Atasi Disrupsi Rantai Pasok Pangan Bos Jababeka Dorong Penguatan Kerja Sama RI-Australia

Founder and chairman PT Jababeka Tbk, S.D. Darmono menilai, Australia dan Indonesia memiliki keunggulan yang saling melengkapi. Di mana Indonesia memiliki pasar yang besar dengan total 250 juta populasi sedangkan Australia memiliki teknologi, inovasi, akses kapital dan akses ke market dunia. Apalagi sudah ada Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

Pembahasan lengkap mengenai solusi dibahas melalui webinar “A Framework of IA-CEPA Global Supply Chain Food Security’, dan disiarkan langsung melalui zoom di President Lounge, belum lama ini.

Darmono mengatakan, kerja sama bisa memanfaatkan lahan yang belum digunakan Indonesia dan Australia dalam bentuk joint venture. Tujuannya, memperlihatkan ke dunia bahwa Indonesia-Australia bisa berkontribusi terhadap permasalahan rantai pasok pangan. 

“Kita bisa dengan open source di KEK Tanjung Lesung (di Banten) seluas 1500 hektar, di mana banyak orang berdatangan. Kita punya hotel, golf course, marina juga sedang dibangun. Ini merupakan tempat orang bisa datang dan relaks. Selain itu, secara geografis sangat strategis karena berdekatan dengan selat sunda yang menjadi jalur perdagangan. Kita bisa mulai dari sana dalam upaya menjalankan proyek agrobisnis,” terang Darmono.

Atau, tambah Darmono, juga bisa melalui KEK Morotai- Maluku Utara. Dengan luas 1.101,76 hektar, KEK Morotai punya potensi di perikanan, yaitu ikan tuna, cakalang, tongkol dan udang vaname dan budidaya rumput laut. 

Selain itu, KEK Morotai memiliki potensi pertanian (agrobisnis) dan sumber daya alam, seperti seperti batu bara, emas, mangan, dan nikel serta berada di lokasinya strategis yaitu jalur perdagangan antar negara dan benua yang dekat dengan Australia.

Seperti potensi pertanian di Pulau Morotai? Daerah yang dikenal sebagai hasil pertaniannya ini memiliki empat lima komoditas unggulan, yaitu kelapa, cengkih, pala, padi dan kakao. Untuk luas padi sawah 1.450 hektar, dengan luas panen padi di Pulau Morotai mencapai sekitar 1.249 hektar dengan produksi padi 4.048 ton. 

Sementara untuk komoditas kelapa, sudah mulai digarap oleh investor dari Jepang termasuk pelatihan-pelatihan untuk masyarakat lokal. Tujuannya, untuk menghasilkan produk-produk bernilai tinggi di pasaran internasional.

“Kita tinggal start dengan merumuskan konsep dan plan untuk bekerja sama. Juga, kita harus punya mimpi bersama dengan investor Australia mengenai kerja sama (food) supply chain ini,” kata Darmono di webinar yang diikuti lebih dari 100 orang ini.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi Lukman mengatakan, Indonesia bukan hanya membutuhkan investor dari Australia datang ke Indonesia. Tapi Indonesia butuh partner strategis untuk membuat bersama-sama produk yang punya added value sekaligus juga membangun ekosistem makanan end to end. 

“Mulai dari bahan mentah, teknologi hingga ekosistemnya agar harga terjangkau dan kompetitif harganya untuk rantai pasok global,” katanya.

Tujuannya, untuk perkembangan ekonomi bagi Indonesia dan Australia serta hubungan bisnis yang berkelanjutan. Sebab, industri agro dari Indonesia demandnya sangat tinggi. Dengan populasi masyarakat Indonesia yang besar dan Gross Domestic Product (GDP) yang tinggi, maka permintaan F & B juga naik secara signifikan.

Direktur Perdagangan dan Investasi untuk Indonesia dari Australian Trade and Investment Commission (Austrade), Yonathan Wijaya mengatakan, bidang-bidang yang bisa dikerjasamakan antara Indonesia dengan Australia ialah makananan pertanian (agro food), pendidikan, seperti food innovation center.

Dia menambahkan, pihak Australia menaruh minat ekspor atas kebutuhan masyarakat Indonesia yang makin meningkat. Tetapi, Yonathan menekankan bahwa Australia tidak bisa memenuhi semua bidang untuk bekerja sama dengan Indonesia. Menurutnya, pihak Indonesia perlu meningkatkan kapabilitas dan melakukan adjustment yang perlu dilakukan agar kerja sama antara Indonesia dan Australia terjalin komprehensif.

Kembali ke Darmono. Kata dia, solusi atas kondisi tersebut perlu edukasi dan inovasi dalam regulasi dari pemerintahan kedua negara. Hal itu untuk mempermudah sharing knowledge, investasi, kerja sama hingga mudah menjalankan proyek. Dengan hadirnya kemudahan regulasi, maka kedua negara bisa mengatasi permasalahan kendala mengenai kerja sama dan persoalan rantai pasok ketahanan pangan.

“Edukasi masyarakat tanpa praktek sama aja teori. Oleh karenanya, posisi Jababeka, kita coba memanfaatkan lahan yang belum terpakai di Indonesia dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK Tanjung Lesung dan Morotai, Kendal), dengan investor, bangun infrastruktur dan bekerja sama pemerintahan lokal. Untuk itu, kita bisa bekerja sama lewat akademi, penggunaan lahan-lahan  dan melakukan pemberdayaan masyarakat,” kata Darmono.

Kata dia, pihaknya memiliki land yang bisa dimanfaatkan untuk memaksimalkan profitability. Pihaknya terbuka untuk open source, siap membuka diskusi mengenai teknologi dan bidang lain-lain untuk investor Australia datang ke Indonesia dalam memanfaatkan land untuk mengembangkan lokal dan global market.

Menurut Darmono, proyek joint venture antara Indonesia dengan Australia perlu disegerakan karena problem pemanasan global dan perubahan iklim merupakan masalah dunia, serta persoalan makanan merupakan tentang bertahan hidup. Artinya, jika kerja sama tidak dilakukan sekarang, maka generasi selanjutnya akan merasakan dampaknya.

]]> Founder and chairman PT Jababeka Tbk, S.D. Darmono menilai, Australia dan Indonesia memiliki keunggulan yang saling melengkapi. Di mana Indonesia memiliki pasar yang besar dengan total 250 juta populasi sedangkan Australia memiliki teknologi, inovasi, akses kapital dan akses ke market dunia. Apalagi sudah ada Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

Pembahasan lengkap mengenai solusi dibahas melalui webinar “A Framework of IA-CEPA Global Supply Chain Food Security’, dan disiarkan langsung melalui zoom di President Lounge, belum lama ini.

Darmono mengatakan, kerja sama bisa memanfaatkan lahan yang belum digunakan Indonesia dan Australia dalam bentuk joint venture. Tujuannya, memperlihatkan ke dunia bahwa Indonesia-Australia bisa berkontribusi terhadap permasalahan rantai pasok pangan. 

“Kita bisa dengan open source di KEK Tanjung Lesung (di Banten) seluas 1500 hektar, di mana banyak orang berdatangan. Kita punya hotel, golf course, marina juga sedang dibangun. Ini merupakan tempat orang bisa datang dan relaks. Selain itu, secara geografis sangat strategis karena berdekatan dengan selat sunda yang menjadi jalur perdagangan. Kita bisa mulai dari sana dalam upaya menjalankan proyek agrobisnis,” terang Darmono.

Atau, tambah Darmono, juga bisa melalui KEK Morotai- Maluku Utara. Dengan luas 1.101,76 hektar, KEK Morotai punya potensi di perikanan, yaitu ikan tuna, cakalang, tongkol dan udang vaname dan budidaya rumput laut. 

Selain itu, KEK Morotai memiliki potensi pertanian (agrobisnis) dan sumber daya alam, seperti seperti batu bara, emas, mangan, dan nikel serta berada di lokasinya strategis yaitu jalur perdagangan antar negara dan benua yang dekat dengan Australia.

Seperti potensi pertanian di Pulau Morotai? Daerah yang dikenal sebagai hasil pertaniannya ini memiliki empat lima komoditas unggulan, yaitu kelapa, cengkih, pala, padi dan kakao. Untuk luas padi sawah 1.450 hektar, dengan luas panen padi di Pulau Morotai mencapai sekitar 1.249 hektar dengan produksi padi 4.048 ton. 

Sementara untuk komoditas kelapa, sudah mulai digarap oleh investor dari Jepang termasuk pelatihan-pelatihan untuk masyarakat lokal. Tujuannya, untuk menghasilkan produk-produk bernilai tinggi di pasaran internasional.

“Kita tinggal start dengan merumuskan konsep dan plan untuk bekerja sama. Juga, kita harus punya mimpi bersama dengan investor Australia mengenai kerja sama (food) supply chain ini,” kata Darmono di webinar yang diikuti lebih dari 100 orang ini.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi Lukman mengatakan, Indonesia bukan hanya membutuhkan investor dari Australia datang ke Indonesia. Tapi Indonesia butuh partner strategis untuk membuat bersama-sama produk yang punya added value sekaligus juga membangun ekosistem makanan end to end. 

“Mulai dari bahan mentah, teknologi hingga ekosistemnya agar harga terjangkau dan kompetitif harganya untuk rantai pasok global,” katanya.

Tujuannya, untuk perkembangan ekonomi bagi Indonesia dan Australia serta hubungan bisnis yang berkelanjutan. Sebab, industri agro dari Indonesia demandnya sangat tinggi. Dengan populasi masyarakat Indonesia yang besar dan Gross Domestic Product (GDP) yang tinggi, maka permintaan F & B juga naik secara signifikan.

Direktur Perdagangan dan Investasi untuk Indonesia dari Australian Trade and Investment Commission (Austrade), Yonathan Wijaya mengatakan, bidang-bidang yang bisa dikerjasamakan antara Indonesia dengan Australia ialah makananan pertanian (agro food), pendidikan, seperti food innovation center.

Dia menambahkan, pihak Australia menaruh minat ekspor atas kebutuhan masyarakat Indonesia yang makin meningkat. Tetapi, Yonathan menekankan bahwa Australia tidak bisa memenuhi semua bidang untuk bekerja sama dengan Indonesia. Menurutnya, pihak Indonesia perlu meningkatkan kapabilitas dan melakukan adjustment yang perlu dilakukan agar kerja sama antara Indonesia dan Australia terjalin komprehensif.

Kembali ke Darmono. Kata dia, solusi atas kondisi tersebut perlu edukasi dan inovasi dalam regulasi dari pemerintahan kedua negara. Hal itu untuk mempermudah sharing knowledge, investasi, kerja sama hingga mudah menjalankan proyek. Dengan hadirnya kemudahan regulasi, maka kedua negara bisa mengatasi permasalahan kendala mengenai kerja sama dan persoalan rantai pasok ketahanan pangan.

“Edukasi masyarakat tanpa praktek sama aja teori. Oleh karenanya, posisi Jababeka, kita coba memanfaatkan lahan yang belum terpakai di Indonesia dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK Tanjung Lesung dan Morotai, Kendal), dengan investor, bangun infrastruktur dan bekerja sama pemerintahan lokal. Untuk itu, kita bisa bekerja sama lewat akademi, penggunaan lahan-lahan  dan melakukan pemberdayaan masyarakat,” kata Darmono.

Kata dia, pihaknya memiliki land yang bisa dimanfaatkan untuk memaksimalkan profitability. Pihaknya terbuka untuk open source, siap membuka diskusi mengenai teknologi dan bidang lain-lain untuk investor Australia datang ke Indonesia dalam memanfaatkan land untuk mengembangkan lokal dan global market.

Menurut Darmono, proyek joint venture antara Indonesia dengan Australia perlu disegerakan karena problem pemanasan global dan perubahan iklim merupakan masalah dunia, serta persoalan makanan merupakan tentang bertahan hidup. Artinya, jika kerja sama tidak dilakukan sekarang, maka generasi selanjutnya akan merasakan dampaknya.
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories