Awal Pekan, Rupiah Sudah Babak Belur

Awal pekan, rupiah sudah bertekuk lutut terhadap dolar AS. Pagi ini, nilai tukar rupiah melemah 0,19 persen ke level Rp 14.434 per dolar AS, dibandingkan perdagangan Jumat (19/3) di level Rp 14.407.

Tak hanya mata uang Garuda, mayoritas mata uang di kawasan Asia turut melemah terhadap dolar AS. Bath Thailand paling dalam melemah terhadap dolar AS sebesar 0,38 persen, selamjutnya won Korea Selatan turun 0,12 persen, ringgit Malaysia minus 0,11 persen, yen Jepang turun 0,06 persen, dolar Taiwan melemah 0,05 persen dan dolar Singapura 0,01 persen. 

Indeks dolar AS diperdagangkan di kisaran 92,09 setelah sempat berada di bawah 91,5. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro naik 0,33 persen ke level Rp 17.135, terhadap dolar Australia juga naik 0,46 persen ke level Rp 11.126, da terhadap yuan China menguat 0,18 persen ke level Rp 2.214.

Analis Monex Investindo Futures, Faisyal mengatakan, pelemah sejumlah mata uang Asia ini masih didorong oleh sentimen pergerakan yield US Treasury. Selain itu, pasar juga masih menantikan seperti apa hasil pertemuan AS dengan China, apakah hasilnya membaik atau tidak.

“Jika membaik, ini bisa menjadi sentimen positif untuk aset berisiko, termasuk rupiah,” katamya, Senin (22/3).

Ia melihat, dari dalam negeri sentimen positif masih datang dari penanganan Covid-19 yang terus membaik, serta proses vaksinasi. “Saya melihat rupiah sepertinya akan bergerak pada kisaran Rp 14.400- Rp 14.500 per dolar AS,” tandasnya. [DWI]

]]> Awal pekan, rupiah sudah bertekuk lutut terhadap dolar AS. Pagi ini, nilai tukar rupiah melemah 0,19 persen ke level Rp 14.434 per dolar AS, dibandingkan perdagangan Jumat (19/3) di level Rp 14.407.

Tak hanya mata uang Garuda, mayoritas mata uang di kawasan Asia turut melemah terhadap dolar AS. Bath Thailand paling dalam melemah terhadap dolar AS sebesar 0,38 persen, selamjutnya won Korea Selatan turun 0,12 persen, ringgit Malaysia minus 0,11 persen, yen Jepang turun 0,06 persen, dolar Taiwan melemah 0,05 persen dan dolar Singapura 0,01 persen. 

Indeks dolar AS diperdagangkan di kisaran 92,09 setelah sempat berada di bawah 91,5. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro naik 0,33 persen ke level Rp 17.135, terhadap dolar Australia juga naik 0,46 persen ke level Rp 11.126, da terhadap yuan China menguat 0,18 persen ke level Rp 2.214.

Analis Monex Investindo Futures, Faisyal mengatakan, pelemah sejumlah mata uang Asia ini masih didorong oleh sentimen pergerakan yield US Treasury. Selain itu, pasar juga masih menantikan seperti apa hasil pertemuan AS dengan China, apakah hasilnya membaik atau tidak.

“Jika membaik, ini bisa menjadi sentimen positif untuk aset berisiko, termasuk rupiah,” katamya, Senin (22/3).

Ia melihat, dari dalam negeri sentimen positif masih datang dari penanganan Covid-19 yang terus membaik, serta proses vaksinasi. “Saya melihat rupiah sepertinya akan bergerak pada kisaran Rp 14.400- Rp 14.500 per dolar AS,” tandasnya. [DWI]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories