Baca Nih Ya…, Buku Panduan Dari Satgas Tangkal Gangguan Jiwa

Pandemi Covid-19 tak cuma mengancam kesehatan fisik. Tapi juga kesehatan jiwa. Hal ini disadari pemerintah. Agar kesehatan jiwa tetap stabil, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 meluncurkan buku panduan kesehatan jiwa pada masa pandemi.

Juru Bicara Pemerintah Covid-19, dr Reisa Broto Asmoro mengungkapkan, buku panduan kesehatan jiwa diluncurkan karena banyak beban psikolo­gis yang dihadapi masyarakat selama setahun ini. Sebagian masyarakat terlalu lama di ru­mah, sehingga memicu emosi yang tinggi. Kemudian, ruang gerak dan interaksi terbatas, hingga membahayakan kesehatan jiwa dan berdampak pada kesehatan fisik.

“Pemerintah serius memperha­tikan kesehatan jiwa,” ujar Reisa, dalam keterangan pers secara virtual, yang dikutip kemarin.

Dalam buku panduan yang dapat diakses secara online melalui www.s.id/sehatjiwa itu, terdapat empat bagian penting panduan kesehatan jiwa. Bagian pertama, cara menghadapi orang dengan masalah kesehatan jiwa sebagai pengobatan. Kedua, cara menghadapi orang yang pulih dari kesehatan jiwa.

Lalu ketiga, cara menghadapi orang yang rentan kesehatan jiwa. Di bagian terakhir, cara menjadi orang yang kuat secara mental dan menjadi promotor kesehatan jiwa pada masa pandemi.

“Ahli yang menyusun buku panduan tersebut memperhatikan munculnya rasa bosan, jenuh, dan cemas di masyarakat dalam menghadapi pandemi,” imbuh dokter lulusan Universitas Pelita Harapan (UPH) ini.

Reisa mengingatkan, keluarga adalah jawaban atas persoalan kesehatan jiwa di masa pandemi. Penting untuk mengubah cara komunikasi dalam keluarga di masa pandemi. Caranya, dengan meningkatkan intensitas obrolan dalam suasana nyaman dan rileks. “Ingat, harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah ke­luarga,” tuturnya, menyitir lirik soundtrack sinetron Keluarga Cemara.

Secara terpisah, Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Sonny Harry B Harmadi me­nyatakan, keluarga punya peran kunci untuk menjaga kesehatan jiwa selama pandemi Covid-19. Keluarga, bisa mencegah anggota keluarganya mengalami stres, tekanan, dan bosan akibat pandemi Covid-19.

“Untuk menjaga kesehatan fisik dan jiwa, keluarga memiliki peran yang pertama dan utama. Keluarga adalah lingkungan terdekat dan menjadi support system yang penting bagi seluruh anggota keluarga,” ujarnya.

Sonny mengatakan, kesehatan fisik maupun kesehatan jiwa saling mempengaruhi. Fisik yang sehat akan berdampak pada jiwa yang sehat. Sebaliknya, jiwa yang sehat akan berdampak pada fisik yang sehat.

Pandemi Covid-19, yang telah mengubah tatanan kehidupan manusia di seluruh dunia, me­maksa semua orang beradaptasi dengan keadaan. Aktivitas dan mobilitas orang terbatas, sehingga ada kecenderungan tidak hanya kesehatan fisik saja yang teran­cam, tetapi juga kesehatan jiwa. “Karena itu, keluarga tangguh harus dibangun,” imbau Sonny.

Ada beberapa hal yang bisa di­lakukan keluarga untuk menjaga kesehatan jiwa. Pertama, melihat apa yang dibutuhkan anggota keluarga. Kedua, mendengarkan keluhan anggota keluarga.

Kemudian ketiga, memberi rasa nyaman dan membantu agar anggota keluarga menjadi tenang.

Terakhir, keempat, membantu anggota keluarga terhubung dengan berbagai alternatif serta solusi yang dibutuhkan. “Lindungi dari situasi lebih buruk, kemudian mengelola harapan,” tandasnya.

Sementara Direktur Centre for Public Mental Health Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Diana Setiyawati, MHSc Psy, PhD mengatakan, ilmu kesehatan sebelumnya berpikir, penyakit fisik bisa ber­dampak pada kesehatan psikis. Namun, riset terbaru menun­jukkan, penyakit psikis bisa menyebabkan sakit fisik. “Jadi keduanya bisa saling mempengaruhi,” jelasnya. [DIR]

]]> Pandemi Covid-19 tak cuma mengancam kesehatan fisik. Tapi juga kesehatan jiwa. Hal ini disadari pemerintah. Agar kesehatan jiwa tetap stabil, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 meluncurkan buku panduan kesehatan jiwa pada masa pandemi.

Juru Bicara Pemerintah Covid-19, dr Reisa Broto Asmoro mengungkapkan, buku panduan kesehatan jiwa diluncurkan karena banyak beban psikolo­gis yang dihadapi masyarakat selama setahun ini. Sebagian masyarakat terlalu lama di ru­mah, sehingga memicu emosi yang tinggi. Kemudian, ruang gerak dan interaksi terbatas, hingga membahayakan kesehatan jiwa dan berdampak pada kesehatan fisik.

“Pemerintah serius memperha­tikan kesehatan jiwa,” ujar Reisa, dalam keterangan pers secara virtual, yang dikutip kemarin.

Dalam buku panduan yang dapat diakses secara online melalui www.s.id/sehatjiwa itu, terdapat empat bagian penting panduan kesehatan jiwa. Bagian pertama, cara menghadapi orang dengan masalah kesehatan jiwa sebagai pengobatan. Kedua, cara menghadapi orang yang pulih dari kesehatan jiwa.

Lalu ketiga, cara menghadapi orang yang rentan kesehatan jiwa. Di bagian terakhir, cara menjadi orang yang kuat secara mental dan menjadi promotor kesehatan jiwa pada masa pandemi.

“Ahli yang menyusun buku panduan tersebut memperhatikan munculnya rasa bosan, jenuh, dan cemas di masyarakat dalam menghadapi pandemi,” imbuh dokter lulusan Universitas Pelita Harapan (UPH) ini.

Reisa mengingatkan, keluarga adalah jawaban atas persoalan kesehatan jiwa di masa pandemi. Penting untuk mengubah cara komunikasi dalam keluarga di masa pandemi. Caranya, dengan meningkatkan intensitas obrolan dalam suasana nyaman dan rileks. “Ingat, harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah ke­luarga,” tuturnya, menyitir lirik soundtrack sinetron Keluarga Cemara.

Secara terpisah, Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Sonny Harry B Harmadi me­nyatakan, keluarga punya peran kunci untuk menjaga kesehatan jiwa selama pandemi Covid-19. Keluarga, bisa mencegah anggota keluarganya mengalami stres, tekanan, dan bosan akibat pandemi Covid-19.

“Untuk menjaga kesehatan fisik dan jiwa, keluarga memiliki peran yang pertama dan utama. Keluarga adalah lingkungan terdekat dan menjadi support system yang penting bagi seluruh anggota keluarga,” ujarnya.

Sonny mengatakan, kesehatan fisik maupun kesehatan jiwa saling mempengaruhi. Fisik yang sehat akan berdampak pada jiwa yang sehat. Sebaliknya, jiwa yang sehat akan berdampak pada fisik yang sehat.

Pandemi Covid-19, yang telah mengubah tatanan kehidupan manusia di seluruh dunia, me­maksa semua orang beradaptasi dengan keadaan. Aktivitas dan mobilitas orang terbatas, sehingga ada kecenderungan tidak hanya kesehatan fisik saja yang teran­cam, tetapi juga kesehatan jiwa. “Karena itu, keluarga tangguh harus dibangun,” imbau Sonny.

Ada beberapa hal yang bisa di­lakukan keluarga untuk menjaga kesehatan jiwa. Pertama, melihat apa yang dibutuhkan anggota keluarga. Kedua, mendengarkan keluhan anggota keluarga.

Kemudian ketiga, memberi rasa nyaman dan membantu agar anggota keluarga menjadi tenang.

Terakhir, keempat, membantu anggota keluarga terhubung dengan berbagai alternatif serta solusi yang dibutuhkan. “Lindungi dari situasi lebih buruk, kemudian mengelola harapan,” tandasnya.

Sementara Direktur Centre for Public Mental Health Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Diana Setiyawati, MHSc Psy, PhD mengatakan, ilmu kesehatan sebelumnya berpikir, penyakit fisik bisa ber­dampak pada kesehatan psikis. Namun, riset terbaru menun­jukkan, penyakit psikis bisa menyebabkan sakit fisik. “Jadi keduanya bisa saling mempengaruhi,” jelasnya. [DIR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories