Ayo Mengajar Indonesia Gelar Dialog Cegah Radikalisme Dan Terorisme

Ayo Mengajar Indonesia menggelar dialog publik dalam program Ayo Bahas Volume 9 dengan tema Tolerance, Yes! Radicalism, No! Cegah Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme di Dunia Pendidikan. Dialog ini digelar di Meeting Room, Favehotel Gatot Subroto Jakarta, Sabtu (24/4).

Dalam dialog, membahas tentang bagaimana peran serta semua pihak, dari mulai guru, pemerintah, hingga lembaga masyarakat menolak radikalisme serta  toleransi di dalam dunia pendidikan.

Narasumber yang hadir yaitu Cendikiawan Islam Prof. Azyumardi Azra, Brigjen Pol R. Ahmad Nurwahid selaku Direktur Pencegahan BNPT. Hadir pula Dr. Jejen Musfah Wakil  Sekjen PB PGRI, Iif Fikriyati Ihsan dari Setara Institute dan Adi Raharjo selaku Direktur Ayo Mengajar Indonesia.

Peserta yang hadir dari berbagai elemen masyarakat, seperti mahasiswa serta relawan Ayo Mengajar Indonesia. Dialog tersebut berjalan dengan konsep hybrid. Yakni online dan offline dengan dialog paralel serta tanya jawab antara narasumber dengan peserta. Jumlah peserta yang hadir offline ada 30 orang, sedangkan online ada 300 orang.

Direktur Ayo Mengajar Indonesia Adi Raharjo mengatakan, kegiatan ini memiliki tujuan menyampaikan nilai-nilai toleransi. Dia menyebut, sekolah belum optimal memberikan pelajaran karakter nilai yang baik, dan terdapat intoleransi di dunia pendidikan.

Peneliti Setara Institute Iif Fikriyati Ihsani menyampaikan, toleransi sejatinya diajarkan sejak dari lingkungan keluarga. “Intoleransi bukan sesuatu yang tumbuh tiba-tiba. Tapi tumbuh secara perlahan dari pola kecil, misalnya dari orang tua. Orang tua cenderung ‘radikal’ karena dalam keluarganya tidak memberikan ruang interaksi,” ujar Iif memberi contoh.

Iif menambahkan, pola pendidikan kita semakin ke sini semakin kehilangan ruhnya. Karena hanya bergerak dalam wilayah kompetisi. Bukan menumbuhkan nilai yang membangun toleransi. Misalnya intoleransi terjadi di perguruan tinggi, berdasarkan penelitian Setara Institute di 10 kampus, mereka menemukan tingkat intoleransi cukup  tinggi sapai 20-30 persen.

“Ketika penelitian di jenjang sekolah pun sama, cukup tinggi tingkat inteloransinya,” ingatnya.

Sedangkan Prof. Azzyumardi Azra menyatakan, bangsa ini selalu dibayang-bayangi oleh radikalisme, dan seakan Indonesia itu jauh lebih buruk dari negara lain. Sebab, jika dibombardir dengan isu radikalisme, maka bangsa ini akan merasa minder.

“Memang benar ada gejala radikalisme, tapi jangan dilebih-lebihkan. Ayo Mengajar Indonesia harus membuat anak, peserta didik kita tidak kecut, harus mengajarkan pemahaman moderasi beragama, dan toleransi,” ajaknya.

Dia menyarankan, pemerintah memberi pelatihan guru dan tenaga pendidik tentang Pancasila dan nasionalisme. “Saya mengapresiasi gerakan Ayo Mengajar Indonesia ini, agar bisa menekankan perbaikan karakter,” ungkap Prof. Azra.

Dr. Jejen Musfah selaku Wakil Sekjen PB PGRI menyampaikan, benar bahwa Indonesia sudah baik toleransinya. Namun, bukan berarti mengabaikan bibit pikiran intoleran. “Pencegahan radikalisme, bahwa banyak dalam riset, radikalisme itu benihnya dari intoleransi, jika model pengajarannya inklusif atau kolaboratif atau pembelajaran aktif, saya rasa akan berkurang rasa,” tambah Jejen.

Direktur Pencegahan BNPT Brigjem Pol R. Ahmad Nurwahid menyampaikan, radikalisme dan terorisme dalam segi agama adalah ingin mengganti konstitusi negara menjadi khilafah, atau daulah Islam. Diingatkannya, Undang-undang sudah bisa menangkap untuk mencegah tidakan terorisme.

“Yang belum terpapar 87,8 persen radikalisme, namun rentan untuk terpapar. Maka harus diajarkan spritualitas yang rahmatan lil alamin, dan juga jangan mem-follow ustadz yang berpaham radikal,” imbau Brigjen Pol R. Ahmad Nurwahid. [FAQ]

]]> Ayo Mengajar Indonesia menggelar dialog publik dalam program Ayo Bahas Volume 9 dengan tema Tolerance, Yes! Radicalism, No! Cegah Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme di Dunia Pendidikan. Dialog ini digelar di Meeting Room, Favehotel Gatot Subroto Jakarta, Sabtu (24/4).

Dalam dialog, membahas tentang bagaimana peran serta semua pihak, dari mulai guru, pemerintah, hingga lembaga masyarakat menolak radikalisme serta  toleransi di dalam dunia pendidikan.

Narasumber yang hadir yaitu Cendikiawan Islam Prof. Azyumardi Azra, Brigjen Pol R. Ahmad Nurwahid selaku Direktur Pencegahan BNPT. Hadir pula Dr. Jejen Musfah Wakil  Sekjen PB PGRI, Iif Fikriyati Ihsan dari Setara Institute dan Adi Raharjo selaku Direktur Ayo Mengajar Indonesia.

Peserta yang hadir dari berbagai elemen masyarakat, seperti mahasiswa serta relawan Ayo Mengajar Indonesia. Dialog tersebut berjalan dengan konsep hybrid. Yakni online dan offline dengan dialog paralel serta tanya jawab antara narasumber dengan peserta. Jumlah peserta yang hadir offline ada 30 orang, sedangkan online ada 300 orang.

Direktur Ayo Mengajar Indonesia Adi Raharjo mengatakan, kegiatan ini memiliki tujuan menyampaikan nilai-nilai toleransi. Dia menyebut, sekolah belum optimal memberikan pelajaran karakter nilai yang baik, dan terdapat intoleransi di dunia pendidikan.

Peneliti Setara Institute Iif Fikriyati Ihsani menyampaikan, toleransi sejatinya diajarkan sejak dari lingkungan keluarga. “Intoleransi bukan sesuatu yang tumbuh tiba-tiba. Tapi tumbuh secara perlahan dari pola kecil, misalnya dari orang tua. Orang tua cenderung ‘radikal’ karena dalam keluarganya tidak memberikan ruang interaksi,” ujar Iif memberi contoh.

Iif menambahkan, pola pendidikan kita semakin ke sini semakin kehilangan ruhnya. Karena hanya bergerak dalam wilayah kompetisi. Bukan menumbuhkan nilai yang membangun toleransi. Misalnya intoleransi terjadi di perguruan tinggi, berdasarkan penelitian Setara Institute di 10 kampus, mereka menemukan tingkat intoleransi cukup  tinggi sapai 20-30 persen.

“Ketika penelitian di jenjang sekolah pun sama, cukup tinggi tingkat inteloransinya,” ingatnya.

Sedangkan Prof. Azzyumardi Azra menyatakan, bangsa ini selalu dibayang-bayangi oleh radikalisme, dan seakan Indonesia itu jauh lebih buruk dari negara lain. Sebab, jika dibombardir dengan isu radikalisme, maka bangsa ini akan merasa minder.

“Memang benar ada gejala radikalisme, tapi jangan dilebih-lebihkan. Ayo Mengajar Indonesia harus membuat anak, peserta didik kita tidak kecut, harus mengajarkan pemahaman moderasi beragama, dan toleransi,” ajaknya.

Dia menyarankan, pemerintah memberi pelatihan guru dan tenaga pendidik tentang Pancasila dan nasionalisme. “Saya mengapresiasi gerakan Ayo Mengajar Indonesia ini, agar bisa menekankan perbaikan karakter,” ungkap Prof. Azra.

Dr. Jejen Musfah selaku Wakil Sekjen PB PGRI menyampaikan, benar bahwa Indonesia sudah baik toleransinya. Namun, bukan berarti mengabaikan bibit pikiran intoleran. “Pencegahan radikalisme, bahwa banyak dalam riset, radikalisme itu benihnya dari intoleransi, jika model pengajarannya inklusif atau kolaboratif atau pembelajaran aktif, saya rasa akan berkurang rasa,” tambah Jejen.

Direktur Pencegahan BNPT Brigjem Pol R. Ahmad Nurwahid menyampaikan, radikalisme dan terorisme dalam segi agama adalah ingin mengganti konstitusi negara menjadi khilafah, atau daulah Islam. Diingatkannya, Undang-undang sudah bisa menangkap untuk mencegah tidakan terorisme.

“Yang belum terpapar 87,8 persen radikalisme, namun rentan untuk terpapar. Maka harus diajarkan spritualitas yang rahmatan lil alamin, dan juga jangan mem-follow ustadz yang berpaham radikal,” imbau Brigjen Pol R. Ahmad Nurwahid. [FAQ]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories