Atasi Limbah Organik Pupuk Kaltim Perluas Pemanfaatan Biodex

Pupuk Kaltim (PKT) terus berinovasi menghasilkan produk yang ramah lingkungan dan memberikan nilai tambah tidak hanya bagi bisnis, lingkungan, dan sosial. Salah satunya adalah produk aktivator kompos “Biodex”, sebagai bioaktivator yang dikembangkan Pupuk Kaltim untuk mengatasi masalah limbah organik yang mengandung selulosa dan lignin tinggi seperti jerami, sekam padi, dan kulit buah kakao.

Melalui formula terkini dan ramah lingkungan, Biodex Pupuk Kaltim memungkinkan proses dekomposisi limbah organik dapat berjalan dengan cepat. Sehingga menghemat waktu, tenaga, hingga biaya. Selain bagi pertanian, pemanfaatan produk Biodex ini juga diperluas untuk membantu mengatasi limbah organik rumah tangga yang saat ini menjadi salah satu penyumbang terbesar penumpukan sampah di berbagai wilayah Indonesia.

Vice President Marketing Business Partner Korporasi Pupuk Kaltim Jefri Limeisa Putra mengatakan, sejak diluncurkan pada 2016, pemanfaatan produk unggulan ini semakin meluas tidak hanya di ekosistem pertanian, namun juga untuk mengatasi persoalan yang ada di masyarakat. Khususnya terkait lingkungan. 

“Mengingat kandungan dan formulasi produk yang ramah lingkungan dan inovatif, Biodex ini mampu membantu masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga dan mengubahnya menjadi kompos yang memiliki nilai guna,” ujarnya, seperti keterangan yang diterima RM.id, Kamis (17/2).

Pupuk Kaltim juga menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah. Yang terbaru dengan Pemkot Madiun, untuk membantu pengelolaan limbah rumah tangga masyarakat sekitar dengan pemanfaatan Biodex, melalui kehadiran “Kampung Kompos Biodex”.

Melalui inisiatif tersebut, Pupuk Kaltim dan Pemda setempat berupaya mengurangi peningkatan timbulan sampah di Kota Madiun yang mencapai 118,17 ton per hari, dengan 75 persen di antaranya merupakan sampah sisa makanan yang berasal dari rumah tangga. Sejak digagas 4 bulan lalu, Kampung Kompos Biodex tersebut sudah mengolah lebih dari 2 ton limbah rumah tangga dan menghasilkan produksi 1 ton pupuk kompos Biodex.  Selain itu, kompos Biodex tersebut juga secara langsung diaplikasikan untuk tanaman hortikultura yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar seperti terong, cabe, dan tomat. 

Wali Kota Madiun Maidi menyampaikan terima kasih kepada Pupuk Kaltim yang telah memilih daerahnya sebagai pilot project dalam menyelesaikan permasalahan sampah dan sharing ilmu dalam memproduksi sendiri pupuk kompos di Kampung Kompos Biodex. “Sehingga (warga) dapat mengubah sampah menjadi berkah, bukan masalah,” ujarnya.

Produk unggulan Biodex dirancang secara khusus dengan teknologi terkini dan sangat memperhatikan dampak terhadap lingkungan. Keunggulan utama dari produk inovasi tersebut adalah ramah lingkungan, sesuai untuk limbah organik padat seperti ranting kayu, cangkang sawit, maupun pelepah daun, tidak membutuhkan tambahan nutrisi, tidak perlu dilakukan pembalikan selama proses pengomposan, dan sesuai dengan wilayah tropis Indonesia. Biodex juga memiliki kandungan berbahan aktif kapang dan jamur unggul yang memiliki kemampuan selulolitik dan lignolitik tinggi sehingga mampu menghasilkan proses dekomposisi dengan waktu relatif singkat. 

Cara penggunaan Biodex pun cukup sederhana. Pertama, pencacahan bahan organik. Kedua, pengaplikasian Biodex dengan menaburkannya secara merata pada bahan organik tersebut. Ketiga, penutupan dengan terpal atau plastik secara rapat dengan kondisi lembab. Keempat, kompos siap dipanen dalam waktu 14 – 30 hari dengan hasil optimal. 

“Kami berharap, Kampung Kompos Biodex di Madiun ini dapat menjadi awal yang baik dalam upaya kami membantu menjaga lingkungan. Ke depannya, kami akan terus meningkatkan skala kerjasama secara luas dengan pemerintah daerah dan dinas terkait, dalam hal pengolahan limbah organik rumah tangga sehingga selain membantu pengelolaan sampah, inisiatif ini juga dapat sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar dengan hasil produksi kompos dan tanaman produktif,” tutup Jefri. [USU]

]]> Pupuk Kaltim (PKT) terus berinovasi menghasilkan produk yang ramah lingkungan dan memberikan nilai tambah tidak hanya bagi bisnis, lingkungan, dan sosial. Salah satunya adalah produk aktivator kompos “Biodex”, sebagai bioaktivator yang dikembangkan Pupuk Kaltim untuk mengatasi masalah limbah organik yang mengandung selulosa dan lignin tinggi seperti jerami, sekam padi, dan kulit buah kakao.

Melalui formula terkini dan ramah lingkungan, Biodex Pupuk Kaltim memungkinkan proses dekomposisi limbah organik dapat berjalan dengan cepat. Sehingga menghemat waktu, tenaga, hingga biaya. Selain bagi pertanian, pemanfaatan produk Biodex ini juga diperluas untuk membantu mengatasi limbah organik rumah tangga yang saat ini menjadi salah satu penyumbang terbesar penumpukan sampah di berbagai wilayah Indonesia.

Vice President Marketing Business Partner Korporasi Pupuk Kaltim Jefri Limeisa Putra mengatakan, sejak diluncurkan pada 2016, pemanfaatan produk unggulan ini semakin meluas tidak hanya di ekosistem pertanian, namun juga untuk mengatasi persoalan yang ada di masyarakat. Khususnya terkait lingkungan. 

“Mengingat kandungan dan formulasi produk yang ramah lingkungan dan inovatif, Biodex ini mampu membantu masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga dan mengubahnya menjadi kompos yang memiliki nilai guna,” ujarnya, seperti keterangan yang diterima RM.id, Kamis (17/2).

Pupuk Kaltim juga menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah. Yang terbaru dengan Pemkot Madiun, untuk membantu pengelolaan limbah rumah tangga masyarakat sekitar dengan pemanfaatan Biodex, melalui kehadiran “Kampung Kompos Biodex”.

Melalui inisiatif tersebut, Pupuk Kaltim dan Pemda setempat berupaya mengurangi peningkatan timbulan sampah di Kota Madiun yang mencapai 118,17 ton per hari, dengan 75 persen di antaranya merupakan sampah sisa makanan yang berasal dari rumah tangga. Sejak digagas 4 bulan lalu, Kampung Kompos Biodex tersebut sudah mengolah lebih dari 2 ton limbah rumah tangga dan menghasilkan produksi 1 ton pupuk kompos Biodex.  Selain itu, kompos Biodex tersebut juga secara langsung diaplikasikan untuk tanaman hortikultura yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar seperti terong, cabe, dan tomat. 

Wali Kota Madiun Maidi menyampaikan terima kasih kepada Pupuk Kaltim yang telah memilih daerahnya sebagai pilot project dalam menyelesaikan permasalahan sampah dan sharing ilmu dalam memproduksi sendiri pupuk kompos di Kampung Kompos Biodex. “Sehingga (warga) dapat mengubah sampah menjadi berkah, bukan masalah,” ujarnya.

Produk unggulan Biodex dirancang secara khusus dengan teknologi terkini dan sangat memperhatikan dampak terhadap lingkungan. Keunggulan utama dari produk inovasi tersebut adalah ramah lingkungan, sesuai untuk limbah organik padat seperti ranting kayu, cangkang sawit, maupun pelepah daun, tidak membutuhkan tambahan nutrisi, tidak perlu dilakukan pembalikan selama proses pengomposan, dan sesuai dengan wilayah tropis Indonesia. Biodex juga memiliki kandungan berbahan aktif kapang dan jamur unggul yang memiliki kemampuan selulolitik dan lignolitik tinggi sehingga mampu menghasilkan proses dekomposisi dengan waktu relatif singkat. 

Cara penggunaan Biodex pun cukup sederhana. Pertama, pencacahan bahan organik. Kedua, pengaplikasian Biodex dengan menaburkannya secara merata pada bahan organik tersebut. Ketiga, penutupan dengan terpal atau plastik secara rapat dengan kondisi lembab. Keempat, kompos siap dipanen dalam waktu 14 – 30 hari dengan hasil optimal. 

“Kami berharap, Kampung Kompos Biodex di Madiun ini dapat menjadi awal yang baik dalam upaya kami membantu menjaga lingkungan. Ke depannya, kami akan terus meningkatkan skala kerjasama secara luas dengan pemerintah daerah dan dinas terkait, dalam hal pengolahan limbah organik rumah tangga sehingga selain membantu pengelolaan sampah, inisiatif ini juga dapat sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar dengan hasil produksi kompos dan tanaman produktif,” tutup Jefri. [USU]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories