Atasi Harga Daging Sapi Lewat Kerja Sama IA-CEPA 50 Persen Pelaku Usaha Peternakan Gulung Tikar

Harga daging sapi tak kunjung turun. Lonjakan ini disinyalir karena naiknya harga sapi impor dari Australia.

Pemerintah diimbau segera mengoptimalkan peranan kemitraan Indonesia – Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). Hal ini dianggap penting sebagai salah satu solusi mengatasi permasalahan tingginya harga daging sapi di dalam negeri.

Associate Researcher Center for Indonesian Policy Studies (CiPS) Andree Surianta mengatakan, IA-CEPA memberikan akses ke lebih dari 99 persen produk pertanian Australia yang diimpor masuk ke Indonesia.

Dengan begitu, kata Andree, daging sapi sebagai bahan produksi bisa didapatkan dengan harga yang lebih rendah. “Untuk pakan daging saja, tarif akan dihilangkan 500 ribu ton di tahun pertama perjanjian dagang diterapkan. Jumlah ini akan ditingkatkan secara progresif ke lebih dari 775 ribu ton di tahun kesepuluh,” ujar Andree dalam keterangan resminya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Andree menjelaskan, pembukaan impor biji-bijian untuk pakan ternak melalui IA-CEPA merefleksikan bahwa komoditas sapi potong juga memainkan peran penting dalam perdagangan bilateral. Daging sapi adalah jenis protein ketiga terbanyak yang dikonsumsi di Indonesia, setelah ayam dan ikan.

Pada 2018, kata Andree, dengan tingkat konsumsi 1,98 kilogram (kg) per orang, indonesia mengkonsumsi sekitar 514 ribu ton daging sapi. Dengan besarnya tingkat konsumsi itu, produksi nasional kurang dari 500 ribu ton. Menurut data Australian Trade and Investment Commission (Austrade), untuk mencukupi kekurangan ini, Indonesia mengimpor 510.937 ekor sapi potong.

Andree mengatakan, IA-CEPA memberikan kemudahan berupa pembebasan tarif, dari yang tadinya 5 persen untuk 575 ribu ternak di tahun pertama.Lalu, bebas tarif ini dinaikkan 4 persen setiap tahun sampai mencapai 700 ribu pada tahun keenam.

 

Untuk daging sapi beku, tarif diturunkan dari 5 persen menjadi 2,5 persen, yang kemudian dihapuskan setelah tahun kelima. menurutnya, peningkatan volume dan penurunan tarif tentu bisa berkontribusi pada turunnya harga daging sapi di Indonesia.

Selain itu, kerja sama ini bisa dikembangkan lebih lanjut untuk mewujudkan konsep poros kekuatan yang menggabungkan kekuatan kedua mitra. Yaitu, sektor pertanian Australia dan industri makanan olahan Indonesia, untuk merambah pasaran negara lainnya.

Menurut Menteri Perdagangan M Lutfi, harga daging sapi Australia saat ini mengalami kenaikan. Harganya mencapai 3,8 dolar AS per kg, meningkat dari sebelumnya sebesar 2,52,8 dolar AS per kg.

Direktur Utama Bulog Budi Waseso mengatakan, untuk mestabilkan harga daging, Bulog mendapatkan penugasan melakukan impor daging kerbau dari India. Pemenuhan ketersediaan daging juga dilakukan untuk antisipasi pemenuhan permintaan daging pada ramadan dan Idul Fitri tahun ini.

“Dulu daging kerbau sulit dipasarkan karena masyarakat belum terbiasa makan daging kerbau. Sekarang sudah biasa, sehingga ini bisa menekan harga daging sapi,” ujar Buwas, sapaan Budi Waseso.

Buwas mengungkapkan, ada penugasan impor 20 ribu ton daging sapi dari Brazil. hanya saja, penugasan impor daging sapi tersebut tidak diberikan kepada Bulog.

Tingginya harga daging sapi dalam beberapa bulan terakhir juga membuat pelaku usaha di peternakan sapi banyak yang harus gulung tikar.

Direktur eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) Joni P Liano mengungkapkan, hampir 50 persen anggotanya sudah gulung tikar. “Anggota kami ada 42 perusahaan, yang masih aktif sekitar 22, jadi 50 persen lah,” katanya.

Menurut Joni, kenaikan harga sapi hidup memaksa pengusaha untuk menaikkan harga. Namun, tidak mudah karena masyarakat sudah terbiasa dengan standar harga yang ada. apalagi di tengah menurunnya daya beli masyarakat.

“Sudah ada yang tutup, nggak kuat mensubsidi. Jadi teman-teman sebetulnya sekarang mensubsidi. Sekarang kan harga naik terus, makin dalam subsidinya, ada yang stop, konsekuensi stop ruginya besar. Daripada rugi berlanjut, terpaksa stop,” ucapnya. [KPJ]

]]> Harga daging sapi tak kunjung turun. Lonjakan ini disinyalir karena naiknya harga sapi impor dari Australia.

Pemerintah diimbau segera mengoptimalkan peranan kemitraan Indonesia – Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). Hal ini dianggap penting sebagai salah satu solusi mengatasi permasalahan tingginya harga daging sapi di dalam negeri.

Associate Researcher Center for Indonesian Policy Studies (CiPS) Andree Surianta mengatakan, IA-CEPA memberikan akses ke lebih dari 99 persen produk pertanian Australia yang diimpor masuk ke Indonesia.

Dengan begitu, kata Andree, daging sapi sebagai bahan produksi bisa didapatkan dengan harga yang lebih rendah. “Untuk pakan daging saja, tarif akan dihilangkan 500 ribu ton di tahun pertama perjanjian dagang diterapkan. Jumlah ini akan ditingkatkan secara progresif ke lebih dari 775 ribu ton di tahun kesepuluh,” ujar Andree dalam keterangan resminya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Andree menjelaskan, pembukaan impor biji-bijian untuk pakan ternak melalui IA-CEPA merefleksikan bahwa komoditas sapi potong juga memainkan peran penting dalam perdagangan bilateral. Daging sapi adalah jenis protein ketiga terbanyak yang dikonsumsi di Indonesia, setelah ayam dan ikan.

Pada 2018, kata Andree, dengan tingkat konsumsi 1,98 kilogram (kg) per orang, indonesia mengkonsumsi sekitar 514 ribu ton daging sapi. Dengan besarnya tingkat konsumsi itu, produksi nasional kurang dari 500 ribu ton. Menurut data Australian Trade and Investment Commission (Austrade), untuk mencukupi kekurangan ini, Indonesia mengimpor 510.937 ekor sapi potong.

Andree mengatakan, IA-CEPA memberikan kemudahan berupa pembebasan tarif, dari yang tadinya 5 persen untuk 575 ribu ternak di tahun pertama.Lalu, bebas tarif ini dinaikkan 4 persen setiap tahun sampai mencapai 700 ribu pada tahun keenam.

 

Untuk daging sapi beku, tarif diturunkan dari 5 persen menjadi 2,5 persen, yang kemudian dihapuskan setelah tahun kelima. menurutnya, peningkatan volume dan penurunan tarif tentu bisa berkontribusi pada turunnya harga daging sapi di Indonesia.

Selain itu, kerja sama ini bisa dikembangkan lebih lanjut untuk mewujudkan konsep poros kekuatan yang menggabungkan kekuatan kedua mitra. Yaitu, sektor pertanian Australia dan industri makanan olahan Indonesia, untuk merambah pasaran negara lainnya.

Menurut Menteri Perdagangan M Lutfi, harga daging sapi Australia saat ini mengalami kenaikan. Harganya mencapai 3,8 dolar AS per kg, meningkat dari sebelumnya sebesar 2,52,8 dolar AS per kg.

Direktur Utama Bulog Budi Waseso mengatakan, untuk mestabilkan harga daging, Bulog mendapatkan penugasan melakukan impor daging kerbau dari India. Pemenuhan ketersediaan daging juga dilakukan untuk antisipasi pemenuhan permintaan daging pada ramadan dan Idul Fitri tahun ini.

“Dulu daging kerbau sulit dipasarkan karena masyarakat belum terbiasa makan daging kerbau. Sekarang sudah biasa, sehingga ini bisa menekan harga daging sapi,” ujar Buwas, sapaan Budi Waseso.

Buwas mengungkapkan, ada penugasan impor 20 ribu ton daging sapi dari Brazil. hanya saja, penugasan impor daging sapi tersebut tidak diberikan kepada Bulog.

Tingginya harga daging sapi dalam beberapa bulan terakhir juga membuat pelaku usaha di peternakan sapi banyak yang harus gulung tikar.

Direktur eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) Joni P Liano mengungkapkan, hampir 50 persen anggotanya sudah gulung tikar. “Anggota kami ada 42 perusahaan, yang masih aktif sekitar 22, jadi 50 persen lah,” katanya.

Menurut Joni, kenaikan harga sapi hidup memaksa pengusaha untuk menaikkan harga. Namun, tidak mudah karena masyarakat sudah terbiasa dengan standar harga yang ada. apalagi di tengah menurunnya daya beli masyarakat.

“Sudah ada yang tutup, nggak kuat mensubsidi. Jadi teman-teman sebetulnya sekarang mensubsidi. Sekarang kan harga naik terus, makin dalam subsidinya, ada yang stop, konsekuensi stop ruginya besar. Daripada rugi berlanjut, terpaksa stop,” ucapnya. [KPJ]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories