lapangan, sehingga disparitas harga harus segera diatasi karena sebentar lagi memasuki Idul Adha.

“Permintaan akan tinggi dan harga-harga di pasar terus berge­jolak,” ucap Mansuri. [NOV]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories